
Michael memegang hidungnya, dan sedikit menggosok dengan ujung ibu jarinya, kali ini dia tampak sangat serius, "Ethan paling hanya pilek dan demam biasa, rumah sakit hanya untuk penyakit serius. Sangat berbahaya jika ibu Ethan tau anaknya masuk rumah sakit, hanya karena seorang gadis."
Kali ini Stephan dan Erick memberi persetujuan atas kalimat terakhir Michael, sangat masuk akal. Hal ini akan sangat berbahaya jika ibu Ethan tau. Lebih baik hal ini di rahasiakan.
"Lalu mengapa tidak pulang ke rumah Ethan?"vv
Michael meninju perut Stephan dengan ringan, "apa kau lupa, siapa yang bekerja di rumah Ethan."
Teringat akan bibi Nana, Stephan hanya bisa menghela napas, "lalu apa yang akan kita lakukan pada Anna yang tidak pulang kerumah."
Michael memukul kepala Stephan dengan ringan, "mengapa kau bertanya hal mudah seperti ini, hal ini. Joe Han yang harus berpikir."
Joe yang dari tadi diam, ketika namanya di sebutkan, telinganya langsung panjang, dan bibirnya terbuka, "apa ada tugas baru lagi tuan?"
Stephan menatap Joe, dan merasa kasihan, "sepertinya kau harus berpikir, bagaimana cara ibu Anna tidak mencari anaknya yang tidak akan pulang malam ini."
Joe tercekat. Memandang Anna yang tengah mendekap Ethan. Apa maksudnya? Anna tidak akan pulang malam ini.
"Tuan, mengapa Anna tidak pulang?"
Pertanyaan besar untuk Joe, yang membuat dia menelan pil rasa cuka, Anna tidak pulang ke rumah. dia tidak berani membayangkan dua orang tinggal bersama. Takut gemetar, keringat dingin terlihat jelas.
Stephan enggan menjawab, dan melewati Joe begitu saja. Michael membenarkan kacamata Joe, "kau tampak pintar, ternyata sangat bodoh."
Joe tidak berani mengangkat kepalanya.
"Tuan muda Ruan sedang sakit, Anna harus pergi bertanggungjawab untuknya."
Joe baru mengerti situasi, "biar aku yang menggantikan Anna merawat Tn.Ethan."
Michael membuka kelopak matanya selebar mungkin, dia terlihat akan menelan Joe dalam satu tatapan, "aku yakin Ethan akan membunuhmu, jika kau berani mengusulkan hal ini untuk Anna."
Mendengar itu. Joe menjadi sangat takut, "aku... ti_tidak berani."
Tak lama, Erick kembali datang membawa tandu dan bersama rekan lainnya mengangkat tubuh Ethan ke tandu, dan mengantarnya ke mobil.
__ADS_1
Anna pergi mengikuti, di depan gerbang, dia tanpa sadar melewati Stephan yang memang sengaja berdiri menunggunya. Setidaknya, dia akan mendapatkan satu kalimat Anna. Ternyata, dia salah besar. Mata Anna tidak pernah melirik minat sedikitpun padanya. Bibir Anna tetap terkatup melihat dirinya, pandangannya seperti mengatakan Stephan hanyalah orang asing. tetapi Stephan cukup senang, dan diam-diam mengambil satu bidikan gambar tersembunyi. Hari ini, Anna terlihat sangat imut dengan pakaian couple-nya bersama Ethan.
Michael mendesah dari kejauhan, dia tau Stephan tidak akan pernah menyerah sungguh-sungguh, dia hanya berhenti untuk mengejar sebentar. Sepertinya,Michael akan sangat sulit pergi memihak salah satu. Hanya membiarkan Anna memilih.
Joe memijit kakinya bertumpuk, dan dia benar menyerah, dia tidak tau cara berbohong dengan Nana, jadi dia kembali pada Michael, "Tn.Michael, bibi Nana, tidak bisa dibohongi. dia akan mencari Anna, jika Anna tidak pulang kerumah."
Michael mencibir. Joe tidak berguna. Terpaksa dia turun tangan, mengambil ponsel dari saku celananya, dan memanggil bibi Fann, kepala pengurus rumah tangga Ruan.
"Selamat sore, Tn.Michael, ada apa?" Bibi Fann terdengar sangat ramah menyapa.
Michael langsung berbicara pada intinya, "sibukkan bibi Nana, hingga tidak bisa pulang selama dua hari."
"hah?"
Michael menebak ekspresi bibi Fann, akan terlihat sangat protes, dia segera menambahkan kalimat terakhir sebelum menutup teleponya, "ini perintah langsung Tuan muda Ethan."
Panggilan kemudian diputus Michael begitu saja. Bibi Fann terpaksa menjalankan perintah, mulai memberi banyak tugas untuk bibi Nana, dan melarang pulang jika belum selesai tugas.
Michael kembali pada Joe, dan merangkul pundak pria itu, "sisanya kau tau kan, apa yang harus kau lakukan."
"Kacamatamu tidak berguna. Menyedihkan," ejek Michael yang kemudian menerangkan apa saja yang harus Joe lakukan.
Joe mengikuti instruksi Michael.
Pulang kerumah keluarga Ruan, tepat dugaannya bibi Nana hanya berpesan agar menyampaikan pada Anna, jika dirinya sangat sibuk, tidak bisa pulang malam ini.
"Baik bibi, aku akan memberitahu Anna."
Nana kembali menatap Joe yang pergi terlihat dengan wajah meringis. Merasa ada sesuatu yang disembunyikan. tetapi Nana malah berpikir jika Joe sangat tidak suka menjadi pengantar pesan, jadi kali ini Nana beepikir akan membelikan ponsel untuk Anna, agar mudah memberi kabar kepada Anna, jika hal seperti ini terjadi lagi.
Nana kembali bekerja, mulai membersihkan lantai tiga, dan karena loundry di atas sedang rusak. dia turun kebawah mengantar tumpukan kain kotor
Tanpa sengaja dia melihat Yuna, ibu Joe sedang berbincang dengan beberapa rekan kerja lainya. Karena selama Nana masuk bekerja dalam kediamaan keluarga Ruan, Yuna tampaknya tidak pernah terlihat ingin bersahabat dengannya, dia bahkan terlihat harus sering menghindar karena rekan kerja lainnya terlihat mewaspadainya jika dia terlihat akan membalas sapaan Nana.
Nana berdiri di tempat tersembunyi. dia sengaja, ingin mencuri dengar, ketika dia mendengar namanya di sebut dalam pembicaraan mereka.
__ADS_1
Rekan kerja Yuna, bernama Heny Lan terlihat sangat iri dan iri, karena Nana, pelayan baru yang mendapatkan pekerjaan paling ringan, dan juga, gaji lebih besar daripada rekan terdahulunya.
"Katakan Yuna, bukankah kau tetangganya. dia masih muda, namun sudah mempunyai anak sebesar dirimu."
Yuna menyipitkan sebentar, terlihat sangat malas bercerita, desakan Henny yang terus menerus membuat dirinya membuka mulut bercerita, "Nana itu, tidak memiliki suami. dia masih sangat muda. Anaknya berusia sama denganku, ah... kalian bisa menebakan kelanjutan cerita,"
Henny terlihat merendahkan, langsung mengisi kutukan selanjutnya, "aku rasa putrinya akan mengikuti jejak ibunya, hamil di luar nikah, dan kelak tidak memiliki suami."
Plak!
Seakan ada tangan yang menampar wajah Nana. Sorot mata Nana terlihat akan mencabik mulut seseorang, dan orang itu, Henny Lan.
Nana mencengkram keranjang yang tengah dia bawa, matanya teesembunyi, kini dia tidak mengitip lagi, matanya dengan jelas menangkap sosok yang mengutuk anaknya.
Hatinya menjadi sangat marah, dan marah.
"Tutup mulutmu."
Nana menunjukan diri, membuat semua rekan kerja segera bubar. Hanya tersisa Yuna, dengan wajah sangat bersalah, dan, Henny yang terlihat tidak takut, dan menantang Nana, "jikapun kita bertengkar di sini, yang akan hilang pekerjaan adalah kau. Karena aku sudah menjadi asisten senior di sini, sudah sepuluh tahun"
Nana mengepal tinju, "lalu, kau kira... aku takut di pecat."
"Kau salah besar. Polisipun, aku tidak takut!"
Henny sangat gemetar mendengar isi mulut Nana, ketika Nana terlihat sangat ingin menjambaknya.
Benar saja. Dalam hitungan detik, rambut Henny dalam cengkraman Nana.
"Kau tidak diijinkan menghina putriku."
Yuna segera lari, mencari bibi Fann. Jika Nana bertengkar, maka isi mulut Henny akan di jamin kehilangan semua giginya. Oleh itu, Yuna tidak pernah berani menyinggung Nana.
***
Jangan lupa dukung penuli, Votemen.
__ADS_1