
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Mas ini amplop apa ?" Tanya nadin saat membuka lemari dan melihat ada amplop putih jatuh dari dalam lemari tepatnya dari bawah tumpukan baju rendra
Amplop putih itu terjatuh karena saat nadin mengambilkan baju untuk rendra asal tarik sehingga amplop putih itu juga ikut ketarik dan jatuh tepat dibawah kaki Nadin. Nadin mengambil amplop itu dan saat hendak membukanya rendra langsung mengambil amplop itu dan dengan cepat menyembunyikannya dibalik kantong celananya.
" Ini bukan amplop apa - apa kok sayang " Ucap rendra gugup sembari mengambil kemeja yang masih ada ditangan nadin.
Rendra mengenakan kemejanya agar bisa secepatnya pergi dari rumah. Supaya nadin tidak banyak pertanyaan soal amplop yang baru saja dia ketemukan.
" Kalau bukan apa - apa kenapa kamu langsung menyimpannya dan panik begitu. Coba sini aku lihat dulu apa isi amplop itu ." Ucap nadin sambil berusaha mengambil amplop dalam kantong Rendra.
" Bukan apa - apa sayang. Aku tidak mau kamu marah kalau membaca isi dalam amplop putih ini. Emm.. Ini itu surat dari rumah sakit, punyanya anisa dulu. Mungkin anisa lupa untuk membuangnya jadi lebih baik nanti mas buang saja di kotak sampah depan. Mas tidak mau menyimpan apapun soal mantan, sudah ya jangan penasaran lagi. Ingat sedang hamil loh, dan sekarang mas mau berangkat interview kerja dulu ya. Semoga saja kali ini mas diterima " Ucap rendra mencoba merayu nadin dan mengalihkan pembicaraan.
Nadin yang memang tidak mau tahu soal mantan - mantan istrinya rendra , hanya mengangguk saja dan tidak memperdulikan soal amplop putih tadi. Nadin keluar kamar dan memanggil ibu mertuanya denga lantang untuk menyiapkan sarapan.
Semenjak nadin menjadi istri rendra , ibu ratri selalu diperlakukan semaunya. Persis saat anisa menjadi menantunya, ibu ratri yang memperlakukan seenaknya.
" Ibu...... ! Mana sarapannya ? Jam segini kok belum terhidang dimeja !" Teriak nadin dengan keras sampai telinga ibu ratri terasa sakit mendengarnya.
* Beruntung sekali nadin cepat keluar jadi aku bisa menyimpan amplop ini dengan aman. Kenapa juga kemarin - kemarin tidak aku bakar, kalau nadin baca ini bisa hancur semuanya. Lebih baik aku simpan saja dulu dan nanti malam aku bakar, kalau aku bakar sekarang nadin pasti curiga * Gumam rendra dalam hatinnya.
Amplop itu adalah amplop dari rumah sakit , hasil pemeriksaan kesehatan rendra. Dan dinyatakan rendra tidak bisa memiliki keturunan alias mandul. Mendengar nadin memanggil ibunya dengan cara berteriak membuat rendra menghela nafas dengan kasar. Nadin sama sekali tidak bisa menghargai mertuanya.
" Kenapa sih sayang kok teriak - teriak ?" Tanya rendra yang baru saja keluar dari kamar.
__ADS_1
" Itu ibu kamu pemalas banget sih , jam segini sarapan belum juga selesai dimasak padahal sudah mau jam tujuh pagi. Apalagi kamukan harus berangka pagi agar tidak terlambat saat interview nanti. " Jawab nadia denģan kesal.
Dari arah pintu depan ibu ratri datang dengan menenteng plastik yang isinya tidak tahu apa. Dia langsung menuju meja makan dan meletakkan plastik yang dia bawa tadi diatas meja.
" Ibu darimana saja sih ? Sarapan jam segini belum juga ada ?" Tanya nadin dengan ketus.
" Ibu tadi beli sayuran di warung depan , sekalian nih beli nasi uduk untul kita sarapan." Ucap ibu ratri dengan mudahnya.
" Kenapa harus beli sih bu? Boros tahu bu, uang 100 ribu itu harus cukup sampai makan malam. Lagi pula kita ini cuma bertiga 100 ribu lebih dari cukup, itu hanya untuk sayuran dan bumbu dapur. Beras aku sudah beli sendiri, ingat ya jangan boros - boros karena dirumah ini yang berpenghasilan cuma aku. !" Ucap nadin tegas dengan melirik tajam rendra.
Rendra yang dilirim justru hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebagai seorang suami rendra tidak ada tanggung jawabnya sama sekali dan tidak ada harga dirinya dihadapan sang istri.
" Apa ? Nasi uduk pakai ayam goreng ? Kenapa tidak pakai telor atau gorengan saja sih bu ?" Seru nadin dengan kesal.
Nasi uduk pakai telor harganya 18 ribu 1 bungkusnya, sedangkan pakai telor hanya 10ribu. Jadi uang belanja 100 ribu yang dia kasih tadi malam hanya tersisa 46 ribu saja karena yang 54 ribu sudah untuk beli nasi uduk. Nadin tidak habis fikir dengan jalam fikiran ibu mertuanya, bukannya berhemat tetapi justru boros.
" Soalnya telor nya tadi habis din, hanya tinggal ayam dan gorengan saja. Makanya ibu pilih pakai ayam saja, kalau cuma pakai gorengan tidak bisa ketelan ibu din. Itu tadi sisanya ibu belikan kangkung 2 ikat , 1 kilo ikan lele sama tempe 1 papan cukup untuk kita makan siang ini. " Ucap ibu ratri sebelum menyuapkan nasi uduk kedalam mulutnya.
" Aku tidak mau tahu pokoknya itu harus cukup sampai malam.!" Seru nadin tegas.
Rendra pusing setiap hari mendengar perdebatan antara nadin dan ibunya. Yang diperdebatkan selalu uang dan uang, belum lagi soal pekerjaan rumah. Rendra bisa apa ? Mau protes juga tidak mungkin karena dia tidak punya uang , rumah memang miliknya tetapi untuk kebutuhan rumah semua dibiayai nadin.
" Mana cukup din ?" Tanya ibu ratri dengan wajah heran dengan perkataan nadin tadi.
" Terserah saya dong lagi pula saya hanya memberi 100 sehari jika kurang ibu tambahi saja bukannya dua hari yang lalu baru aku kasih 1 juta untuk ibu pribadi, belum lagi 500 ribu dari mas zainal. Ya tambahin saja pakai itu " Ucap nadin kesal lalu membawa makanannya masuk kekamar dan akan makan dikamar saja daripada dial harus capek berdebat dengan mertuanya.
" Ndra ibu sudah tidak ada uang ? Uang ibu 1 juta sudah ibu bayarkan arisan , dari zainal mana ada lagi. Bulan ini dia sudah tidak mau memberi ibu uang. Istri kamu itu pelit banget sih ndra. " Gerutu ibu ratri.
" Salah ibu juga kenapa pakai boros begini. Uang 100 loh bu, dulu anisa ibu jatah 50 ribu saja cukup untuk sehari bahkan keluarga mas zainal juga ikut makan . Pusing kan bu mengatur uang belanja ? Lagipula kenapa ibu masih saja ikut arisan sih, sudah tahu keadaan seret begini masih saja ikut arisan " Tegur rendra kesal.
Dengan cepat rendra menghabiskan sarapannya agar bisa segera berangkat dan tidak terlambat. Dia ada interview dipeusahaan tempat teman kuliahnya dulu bekerja, dan sangat berharap dia bisa keterima. Dia sudah bosan mendengar ocehan nadin disaat dia neminta uang.
__ADS_1
" Bulan ini yang terakhir ndra, soalnya ibukan sudah narik jadi tidak mungkin dong ibu keluar. Lagipula malu kalau sampai teman - teman ibu tahu sekarang ibu tidak punya uang, yang mereka tahu kamu kerja , zainal bergaji besar serta nadin juga orang kaya. Masak arisan 1 juta sebulan saja tidak mampu " Ucap ibu ratri memikirkan gengsinya.
Sarapan rendra sudah selesai dengab cepat rendra minum dan pergi dari rumah. Mendengar ocehan ibunya lama - lama membuat dia gila dan stress yang ada dia akan terlambat interview.
Motor rendra sudah sampai di perusahaan yang dia tuju dan rendra langsung menuju tempat untuk inteview. Ini perusahan yang sudah tidak terhitung lagi yang rendra datangi. Semua perusahaan yang dia datangi selalu gagal dan gagal , dia berharap kali ini bisa keterima apalagi ada temannya yang menurut rendra sudah pasti akan membantunya.
" Maaf pak anda tidak bisa kami terima karena kemampuan anda tidak seperti yang kami harapkan " Ucap pemilik perusahaan.
Pemilik perusahaan langsung yang menginterview calon karyawan langsung sehingga diterima tidaknya langsung diumumkan saat itu juga. Apalagi yang melamar hanya sekitar 25 orang saja dan yang akan keterima 8 orang saja, rendra salah satu yang tidak diterima.
" Apa saya tidak diterima ? Padahal ijazah saya juga sarjana ? Dibandingkan mereka yang diluar sana yang baru saja lulus, masih banyak pengalaman saya." Tanya rendra tidak terima.
" Maaf , silahkan keluar dan jangan bikin onar dikantor saya. Jika kamu tidak terima atas keputusan saya ini kamu bisa saya hajar disini. Siapa kamu mau marah - marah diperusahaan saya ? " Ucap pemilik perusahaan.
Nyali rendrapun menciut, dia bangkit dan keluar ruangan dengan menggerutu . Dia berjalan menuju lobby perusahaan , saat menuju lobby dia bertemu dengan temannya dan tiba - tiba rendra langsung memarahinya.
" Dasar teman tidak berguna ! Katanya kamu itu teman tetapi teman apa yang tidak bisa membantu temannya untuk mendapatkan pekerjaan !" Bentak rendra kasar.
" Kamu tidak diterima ndra ? Maaf ndra itu semua bukan kuasaku. Lagipula akukan hanya memberitahu lowongan pekerjaan saja, aku tidak bilang akan membantumu supaya keterima. Aku tidak mau seperti itu ndra, itu namanya curang. " Ucap teman rendra meminta maaf.
" Halahh dasar kamu ini sok suci, padahal kamu bisakan bilang sama boss kamu untuk menrimaku . Bahkan kamu disinikam manejer HRD tetapi tidak berguna !" Seru rendra dengan kesal.
Teman rendra terlihat kesal dengan kelakuan dan perkataan rendra. Kalau bukan dilingkungan perusahaan sudah pasti saat ini dia akan menghajar rendra habis. Dicarikan lowongan pekerjaan bukan berarti dia akan membantu rendra bisa diterima.
" Jaga sikapmu ndra ? Ini diperusahaan jangan mempermalukan diri kamu sendiri. Saya tidak punya kuasa atas penerimaan karyawan, karena semua keputusan ada ditangan pemilik perusahaan. Permisiasih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan !" Ucap teman rendra tegas dan berlalu dari hadapan rendra.
Rendra memukulkan tangannya keudara karena kesal , angan - angan mendapat pekerjaan hilang begitu saja. Diapun menuju motornya yang ada diparkiran dan segera meninggalkan perusahaan. Dirumah dia pasti akab mendapat banyak pertanyaan dari nadin, dia tidak langsung pulang dan lebih memilih duduk ditaman kecil tidak jauh dari perusahaan abimana.
" Taman inikan dekat sama perusahaannya mas abi ? Apa aku datang kesana saja ya meminta pekerjaan? Apa saja yang penting aku bekerja asalkan bukan jadi OB atau cleaning service . " Ucap rendra bicara sendiri.
Namun dia teringat jika anisa juga bekerja dipeusahaan yang sama. Dia ragu abi mau menerimanya terlebih apa yang dia lakukan kepada anisa dulu sudah sangat membuat abimana murka. Anisa juga tidak akan mungkin mau satu kantor dengannya, terlebih terakhir dia memang anisa yang memecat.
__ADS_1
* Sepertinya kecil harapanku untuk bisa bekerja diperusahaan mas abi. Mereka sangat membenciku ,jadi mustahil aku bisa diberi pekerjaan * Gumam rendra dalam batinnya.
*********