
Kediaman Keluarga Ruan
Sebuah taxi baru saja berhenti tepat di pagar utama besar kediaman keluarga Ruan. Dia berniat, hanya akan menyampaikan pesan ibunya kepada kepala pengurus rumah tangga Ruan. Setelah itu, dia akan segera pulang.
Anna turun dari taxi. Setelah, menyerahkan beberapa lembar uang sesuai tarif yang tercetak pada layar argo meteran.
"Terimakasih, pak," ucap Anna setelah menutup pintu mobil. Pak sopir Taxi, tersenyum dan menganggukkan kepala sebelum dia benar berlalu.
Anna berjalan menuju pos jaga. Segera, melaporkan tujuannya berkunjung. Ketika, seorang security tampak keluar dari pos tersebut.
"Aku datang, hanya ingin bertemu kepala pengurus, dan hanya ingin mengatakan, jika Nana Su, ibuku, pelayan rumah ini, tidak dapat bekerja untuk beberapa hari karena dia telah—" Anna tampak ragu mengatakan alasannya. Dia tampak mempertimbangkan kebohongan yang akan dia ucapkan.
"I-ibuku telah mengalami sedikit kecelakaan ke-kecil. Sehingga, dirinya tidak dapat pergi bekerja," terang Anna dengan nada gugupnya.
"Tunggu sebentar, aku akan memberitahu hal ini lebih dulu. Aku harus menanyakan, apakah kau boleh masuk atau tidak? Karena Nyonya Ruan, baru saja tiba pagi ini. Dia tidak menyukai orang asing, masuk menginjak rumahnya," terang Security tersebut.
Nyonya rumah. Apakah itu ibu Ethan?
Sepasang kaki Anna, terlihat makin ragu melangkah. Hatinya ikut menciut, kala mengetahui kehadiran sosok yang harus dia hindari.
Ingin pergi. Namun, Anna belum bertemu dengan kepala pengurus rumah tangga. Jika tidak memberi kabar perihal ketidakhadiran Nana bekerja hari ini. Dia takut, ibunya akan di pecat.
"Ikutlah, kau boleh masuk. Kepala pengurus rumah tangga, menunggumu."
Mendengar hal itu. Anna menguatkan lututnya. Ketika, pintu pagar bergeser terbuka perlahan secara otomatis. Dia berjalan perlahan, walau banyak menyimpan keraguan dan rasa takut, jika bertemu Nyonya rumah. Langkah kaki kecil Anna mulai menginjak halaman rumah kediaman Keluarga Ruan, yang terlihat sangat luas. Namun, seluruh hatinya ikut berdegup kencang.
Apakah ibu Ethan, sangat menakutkan? Jika Ethan bisa bersikap manis, bagaimana dengan ibunya?
Deg! Degup jantung Anna bagai jatuh melompat ke dasar jurang. Dia makin gugup saja, ketika dirinya telah mencapai pintu rumah kediaman keluarga Ruan. Cemas dan takut bagai selimut yang membuat kedua lututnya yang kokoh, segera seperti kaki yang telah kehilangan tulangnya. Hanya tertinggal kulit dan daging. Lemas.
Kret! Pintu itu terbuka lebar. Sedetik kemudian, Anna tampak memejamkan matanya sesaat. Seakan, dia sedang mengambil kekuatan di udara.setelah cukup yakin, dia kembali membuka matanya.
"Masuklah." Seorang pelayan mempersilahkan Anna masuk.
"Ingin menemui Bibi Fann?"
Anna menganggukan kepalanya, sambil terus mengatur langkah, dan berjalan mengikuti pelayan tersebut, menuju dapur.
Di Dapur
Tampak seorang wanita paruh baya terlihat sedang mengatur pekerjaan beberapa juru masak di dapur, dia terlihat memegang sebuah buku menu hidangan, dan memberikan beberapa instruksi kepada seorang juru masak.
__ADS_1
"Kau harus menghindari semua daftar bahan yang aku berikan tadi. Nyonya, memiliki lidah yang sensitif, dan dia tidak menyukai penyedap bumbu yang berlebihan!" tekan bibi Fann, lalu menyerahkan buku menu.
"Pukul tujuh malam, Tuan Ruan akan datang bersama Tuan besar. Kau harus berhati-hati menyiapkan hidangan untuk malam ini."
Tuan Ruan dan Tuan besar, apakah itu ayah dan kakek Ethan?
Anna berhenti bernapas sebentar. Deg! Degup jantungnya makin berdegup keras, mendengar dua orang inti Ruan akan hadir malam ini.
Aku harus segera berpamitan pergi, aku tidak ingin bertemu mereka.
Anna tampak gugup dan masih berdiri di belakang pelayan yang membawanya ke dapur, dia diam-dia merasa nyaman bersembunyi di belakang punggung pelayan tersebut.
Ketika punggung itu bergeser, tampak bayangan hitam berdiri di depannya. Bibi Fann terlihat menatap dengan penuh selidik.
"Anna, Puteri Nana Su?"
Anna terkesiap ketika namanya di sebutkan.
"I ... iya," jawab Anna dengan sedikit nada bergetar.
"Kau sangat mirip dengan ibumu, sehingga aku mudah mengenalmu."
"Selamat sore, Nyonya Fann. Aku Anna Su, Puteri Nana Su." Anna memperkenalkan dirinya dengan rasa canggung, tidak berani menatap wanita paruh baya tersebut.
Anggap saja, Tuan muda Ruan hanya kebetulan menyukaimu, karena kau memiliki wajah yang cantik.
Anna mengangkat kelopak matanya, ketika merasa dirinya telah di nilai dengan seksama. Dia mendapati Bibi Fann telah kembali berdiri di depannya, dan bibir wanita paruh baya itu terdengar ramah menyapanya.
"Sore juga Anna."
"A-aku ...." Anna bingung memulai percakapan, apalagi dia harus berbohong sesuai pesan Nana Su.
"Ada apa dengan ibumu? Dia tidak bekerja?"
"I-ibu, ti-tidak bisa bekerja. Ka-karena dia sa-sakit."
"Sakit?" Dahi bibi Fann tampak mengerut dalam. Seingatnya, Nana Su terlihat tidak sakit semalam setelah pulang bekerja.
"Ibu mengalami k-kecelakaan pada m-malam hari ...,"gagap Anna terlihat kebingungan akan melanjutkan kebohongannya.
"Lanjutkan, jangan gugup seperti itu."
__ADS_1
"I-ibu telah mengalami t-tabrak lari," lepas Anna pada kebohongannya.
Bibi Fann tampak terkejut akan dua kata terakhir yang di lontarkan Anna. Tabrak lari.
"Apakah dia terluka parah?"
Anna menganggukan kepalanya, dan berkata memohon, "Mungkin dalam satu Minggu, ibu tidak bisa pergi bekerja. Tolong jangan pecat ibuku."
"Satu Minggu? Itu terlalu lama."
Bibi Fann mundur selangkah. Jika Nana bukanlah, Tuan muda Ruan yang memilihnya menjadi pelayannya. Bibi Fann, akan memiliki kuasa memecat dan mencari penggantinya, jika tidak masuk kerja selama satu Minggu. Namun, dia harus menekan Nana untuk kembali bekerja secepatnya. Karena, dalam.waktu dekat akan di langsungkan acara ulangtahun sekaligus pertunangan Tuan muda Ruan.
"Tetapi, kami butuh tenaga Nana secepat mungkin. Libur terlalu lama, akan merugikan ... kecuali ...."
"Aku bisa mengganti ibuku bekerja."
"Selama seminggu?"
Anna menganggukan kepalanya.
"Kau tidak akan sekolah dalam seminggu?"
Anna terlihat ragu sesaat, namun akhirnya memutuskan menganggukan kepala lagi.
"Kau yakin?"
"Aku bersekolah di sekolah yang aturannya tidak ketat. Dimana, banyak siswa bolos sekolah, itu bukan masalah besar."
"Oooh ...," gumam bibi Fann panjang, dan menatap tajam gadis kecil di depannya, dan diam-diam mencurigai niat Anna bersedia bekerja.
Bibi Fann mendekatkan tubuhnya pada Anna, dan kepalanya menjulur ke sisi telinga Anna, dan berbisik memperingatinya, "Kau boleh pergi bekerja mengganti ibumu. Namun, kau di larang menggoda Tuan muda Ruan. Walau kalian saling mengenal. Tolong, kau harus menjaga sikapmu."
Deg! Anna berhenti bernapas akan peringatan nyata di telinganya.
"Kau mengerti?"
"Mengerti."
"Jangan lupa! Kau bukan siapa-siapa. Kau bukan hidup dalam dunia dongeng. Kau bukan Cinderella."
......................
__ADS_1
**Bersambung ...
Author lagi sakit, jadi malas pakai lotion citra. Met membaca 😀**