Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Aku tidak meminta angka


__ADS_3

"Sebutkan angka, cepat!" desak Erald dengan sepasang mata yang menindas, gadis ini keras kepala, namun penampilannya sangat lembut, bahkan wajahnya terlahir seperti mahluk sorgawi, sangat masuk akal, jika Ethan Ruan jatuh dalam pelukannya.


Anna menghindar sepasang mata itu, dia  merasa sangat di uji, lalu menancapkan kukunya dengan sengaja menusuk-nusuk daging telapak tangan, 'sadar Anna, sadar siapa dirimu....'


Peringatnya  dalam hati pada dirinya sendiri, dia harus berkata dengan sangat hati-hati, tidak boleh menyakiti Ethan, tidak boleh menyinggung Ruan, dan dia harus sadar diri. Anna Su, hanyalah debu di ujung sepatu keluarga Ruan.


"Bawa Ethan masuk mobil!" perintah Erald namun matanya tetap menangkap gerak-gerik halus Anna, yang terlihat bingung mengambil keputusan.


"Lepaskan aku! jangan mencoba menakutinya paman," jerit Ethan, segera berusaha bergelinding di lantai dengan sekuat tenaga akan keluar dari tangan-tangan besar dan kuat dari  empat pria itu yang mencengkramnya, "Erald, kau bukan pamanku lagi!" seru Ethan lantang.


Erald berbalik, keponakannya berani hanya menyebut namanya saja, matanya melotot  jatuh keluar, dan dia hanya terkekeh mengejek lagi, "kau seharusnya beruntung memiliki paman seperti diriku!"


Ethan meludah jijik, namun satu tangan telah membungkam mulut Ethan, empat pria  besar itu sudah menjeratnya, tidak memberi kesempatan lagi  dan membawa pergi, dan menyeretnya keluar, dan menjadi tontonan menarik semua pengunjung kedai, termasuk Susan dan kawan-kawannya.


Ethan di bawa pergi dengan segala paksaan, dan Ethan meronta-ronta memaki, "dasar rendahan, aku bersumpah akan membuat kalian kehilangan nasi seumur hidup kalian."


Peringatan Ethan, membuat semua orang bergindik ketakutan. Manajer kedai, bahkan segera bersembunyi dengan tubuh gemetar, dan merasa seluruh tubuhnya dingin hingga ke tulang, ancaman Ethan terlihat akan kenyataan yang akan segera terjadi, mampu memecahkan mangkok nasi siapapun. Siapa yang tidak takut? Manager kedai memeluk lutut dan berdoa, "semoga Tuan Ethan, tidak ingat padaku. Amin."


Susan mengepalkan tinjunya. Kalimat Ethan tadi, 'dasar rendahan, aku bersumpah akan membuat kalian kehilangan nasi seumur hidup kalian.'


Kata-kata itu jelas ikut menyakiti jiwa raganya, Karena mereka telah kehilangan mangkok beserta nasinya, karena keadilan Tuan muda Ruan, sangat pincang dan pria emas itu terlahir sombong dalam segala kata-katanya yang penuh kuasa, setiap kata Tuan muda Ruan seperti tertancap menyakiti Susan dengan sangat dalam, dia masih mengingat satu kalimat pria sombong  yang tinggal dalam sangkar emas, untuk pertama kalinya, 'aku katakan padamu, dalam keluarga Ruan, tidak ada yang namanya keadilan, yang saya senangi, itu yang tinggal.'


Cih...


Susan ingin meludah dan menampar siapapun yang menjadi kesenangan Tuan muda Ruan. Anna Su, adalah target utamanya, dan dia juga ingin menegakkan keadilan untuk mangkok nasi yang telah di tumpahkan dengan sengaja, dengan menghancurkan kesenangan Tuan muda Ruan.


'Tunggulah pembalasanku ini, Tuan muda Ruan, kau akan berlutut padaku, karena aku adalah sumber kesenanganmu.'

__ADS_1


Susan menggebu-gedu dalam dadanya, dia menjadi sangat tertarik akan nasib sosok gadis yang tertinggal dalam ruangan itu, karena Tuan muda Ruan, pria kelahiran emas itu telah di seret ke dalam mobil, lalu bagaimana dengan gadis rendahan itu? tersiksa atau dilempar uang?


"Ayo kita pergi melihat," ajak Susan pada Yuri dan Gita, yang langsung menyetujui hal ini, dan menyiapkan ponsel untuk merekam tontonan menarik, hubungan beda kasta ini, akan menjadi lelucon besar.


Tap—tap—tap!


Langkah tiga pasang gadis itu berderap-derap menapak lantai  dengan sangat tergesa, tidak ingin sedikitpun ketinggalan adegan.


Baru saja tiba di garis pintu, yang mereka lihat satu tongkat pria itu mengacung di udara, tepatnya menunjuk wajah gadis itu, dengan ancaman.


Susan maju, ingin mendengar, namun 'blam' terdengar kemudian.


Pria paruh baya itu menutup pintu, menghilangkan kesempatan mereka untuk melihat adegan, Gita yang duluan bangun dari rasa terkejutnya akan suara pintu, langsung berpikir kotor, "apa Tuan besar itu akan menodai kekasih Tuan muda Ruan?"


Yuri setuju, "hal itu sering terjadi."


Mata Susan naik mengangkat kelopak matanya, dan satu kejahatan  berencana terpantri di dalam manik-manik mata gadis muda itu, dendamnya haruslah segera dia balas, dengan menyingkirkan Anna, anak Nana Su. Susan tidak akan melupakan mangkok nasi keluarga mereka  telah di balik Nana Su, dan  saatnya menghancurkan bunga dalam rumah tangga Nana Su, dan dia mencemooh dalam hatinya, 'Nana Su, kau tertawa kemaren, di masa depan, kau akan menangis.'


"Ayo kita pergi!"— Susan berjalan lebih dulu meninggalkan dua temannya— "tidak ada yang menarik untuk ditonton lagi, kan."


Yuri mengikuti. Gita menghela napas, masih sangat penasaran, maju ke pintu, dan menempelkan daun telinganya. Namun tidak ada satu suarapun di sana, dan tiba-tiba muncul satu sosok hitam dari belakang mengejutkan raganya, "pergi, anak kecil!"


Gita terkesiap dan ciut.


Glek! menelan ludahnya takut, melihat salah satu pengawal yang menyeret Tuan muda Ruan telah kembali. Kakinya bergetar, dan seakan terpaku, tidak bisa lari kemana-mana, karena ketakutanya, dia ingin memanggil Yuri dan Susan, namun isi mulutnya kehilangan kata-kata. Gita meringis linglung.


Yuri yang melihat situasi, segera menyeret Susan kembali berbalik, dan melihat Gita hampir kehilangan hidupnya, dan wajahnya telah berubah pucat.

__ADS_1


'Dasar pengecut!' hujat Susan segera maju, dan menyeret tangan Gita agar bersembunyi di belakangnya, dan mengajak Gita membungkuk dan menundukkan kepala, "maaf, paman... kami tidak akan berani mengintip lagi."


"Pergi!" perintah pria besar itu, Susan segera menjawab serentak dengan Gita, "baik, terima kasih."


Pria besar itu pun mengetok pintu lebih dulu, dan barulah dia masuk, setelah memastikan tiga gadis kecil itu keluar dari pintu.


Kret.... Membuka pintu.


Ruangan masih sangat terasa mencengkam, dari tadi Anna belum mengeluarkan jawabannya, dan Erald hanya menegetok-ngetok lantai dengan  ujung tongkatnya, menunggu jawaban Anna.


"Nona kecil, menunggu itu sangat membosankan," sindir Erald dengan tangan kini menyilang di dadanya, "apa kau bingung meyebutkan angka?"


Anna menggelengkan kepala.


Pengawal pria besar itu maju, dan terlihat memotong isi mulut Anna yang akan terlontar, "Tuan Erald... Tuan Ethan sudah di ajak ke Villa Timur."


Erald tidak menoleh sama sekali, dan hanya mendengus mengejar Anna lagi, "apa yang ingin kau katakan?"


Anna menahan isaknya. Baru saja, dia belajar menyukai Ethan, ternyata Ruan sudah mengejarnya, dan mendorongnya untuk berhenti menyukai Ethan. Tetapi, bagaimana caranya berhenti menyukai Ethan? Dia tidak tau caranya, dia telah terjebak di dalam lubang perasaan yang sangat dalam dan rapat, Anna tidak bisa keluar lagi.


Anna terisak sebentar, hiks— hiks—hiks.


"Jangan menangis!" hardik Erald.


Anna mengangkat kepalanya, mendongakkan ke atas, memperlihatkan sepasang mata indah yang berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar berkata, "Tuan besar, aku tidak meminta angka."


...

__ADS_1


__ADS_2