Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Nadin garis dua


__ADS_3

.


.


.


💞 HAPPY READING 💞


Dua minggu berlalu


Pagi - pagi buta nadin terbangun dan berlarian kekamar mandi untuk memuntahkan isi dalam perutnya. Sudah tiga kali dia mondar - mandir kamar mandi. Namun anehnya tidak ada makanan lagi yang keluar tetapi nadin masih saja mual dan muntah , hanya air saja yang keluar dari mulutnya.


Tidur rendra merasa terganggu dengan aktifitas nadin yang keluar masuk kamar mandi.


Hoeekkk Hoeeekkkk


Nadin masih saja muntah tetapi hanya cairan bening saja yang diakeluarkan. Sampai mulut dan tenggorokannya terasa pahit.


" Kamu kenapa sayang ? " Tanya rendra bangun dan menghampiri nadin dikamar mandi.


Wajah nadin sudah terlihat pucat dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Nadin belum menjawab pertanyaan Rendra , perut nya serasa di aduk - aduk dan ingin muntah kembali. Nadin kembali muntah, rendra yang tidak tahu harus apa hanya bisa memandang kearah nadin. Dia munta tapi tidak ada apapun yang dia muntahkan.


Bruukkkkk


Tiba - tiba nadin ambruk dan tergeletak dilantai, rendra kaget dan panik.


" Sayang.... Sayang... kamu kenapa?" Tanya rendra dengab bodohnya sambil menepuk - nepuk pipi nadin.


Sama sekali tidak ada jawaban dari nadin, rendra semakin panik saat tahu nadin pingsan sebab dia tidak merespon rendra. Dengan cepat rendra mengangkat nadin keluar kamar mandi dan merebahkan tubuh nadin di atas kasur.


Rendra keluar kamar mencari keberadaan ibunya, yang dicari ternyata masih ada di dalam kamarnya. Rendra menggedor pintu kamar ibu ratri dengan kasar.


Doorr... Dorrrr... Dorr


Rendra terus menggedor pintu sampai ibunya terbangun.


" Ibu, bu... Bangun bu ! Bu cepat bangun " Ucap rendra terus berteriak.


Ceklek... Pintu kamar terbuka dan terlihatlah ibu ratri yang baru bangun tidur. Wajahnya terlihat kusut dengan rambut yang acak-acakan. Terlihat sekali jika dia kesal karena rendra mengganggu tidurnya.


" Ada apa sih rend, pagi - pagi buta begini kamu sudah menggedor pintu ibu?." Tanya ibu ratri dengan kesal.


" Halah...itu tidak penting. Lagpula ini sudah jam 6 pagi bu. Itu bu nadin pingsan tadi sebelum pingsan dia muntah - muntah, rendra tidak tahu barus bagaimana. Ayok bu kekamar rendra, ibu tolongin nadin. " Seru rendra masih terlihat panik.


Pingsan ? Nadin pingsan dan muntah - muntah?


Fikiran ibu ratri langsung mengarah jika nadin hamil. Iya, ibu ratri yakin jika nadin saat ini sedang hamil. Bibr tua itu menyunggingkan senyum sumringahnya, berharap apa yang dia fikirkan adalah sebuah kebenaran.


Ibu ratri berbalik dan mengambil sesuatu yang ada di dalam laci meja riasnya dan segera keluar kamar untuk menuju kamar rendra.


" Ibu kenapa senyum - senyum ?" Tanya rendra heran melihat ibunya yang senyum - senyum sendiri.


" Sudah nanti kamu pasti tahu kenapa ibu senyum - senyum begini. Yuk sekarang cepay kita kekamar kamu, kita lihat nadin siapa tahu dia sudah bangun " Ucap ibu ratri.

__ADS_1


Rendra dan ibu ratri masuk kamar rendra,diatas ranjang nadin masih saja memejamkan mata. Ibu ratri membuka minyak angin yang dia bawa dan mengoleskan di hidung nadin, tidak samai lima menit nadin bangun dan membuka matanya.


Nadin mencoba duduk namun kepalanya masih terasa berat dan sakit. Rendra bergegas membantu nadin duduk dan bersandar disandaran ranjang.


" Mas, kenapa ada ibu disini ?" Tanya nadin yang tidak tahu jika tadi dia pingsan.


" Mas sengaja penggil ibu kesini,soalnya tadi kamu pingsan dan mas tidak tahu harus apa. " Jawab rendra jujur.


" Pingsan ? Aku pingsan mas ? Hemmm... Kepalaku tetasa berat dan pusing banget mas. Dan aku juga tadi mual banget sampai berkali - kali aku muntah. " Ucap nadin lagi.


Ibu ratri mengeluarkan sesuatu dari kantong dasternya dan menyerahkan nya kepada nadin. Ibu ratri meminta nadin untuk menampung air kencingnya dan mencekupkan benda kecil itu kedalamnya. Iya, ibu ratri memberikan tespack atau alat tes kehamilan yang sudah dia persiapkan dari jauh - jauh hari.


Nadin dan rendra masih bengong dengan apa yang diperintahkan oleh ibu ratri.


" Buat apa bu ? Jijik lah bu harus menampung urine segala ?" Tanya nadin yang belum tahu maksud dari ibu mertuanya.


" Sudah sana cepat lakukan. Ibu mencurigai kamu itu hamil karena ciri - ciri yang kamu sebutkan tadi seperti orang hamil. Dan alat ini adalah alat tes kehamilan menggunakan air kencing,mumpung pagi hari jadi malah lebih bagus. Sudah sana cepat " Ucap ibu ratri lagi.


Nadin mengangguk paham, diapun masuk kamar mandi dan melakukan apa yang disuruh oleh ibu mertuanya. Rendra dan ibu ratri menunggu dengan harap - harap cemas, mereka berharap nadin beneran hamil dan satu masalah bisa terselesaikan. Dengan begitu kemandulan rendra tidak akan diketahui oleh nadin.


" Bu, semoga saja nadin beneran hamil ya bu. Dengan begitu kemandulanku tidak akan diketahui oleh nadin. Jika memang benar hamil, betarti mas zainal tokcer juga ya bu. Baru satu kali main sudah lamgsung berhasil. Semoga beneran nadin hamil. " Ucap rendra penuh harap.


" Sstttt.... Diam kamu. Jangan keras - keras nanti nadin dengar. Bisa rusak semua rencana kita, mulut kamu itu asal jeplak saja " Gerutu ibu ratri kesal dengan sikap ceroboh rendra.


Ceklleekkk... Nadin keluar dari kamar mandi dan memberikan alat tes kehamilan tadi kepada ibu ratri. Ibu ratri dengan senang menerimanya dan langsung memeriksanya. Bibir wanita setengah tua itu kembali tersenyum sumringah setelah memgetahui hasil dari tespack.


" Kamu hamil Nadin. Lihat ini garis dua, berarti kamu hamil " Ucap ibu ratri dengan wajah senang.


Deg...


Ada perasaan aneh yang rendra rasakan saat mengetahui kehamilan nadin. Bahagia ? Jika itu anak kandungnya pasti dia akan bahagia, sebab selama ini dia sangat mengharapkan anak dalam pernikahannya. Ada rasa menyesal dan bersalah yang hinggap di hati rendra.


" Seriusan aku hamil bu ?" Tanya nadin ingin memastikan lagi.


" Iya kamu hamil. Lebih baik nsnti kamu kedokter saja untuk pemeriksaan lebih lanjut. " Ucap ibu ratri.


" Mas, aku hamil mas. Akhirnya apa yang kita harapkan terkabul juga mas. " Seru nadin memeluk bahagia rendra.


Rendra hanya mengangguk dan tersenyum tipis menanggapi ucapan nadin. Ibu ratri tahu jika rendra tidak bahagia karena itu bukan anak kandungnya, tetapi tidak bisa begitu terus. Ibu ratri akan bicara dengan rendra , dia tidak mau rencana yang sudah setengah jalan akan berantakan karena rendra yang mulai berubah.


" Emm... Nadin lebih baik sekarang kamu mandi, setelah itu sarapan baru nanti rendra mengantarkan kedokter kandungan. Ibu sama rendra mau buat sarapan dulu, rendra ayok ikut ibu kedapur" Ucap ibu ratri setengah menekan kata - katanya.


" Iya bu. Sayang kamu segera mandi ya " Ucap rendra mencoba bersikap seperti biasa.


" Iya mas . Sekalian tolong buatkan aku teh menis panas ya mas. Letakkan saja di meja makan nanti aku minum disana " Ucap nadin memerintah sang suami.


Rendra mengangguk lalu mengikuti ibunya kedapur untuk membuat sarapan. Saat di dapur ibu ratri memukul lengan rendra dengan kuat sampai rendra mengaduh kesakitan.


" Aduhh... Sakit bu. Ibu ini kenapa sih tahu - tahu memukul seperti ini ?" Ucap rendra kesal.


" Kamu itu yang kenapa ? Kenapa sikap kamu seperti itu, apa kamu mau nadin tahu semua rencana kita. Kalau nadin tahu sudah pasti saat ini dia akan marah dan memintai cerai. Dan bisa saja dia melaporkan kita kekantor polisi karena kita sudah menjebak dia. Seharusnya kamu mikir ndra , kamu sudah berbulan - bulan menjadi pengangguran dan cuma nadin yang bisa kita andalkan meskipun dia menyebalkan dia masih mau menanggung kebutuhan kita. Kalau sampai kalian bercerai siapa yang mau menanggung hidup kita ?Coba kamu fikir... !" Seru ibu ratri bicara panjang lebar.


Dia terlihat sangat geram dan kesal dengan tingkah rendra.

__ADS_1


" Maaf bu,aku tadi seakan menyesal bu. " Jawan rendra.


" Bodoh kamu. Sudah sekarang kamu buatkan teh untuk nadin, dan ingat jangan sampai ada yang tahu jika bayi yang dikandung nadin adalah anak zainal. Jika semua itu terbongkar habislah kita " Ucap ibu ratri menyampaikan hal terburuk yang akan terjadi.


" Ada apa ini kok nama ku disebut - sebut " Tanya zainal yang tiba - tiba datang.


Kedatangan zainal membuat ibu ratri dan rendra terkejut, mereka terlihat gugup dan panik saat mengetahui ada zainal dirumahnya padahal pintu depan saja masih terkunci.


" Emm.. Nal, kok kamu ada disini ? Kamu masuk lewat mana ? Bukannya pintu depan masoh ibu kunci ya ?" Tanya ibu ratri mencoba mengalihkan pembicaraan agar zainal tidak curiga.


" Oh... Semalam akukan menginap disini bu. Aku kangen dengan kamar masa muda ku dulu. Nadin semalam yang bukain pintu saat aku datang, sekitar jam 10 malam. " Jawab zainal lalu membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin dan meneguknya sambil berdiri.


Dirumah orang tuanya kamar zainal memang masih tetap dikosongkan, tidak ada orang yang boleh menempati selain zainal. Dan kunci kamar itupun dibawa oleh zainal sendiri, dan zainail sendiri yang sering membersihkan kamar itu namun hanya seminggu sekali.


Ibu ratri dan rendra saling pandang dan hal itu membuat zainal heran dan penasaran , ada apa sebenarnya dengan ibu dan adiknya.


" Kalian kenapa ? Kok gugup begitu ?" Tanya zainal .


" Oh tidak apa - apa. Hanya heran saja sama kamu, tumben pagi - pagi begini kamu minum air dingin langsung dari kulkasnya. Biasanya bangun tidur kamu itu minum air hangat kan ?" Tanya ibu ratri yang memang masih hafal betul dengan kebiasaan zainal.


Zainal sendiri juga tidak tahu kenapa dia tadi sangat ingin minuman yang segar sepagi itu. Padahal dia tidak pernah minum air dingin pagi - pagi begini, dia sendiri heran dengan tingkahnya.


" Zainal juga heran bu, tiba - tiba saat bangun tidur zainal ingin minum yang segar dan dingin. Berhubung di kulkas hanya ada air putih dingin ya air putih ini yang zainal minum. Mungkin jika tadi ada es kelapa ya es kelapa yang zainal minum " Ucap zainal sambil terkekeh.


* Jangan - jangan zainal ini ngidam. Adakan yang hamil istrinya dan suami nya juga ikut ngidam * Gumam ibu ratri dalam hatinya.


Ibu ratri tidak mau ambil pusing dengan urusan Zainal yang terpenting saat ini rencananya sudah setengah jalan. Rendra mulai memanaskan air untuk membuat teh dan kopi, sebentar lagi nadin pasti akan keluar kamar dan menanyakan teh manisnya.


Dan sang ibu sudah sibuk menyiapkan bumbu - bumbu untuk memasak nasi goreng. Hanya nasi goreng dengan telor mata sapi saja yang akan mereka masak untuk sarapan.


Zainak sudah pulang kerumahnya untuk mandi, karena dia harus berangkat kekantor. Meskipun saat ini zainal masih bekerja dengan gaji yang lumayan besar, sikap pelitnya belum juga hilang. Memberi uang untuk ibunya saja penuh pertimbangan, padahal gajinya cukup besar dan lebih dari cukup, hanya 500 ribu yang dia berikan kepada ibu ratri.


" Teh ku mana mas ?" Tanya nadin yang sudah datang dan duduk manis di kursi meja makan.


" Sabar ini masih di aduk. Tadi gas nya habis jadi harus pasang gas dulu " Ucap rendra beralasan padahal tadi berdebat dulu dengan ibunya.


" Lama banget sih, jadi suamu itu yang gesit dong. Jangan pemalas mas, oh iya kapan kamu mau kerja ? Sudah lama loh mas kamu pengangguran, coba tanya - tanya sama mas zainal di kantor dia ada lowongan apa tidak . Sekarang aku itu sedang hamil jadi kamu harus segera bekerja, sebab tanggung jawab kamu bertambah " Ucap nadin lagi.


* Anak yang kamu kandung itu anak nya mas zainal jadi kamu minta saja uang sama bapak bayi itu. Jangan minta sama aku * Gumam rendra dalam batinnya.


Teh sudah terhidang di depan nadin serta ibu ratri juga sudah selesai memasak nasi goreng dengan telor mata sapi. Mereka sarapan bersama , dengan ibu ratri dan rendra tanpa mandi sama sekali. Selesai sarapan nadin duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya tanpa mau membantu pekerjaan rumah ataupun mencuci piring kotor bekas dia sendiri.


Rendra sudah masuk kekamar untuk mandi dan bersiap - siap untuk mengantar nadin ke rumah sakit periksa kandungan.


* Seandainya itu anak ku sendiri pasti aku akan bahagia saat hendak mengantarkan nadin periksa kandungan . Tapi ya sudahlah , mungkin ini cerita hidupku. Aku ditakdirkan untuk mandul dan istriku hamil anak kakakku. Aku jalani saja semua ini selagi tidak ada orang yang tahu aku cukup bahagia* Gumam rendra dalam batinnya.


" Mas rendra ..... !! Cepetan lelet banget sih ! " Teriak nadin dari arah ruang tamu.


" Nadin jangan teriak - teriak seperti itu . Ini tuh rumah bukan hutan, kan bisa sambil menunggu kamu bantu ibu untuk beberes rumah. " Ucap ibu ratri menegur nadin.


" Ogah ! Gunanya ada ibu untuk apa ? Aku sudah keluar uang untuk kebutuhan rumah ini masak iya aku juga yang harus beresin rumah. Ibu dong yang beresin rumah, lagi pula ibu juga masih aku kasih uang juga kan ?" Seru nadin .


Hhhaaahhhhh

__ADS_1


Ibu ratri tidak bisa berkata - kata lagi. Dia tidak bisa membantah perkataan nadin, lebih baik dia diam dan cukup mendengarkan apa yang dikatakan oleh nadin. Bagaimanapun juga saat ini memang nadin yang berkuasa, dia juga yang punya uang.


***********


__ADS_2