
Bibi Yuna berjalan mendekati wajah pria yang terlihat menunduk menatap lantai dengan wajah telah menguras harga dirinya. Wanita paruh baya itu melepas alas kakinya, memajukan satu langkah dan meletakkan di atas ubin di bawah wajah Ethan yang menunduk.
"Jilatlah seperti anjing," pinta Bibi Yuna terdengar mengejek, dan mengangkat kakinya tepat di bawah hidung Ethan.
Ethan mendongakkan matanya. Harga diri telah dia turunkan, dan kini diminta untuk menjatuhkan diri lebih dalam. Ethan
merah, ekspresinya seperti akan segera murka.
Melihat situasi hati Bibi Yuna terlihat sangat buruk dan menjatuhkan harga diri Ethan. Membuat Anna merasa bersalah dan jatuh kasihan dengan Ethan.
"Ethan, kita berdiri." Anna bangun dari posisi berlututnya bersamaan di ikuti Ethan yang terlihat masih menahan amarahnya. Jika bukan karena di sisinya, mungkin dia akan mencabut kesombongan dan kenagkuhan wanita paruh baya ini.
Bibi Yuna kembali mengenakan alas kakinya, dan terbahak beberapa detik, "Ha ... Ha ... Ha ...."
Ethan melirik dengan ujung matanya ke arah Bibi Yuna, cahaya wajahnya terlihat sangat redup dan gelap, dia mendenguskan kekuasaannya, "Apa yang kau inginkan? uang? rumah? janganlah merendahkan orang lain sepertiku, aku bisa membeli dan membayar apapun yang kau mau. Bahkan kematian dan kehidupan bisa ku beli."
Anna terlihat serba salah. Membela Ethan adalah salah satu kesalahan. Membela Bibi Yuna adalah satu kekejiann. Menjadi orang yang tidak memihak siapapun, adalah hal yang mengabaikan.
"Bibi, Tuan muda Ruan berusaha meminta maaf dengan tulus untukmu. Maaf, jika caranya kurang berkenan. Aku minta maaf, telah membawa sesuatu yang membuatmu marah. Waktu yang berlalu tidak akan bisa kembali," utara Anna terdengar ingin membujuk.
__ADS_1
Bibi Yuna menelan air isaknya sebentar ketika apa yang di katakan Anna masuk ke dalam telinga dan menabrak hatinya. Waktu tidak akan bisa kembali. Setelah sekian menit terdiam dalam kesunyiannya dan kesedihannya, Bibi Yuna mengangkat kepalanya menatap Anna.
"Joe akan bersedih. Ketika dia mengetahui hal ini. Teman terbaiknya, malah membela orang yang menganiayanya. Tidak ada hal yang paling menyedihkan, selain tidak dianggap, dan tidak terlihat di mata seseorang yang dia sukai. Kau ikut menusuknya, Anna Su ...," sindir Bibi Yuna.
"Bibi, aku ...," lirih Anna terdengar akan memohon. Dia datang untuk melerai. Namun yang terjadi malah seperti minyak yang dijatuhkan di atas api.
"Sudahlah!" Ethan membuka satu kata dengan nada tinggi, dan menatap lurus Bibi Yuna, "Kau memang rendahan. Kau tidak tahu, betapa sulitnya kehidupan emasku ini harus meminta maaf. Kau tidak tahu betapa banyak harga diriku, yang telah terbuang. Dan ..., kau ikut menyalahkan Anna, orang yang tidak melakukan kesalahan, namun harus mengaku salah di hadapanmu."
Bibi Yuna menghapus biji air matanya dengan punggung tangannya. Dulu dia selalu merendahkan kehidupannya, ketika sang majikan akan berkata sesuatu untuknya. Bahkan dia tidak pernah berani mengangkat sepasang matanya, ketika sang majikan tiba-tiba datang marah tanpa sebab. Dia hanya selalu menundukkan kepala menatap ubun-ubun lantai, dan menganggap bahwa bersabar merupakan kehidupan mendapatkan satu mangkok nasi untuk keluarganya. Mengalah adalah hal yang terbaik. Namun pemikiran itu sirna, ketika kejadian buruk itu menampar kehidupan Joe Han, yang selalu mengalah. Bibi Yuna, merasa lelah.
"Kau hanya mampu berlutut sekali, namun berani memukul berkali-kali. Cara berbaikan tidak semudah yang kau inginkan. Bahkan Tuhan pun tidak akan mampu menjinakkan kebencian seorang manusia, jika dia sudah membencimu," sindir Bibi Yuna mengejutkan Ethan. Tidak pernah dia sangka, bahwa minta maafnya yang tulus, tidak akan mampu meredakan amarah Bibi Yuna, ibu Joe Han.
Bibi Yuna menahan rasa tangis bercampur rasa ingin meledak dalam kekonyolan. Dia pun baru mengetahui jika Joe mengalami penyakit jantung yang di sembunyikan, dan tanpa di sadari oleh Joe maupun dirinya. Namun, keangkuhan pria ini telah membuat Bibi Yuna mengangkat kepalanya untuk meruntuhkan tingginya tembok kesombongan pria itu.
"Kau masih tidak menyadari kesalahanmu, wahai pembunuh yang mempercepat waktu. Kau di benci karena mempercepat waktu itu. Itulah kesalahan besarmu. Kau turut andil dalam mengakhiri kehidupannya, dan kau merasa kau bukanlah pembunuh aslinya ... kau licik sekali," kritik Bibi Yuna, lalu mengangkat telunjuknya terbentang lurus menuju pintu.
"Kau tau pintu itu membawamu masuk, dan pintu itu pula membawamu keluar. Lebih baik keluarlah," usir Bibi Yuna yang lalu berbalik membuang wajahnya, dan menatap langit di luar jendela. Warna langit di luar sana, terlihat biru muda dan cerah. Namun berbanding terbalik dengan langit hatinya, yang terus mendung. Bahkan Tuhanpun terlihat tidak peduli dengan kesedihan yang dia miliki, seakan Tuhan pun mengijinkan hal itu terjadi, dan tidak memberi alasan yang indah, mengapa hal ini terjadi.
"Kami pulang Bibi Yuna. Maaf mengganggumu ...," ucap Anna yang lalu menyeret langkah Ethan keluar dari ruangan. Pergi adalah cara terbaik saat ini.
__ADS_1
Sesaat, dia menoleh ke belakang. Hanya mendapati punggung Bibi Yuna, terlihat rapuh namun juga sulit di sentuh. Untuk pertama kalinya, Joe Han merasa iri akan kehidupan Joe Han. Jika kehidupan dirinya menghasilkan emas, tetapi kehidupan Joe menghasilkan cinta. Diam-diam Ethan mulai merasa iri kembali, Joe mendapatkan ibu yang luar biasa seperti ini. Diapun menginginkan ibu yang seperti ini, rasa cinta tertuang jelas bukan hanya di mulut.
"Anna ...," sebut Ethan yang membuat langkah kaki seirama mereka berhenti di koridor rumah sakit yang terlihat sepi.
Anna menatap pada Ethan, menyelidiki raut wajah pria itu. Banyak garis-garis penyesalan yang terlihat di sana, termasuk garis kesedihan.
"Bukankah katamu, jika kita meminta maaf, maka kita akan di maafkan. Apakah kesalahanku begitu besar?" tanya Ethan seakan seperti anak kecil yang terlihat bodoh di hadapan seorang ibu guru yang mengajarinya.
"Hanya butuh waktu. Biarkan waktu yang menghapus kesedihan. Yang penting kau sudah melakukannya, dan kau sudah mengetahui, bahwa setiap tindakan kecil, yang kau sebut tak punya maksud, tetap saja akan turun andil menyakiti kehidupan orang lain," balas Anna dalam genggaman tangan yang terasa menyalurkan kehangatan pada tangan Ethan.
"Jika itu terjadi padamu. Apakah kau akan tetap sebaik ini berpikir?" kejar Ethan.
Anna tersenyum. "Tentu saja tidak. Semua orang hanya akan bijak menanggapi cerita orang lain, dan jika itu terjadi padanya, maka hal itu pasti akan mengiris nadinya sendiri. Semuanya butuh waktu untuk menghapusnya."
......................
Bersambung ...
Author note:
__ADS_1
Berpikir positif itu akan sulit, jika kita yang menjadi tokoh dalam masalah. Tetapi berusahalah dan percaya, bahwa waktu akan menghapus kesedihan.