
Sepasang mata Joe Han mengerjap perlahan,dan mulai terbuka. Jemari tangannya mulai bergerak dan perlahan meraba-raba di udara. Kepalanya menoleh ke kiri,dan dia mampu melihat matahari terbit dari jendela. Dia tersenyum kemudian. Matahari itu terlihat sama seperti yang dia kenal sebelumnya.
Apakah aku masih hidup?
Joe terlihat menggerakkan sudut bibirnya, suara tawa kecil terdengar kemudian. Bagai bayi polos yang baru melihat dunia. Joe Han tertawa kembali.
Aku masih hidup.
Tangan besar itu naik merangkak perlahan, berhenti tepat di dada kirinya. Ada irama detak jantung yang berbeda. Bunyinya selaras. Tidak lambat. Tidak pula cepat.
Apakah ini jantung baru?
Joe Han memejamkan matanya. Dengan seksama dia menajamkan telinga untuk mendengar ritma jantung barunya. Bunyinya selaras dengan detik jam.
Tik! Deg! Tik! Deg!
Joe Han membuka matanya,seakan ada harga yang harus dia bayar.
"Jan...tung pem-be-rian Ruan ?" Joe lirih akhirnya mampu membuka mulutnya. Sekejap kejadian kembali padanya. Pertengkaran saat itu. Tidak sadarkan diri. Mendengar suara ibunya menangis, dan suara Anna memanggilnya untuk bangun dari tidur panjang.
"Ibu. Adik. Anna."
Joe kembali tersenyum. Seakan dia telah kembali untuk bertemu dengan yang beharga di dalam hidupnya.
Aku bangun untuk ibu. Adik. Dan untuk Anna.
Joe menitikkan air matanya. Seakan kesempatan kedua ini adalah emas langka yang berada di dalam genggaman tangannya, tidak boleh dia buang dengan sia-sia, napas baru, untuk perjuangan baru.
Kret!
Pintu terdorong pelan. Seorang perawat datang dengan langkah tergesa kala dia melihat sang pasien telah membuka matanya. Tersenyum padanya.
"Kau bangun?"
Joe menganggukkan kepala. Walau berat untuk bergerak. Dia berusaha sekali untuk mengangguk.
Setelah kesadaran pertama Joe. Joe masih berada dalam ruang ICU selama satu minggu Kemudian. Tanpa boleh di besuk lebih dulu. Setelah keadaannya tetap stabil, Joe di pindahkan ke ruang perawatan.
Bibi Yuna tampak berseri. Dia memotong buah apel, dan mulai memberikan satu potongan kecil pada mulut putranya yang terlihat mampu duduk kembali dengan baik.
"Terimakasih ibu," jawab Joe Han dengan wajah bersemu merah. Malu akan tubuhnya yang besar, namun masih menerima suapan tangan ibunya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu malu."
Joe tersenyum, dia berdehem kemudian.
"Apakah Anna ada kemari, ibu?"
"Aku melarangnya datang."
"Mengapa?"
"Dia ternyata kekasih yang hampir membunuh anakku."
Joe tersenyum hambar.
"Karena pukannga tempo hari. Aku memiliki jantung baru. Peluang hidupku lebih panjang, Bu."
"Bukan dari Ruan. Ini dari yayasan jantung."
Joe tersenyum getir.
"Tidak semudah itu mendapatkan satu beharga dengan harga gratis. Kau hanya sedang di mamfaatkan agar menerima jantung ini bisa terpasang di dada ini."
Klek! Pisau buah jatuh ke lantai. Bibi Yuna seakan baru menyadari apa yang telah terjadi. Keganjilan-ganjilan rumah sakit. Tidak meminta uang. Perawatan ekslusif. Bahkan Dokternya pun Dokter jantung yang tersohor dunia.
Sepasang mata bibi Yuna terlihat berkaca.
"Kau bertengkar dengannya. Artinya dia adalah musuhmu. Tidak seharusnya aku menerima bantuan orang yang kau benci."
Setelah selesai satu kalimat terakhirnya. Bibi Yuna mulai terisak merasa kebodohan dirinya, telah melupakan harga diri puteranya.
Joe menatap ibunya, sesaat. Lalu, jempolnya bergerak dan menyeka air mata ibunya, "Setelah berada di pintu kematian. Aku baru menyadari. Lebih baik aku membuang harga diriku, agar bisa melihatmu lagi. Terkadang, lebih baik harga diri itu terinjak. Namun, ku tetap hidup untuk meraih tangannmu seperti ini."
"Apa hatimu tidak terluka?"
"Aku masih bisa menyelamatkan harga diriku, Bu. Aku hanya bertukar dengan Ethan."
Bibi Yuna mengerut tajam.
"Memberi harga dan bertukar hadiah yang baik. Mungkin, aku harus menyerah lebih awal. Aku hanya melepas Anna."
Bibi Yuna tertunduk.
__ADS_1
"Apakah kau rela?"
"Jika ada yang lebih baik, bukankah kita harus rela, Bu?"
Bibi Yuna menggelengkan kepalanya, "Menurutku, puteraku adalah terbaik. Mengapa kau harus menyerah jika mencintai?"
Joe menoleh pada ibunya. Wajah pucatnya mekar seketika, "Bu, aku bisa hidup tanpa Anna. Tetapi, Ethan tidak bisa hidup tanpa Anna. Aku memilikimu yang mencintaiku dan menjunjungku tinggi. Ethan hanya memiliki Anna."
Bibi Yuna menyeka air matanya, dia mencium hangat punggung tangan Joe, "Dia lebih malang daripada Puteraku. Kau lebih beruntung, memiliki aku dan adikmu. Dia?"
"Hmm ... Dia hanya memiliki satu orang yang memahaminya. Hanya memiliki satu orang yang menenangkannya. Hanya memiliki satu orang yang mengerti dirinya. Hanya memiliki satu orang yang mampu membuatnya berdetak gila."
Bibi Yuna terbahak, "Benar, dan Tuhan ikut mempermainkannya. Mereka saling menyukai. Namun, tidak tahu caranya bersatu."
"...."
"Tidak ada hal yang menyedihkan selain tangan emas terjebak berusaha menggapai kerikil di sebuah lubang kecil yang menyakitkan tangannya. Namun, dia tidak pernah bisa meraihnya."
"...."
"Ha ... ha ... ha ...."
Bibi Yuna kembali terbahak keras seakan menyebut karma itu manis sekali pada seseorang yang mampu meraih segalanya. Namun, sulit meraih cintanya sendiri. Sederhana, namun sulit di raih dan di genggam.
Joe tidak tersenyum ataupun merasa konyol untuk ikut terbahak bersama ibunya. Dia hanya memandang ibunya, dan menunggu ibunya berhenti tertawa.
Tatapan Joe yang terlihat menunggu. Mengakhiri tawa Bibi Yuna. Bibi Yuna berhenti.
"Aku tau itu tidak lucu. Hanya saja Tuhan terkadang adil membalas orang licik. Tuhan tau kelemahannya di mana. Tuhan memukul dengan tepat."
"Bu."
"Iya."
"Oleh itu aku menyingkir dari arena. Aku berhenti berharap untuk bertarung di arena. Itu menyakitkan. Hatiku sakit, terpukul. Babak belur. Aku memutuskan keluar dari arena. Bukan untuk berhenti mencintai Anna. Aku hanya menunggu sampai Tuhan menentukan akhir ceritanya. Di saat itulah, aku akan tau bagaimana cara Tuhan menjodohkan seseorang. Jika Ethan tidak berakhir bersama Anna. Bukankah, aku hanya berharap Anna turun dari arena dan melihatku, orang yang selalu menunggu dan tidak akan pernah menghapus namanya dari hatiku."
Bibi Yuna tersenyum dalam isak. Dia segera menutup wajahnya,dan menampung isak dalam tangannya. Setelah cukup lama menangis, dia menyeka banjir pada wajahnya.
"Jika Anna adalah tujuan. Aku tidak akan menghalangimu. Jantung adalah benda yang tidak akan mampu berdetak kembali jika kau tidak pernah menginginkan kembali. Aku berterimakasih akan rasa yang kau simpan di dadamu. Oleh rasa itulah, kau mampu bangkit dan hidup lagi."
Joe menitikkan air matanya. Dia menjilat asin air matanya. Ada rasa lega mendapat restu ibunya kembali. Hari ini adalah hari pertama dia mengungkapkan bagaimana perasaannya dia jatuh cinta, bertarung, dan akhirnya memilih menanti di pinggir arena.
__ADS_1
...꧁❤•༆Anna & Ethan༆•❤꧂...
🍭