Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Perhatikan Dirimu Saja


__ADS_3

Gita mundur dua langkah. Dia segera menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya. Dia sangat gugup hingga bergetar. Namun, dia segera bangun dari rasa pengecutnya akan rahasia yang terbongkar, dia segera menatap nyalang, seakan Nana bukanlah ancaman yang nyata. Dia merasa percaya diri akan Dina Wen, ibunya yang akan membelanya.


"Ibu! a-da bi-bi Nana! Dia men-carimu!" teriak Gita dengan rasa bergetar sedikit tersembunyi. Tatapan Nana terlihat bersiap mengulitinya. Gita bagai anak kucing yang mengigil dan ingin segera memeluk lutut. Dengan tatapan saja, Nana telah berhasil melucuti seluruh keberaniannya lagi.


"Ada apa? kau kerumahku!" Dina terlihat keluar dari dapur. Dia membawa spatula di dalam tangannya. Spatula itu di acung ya ke udara mengarah secara khusus pada Nana.


"Aku hanya ingin memberi bukti." Nana menatap pada Gita. Sepasang matanya pekat akan bersiap membongkar aib gadis kecil Wen ini.


"Bibi?" Gita mengigit bibirnya hingga putih.


"Apakah kau ingat dosaku semalam?"


Deg! Gita menelan ludahnya. Dosa apa? A-aku apa yang aku lakukan semalam?


Gita segera menggelengkan kepala, dan menepis, " A-aku ti--dak me-laku-kan a-apapun semalam."


"Aku melihatmu di hotel A******!"


Dina menyipitkan matanya. Pletak! Spatula ya jatuh ke lantai. Dia teringat akan malam sebelumnya, Gita tidak pulang kerumah. Gadis kecil Wen itu berpamitan untuk tidur di rumah temannya yang bernama Susan.


"Bibi! K-au sa-lah o-rang! A-aku tidak mungkin ke hotel!"


"Ha ... ha ... ha!" Tawa Nana menggelegar di udara. Dia tertawa seperti nenek sihir yang telah mengetahui kebohongan seseorang, "Gadis kecil Wen. Kau pandai berdusta. Aku sering melihatmu mampir ke hotel itu bersama seorang siswa muda. Dia mengenakan pakaian seragam yang sama denganmu. Apa yang kau lakukan semalaman?"


Gita kosong. Dia bagai pencuri yang telah ketahuan mencuri. Dia tidak bisa berkutik. Apalagi tatapan Nana terlihat sangat pandai menakut-nakuti kehidupannya.


Dina panas. Kepalanya ingin pecah. Dia segera mendekati Nana. Membelakangi Gita, dan dengan angkuh menjadi tameng di depan putrinya.


"Jangan menghina puterimu! Kau tidak pantas menyamakan puterimu dengan puteriku. Anna lah pelajur itu."


Plak! Nana menampar wajah Dina. Keras sangat keras. Sudut bibir Dina terlihat sedikit terkoyak, dan mengeluarkan cairan merah segar.

__ADS_1


"Kau berani!" Dina melonjak membalas. Namun, tangannya begitu mudah di cengkram Nana. Cih! Dina meludah wajah Nana.


"Kau pantas di ludah!" ujar Dina terlihat murka. Urat-urat biru hijau terlihat jelas tegang di keningnya yang lebar.


Nana menyeka air ludah yang mengenai wajahnya. Lalu, cih! Nana meludah pula, melakukan hal yang sama.


"Kau pantas mendapatkannya pula!"


Dina akan meludah lagi. Namun, Nana lebih dulu menutup mulut wanita paruh baya itu dengan telapak tangannya.


"Daripada kau memperhatikan orang lain. Perhatikanlah dirimu saja. Puterimu tidak sebagus yang kau bayangkan. Suamimu juga begitu."


Dina melotot marah. Mencengkram tangan Nana.


"Jangan menyebut keluarga bahagia orang lain. Jika kau tidak bisa terlihat harmonis sepeti kamu. Kehidupanmu pincang tanpa seorang suami dan ayah bagi puterimu!"


"Itu tidak benar! Kau lengkap. Namun, kehidupan kalian lebih pincang daripada diriku. Puteriku masih terhormat. Sedangkan milikmu." Nana menyipitkan matanya, mendekatkan bibirnya pada telinga Dina, "Periksa saja di balik pakaian seragam polos miliknya. Mungkin jejak anak muda itu masih tercetak membekas."


"Oh iya, aku dengar suamimu ...." Nana tersenyum dan mendesis, "Dia juga menyukai hubungan manis di belakangmu. Meniduri wanita yang jauh lebih muda daripada dirimu. Bahkan dia terlihat sebaya dengan puterimu."


"Kyaaaaa!" Dina marah dan mulai menarik helaian rambut Nana. Dia mejambak rambut Nana, seakan dia telah berusaha keras mencabut rumput liar dari tanah yang keras.


"Kau tidak boleh mengucapkan hal yang buruk tentang keluargaku."


Nana mencengkram pergelangan tangan Dina


Seakan dia menancapkan setiap kuku dalam daging pergelangan tangan Dina, dan dia pun berteriak seraya menarik kuat tangan Dina untuk mencabut setiap helai rambut miliknya.


"Begitupula dirimu! Jangan pernah menyebut kehidupan keluarga orang lain. Jika kau pun tidak pernah luput dari aib yang di ciptakan oleh puterimu dan suamimu!"


Dina kehilangan keseimbangannya, dan jatuh tersungkur ke lantai lebih dulu, dengan tubuh Nana menimpa di atasnya kemudian. Berasa di atas tubuh Dina, Nana lebih leluasa untuk memukuli dan mencabuti setiap helai rambut Dina.

__ADS_1


"Kyaaa! sakit!" jerit Dina tidak bisa mengelak setiap tamparan yang mendarat di wajahnya.


Gita yang kosong segera bangun karena jeritan ibunya. Dia gagap sebentar. Bingung apa yang harus dia lakukan. Menolong ibunya dari amukan Nana, adalah hal yang paling utama. Sepasang mata Gita mengedar kesana kemari, mencari benda. Tidak lama dia menemukan sebuah vas bunga besar di atas meja. Dia segera berlari tergopoh-gopoh untuk meraih vas itu.


Prankkk! Vas bunga itu di benturkan ke kepala Nana. Nana menoleh sebentar ke arah sang pemukul kepalanya. Gita Wen terlihat berdiri dengan tangan gemetar. Nana tersenyum miris, dan telapak tangannya menyentuh kepala bagian belakang miliknya. Lalu, dia menghadapkan kembali telapak tangan itu jatuh di bawah pandangan matanya. Cairan merah kental tercetak jelas di atas telapak tangannya. Perlahan, Nana mulai meringis dan pandangannya mulai terlihat samar dan berbayang. Tidak butuh waktu lama, pandangannyapun perlahan berangsur gelap makin gelap, dan dia jatuh miring ke lantai. Bruuuukkk!


Dina menahan napasnya. Kini tatapan matanya masih terlihat nanar dan kosong. Bukan karena Nana yang jatuh pingsan dipukuli Gita. Melainkan karena ketakutan dan kecemasannya akan setiap kalimat yang terlontar oleh mulut Nana.


Apakah itu semua benar? Puteriku tidak sepolos yang aku pikir, dan suamiku telah berselingkuh di belakangku. Menyedihkan sekali jika itu benar. Aku hidup dalam keluarga yang bermain kotor di belakangku, dan mulutku membanggakan mereka setiap hari.


Dina menangis dalam kekosongan matanya yang hanya menatap satu titik lampu di langit-langit ruang tamunya. Perlahan telapak tangannya yang mengepal erat, naik ke atas dadanya, dan memukul dadanya pelan-pelan, seakan dia mencoba menghancurkan batu yang mengganjal di dalam jantungnya.


"A-ku se-orang wa-nita baik, ternyata ti--dak men-jamin ka-rak-ter Puteriku itu menjadi so-sok yang baiiikkk."


Deg! Mendengar itu, jantung Gita terpaku. Dia segera duduk tersungkur berlutut di sisi ibunya.


"Maaf ...," lirih Gita terisak kemudian.


Dina tersenyum miring. Sepasang matanya menyimpan embun yang banyak, dan dia menoleh pada Gita, menatap puterinya, dan mendenguskan kalimat kecewanya, "Bah-kan Anna ter-lihat le-bih baik dari pa-da-mu. Walau ibunya liar."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author note :


🤭Halo Gita yang barbar🤭Jangan ikutin sikap Gita di novel ini yah. Tetap jadi Gita, teman author yang baik hati dan nggak barbar okey🤭


...Bersambung ......


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo

__ADS_1


__ADS_2