Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Itu darah perawannya


__ADS_3

"Aku akan bicara...," aku pria itu setelah menghalangi mobil Ethan pergi, pria itu menggedor kaca mobil Ethan. Kekayaan pria ini telah menakutinya, dia sangat takut akan kehadiran pembunuh bayaran jika telah menyinggung pria ini.


"A—aku akan bi—bicara padamu." Pria itu gagap sebentar, karena  pikirannya lari menghitung harga dari setiap detail kemewahan interior dalam mobil pria ini. Sangat kaya, membuat seluruh panca inderanya merasakan iri yang luar biasa sekaligus rasa sangat takut akan kuasa di balik uang-uang pria muda ini.


Ethan melirik jam tangan miliknya pada pergelangan pria itu, "jam itu imbalannya. Katakan padaku, siapa mereka?"


"Tiga siswi yang memberiku sejumlah uang." Pria itu mengambil beberapa lembar dalam dompetnya, dan menunjukkan pada Ethan.


'Sedikit uang. Berarti bukan Ruan. siapa mereka? Tiga siswi.'


Ethan tertegun akan pikirannya sebentar, ingin rasanya dia segera menampar pria rendahan ini, "demi sedikit uang, kau ingin mencelakai wanitaku. Kau ingin kematian?"


Pria itu menggeleng keras, dan segera mengangkat tangannya ke udara dan mengatupkan tangannya beekali-kali, dengan punggung yang membungkuk dalam, "saya tidak berani. Saya tidak akan berani lagi, Tuan muda."


"Siapa namamu?" tanya Ethan terdengar sinis bercampur jijik di dalam matanya.


"Aku... Andie Han."


"Lalu tiga siswi itu?"


Andie terlihat mengerut dan kosong beberapa detik dan menjawab, "aku lupa menanyakan nama mereka."


"Karena kami hanya baru kali ini bertemu," tambah Andie.


Ethan manahan gunung amarahnya, dia nyata akan meludahkan api, dia mengulur napasnya keluar perlahan dari lubang mulutnya, dan melirik dingin dengan ujung mata yang menyipit, raut wajahnya malas sekaligus suram menilai pria rendahan di depannya. Tetapi, untuk hari ini, dia harus belajar tenang menghadap masalah.


Ethan mengambil satu kartu nama dari balik isi dompetnya, dan memberikan kartu itu, "kirim identitas mereka ke emailku atau kau bisa menghubungiku ke nomor ponselku, dan peringati mereka untuk tidak mengganggu Anna,"— Ethan terlihat lembut menatap Anna sebentar, dan kembali menatap Andie dengan keji— "aku yakin akan mengantungmu, jika sampai matahari terbit besok pagi, kau belum mengirim identitas mereka."


'Aku akan memastikan orang tercela itu, tidak akan menyakiti Anna lagi.


"Baik!" seru Andie terdengar girang, karena dia pasti bisa melaksanakan misi menangkap tiga identitas siswi itu dengan mudah—hatinya cukup tenang telah luput dari genggaman orang yang bisa menjerat kakinya dalam lubang kematian.


"Minggir!" seru Ethan kemudian, membuat pria itu segera menyingkir dari jalan, dan hanya merasakan lajunya mobil yang hampir memberikan kejutan, sehingga dia terduduk jatuh ke tanah, ketika bunyi 'brummm' mobil Ethan menggelegar di udara, membelah jalan, dan mendorongnya jatuh ke tanah.


Andie Han berdiri dan membuang napasnya berkali-kali, dia merasa lega tidak berurusan dengan orang sekaya ini, dan dia menggenggam erat kartu nama dalam tangannya, "kekayaan... kekayaaan... ," gemanya pada diri sendiri, berpikir ingin menyenangi Tuan muda kelahiran emas itu, dengan menangkap tiga gadis itu dalam satu malam yang menyenangkan


'Aku akan mengerjai  tiga siswi itu, untuk mendapat upah lebih banyak,'  tekad pria itu dalam satu genggaman yang terbuka, mengeja kembali nama pria muda yang tetulis di kartu nama.

__ADS_1


Ethan Ruan.


Mata Andie terlihat bias, seakan sadar sesuatu, teringat akan Ruan, hanya ada satu di negara S******, dan sepasang mata Andie langsung berlari menatap jalan hilangnya mobil sang pewaris tahta Ruan.


"Jadi dia orangnya, pewaris tunggal Ruan. Ethan Ruan." Andie melengkungkan senyumnya, pikirannya menjadi rubah dalam satu kedipan mata


'Bisa saja setelah ini, aku akan mendapatkan kepercayaan, dan mendapatkan mangkok nasi, yang membuat kenyang dan penuh setiap hari.'


Andie kembali ke motel, bersiul-siul menyusun rencana, mereka-reka adegan kehidupan di masa depannya bagaimana kelak dia bisa menjadi kaki kanan seorang pewaris tahta Ruan, hanya dengan cara mengambil hatinya, yakni mewakili untuk membalas dendam pada tiga siswi itu.


Dua jam kemudian.


Beep—beep—beep.


Ponsel Andie berbunyi, tepat sesuai dugaanya. Salah satu dari tiga siswi itu mengirim pesan.


'Paman, apa kau sudah melakukannya? Jika ya, kirimkan buktinya, dan aku akan membayar sisanya.'


Andie tersenyum miring pada layar ponselnya, "meminta bukti, aku akan menciptakannya."


'Cekrek!'


Kemudian, Andie mengirim pesan.


'Itu darah perawannya. Kau bisa membayar sisa untukku. Kemarilah, aku menunggumu dengan tidak sabar.'


Tidak lebih dari satu menit, bunyi beep—beep—beep terdengar lagi, sepasang mata pria itu terkekeh atas ketidak senangan gadis itu.


'Aku membayar paman bukan hanya mendapatkan bukti kecil seperti itu, aku butuh photo peraduan kalian. Berikan padaku sekarang, lebih bagus jika kau memiliki videonya.'


"Gadis kecil otak jahat, jangan salahkan paman ini memakanmu, sebagai bukti untuk Tuan muda Ruan,"gumam Andie pada ponselnya, dengan dua ibu jarinya membalas pesan.


'Tentu saja aku memiliki bukti itu, ambil kemari sebagai transaksi terakhir kita.'


Setelah mengirim pesan. Andie menghitung mundur, dalam hitungan lima belas detik, pesan masuk kembali, beep—beep—beep.


'Aku akan ke sana, dengan menambah bonus untuk paman. Siapkan saja buktinya.'

__ADS_1


"Kemarilah nak, paman menunggu kesenangan satu malam yang akan kau berikan."— Andie menatap kasur ukuran besar, membayangkan hal gila akan terjadi di sana—"kau hanya ikan kecil yang telah berani melempar diriku ke kandang hiu, tentu saja paman ini hanya akan menyembah hiu, dan memakan ikan kecil dengan lahap."


Andie terlihat girang, tujuannya adalah mewakili Tuan muda Ruan untuk membalas dendam—dia mengambil bubuk cinta dari kantong celananya, dan menaburnya dalam perapian dupa, bau kemenyan bercampur dengan wewangian, menjadi rangsangan yang nyaman masuk dalam hidungnya, dan juga merangkak menguasai ke seluruh panca inderanya, yang dia ingin hanyalah segera melewati satu malam dengan cepat— dia tertawa sendiri, teringat sesuatu, mengingat bagaimana siswi sekolah itu berlakon gila dan berani membayarnya tadi, bahkan membelikan bubuk cinta.


Andie terkekeh mengingat kalimat gadis kecil itu dalam benaknya, 'paman, obat ini sangat bagus, keliaran paman dalam satu malam akan terbayar, dengan gadis cantik ini, sepadankan, jadi jangan permasalahkan upah yang kecil ini.'


"Ternyata bubuk cinta yang kau berikan, akan bermamfaat untuk kita malam ini, nak." Andie melempar matanya ke pintu, menunggu tidak sabar. Apalagi, reaksi bubuk cinta telah menaikkan hasrat dari menit ke tiap menitnya.


Sepuluh menit kemudian.


Tok—tok—tok.


Suara ketok panjang, membuat sepasang kaki pria itu melesat pergi ke pintu, dan membuka dengan segera.


Siswi kecil yang terlihat sebagai juru bicara sebelumnya, rupanya hadir sendiri, tanpa dua pengikutnya. Andie menelan minat hasrat sebentar, dan berseloroh sengaja bertanya omong kosong, "kau datang sendiri?"


"Iya paman. Mari kita bertransaksi." Gadis itu kecil masuk dalam kamar motel, tanpa menyadari bahaya yang sebentar lagi menghadangnya.


"Dimana dia?" tanya gadis itu, kepalanya memutar menatap paman yang berdiri di belakangnya.


"Dia sudah pergi, tenang saja bukti kepolosannya ada dalam ponselku."


Gadis itu tersenyum. Andie mengejar menyelidiki, "aku lupa menanyakan namamu?"


"Namaku Susan."


"Oh...." Andie kembali ke pintu.


Klek!


Pintu terkunci. Gadis itu bersikap acuh dan tidak acuh, hanya menyesap wewangian yang terasa sangat enak masuk dalam hidung. Tetapi itu hanya sebentar, sepasang matanya memindai warna merah di atas sprei putih, senyumnya merekah seakan kepuasaan ada dalam darah dan dagingnya.


...


catatan Author:


jangan lupa berikan dukung Like, coment dan Vote sebanyak mungkin yah.

__ADS_1


__ADS_2