
"Susan, apa kau ingin menjambaknya, maka aku akan menjambak rambutnya untukmu. Asal kau bisa tersenyum lagi. Aku bersedia melakukan apapun untukmu," ujar Gita Wen terlihat antusias ingin mencelakai Anna segera.
Susan terlihat mematung. Tidak bergerak sama sekali. Namun, sejuta kesedihan dalam sinar matanya.
'Aku telah kehilangan apa yang beharga di mata seorang pria.'
Satu kalimat Susan hari itu, masuk membisiki Gita lagi. Dia merasa sangat bersalah. Kisah hitam Susan dalam satu malam itu. Membuat Gita turut merasa sangat biru membayangkan apa yang telah terjadi. Menemukan Susan dalam keadaan polos di atas kasur, dengan banyak jejak air mata. Apa yang mereka rencanakan pada Anna, malah menimpa Susan. Mahkota Susan di rebut oleh pria suruhan mereka sendiri. Hal itu seperti karma yang telah di bayar di depan. Jijik sekaligus mengerikan.
"...."
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Anna dengan suara pecahnya. Ibunya malam tadi telah di aniaya, dan malam itu diapun di cekik hampir mati. Pagi ini, dia malah di tindas oleh tiga siswi. Seakan hal-hal yang malang terus mengikutinya.
"Membuat perhitungan denganmu!" cam Susan menjetikan ujung kukunya. Malam tadi, dia telah meruncingkanya dengan sengaja. Jika kukunya bisa berubah menjadi pisau, mungkin pagi ini, dia akan segera menusuk tepat di ginjal, di pankreas, dan di lambung. Dia ingin Anna berdarah di semua tempat. Namun, tetap saja dia biarkan Anna tetap hidup. Bernapas. Oleh itu, dia tidak akan pernah menusuk jantungnya.
"Apa aku berhutang padamu?"
"Banyak hal. Dosamu sangat besar."
Anna melongo. Bagaimana dia bisa memiliki dosa besar terhadap gadis ini, bukankah mereka baru bertemu untuk kedua kalinya.
Anna menahan rasa gelinya.
"Kau bercanda, nona ...."
"Aku tidak bercanda!"
"Aw!" Anna histeris.
Susan telah menggores kukunya tepat di tulang pipi Anna. Goresannya sangat panjang dan dalam.
"Kau wanita menjijikan," hina Susan.
"Kita baru saling mengenal, namun kau berani melukaiku. Apa kau tidak takut, karma mengikutimu?"
Susan menyipitkan matanya, dia ingin menangis segera, ketika gadis yang dia benci menyebut karma di depan matanya. Hal mengerikan di atas tempat tidur, membuat dirinya tidak bisa tidur nyenyak tiap malamnya, rasa jijik menerjang seluruh raganya setiap malam.
__ADS_1
Susan termanggu sesaat, ketika satu hari naas malam itu, terungkit kembali dalam ingatanya.
'Dasar gadis bodoh. Karmalah yang mengikutimu. Aku datang memberikan karma itu untukmu. Kita baru bertemu dua kali. Namun dalam satu kali pertemuan pertama kita, aku malah kehilangan kegadisanku. Kau mengerikan. Mengenalmu, seperti mendapatkan kutukan langsung,' keluh Susan dalam hatinya.
"Jika aku ada menyinggung, tanpa sadar. Aku minta maaf." Anna menundukkan kepalanya. Sedangkan Susan menatapnya dengan pandangan yang sangat kejam dan kebencian tersirat jelas dalam matanya.
'Kesialanku dimulai oleh mengenal dirimu. Bagaimana kau bisa mengembalikan keperawananku. Kau bahkan tidak bisa mengembalikan waktu. Semua pria akan menganggapku rendah. Aku bahkan tidak berani menikahi pria yang baik. Aku takut menikah. Semua pria akan melihatku najis karena satu malam yang hilang. Aku gila mengenal keluarga Su.'
Anna menatap setiap eksrpresi Susan. Dia memejamkan matanya segera. Ketika, terlihat jelas ekspresi Susan akan pergi menampar, dengan tangan yang terlihat mengacung ke udara. Namun, detik selanjutnya dia mengurungkan niatnya. Menurunkan tangannya, dan mengembalikan emosinya pada angka nol.
'Ada yang lebih menarik, daripada sebuah tamparan. Yaitu membuatmu malu setiap detiknya.'
"Tidak ada yang perlu di maafkan. Karena aku akan berbuat hal yang sama. Bahkan bisa lebih sadis dan kejam," cam Susan, dengan tangan yang mencubit dagu Anna, dan mendongakkan kepala Anna untuk menatap dirinya.
Anna merasa gusar, ketika sepasang matanya harus menabrak sepasang mata yang terlihat akan mengirimnya ke neraka. Diperlakukan seperti ini kembali. Anna menggit bibirnya, mengingat waktu yang lalu, tiga siswi ini pula yang hampir menjualnya ke pria hidung belang. Untung saja, Ethan menyelamatkan hidupnya.
"Nona, aku tidak pernah mengenalmu. Namun, dari hari pertama, kau sudah ingin menjualku. Apa salahku padamu? Dari hari pertama kau sudah begitu jahat."
Susan diam. Dia terlihat malas melontarkan kalimatnya. Namun, dia berteriak dalam hatinya, menyebut segala dosa yang di ciptakan Su dan Ruan untuk dirinya dan keluarganya.
Anna bergeliat. Berusaha lepas dari sepasang tangan yang memborgol dirinya, dan menjebaknya pada dinding yang kotor.
"Matahari sudah naik ke atas, kau bisa melepaskan jaketmu," pinta Susan namun terdengar memerintah.
Gita tersenyum cemerlang. Hal ini adalah hal yang paling dia nantikan. Melepaskan seluruh pakaian gadis ini, dan memotretnya.
"Apa kita perlu membawanya ke tempat yang sepi!"
Susan menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kalian ingin lakukan?" Anna berontak.
"Aku hanya ingin tahu, apa yang kau lakukan malam tadi dengan anak orang kaya itu?" Gita mengangkat dagu Anna.
Anna membuang wajahnya ke samping. Tidak ingin menunjukkan ekspresinya yang telah berubah sangat canggung, namun detik selanjutnya dengan gagap dia segera menjawab.
__ADS_1
"Aku tidak melakukan apapun dengan siapapun yang kalian maksud kaya! Aku tidak melakukan apapun."
"...."
Gita dan Susan saling memberi pandangan. Selanjutnya, dengan gerakan kasar, Susan membuka resleting jaket Anna, dan menurunkan paksa jaket itu hingga jatuh bertahan pada lengan Anna yang terjebak dalam cengkraman Gita dan temannya yang lain.
Susan mengesampingkan rambut Anna ke belakang. Sorot matanya tajam melihat bercak biru ungu di tulang leher Anna.
"Kau sudah melakukannya dengannya? tandanya sangat bagus, dan jelas .... Apakah kau melewati malam yang manis?" Susan memasang wajah ekspresi terkejut bercampur rasa kecewa. Dia menginjak Ethan Ruan naik keranjang bersamanya, namun malah mendapatkan pria hidung belang itu.
"Ternyata kau sangat murahan!" timpal Gita, yang ikut memindai jejak di leher tersebut.
Anna melongo sesaat. Tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Murahan. Siapa yang di sebut murahan? Anna tertelan dalam rasa kebingungannya. Dia ingin menangis sekaligus terbahak.
"Kau beruntung sekali. Aku iri sekali. Aku yang bercita-cita mendapatkannya. Namun, kau malah mendapat berkat dari dewa!" gerutu Susan.
Anna tidak bergerak sama sekali. Dia masih dalam kebingungan. Siapa dan apa yang di maksud oleh gadis di depannya. Berkat dari dewa? Anna masih merangkai setiap pembicaraan dua orang di depannya.
Susan merogoh ponsel dari saku kantong seragam depannya. Lalu, meminta kedua temannya untuk memegang erat Anna, dengan isyarat matanya yang dia berikan.
Cekrek.Cekrek.Cekrek.
Terdengar suara kamera ponselnya mengambil gambar.
"Lepaskan dia!"
......................
Bersambung ....
Jangan lupa like,coment, dan vote bagi yang berkenan. Terima kasih banyak telah setia membaca. Semoga bagian ini menghibur kalian semua.
Jangan lupa rate 🌟5 bagi yang baru mampir yah :)
www.kejamnyadirimupadaku.com
__ADS_1
(Jangan lupa kunjungi website kita yah!)