
Mata cokelat Ethan menatap Anna, dia terlihat menunggu gadis itu membalas pengakuannya.
Anna terpaku menatap sepasang manik indah Ethan, dan dia tidak pernah bisa berharap akan membaca perasaan Ethan dari sorot matanya, yang menunjukkan perasaan cinta Ethan yang terlihat sedalam lautan, dan seluas angkasa biru, serta kesungguhan pria itu bak raja yang memimpin di medan perang, tidak akan pernah mundur kecuali kematian telah tiba.
Deg!
"Jangan menatapku lagi, Ethan!" peringat Anna dan merusak moment segera, dengan menunduk perlahan, tetapi getaran hati Ethan telah mengguncang bilik-bilik hatinya, dan dia tertahan cukup lama dalam pengakuan yang hanya berada dalam tenggorokannya. Dia tidak mampu mengucapkan satu katapun. Dia sangat ragu. Seakan seluruh cintanya pada Tuan muda Ruan, hanyalah merupakan batu nisan bagi ibunya kelak.
'Batu nisan.' Anna perih akan dirinya sendiri. Pesona Tuan muda Ruan, tidak mampu dia elak lagi. Ethan adalah udaranya, rasanya akan selalu hidup, jika bersama Ethan Ruan. Anna jatuh mendesis ragu membalas pengakuan Ethan, "a-aku sebenarnya juga, m-m...."
Anna kembali memendam perasaannya sendiri, seakan Nana Su ikut hadir menyaksikan semua adegan manis, namun juga merupakan adegan memilukan dengan sengaja, turut menoreh-noreh dada ibunya. Sepasang mata ibunya hadir mengancam dan menghardiknya, 'jangan lakukan hal itu, Anna.'
Anna menelan perasaaannya sendiri, untuk sebentar, dan kembali membela diri akan keputusannya, menatap tajam dinding lain, seakan di sanalah ada sosok Nana Su mengintai dirinya dengan wajah awas yang memperingati dirinya.
'Percayalah Ethan berbeda dari Tuan muda manapun. Aku mempercayai kelahiranku, bukanlah buah yang jatuh dekat pohonnya.'
Anna merasa yakin akan hatinya, dia tidak akan salah memilih pria. Ethan, bukanlah pria yang akan menyakitinya di kemudian hari.
'Anna!' Ibunya seakan hadir membeku dan berseru dengan mata yang berkaca dalam pikirannya sendiri.
Anna kembali ragu mengatakan setiap katanya, dia teringat akan setiap kata ibunya yang membayangi, seketika ambigu, seakan satu bisikannya mendorong cintanya ke jurang keraguan,ibunya seakan hadir, berbisik memeperingati dirinya, satu kalimat panjang itu berteriak di telinganya,— 'Tuan muda kaya raya pandai menyebar racun berlapis madu. Mereka semua penipu.Bersumpahlah padaku, Anna, untuk tidak bergaul dengan mereka.'
Anna menekan dadanya sendiri, seakan telah menelan ludah yang pernah dia ucapkan.
'Aku bersumpah,bu.' —Anna tertampar akan sumpahnya sendiri, hatinya telah melanggar, bibirnya sebentar lagi akan ikut melanggar untuk ke dua kalinya, setelah dia pernah berkata membeli restu dari Erald Ruan, —'restui aku dan Ethan.'
"Mencintaiku juga?" lanjut Ethan tidak sabar, menunggu Anna yang terlihat ragu, hatinya gelisah seakan merutuk usahanya sendiri,— 'aku tidak boleh menyerah Anna, aku tau kau pasti mencintaiku. Kau hanya tidak ingin mengaku.'
__ADS_1
Anna menunduk ke bawah, menatap karpet, menutup matanya, dan menganggukan kepalanya seperti orang yang telah di dapati menyembunyikan sesuatu. Menyembunyikan perasaannya sendiri. Saat ini, dia menyerah, dan pergi mengakuinya.
Ethan mendekatkan Anna, masuk menabrak dada Ethan, melingkarkankan tanggan di pinggang ramping Anna, dan dagunya jatuh merapat di pundak, dan berbisik kembali, "aku seakan memiliki kekuataan besar, Anna. Karena kau juga mencintaiku pula."
Deg!
Anna merasakan dirinya menyatu ke dalam pelukan Ethan, merasakan kelegaan di dadanya sendiri, dan memberanikan membuka mulutnya, mengutarakan hatinya dengan wajah malu yang bersembunyi di dalam dada Ethan, "aku juga sangat mencintaimu, Ethan."
Ethan kehilangan kendali atas dirinya, tidak mampu menjauhkan dirinya sebagaimana dirinya akan merasakan sesak, jika dia berjauhan dengan Anna. Kini, satu kalimat Anna bagai udara yang masuk ke dalam rongga-rongga dadanya, dan memompa kembali kinerja jantungnya, kembali berdetak dan kembali hidup. Mendapatkan perasaaan yang sama terlontar dari mulut Anna masuk dalam telinganya, dan membucah di dadanya. Gelombak riang bahagia itu, mengisi seluruh dadanya.
Ethan mengeratkan kalungan tangannya sebentar, mengerat dengan kuat, barulah dia melepaskan dirinya, dan dia mendekatkan wajahnya pada Anna, dan menciumnya.
Cup!
Bibir mereka bertaut lebih lama, dan saling membasah sebentar, dan saat ini Anna telah merasakan dirinya, telah kehilangan sumpahnya pada ibunya, dia telah jatuh cinta pada Tuan muda Ruan, pria yang memiliki tahta dan mampu membeli dunia siapapun.
Tik!
Anna turut meneteskan air matanya sendiri, ketika bayang Nana Su yang hadir telah lenyap ke udara, dia pergi dengan wajah yang penuh air mata. Bibir Anna diam, bergetar takut dalam tiap kecupan datang, namun bukan gairah yang dia dapatkan, luka dan toreh dalam setiap kecupan Ethan menerbitkan rasa perih, dia telah melanggar sumpahnya.
Ethan terlihat mengintipnya, seakan menyadari, ada sesal dalam mata Anna, yang terlihat berkaca-kaca. Detik rasa bahagia, berganti menjadi rasa sesak di dadanya.
Sedangkan, Anna makin linglung dan kosong, tidak menyadari bahwa Ethan telah mengintip suram. Satu kalimat ibunya datang menghantui seluruh pikirannya, 'Anna, dengar ibumu, Pria muda kaya raya, hanya bergaul untuk merendahkan seorang gadis, setelah selesai dia bersenang-senang, mereka akan lari, seperti lupa telah mengisap madu.'
Sekujur tubuh Anna bergetar, merasa kecupan Ethan hanyalah perbuatan mengisap madu, Anna beriak akan dirinya sendiri, dan mendorong halus dada Ethan, seakan Ethan lahir hanya untuk mengisap madu.
Ethan melepas pagutannya, dan belum saja dia akan bertanya, suara seseorang di depan pintu menegur mereka.
__ADS_1
"Apa sudah selesai? sudah puas?"
Ethan berbalik, menoleh ke pintu, dan tangan lainnya, menyembunyikan Anna di belakang punggungnya.
Anna tidak memperhatikan siapapun yang datang, dia telah kacau dengan hatinya sendiri, dia membuka kelopak matanya, menghapus air matanya yang bergulir mewakili rasa sakit, mengingat dirinya telah melanggar sumpahnya.
Matanya berkedut ketika Ethan terdengar membuka suara terhadap seseorang.
"Paman Erald, mengapa kau di sini?" tanya Ethan menyipit tidak senang dalam satu tampilan menghadapi sosok hitam yang berdiri di ambang pintu, terlihat sudah lama memergoki mereka.
"Ehemm...," dehem Erald merasa geli, dan menyindir, "ini rumahku, mengapa tamu bertanya pada Tuan rumah, dan aku belum menjual rumah ini."
Ethan tersenyum miring. Hampir saja melupakan jika rumah ini, milik pamannya, dia selalu mengingat semua lantai yang dia injak, adalah segala hal yang bisa dia beli. Tetapi, untuk hari ini, dia hanya bisa meminjam kuasa Erald Ruan—pamannya. Karena mengingat hubungan dengan Anna, hanyalah bisa berjalan di bawah tanah, dan harus bersabar menunggu, ketika kekuasaan itu nyata dalam genggaman tangannya.
Anna bangun kembali nyata, merasa malu akan suara yang hadir memergoki adegan, dia keluar dari persembunyian, wajah menunduk malu, dan polos berkata, "iya maaf, pamanmu, dan...," —Anna ragu dan bibirnya bergetar akan rasa malunya— "dan... ini sudah selesai."
"Belum!" seru Ethan memotong. Kemudian, bernada mengusir lembut pria paruh baya yang tegap berdiri akan maju selangkah, "pergilah dan tutup pintu, paman!"
Anna mendelik, dan mencubit dirinya sendiri, sadar sesuatu, dia segera mengelak, "sudah selesai."
"Minta tambah." Ethan mendenguskan hasratnya, dan merutuki kedatangan pamannya, 'gara-gara paman datang, dan merusak moment manis.'
Erald memintal ludah, dan menyindir, "keluarlah kalian berdua dari kamar, memberi kesempatan berlama, aku tidak yakin Ethan menjaga diri melihat kasur di sana."
"Paman!" Ethan berseru marah, namun juga merasa sangat tersodok, menangkap kata kasur dalam kalimat pamannya, dan mendengus dirinya, 'apa aku serendah itu?melihat kasur, aku ingin mencekikmu Erald Ruan.'
...
__ADS_1
Notes.
Jangan Lupa dukung karya Author setiap saat yah, caranya Coment, Vote, dan Like yah, Tips Koin terakhirlah.