
Ethan mengatupkan seluruh giginya lebih keras, seakan menekan rasa sakit yang telah menikam ulu hatinya. Untuk pertama kalinya, dia menyadari kekuasaan dan keegoisan terhadap orang lain,dapat menyakiti dirinya sendiri. Sepasang mata Ethan beralih memindai wajah Joe. Bekas memar masih terlihat di sana, walaupun samar, namun adegan nyata waktu itu menyerang pikiran. Menghajar karena rasa cemburunya, dan membuat pria tak berdaya ini, jatuh tidur panjang seperti ini.
Ethan mengambil tangan Joe, dengan sengaja dia meremas tangan pria itu, seakan berharap ingin mematahkan tulang tangan pria lemah itu, namun ternyata tulang rusuk rongga dada Ethan yang lebih dulu mematahkan dirinya sendiri dan melukai jantungnya kembali. Perlahan dia kehilangan kekuatannya sendiri, untuk mematahkan tulang tangan Joe.
"Joe Han ..., apa kau menyerah? kau belum mengatakan apapun padanya. Kau sudah sangat menyukai Anna, 12 tahun Dari usia masa kanak-kanak kalian. Lalu mengapa kau harus mengalah untukku yang belum mengenal lebih dari tiga bulan. Aku terbakar atas persaingan, bahkan diam-diam aku berharap kau mati segera. Bagiku kau adalah dinding yang tinggi. Cinta mu tulus, kalian sederajat, kalian saling mengenal sejak lama. Jika kalian bergandengan tangan, seakan menempuh perjalanan yang sangat mulus. Aku iri akan hal itu. Oleh itu aku rela jatuh menjadi batu cadas, melukai dan merobek telapak kakimu ...," curah hati Ethan. Terisak kemudian. Ternyata dia bukan hanya melukai telapak kaki Joe, namun juga telah merampas kehidupannya.
Setetes air matanya jatuh mengenai wajah Joe, tanpa dia bisa menahannya untuk jatuh.
"Aku tidak menangis untukmu. Aku menangis hanya karena aku takut kematianmu, membawa kematianmu pula. Aku takut Anna membenciku. Kejahatan ku adalah merampas tokoh wanitaku. Namun kejahatan terbesarmu adalah tidak mengijinkan berbahagia bersama Anna. Kau pengecut sampai akhir hidupmu. Kau tidak bisa menepati janjimu. Kau hanya tokoh pria yang memiliki angan-angan, namun tidak memiliki tekad. Kau adalah pesaing yang rendahan. Bukan karena kekayaan yang terukur. Namun karena, kau tidak pernah memiliki nyali."
Ethan memejamkan sepasang matanya. Kembali mengatupkan rahangnya. Seakan menyadari kebodohannya, dia bukan pergi meminta maaf, namun terus menghujat Joe.
Ethan kembali membuka matanya, dia pun mendengus dan berbisik, "Matilah dengan cepat, wahai pengecut. Aku dengan senang hati, akan membakar dupa untukmu ..., kau pengecut. Sangat pengecut!"
Selesai berkata. Ethan memundurkan kursinya dan meninggalkan ruangan. Mendapati Anna sudah menunggunya di depan pintu ruangan. Gadis itu terlihat mulai mampu menenangkan dirinya. Detik selanjutnya gadis itu tersenyum padanya.
"Ethan, ayo kita pulang ...," ajak Anna, lalu merangkul kan tangannya pada lengan Ethan. Ethan menurunkan matanya, menatap tangan Anna yang menggandengnya pergi. Tepatnya, gadis ini membujuknya untuk pulang.
"Bukankah kita sepakat untuk menemui bibi Yuna," tolak Ethan yang malah membawa Aman menmpuh koridor menuju ruang rawat Joe sebelum masuk ke ICU.
Anna berhenti melangkah, membuat Ethan berpaling dan menangkap raut gelisah di wajah gadis itu.
"Ada apa?" tanya Ethan.
Anna mendongakkan kepalanya menatap pria yang lebih tinggi darinya, ragu-ragu dia mengeluarkan kalimatnya, "Apakah kau tidak takut Bibi Yuna, akan menghajarmu?"
__ADS_1
Ethan tersenyum, dan sedikit mengangkat pupil matanya seakan berpikir sesuatu, dan barulah dia menjawab, "Aku bukan takut. Tapi aku sangat gugup."
"Mengapa harus gugup?"
"Karena ini pertama kalinya, aku harus meminta maaf. Bukankah segala sesuatu itu bisa di selesaikan dengan ...." Ethan tidak menyelesaikan kalimatnya dan segera mengalihkan arah pandang matanya ke hal lain. Menghindar tatapan menyelidik Anna padanya.
"Tenangkan dirimu. Jika kau belum bisa, kita akan kembali nanti," pinta Anna yang membawa Ethan segera melangkah ke ubin lantai lainnya. Tetapi Ethan menahan langkah gadis itu, dan menarik gadis itu bersamanya kembali pergi mencapai pintu ruangan rawat inap Joe.
Ethan terlihat mengatur napasnya. Dia menggenggam tangan Anna, dan bergumam, "Kata Anna, Maaf adalah perasaan tulus yang tidak bisa di wakili dengan uang."
Anna menganggukkan kepalanya, walau terlihat ragu sesaat. Anna berusaha tersenyum ketika pintu kamar terbuka.
Sosok bibi Yuna terlihat duduk mematung di sudut ruangan. Dia terlihat selesai menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Mendengar suara langkah masuk, dia segera mendongakkan kepalanya ke arah pintu.
Awalnya, Bibi Yuna terlihat akan tersenyum. Namun sinar matanya langsung berubah ketika melihat sosok pria tegap yang terlihat bergandeng tangan dengan Anna, berjalan menemuinya.
"Keluar kau!" usir Bibi Yuna.
Ekspresi ramah Ethan terlihat terkejut seketika, ketika seorang pelayan dalam rumah tangganya, bersikap ketus dan arogan padanya. Egonya ingin mendorongnya untuk meninggalkan ruangan itu segera.
"Anna kau datang bersama pembunuh anakku, dan kau menggandengnya di depan mataku," keluh Bibi Yuna lalu menutup mulutnya, ketika suaranya akan terlontar keluar dari tenggorokannya.
"Bibi ...," ucap Anna terdengar menggantung kemudian. Dia terlihat berdiri dengan banyak perasaan dilema.
Ethan menahan egonya, dan membungkukkan tubuhnya, "Bibi Yuna, aku mi-minta maaf ...."
__ADS_1
Bibi Yuna meludah segera ke tanah.
"Jika minta maaf itu bisa membuat anakku kembali bangun dari tidur panjangnya, maka aku akan memaafkanmu, Tuan muda pencabut nyawa ...," ejek Bibi Yuna dengan senyuman yang terlihat menyeringai.
"Berlutut," pinta Anna dengan suara yang yang terdengar berbisik pada Ethan.
Ethan terlihat ragu mematahkan lututnya untuk menabrak lantai, namun Anna lebih dulu membuat lututnya jatuh menabrak ubin lantai yang dingin. Nurani mendorongnya, melakukan hal yang sama. Ethan mematahkan kakinya, dan menurunkan lututnya menyentuh lantai dingin. Untuk pertama kalinya, seorang Tuan muda Ruan harus menurunkan kepalanya terhadap seseorang yang sederajat dengan dirinya. Bibi Yuna hanyalah pelayan dalam rumah tangganya, dan dia mendapatkan penghormatan dari seorang pria muda yang terlihat angkuh.
"Berdirilah Anna, ini kesalahanku. Biarkan aku melakukannya," tegur Ethan.
Anna menoleh ke Ethan sebentar, senyumnya mengembang lebih dulu, dan berkata kemudian, "Jika aku telah memutuskan bersamamu, maka dosamu adalah milikku pula, dan jika kau jatuh, maka aku akan ikut menjatuhkan diriku pula."
Cih!
Bibi Yuna segera meludah mendengar kata manis Anna yang terlontar. Rasa jijik bercampur amarah terendam dalam seluruh dada bibi Yuna, yangb terasa sangat sesak menggoroti hingga jantunya dan dia teringat betapa Joe Han mengagungkan Anna setiap hari.
'Ibu ..., Anna adalah wanita yang sangat manis dan memperlakukan dengan sangat baik. Aku sangat menyukainya, dan ingin ibu menerimanya jadi menantu kelak. Tolong, ibu jangan terlalu keras meminta bunga pada bibi Nana.'
Teringat akan hal itu. Bibi Yuna terlihat makin membenci pasangan yang duduk berlutut di depannya.
"Pasangan pembunuh," sindir Bibi Yuna.
"Aku meminta maaf, bibi ...," ucap Anna lebih dulu, dan di ikuti Ethan mereka bersama membenturkan kepalanya ke ubin yang dingin.
......................
__ADS_1
Bersambung ...
Apa kalian berharap bibi Yuna memaafkan Ethan? jawab yah