Kekasih Tuan Muda Ruan

Kekasih Tuan Muda Ruan
Aku ingin mati


__ADS_3

Susan mengambil uang di dalam dompetnya, dan baru saja dia akan berbalik  memberikan sisa uang pada pria  yang berdiri belakang tubuhnya.


Susan dikejutkan dengan tangan yang tiba-tiba  melingkari perutnya. Napas seseorang jatuh mengendus rambutnya. Endusan-endusan hidung  yang bergesek di antara lebatnya anak-anak rambut milik Susan, rasanya menjijikan. Susan tercengang dengan dua bola mata yang jatuh akan melompat, setiap napas pria itu  terasa makin  berat dan rakus.


Dup—dup—dup.


Jantung Susan lari dalam kepanikan, jantungnya  tiap saat terasa berderak-derak  dalam ketakutan yang melandanya. Seluruh uang dalam tangan Susan jatuh ke lantai, tubuhnya bergeliat dalam kukungan tangan yang merangkul dirinya dengan sangat ketat, dan  jemari-jemari kasar pria  itu, masuk perlahan ke balik kaosnya yang telah ketat melindungi kulit halusnya.


Drrtttt....


Sekujur tubuh Susan bergetar keras, dia tercekat dan kehilangan suaranya karena rasa linglungnya, seakan apa yang terjadi padanya, hanyalah mimpi. Dia ingin bangun sekarang, dari mimpi buruk. '


'Ini adalah mimpi Anna Su, bukan mimpi milikku. Aku gadis tehormat. Ini bukan milikku.'


Tetapi, gesekan di balik kaosnya. Membangunkanya perlahan, mengembalikan seluruh panca inderanya.


'Aku... a—ku... tidak ini... ahrgggg! Ini mimpi Anna Su. Bukan milikku... hiks...'


"Tidak!" geleng Susan keras, bola matanya tercekat menatap suasana kamar, nyata dan hidup, dia tidak bermimpi, dan dia makin di yakinkan, ketika sebuah tangan menangkap bagian inti miliknya, kejutan melempar dirinya merasa dia telah terjebak dalam adegan yang seharusnya milik Anna, milik kekasih kecil Tuan muda Ruan itu.


Jleb.


Nyata. Adegan ini hidup dan pria itu bersiap meregut miliknya yang telah di jaga selama hidupnya. Cekaka. Hari celaka datang padanya.


"Lepaskan aku paman." Susan bergeliat memaki, meronta, dan histeris, "tolong aku... tolong!"


Kuat. Pria itu lebih kuat dari dugaannya. Susan akan berteriak, entah lidahnya merasa kelu, ketika bisikan pria itu masuk ke dalam gendang telinganya, "puaskan aku, anak kecil."


Plak!


Untuk pertama kalinya isi mulut pria itu,  menjadi tamparan yang sangat besar untuknya.


Takut. Panik, dan menangis dalam keserakan yang berseru, "lepaskan... aku hiks... paman, tolong aku akan memberikan uang yang lebih banyak lagi... hiks...."

__ADS_1


Sekujur tubuh Susan bergetar, merinding ketakutanya, sepasang kakinya luyut sebentar, sebelum semua panca indera kembali padanya. Pria itu telah menjatuhkan dirinya di atas kasur.


Susan melotot, ketika sepasang mata pria itu memindai sesuatu di balik rok. Telunjuk Susan naik ke udara, mulutnya  berteriak memperingati, "jangan melakukan hal tercela padaku paman. Kau akan ku kuliti."


Andie terkekeh, jemari tangannya yang  besar bergerak tidak sabar membuka kancing kemeja miliknya. Merasa sangat lambat, dia pun merobek kemejanya, dan menjatuhkan kemeja ke lantai, dengan mulut yang menyeringai nafsunya pada gadis muda, "sebelum kau mengulitiku, paman ini akan menyentuh kulitmu lebih dulu, nak."


Sepasang mata Susan melotot jatuh terhadap dada pria yang terlihat polos pertama kalinya, seakan rencana kotor telah menjebak kehidupan gadis muda, dia telah membayangkan banyak adegan kekasih Tuan muda Ruan, akan terjebak dalam posisi dirinya seperti saat ini, tetapi mengapa harus mengikat kehidupan mudanya, dia berteriak dan meneking pria itu, "paman, aku sudah memberi seorang gadis muda, bukankah seharusnya kau sudah puas dengan dirinya."


Andie terkekeh sebentar, memamerkan sepasang mata keranjangnya ketika dia memindai kehalusan gadis muda di atas kasurnya, dalam satu kedipan yang bersinar rakus, dia berkata, "kau ingin menjebakku, gadis itu milik dukungan besar di belakangnya. Untung saja aku belum menyentuhnya. Jika aku menyentuhnya, pastilah leherku sudah terikat tali dalam kamar ini, nak...."


Susan merapatkan tangannya, memeluk lututnya dalam posisi seperti bola, matanya nyalang, melihat keberuntungan Anna, dan kemalangan dirinya, "maksud paman? dia—"


"Betul, kehormatannya telah terselamatkan, dan kini aku datang, untuk menghancurkan kehormatan milikmu," seringainya yang lalu menerkam gadis itu.


"Tidak! paman... jangan...." Susan memohon dalam keserakkan dan gema bunyi serutan air ingus dalam hidungnya yang terdengar naik turun dan sesak,  hiks—hiks—hiks.


"Nak, apakah kau tau? resiko berteman orang jahat." Pria itu membisik dan berteriak selanjutnya, "kejahatan akan datang padamu, bukan untuk mengintip, tetapi untuk menerkammu. Kau harus ingat itu."


'Kejahatan akan datang padamu, bukan untuk mengintip, tetapi untuk menerkammu.'


Waktu tidak bisa kembali. Seperti air ludah yang telah jatuh ke tanah, tidak akan kembali masuk dalam mulut.


Susan menangis dan berteriak histeris sebentar, berganti sebentar dengan diam mematung dan selanjutnya pikirannya kosong, dan kembali menangis histeris di detik selanjutnya.


Srettt!


Seluruh pakaian miliknya dilucuti, dan di jatuhkan ke lantai, setiap menit di lewatinya terasa dengan sangat berat dan menyakitkan.


Pilu dalam satu malam. Selesai sudah dalam satu malam. Tidak bisa kembali lagi.


Kalimat pria itu kembali padanya.


'Kejahatan akan datang padamu, bukan untuk mengintip, tetapi untuk menerkammu.'

__ADS_1


Susan memejamkan matanya sebentar, karena dia telah selesai diterkam. Menyalahkan siapa? menyalahkan jalannya yang telah berani mengenal pria acak ini. Pria acak ini malah menodainya. Perih seperti telah menggenggam silet dalam kepalan tangan. Saat ini, dia hanya ingin menunggu kematian datang padanya, tetapi kematian itu masih jauh dari jantungnya.


'Aku ingin mati saja, hiksss....:


Susan menghapus jejak air matanya, dia membeku sebentar dalam kedinginan, seakan dia telah di guyur dalam siraman kata-kata yang terdengar ironis, namun hal itu sia-sia, dia tidak bisa menarik waktu kembali ke awal, kejahatan telah menerkamnya dalam satu malam, dikotori tanpa ada rasa kasihan.


Hanya suara teriak dan tangis mengisi ruangan, dan mendorongnya ke jurang kelam dan hitam, dia telah kehilangan mahkotanya, dan berteriak, "aku akan membalasmu... aku akan membalas kalian."


"Baiklah, coba saja jika kau bisa. Balaskan Tuan muda Ruan...." Andie meremeh, berdiri mengambil pakaian-pakaian Susan yang telah berserak di lantai, dan dia melempar kembali pakaian gadis itu ke atas kasur.


Susan mencengkram sprei putih, dengan bercak darah miliknya. Kesucian telah hilang dalam satu malam. Sisi-sisi mulutnya kaku dan mengutuk selanjutnya, "paman, aku ingin membunuhmu!"


"Ha... ha... ha...," tawa Andie pecah dan mendengus kembali tepat di depan wajah gadis itu, "membalas dengan apa? Menunggu kau lahir kembali menjadi seorang gadis kaya raya...."


Susan meludah dan menampar wajah pria itu. Namun pria itu hanya tertawa terlihat polos telah menerima upahnya, "terima kasih sudah menampar, kita tidak saling berhutang kembali."


Andie telah selesai mengenakan pakaian lengkapnya. Mengambil ponsel yang telah berada di titik pengambilan video, dia melirik malas sebentar, dan mengancam, "video semalam ada dalam tanganku."


Susan tercenung sebentar. Memikirkan satu kata 'Video.'


Deg!


Raut wajah Susan telah bangun dengan kesuraman, dan bibirnya bergetar berkata, "kau merekamnya?"


"Hmmm... iya!" gumam Pria itu yang kemudian mengarahkan bidikan kamera pada Susan lagi.


Cekrek —cekrek—cekrek.


...


***Bersambung dulu yah...


Jangan lupa VOTE, Like , coment, dan share ke GC, dan bagikan judul kesukaan untuk teman-teman pembaca lainnya.

__ADS_1


Dukung Jeje 😘***


__ADS_2