
"Bahwa Yuna memiliki harga diri ... sama tinggi ... sama besar dengan yang Tuan muda Ruan miliki," jawab Nana lantang seakan mewakili Yuna untuk berbicara pada raksasa keangkuhan di depan matanya.
Ethan memicingkan matanya. Bagaimana ada penilaian seperti itu bagi dirinya, "Harga diri kami tidak bisa di nilai sama dengan yang kalian miliki!"
"Jika tidak sama? bisakah Tuan muda Ruan katakan ... harga diri siapakah yang lebih besar, duduk berlutut menyembah kakinya atau membunuh kehidupan seseorang? Dosa mana lebih besar?" Nana mempertanyakan.
"Aku tidak membunuh siapapun!"
"Jika tidak melakukan, mengapa harus merasa bersalah? Jika Tuan muda Ruan enggan mengakui. Maka Yuna pun enggan membuka pintu maafnya untuk Tuan muda Ruan," utara Nana lalu tertunduk dengan sepasang mata merunduk kehidupannya. Jika dia menjadi Yuna, diapun akan bersikeras dengan harga dirinya. Kehidupan setiap anak, adalah beharga yang tidak bisa di nilai dengan penebusan tak ternilai manapun.
"Mengapa kau berbicara membelanya? Mengapa kau bisa mengetahui dirinya? Mengapa jawabanmu berbeda dari yang lain?Mengapa?" tanya Ethan dengan nada tinggi.
"Tuan muda Ruan, aku hanya kebetulan satu pikiran dengan Yuna. Aku mengerti mengapa dia bersikap demikian. Jawabannya tidak lebih dari satu hal, karena kami memiliki pikiran yang sama untuk menjawab masalah."
Mimik Ethan terlihat tidak senang, mendapatkan jawaban langsung tersebut, tanpa sadar dia menaikkan ujung sudut bibirnya, dan mengejar lagi, "Apa yang kau sebut dengan harga diri kalian? apa kalian ingin di hormati seperti kami? kalian ingin terlihat sederajat, setara, dengan kami. Itu perlu banyak usaha dan waktu. Mati dan hidup berkali-kalipun, kalian tidak akan pernah sama dengan kami."
"Harga diri yang disebutkan sebagai kekayaan, kekuasaan, maupun kehormatan dari semua orang. Tentu saja hal itu tidak akan sama untuk kami. Kami hanya memiliki harga diri yang sangat sederhana. Harga diri bagi kami adalah kehormatan untuk diri sendiri," ketus Nana dengan dagu terangkat, dengan tatapan lurus menatap dinding yang terlihat suram akan esok harinya, karena berani mengajari Tuan kelahiran emas.
"Apa yang perlu di hormati dari semua yang terlihat rendahan?"
"Tidak perlu di hormati semua orang. Aku hanya mengatakan harga diri adalah kehormatan diri sendiri, di mana kami tidak akan menjualnya demi kekayaan, kekuasaan, maupun menebus kematian!"
Ethan tersenyum lebar bercampur tersedak akan rasa terkejutnya. Kata-kata yang sangat memikat, dan dia segera mengkritik lagi, "Terlalu munafik. Jika dia bersikeras dengan harga diri, hanya untuk mendorong kematian puteranya!"
Nana memaksakan dirinya untuk tersenyum, dengan rasa menelan cuka, dia menepis kembali, "Untuk apa memiliki kesempatan kedua, untuk apa memiliki nyawa kedua, jika yang memberi menyebabkan dirinya harus berhutang! Dia tidak akan pernah nyaman mengangkat kepalanya."
Ethan membelotkan lidahnya dalam mulutnya. Menelan pahit perkataan yang terdengar sepasang telinganya.
"Keluarlah kalian!" ketus Ethan. Satu demi satu pelayan meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Blam!
Daun pintu terdengar merapat pada kusennya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Ethan menghempaskan dirinya di kasur besar miliknya, dan seketika dia berkutat dengan pikirannya sendiri. Pikiran buruk masuk menyelinap dalam ruang-ruang ingatannya. Bagai tersesat dalam ruangan labirin yang membingungkannnya.
"Kau menolak bantuan ku. Demi harga dirimu. Lalu, kau lebih memilih puteraku mati. Namun kau masih menuduhku? pikiran orang yang tersakit, memang sulit di tebak!" keluh Ethan teringat akan sikap bibi Yuna yang menolak transplatasi jantung dari yang dia donasikan.
"Apakah kau pikir, orang kecil seperti kalian akan dengan mudah mendapatkan donator yang mulia? jika ada, dia hanyalah malaikat yang menyamar." Ethan masih mengeluh. Lalu, beberapa saat kemudian dia terpikir akan sesuatu.Satu ide. Dia tidak akan pernah membiarkan Joe mati dengan mudah. Dia segera bangkit duduk di tepi ranjangnya, dan merogoh ponsel dari saku celananya. Dia menghubungi kepala rumah sakit tempat Joe Han di rawat.
"Pak Liem," sapa Ethan.
"Ya Tuan muda Ruan," jawab pria berbobot besar yang duduk di kursi hitam di balik meja setengah biro dengan setumpuk berkas medis di atas mejanya.
"Aturlah operasi Joe Han, dan sebutkan itu kebaikan yayasan untuk membantu mereka," pinta Ethan.
"Lakukan seperti yang aku katakan. Jika dia tahu bantuan itu berasal dari diriku, maka pasti dia menolak!" jawab Ethan, lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
Ethan memijat keningnya, seakan satu masalah telah dia bereskan. Namun tetap saja menemui kebuntuan.
'Yang penting aku sudah meminta maaf dengan ketulusan murni ...,' lirih Ethan dalam hati.
Ethan menarik udara sebanyak mungkin masuk rongga dadanya. Seakan sirkulasi udara memenuhi paru-parunya, dan rasa sesak dalam dadanya, perlahan menghilang. Dia belajar satu hal, memberi sesuatu tidak harus terlihat. Namun, yang tidak terlihat, tidak akan mendapatkan penghargaan sedikitpun, itulah ketulusan yang murni. Ketulusan itu tak bersuara. Membisu. Bekerja dalam diam. Sosok malam yang gelap tapi mendinginkan. Sosok seperti angin yang tak kasat mata tapi menyejukkan. Namun tidak pernah mengharapkan pujian, tidak pernah mengharapkan imbalan.
...****************...
Di Dapur
Fann menatap Nana yang duduk berseberangan di depan meja makan. Nana meletakkan sendoknya, setelah dia menyelesaikan makan malamnya.
__ADS_1
"Aku akan pergi mencucinya," pamit Nana. Dia mendorong kursi mundur, bersiap beranjak dari kursinya.
"Tunggu dulu," cegah Fann, sedari tadi dalam diam yang panjang hanya menatap Nana menghabiskan makanannya.
Nana kembali duduk, dan hanya memberikan segaris senyum untuk Fann yang terlihat masih memikirkan sesuatu dalam benaknya.
"Nana, mengapa kau berani berkata seperti itu pada Tuan muda Ruan? jika kau masih memerlukan makan setiap hari, berlakulah selalu menyenangkan majikanmu, jikapun harus berkhianat pada hati nuranimu, kau tidak harus selalu jujur berkata," pesan Fann, lalu tersenyum pada Nana.
"Nyonya Fann, tidak semua orang berpenampilan angkuh di luar, bersikap kejam, adalah orang-orang yang tidak bisa membedakan kebohongan dan pura-pura menyenangkan dirinya," sahut Nana menenggelamkan raut ketenangan di wajah Fann. Semburat kegelapan naik ke permukaan wajah Fann, yang segera terlihat naik pitam.
"Kau mengataiku! aku menegurmu, namun kau malah mencaci wajahku," pitam Fann dengan tangan terkepal yang dia sembunyikan di bawah meja makan.
Nana berdiri membawa mangkok dalam tangannya, dan mencibir dengan ketenangan wajahnya, "Setiap orang bisa menilai dirinya sendiri dengan benar. Tidak ada yang lebih mengetahui diri kita sendiri, selain diri kita sendiri. Aku tidak perlu berkata apapun lagi."
'Jika bukan Tuan muda Ruan menjagamu, mungkin aku dari dulu sudah menjahit mulutmu, Nana Su!' geram Fann dalam hatinya.
"Nana Su!" panggil Fann dengan nada tinggi.
Nana menghentikan langkahnya, berbalik kembali dengan sorot mata yang terlihat setenang lautan.
"Apakah Tuan muda Ruan salah? Dia melukai, namun dia sangat bertanggung jawab. Yang salah adalah Yuna, dia terlalu berlebihan agar hidup kecil di hargai, dia terlalu serakah."
"Kesalahan Tuan muda Ruan adalah setelah memberi racun, dia memberi obat lagi. Jika aku jadi Yuna, melihat orang yang sama di depanku, maka biarpun obat termahal yang dia bawa, aku hanya mengira dia hanya akan menyendok racun kembali dalam mulutku! jangan lupa Tuan muda Ruan telah memberi racun lebih dulu."
......................
Bersambung ....
Author: Tuluslah seperti merpati, liciklah seperti ular. Kau boleh baik dengan siapapun, tetapi kau tidak boleh dimamafaatkan terus menerus.
__ADS_1