Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Dua batu yang sulit dipecahkan


__ADS_3

Beep-beep-beep!


Ethan menurunkan bingkai kacamata hitamnya, mendengar nada dering ponsel pribadinya, yang hanya berisikan daftar nama kontak orang terdekat. Tentu saja matanya langsung melompat cerah, dan melepaskan pandangan rumah sakit yang terus membingkai di dalam iris matanya yang sangat tajam.


Ethan tersenyum membaca pesan Anna—'aku ingin bertemu denganmu!'


"Apa yang membuatmu tersenyum?" tanya Michael segera mengintip, dan mengomentari lagi, "ada tanda seru di akhir kalimat, berarti Anna akan marah padamu."


Ethan melirik malas pada Michael, mendesis marah, "mengapa kau sekarang seperti Stephan Lu? tidak bisa membiarkan aku tertipu sedikit."


Glek!


Michael menelan ludahnya, menatap gedung rumah sakit, dan menyarankan, "jika kau turun dan menemui Joe, mungkin Anna akan melunak."


Ethan pura-pura tidak mendengar, menunjukan layar ketik pesannya dengan sengaja, sebagai jawaban saran Michael untuk dirinya, dan mengirim balasan pesan untuk Anna, —'aku sudah di depan rumah sakit, keluarlah!'


"Dia marah padamu, Ethan!" seru Michael terdengar meledak akan sikap Ethan yang keras kepala.


"Aku juga menulis tanda seru di pesanku, bearti aku juga sangat marah padanya." Ethan duduk seperti batu yang sulit di pecahkan.


"Ethan!" Michael ingin menangis.


"Ssst!" gumam Ethan panjang, "jangan berisik!" lanjutnya dengan mengetok-ngetok dasboard mobil miliknya, jauh di pikirannya, dia telah menyimpan rasa gelisahnya dengan sangat baik, mengingat Anna akan marah padanya, hal ini sebenarnya, menakutkan baginya.


Michael berkali-kali mendesah napas berkali, di balik kacamata berganggang emas, sorot matanya terlihat berpikir keras, dan perlahan membuka suara lagi ketika dia melihat Anna telah muncul bersama Stephan Lu, "Ethan, karena kau tidak bisa di bujuk. Maka aku akan membujuk Anna."


Belum saja Ethan akan mendengus, Michael telah membuka pintu mobil dan berlari pada Anna. Stephan yang berdiri di sisi Anna, dengan tatapan dingin memindai sosok gelap yang masih diam dalam mobil, ketika melihat Michael muncul di hadapan dirinya dan Anna.


"Michael, apa yang di lakukan Ethan di sini? Apa dia bersedia memikul tanggung jawab?" tanya Stephan terdengar sengaja mengukit, mulai hari ini, dia telah bertekad tidak akan membiarkan Anna di bawah bayang Ethan. Ethan, bukan pria yang pantas melindungi Anna.

__ADS_1


"Ethan sedikit berubah pikiran."Michael tidak bodoh. Pertanyaan Stephan, bukanlah tidak ada tujuan. Apapun itu, jika harus memilih, Michael akan tetap mendukung Anna memilih Ethan daripada Stephan, karena Ethan, adalah sahabat terbaiknya, yang pernah mempertaruhkan nyawanya menghadap buasnya Eron. Budi itu, selalu menjadi utang bagi Michael.


Mendapat jawaban Michael, mata Anna terlihat cerah memiliki harapan, dia hanya tinggal membujuk setan emas itu, "aku akan berbicara padanya, terima kasih Tuan muda—"


bibir Anna berhenti akan menyebutkan nama, karena dia tidak mengenali teman akrab Ethan yanh lain.


"Tuan muda Liu, panggil saja Michael tampan...." Micahel menyodorkan tangannya pada Anna, untuk pertama kalinya dia bisa memiliki jarak sedekat dengan Anna.


Anna melipat tangannya, dia ragu-ragu menjabat tangan itu, dan hanya membungkuk dalam dan mengucapkan salam, "senang berkenalan dengan Tuan muda Liu yang tampan."


Michael tersipu, dan masih menggantung tangannya di udara. Ternyata, Anna selain cantik, dia sangat sopan, dan juga pandai menjebak dirinya menjadi pipi merah tomat. Michael segera menggelengkan kepalanya, dan meringis dalam hati, 'cap Anna adalah Ethan, mana berani aku menyentuh!'


Stephan segera menepis tangan Michael, "jangan terlalu formal..."


Michael menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan setelah dia sadar, apa tujuannya, Michael segera mengeluarkan mulut rasa madu, "Anna, jika kau berbicara dengan Ethan... kau harus menggunakan bahasa—"


"Bahasa binatang!" potong Stephan ketus, Michael mengeryit akan memukul kepala Stephan, tetapi demi Ethan, dia bersikap lunak dan melanjutkan kalimatnya untuk Anna, "kau harus pandai merayu dan menggodanya...."


"Itu racun! Jangan dengarkan dia..." peringat Stephan.


Sepasang telinga Anna menjadi tuli sebentar, kala sepasang mata indah miliknya telah menangkap sosok Ethan yang keluar dari mobilnya, dan dia segera menutup mulutnya dengan tangannya, dan menunduk malu, ketika tiba-tiba saja hati kecinya pergi memuji Ethan secara spontan, 'Ethan tampan sekali.'


"Bukannya, kau ingin berbicara denganku?" usik Ethan, dengan sengaja mengulurkan tangan, menunggu tangan Anna datang untuk jatuh menerima uluran tangannya.


Anna ragu akan tangannya sendiri, dan mendongakan kepala berpura-pura bodoh dan linglung, sampai satu tangan Ethan tidak sabar, dan jatuh menangkap pergelangan tangannya.


Kelopak mata Stephan terbuka, akan bersiap marah, tetapi senyum Anna yang terlihat sekilas dan cepat di saat gadis itu tertunduk malu akan tangan Ethan. Membuat rongga-rongga parunya serasa di penuhi asap hitam. Membuat sesak, tetapi dia hanya mampu mengepalkan tinju dan merelakan tangan kecil itu di bawa pergi, dan hilang.


Angin dingin meraba tekuk Michael, rasanya membuat sekujur tubuhnya sekejap bergindik ngeri. Menatap ke atas, hanya matahari yang terlihat terik, dan merasakan udara sekitarnya tetap mencekap, namun hal ini tidak berhubungan dengan cuaca. Michael menoleh ke pria muda di sisinya, dan hanya mendapati aura yang telah di lalap api.

__ADS_1


"Stephan, kau tidak boleh—"


"Diam!" bentak Stephan meludahkan api, membakar Michael dalam satu tatapan.


"Stephan, Ethan itu—"


Michael kehilangan isi mulutnya, menunjukan gelang di tangannya, mereka telah memiliki gelang yang sama dari masa kanak-kanak.


"Lihat ini..." bujuk Michael, ingin menangis.


Stephan mengedipkan matanya sebentar menatap gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. Tetapi senyum Anna mekar dalam benaknya, dorongan hatinya ingin mengejar gadis itu dengan antusias dan ketat, untuk pertama kalinya, dorongan bertarung dengan Ethan Ruan, menyelinap ke ruang-ruang hatinya, yang selalu menjaga peesahabatan belasan tahun mereka.


Srttttt!


Dalam satu tarikan tangan yang kuat, Stephan menarik gelang di tangannya, butir-butir gelang itu jatuh berserakan ke tanah.


"Apa kau ingin—menyakiti Ethan?"


"...." Tidak ada jawaban selain mata nanar Stephan yang jatuh ke tanah.


"Mengapa kau-harus menyukai orang yang sama?" tanya Michael terdengar cengeng di titik situasi.


"Aku sudah memilih!" lirih Stephan, matanya lurus menatap Michael, dan membuka kilas ingatannya mundur ke belakang.


"Kau pernah berkata—'jika wanita pria memiki wajah mirip, biasanya mereka sudah di jodohkan oleh langit'— semenjak itu perasaanku di dorong untuk jatuh- dan jatuh menyukai Anna."


Michael luyut dalam hitungan detik, mengutuk isi mulutnya sendiri, memungut butir manik dan menyimpannya dalam genggaman tangannya, dalam hitungan detik sepasang menatap kosong butir manik gelang, ketika derap langkah kaki Stephan terdengar melangkah menjauh. Michael mengangkat kepalanya dan terkekeh sendiri, kala menatap punggung Stephan yang suram, dan Stephan hilang dalam satu pedal gas yang terinjak kuat dan dalam.


Untuk pertama kalinya, Michael gagal membujuk dua orang sekaligus hari ini Ethan dan Stephan, dua batu yang sulit di pecahkan.

__ADS_1


Pertarungan Ethan dan Stephan, seakan di bentengi penjaga kematian di sisi pundak mereka masing-masing, salah satu dari mereka harus berdarah-darah dan mati, ngeri dan takjub akan muncunya Anna, "Anna mengerikan!" runtuk Michael.


...


__ADS_2