
Deg! Anna perlahan mendongakkan kepalanya. Sedikit keberanian menatap keindahan di depan matanya.
Inikah dia? Sangat cantik. Anna merasa jatuh seketika, ketika dia membandingkan kehidupan kecilnya terhadap seorang nona besar, yang merupakan isteri masa depan Tuan muda Ruan.
"Kau berani melihatku! setelah aku menyebut nama Ethan," dengus Emily dengan satu tangan yang memamerkan keindahan jemari tangannya yang berhiaskan cincin berlian merah.
Mendengar pengucapan Emily yang ketus, membuat Anna segera kembali menatap ubin lantai. Sepasang kaki mereka terlihat bersanding,dan menunjukkan perbedaan yang sangat besar. Sepatu Anna terlihat tua dan berdebu. Sedangkan milik Emily terlihat mewah dalam satu penampilan dengan permata indah yang menghias sisi kulit highells milik nona besar tersebut.
"Apa kau dan Ethan masih sangat dekat?"
Anna diam. Emily terlihat kesal tidak mendapatkan jawaban dengan mudah.
Apa kau perlu uang lebih dulu? agar aku bisa mengetahui hubungan Romeo dan Juliet versi kalian.
Emily tidak membawa tas bersamanya. Tasnya telah dia tinggalkan di mobil Ethan. Dia melihat cincin berlian merah yang tersemat manis pada jari manisnya.
Terpaksa aku menawar isi mulutnya dengan berlianku!
Emily melepas cincin berlian merahnya, dan menyodorkan cincin tersebut di bawah mata teduh Anna yang menatap lantai.
"Ambillah cincin berlian ini untukmu. Asal kau berbagi rahasia pada mengapa Ethan Ruan bisa melihatmu berlama-lama. Apa kau memiliki kekuatan sihir di masa sekarang?"
Emily menarik tangan Anna, membuka telapak tangan gadis itu, dan meletakkan cincin berlian merahnya pada telapak tangan Anna.
__ADS_1
Anna tertegun. Betapa berkilaunya berlian merah di atas telapak tangannya. Dulu Ethan pernah menyematkan cincin berlian merah pula di jari manisnya. Kini, calon tunangan Ethan melakukan hal yang sama, meletakkan sesuatu yang beharga dalam tangannya.
"Katakan padaku?" desak Emily dengan napas jengah, dan sepasang mata yang menyelidik setiap detail Anna.
Dia tidak bisa di bandingkan dengan diriku. Aku jauh di atasnya. Tetapi mengapa Ethan melihatnya? Dia pasti memiliki kekuatan sihir. Walau rasanya terdengar kuno.
"Apakah itu kurang?" Emily segera melepas anting bertahta berlian merahnya. Dia letakkan kembali pada telapak tangan Anna yang terbuka.
"Katakan padaku? Mengapa Ethan bisa melihatmu."
Anna mendongakkan kepalanya, sepasang matanya yang terlihat berembun, segera sirna, berganti dengan mata cerah yang terlihat pandai menjilat orang lain.
"Jika kau sudah memberi. Maka aku mengambilnya. Terimakasih atas kebaikanmu."
Emily menarik langkahnya mundur, menciptakan jarak dua meter lebih jauh dari Anna, dan berkomentar jijik bercampur aduk dengan kesombongan yang dia miliki, "Sebenarnya aku jijik berdekatan. Yang berdiri di sisiku adalah setiap orang yang memiliki kelas sosial yang sama dengan diriku. Kau termasuk beruntung, hari ini mendapatkan rasa kasihanku."
"Terimakasih atas rasa kasihan yang besar ini." Anna menggenggam cincin dan anting berlian merah dan memasukkannya ke dalam saku sweaternya.
Mengambil dan tidak mengambil. Tetap saja tidak akan mengubah penilaian orang-orang seperti kalian, cam Anna dalam hatinya, memilih menyimpan berlian dan berencana akan membuangnya pada tong sampah.
Emily memincingkan matanya, terlihat sinis dengan ekor matanya terlihat bersembunyi di bawah kelopak matanya yang terlihat lebar.
"Kau penyuka uang! Pasti kau menipu Ethan dengan sikap polosmu kan!" tuding Emily dan bergegas melangkah dan merampas cincin dan anting berlian dari saku sweater Anna.
__ADS_1
"Kau tidak pantas menerimanya. Kau hanya penjilat dan penipu. Aku akan mengatakan hal ini semua pada Ethan. Bagaimana bisa dia melihat dirimu yang memiliki kehidupan serakah. Aku pikir hatimu seperti Cinderella, baik hati dan polos," runtuk Emily ingin mengutuk Anna.
Anna tersenyum, rupanya gadis di depannya adalah sosok yang mudah meledak, dengan halus Anna melontarkan kalimatnya, "Beritahu saja pada Ethan. Aku hanya ingin melihat apakah dia akan membenciku setelah aku terlihat buruk di matanya hanya karena omongan orang lain!"
"Kau buruk sekali!" Emily bersiap-siap akan menjambak. Namun, tangan Anna lebih dulu menahan pergelangan tangan Emily, dan dia mendengus tepat di atas hidung Emily, "Daripada kau menyebutku buruk. Lebih baik kau mencari tahu, mengapa Ethan melihatku?"
"Karena kau menipunya dengan banyak kepolosan palsu! Hal itu tidak perlu di cari tahu!" Emily berusaha menjabat dengan tangan lain kembali. Namun, kembali tangan Anna menahannya. Anna menatap dan menjebak gadis di depannya dengan tangkapan mata yang mampu melahap lawannya.
"Kepolosan palsu tidak akan pernah menjebak perasaan seseorang dengan begitu dalam. Seharusnya kau mengetahui, ada sesuatu dalam diriku, yang tidak di miliki semua orang!" tekan Anna yang tidak mampu mengontrol emosi dan amarahnya, menghadapi gadis di depannya. Rasa cemburu menyelusup seperti pencurii yang menikam jantungnya, dan setiap detiknya dia ketakutan Ethan telah di bawa pergi sang pencuri. Oleh itu, Anna marah dan gusar akan kehadiran Emily.
Emily tertegun sesaat. Dia tersulut emosi. Ekspresi netra terlihat melemparkan kemarahan, dan dia melontarkan setiap kata seperti api yang membakar kehidupan Anna, "Ethan hanya bermain-main denganmu. Orang -orang seperti kami terkadang sangat menyukai tantangan seperti ini. Memberi manisnya madu, dan menuangkan racun di akhir."
Anna menelan ludah emosi dan harga dirinya. Namun, rasa rendah dirinya menyadarkan dirinya segera. Perlahan, dia melonggarkan kekuatan cengkraman pada pergelangan tangan Emily. Di saat Emily merasakan kekuatan itu melonggar, dia meloloskan pergelangan tangannya lepas dari kukungan tangan Anna. Lalu, dengan sepasang tangan yang datang mendorong Anna dengan tiba-tiba, dan menjebak Anna terhimpit antara dinding dan kukungan tangannya.
Dengan jarak begitu dekat, Emily memindai setiap detail wajah Anna. Lalu, satu tangannya mencubit dagu Anna, menahannya sebentar seraya mengkritik, "Kau hanya sedikit cantik daripada orang-orang dari kalangan rendahanmu. Tetapi, kesempurnaan hanyalah milik kami, kalangan yang mampu meletakkan ujung tumit sepatu di atas kalian. Jangan besar kepala! Sadarlah siapa kau dan siapa aku!"
Anna memejamkan matanya sesaat. Hati kecilnya terdorong ingin mencabik-cabik bibir Emily. Dia masih membentuk kesabaran setinggi gunung kepada setiap orang yang menindas dan mencemoohnya. Tetapi, rasa cemburu terus menyelinap, dan seakan mengubah hati putih bak merpati ini harus mengaum bak buruk gagak yang telah kelaparan, dan menghardik setiap musuhnya.
"Aku merasa kau datang menindasku, hanya akan membuat Ethan datang lebih menyukaiku. Ketika ujung tumit sepatu emasmu menginjak kepalaku.Aku terluka dan berdarah. Namun, pria masa depanmu malah pergi mengobati setiap luka yang kau ciptakan," ejek Anna dan dengan sigap mendorong kembali Emily untuk menjauh dari dirinya.
Anna dengan langkah tergesa-gesa, memutuskan meninggalkan Emily. Di saat yang bersamaan, Emily berteriak menghardik, "Ethan, tidak akan pernah mengulurkan tangannya hanya untuk mengobatimu! Kau tidak beharga. Menyerupai emaspun , kau tidak akan pernah bisa," murka Emily.
......................
__ADS_1
Bersambung ...