
Ethan banyak memesan hidangan manis di atas meja, dan semua menggugah selera Anna. Dia penyuka hidangan manis, matanya terlihat lapar, namun banyaknya pesanan Ethan, membuat Anna mengeluh, "kita tidak akan bisa menghabiskannya."
Lalu, Anna menatap heran, karena hanya ada sepasang sendok garpu di atas satu piring kue dan hanya satu gelas milk shake di atas meja, dia menoleh ke Ethan dan mendorong milk shake dan piring tepat di depan Ethan. Hanya satu, Anna tidak akan menuntut agar berbagi wadah yang sama. Dia hanya akan menonton Ethan melahap semua hidangan manis. Karena Anna tidak mungkin berbagi wadah yang sama dengan seorang pria. Karena jika berbagi wadah yang sama, bukankah di sebut ciuman tidak langsung?
'Entahlah, mengapa Ethan hanya memesan satu? '
Anna ingin menangis, harus menahan mata yang lapar, dan lidah yang ingin mencicipi cake tart. Hanya ada satu set alat makan. Anna tidak akan meminta milik Ethan. Tetapi, perilaku Ethan setiap saat selalu berhasil membuat Anna memiliki pipi merah tomat setiap saat. Ethan sangat pandai menggoda.
Ethan kembali mendorong gelas milk shake dan piring kue ke depan Anna, dia sudah mengaturnya hanya satu set alat makan, karena dia paling membenci rasa manis, "aku memesan untukmu, aku tidak suka yang manis, kecuali—"
Anna tampak menunggu kalimat Ethan selesai.
Ethan terlihat jeda sebentar, menyimpan dan menahan degup jantungnya, dup—dup—dup.
Ethan merasa konyol mendapati pikirannya terkunci pada bibir Anna, dan hanya melanjutkan kalimatnya dalam benaknya, 'kecuali bibir Anna yang manis.'
Rasa manis dari Anna, adalah pengecualian. Ethan hanya menyukai rasa manis milik Anna.
"Kecuali apa?" tanya Anna penasaran.
Ethan terkekeh, menjawab asal,"kecuali teh hijau,"— Ethan mengalihkan matanya melihat cake tart— "makan cepat, nanti manisnya hilang."
Ethan gugup, dan melontarkan Kalimat terdengar bodoh. Sejak kapan cake tart akan kehilangan rasa manisnya.
Anna tidak berani tertawa akan hal ini, walaupun dia ingin sekali mengejek Tuan muda Ruan.
Dengan malu-malu Anna mengambil potongan cake tart yang terdekat dengan dirinya, karena dari tadi cake tart itulah yang paling mengundang minatnya, dan bahkan membuat dirinya ingin meneteskan air ludahnya dari tadi.
Tanpa membuang waktu Anna langsung mengiris potongan cake tart, memasukan potongan cake tart dalam mulutnya dan menyentuh lidahnya, Anna memejamkan matanya dan bergumam nikmat rasa manis yang sangat pas, "sangat enak."
__ADS_1
Menghabiskan dengan cepat seperti anak babi rakus.
Ethan mendorong piring kue lainnya, dan mulutnya bergumam, "coba ini lagi."
Anna menoleh ke asal suara, garpu tergenggam dalam mulutnya, dia baru sadar telah tampil rakus di hadapan Tuan muda Ruan. Ethan membalas menatapnya, pandangan mereka beradu sebentar, sampai kelopak mata Ethan jatuh turun ke bawah duluan, sisa creame yang melekat di sudut bibir Anna, membuat Ethan membayangkan betapa banyaknya rasa manis yang akan dia dapatkan, jika dia berani menabrakkan bibirnya lagi memakan bibir merah muda yang lembut itu . Pastilah rasanya sangat menyenangkan, dan akan menjadi candu lagi, dan lagi.
Ethan menelan rasa candunya, dan tiba-tiba jemari Ethan naik meraba luka yang berbekas di keningnya—dia hanya bisa menahan diri dalam genggaman tangannya telah memegang janji pada Anna— dia akan menepatinya, tidak akan menerobos sembarangan lagi. Bekas luka di keningnya, adalah peringatan untuk dirinya sendiri.
Anna masih bermain garpu dan mengiris potongan kue, sekian lama dia makan, tiba-tiba saja dia menyadari, bahwa dia telah mengabaikan tujuan pentingnya duduk bersama dengan Ethan, malah mengisi isi mulut dengan hidangan manis.
Anna meletakkan garpu dan sendok miliknya. Dia berhenti memakan, melipat tangan di dada, tepatnya dia kesal dengan dirinya sendiri, apakah dia terlahir bodoh untuk menerima sogokan Ethan? Rasa didih amarah miliknya tadi di padamkan dengan mudah hidangan manis.
Anna mengutuk dirinya sendiri, 'ahh... aku bodoh sekali....'
Ethan mengeryitkan keningnya, matanya menyipit menatap perubahan wajah Anna ysng berubah sangat cepat, kening gadis itu terlihat berlipat- lipat, sangat jelas telah memikirkan sesuatu, dan hal itu membuat dirinya sangat kesal.
"A—aku...." Anna tidak mampu menyelesaikan kalimatnya, kala ibu jari Ethan menyapu bibirnya, sembari berkata, "kau makan seperti anak kecil, creame berada di mana-mana."
Anna berusaha bergeming cepat, sentuhan ibu jari Ethan terasa sangat hati-hati, dan glek! Anna telah kehilangan kata-kata amarahnya, wajahnya melunak mendapati Ethan bersikap manis, dan menyodorkan milk shake kembali sambil berkata, "milk shake rasa Green Tea."
Anna menertawai dirinya sendiri, dan tercekat konyol akan setiap kata-kata yang sudah dia persiapkan, hilang dalam satu adegan, Ethan berperilaku sangat manis, dan untuk pertama kalinya, Anna telah merasa masuk jebakan Tuan muda Ruan.
Mengalihkan pandangan, Anna turun menyeruput milk shake, tidak lama dia memandang isi gelas, karena rasanya sangat tawar, "rasanya tidak manis? teh hijau dominan."
Ethan berpura-pura tampak kebingungan, menggunakan sedotan yang sama, dia mencicipi rasa green tea kesukaannya, dan berkomentar, "sepertinya mereka salah membuat pesanan. Mereka membuat pesananku yang biasa."
Cap bekas bibir Anna, membuat Ethan haus dan gerah, dan dalam beberapa hitungan, dia telah menghabiskan milk shake.
Lalu, hanya senyum bermain di bibir Ethan yang terlihat, membuat Anna kikuk dan berkomentar, "Tuan muda Ruan, sedotan itu—"
__ADS_1
'milikku,' lanjut Anna dalam hati.
"Aku terlalu gerah dan haus tadi. Maaf, aku akan memesan ulang lagi," ucap Ethan pada Anna yang memasang wajah bodoh, karena Ethan terlihat tidak peduli dan jijik menggunakan alat makan yang sama, sebelumnya di hotel, dan hari ini menggunakan sedotan yang sama, dengan polos Anna bertanya, "apa kau tidak mual?"
Anna mengejar lagi, "apa kau sengaja mengatur pesanan seperti ini? dan—"
Anna berkedip, malu melanjutkan kalimatnya, 'apa kau sengaja biar kita berbagi hal sama? '
Ethan melirik malas. Pertanyaan Anna, menghancurkan kesenangan dalam mulutnya, dalam satu hal kali ini, dia merasa Anna dan Stephan memiliki isi mulut yang sama persis, suka menaruh racun dalam mangkok madu. Rasa manis langsung lenyap. Ethan segera mengelak, "apa aku terlihat kurang kerjaan?"
Anna memakan bibirnya sendiri karena harus menelan keraguannya, lalu menampakkan senyum yang paling memikat pada Ethan, agar Ethan berhenti merajuk. Berhasil, Ethan membeku di hitungan yang sangat lama, dan dengan duduk manis seperti ini saja, Ethan sudah terpikat pada Anna setiap detiknya.
Tidak menahan hatinya, Anna membuka mulutnya dan bertanya, "Tuan muda Ruan, apa kau menyukaiku, dengan sungguh-sungguh?"
Ethan bangun, kembali ke alam nyatanya, dan melemparkan pertanyaan kembali, raut wajahnya terlihat sedikit tidak senang akan pertanyaaan yang selalu meragukan dirinya, "mengapa kau bertanya seperti itu? bukannya kau sudah tau, aku tidak suka bermain-main."
Anna tergugu sebentar, tidak mampu menjawab cepat. Sepasang mata Ethan terlihat menatap tajam padanya, dan menunggu jawabannya, Anna membuka pelan bibirnya yang terkatup, dengan suara rendah mengajukan rasa ganjilnya, "aku hanya tidak yakin, kita bahkan— hanya saling mengenal tidak lebih dari satu bulan... hal itu sangat singkat untuk Tuan muda Ruan."
Ethan berpura-pura terbatuk, uhuk—uhuk—uhuk.
Pertanyaan ganjil Anna terdengar geli namun juga tepat, Tuan muda Ruan tidak gampang jatuh cinta dalam waktu singkat, namun hanya berkata, "bukankah itu berkat untukmu? satu banding satu juta orang, kau menemukan orang seperti Tuan muda Ruan. Jadi, seharusnya kau menangkapku dengan cepat."
Anna ingin menangis.
Tetapi kembali Ethan melempar senyum penuh rahasia. Pesona Tuan muda sombong terlihat menarik dan membius, dan giliran tembok tinggi milik Anna, runtuh dengan sangat cepat, Ethan terlalu manis seperti cake tart.
Ethan menahan napasnya sebentar, dan hanya mengoreksi dalam hatinya, 'Aku sudah mengenalmu, tepatnya satu tahun tiga puluh lima hari yang lalu, dan pertemuan pertama kita, adalah hal yang aku sengaja atur. Tuan muda Ruan, bukan orang yang mudah jatuh hati.'
...
__ADS_1