Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Mantan mertua


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Siang hari yang tidak terlalu panas karena memang cuaca sedang mendung. Nadin mengajak Ibu mertuanya untuk berbelanja ke salah satu pusat perbelanjaan, awalnya Ibu Ratri tidak mau ikut Nadin. Namun setelah Nadin menjanjikan akan membelikan baju baru untuknya akhirnya Ibu Ratri pun mau ikut dengan Nadin.


" Awas kalau kamu sampai tidak membelikan heboh baju kamu akan aku amuk di sana biar kamu malu sekalian." Ucap ibu Ratri saat dalam perjalanan menuju Mall.


" Tenang saja Bu , Nadin pasti akan membelikan Ibu baju baru. Tapi sebelumnya temani Nadin dulu untuk berbelanja, karena Nadin mau berbelanja kebutuhan calon anak Nadin. " Ucap Nadin tanpa melirik kearah ibu mertuanya, sebab dia sedang fokus dengan setir mobilnya.


" Loh kamu itu baru hamil beberapa bulan kenapa sudah mau beli perlengkapan bayi?. Pamali kalau belum berusia 7 bulan jangan beli-beli dulu." Ucap Ibu Ratri melarang Nadin untuk membeli barang-barang untuk calon anaknya.


" Heleh itu cuma mitos bu. Lagipula Nadin beli pakai uang Nadin sendiri, bukan uang Rendra juga. Walaupun usia kandungan Nadin baru 4 bulan tapi Nadin ingin mempersiapkannya dari sekarang. Tidak perlu banyak protes, mau baju baru kan? Kalau mau lebih baik diam saja." Ucap Nadin kesal karena ibu Ratri sudah mengatur - atur hidupnya.


Ibu Ratri langsung diam tidak mau banyak komentar lagi, daripada tidak jadi dibelikan baju baru oleh Nadin. Ibu Ratri melengos memandang ke arah luar jendela mobil, setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit mobil Nadin sudah sampai di depan gedung Mall. Nadin memarkirkan mobilnya dan segera mengajak Ibu Ratri untuk masuk ke dalam Mall.


Sesampainya di dalam mall Mata Ibu Ratri sudah jelalatan melihat ke sana dan kemari. Dia sangat takjub melihat mall yang mewah dan megah itu, serta barang-barang mewah dan mahal tersusun rapi di sana. Sudah lama sekali Ibu Ratri tidak masuk ke mall itu, biasanya dia akan berbelanja ke pasar atau minimarket saja. Dulu saat Rendra masih bergaji Ibu Ratri sering keluar masuk Mall bersama teman-teman arisannya.


" Ayo dong Bu cepetan jalannya jangan lelet amat seperti itu." Seru Nadin kesal karena ibu Ratri pelan sekali dengan mata yang memutari setiap sudut Mall.


" Iya, iya sabar dulu kenapa sih. Ibu masih ingin melihat - lihat Mall ini. Sudah lama sekali ibu tidak ke Mall ini tepatnya sekitar 8 atau 9 bulan yang lalu ibu terakhir masuk Mall ini." Ucap ibu Ratri dengan mata yang masih memindai setiap sudut Mall.


" Iya tapi jangan seperti itu juga dong Bu. Nadin malu melihat Ibu seperti itu. Seperti tidak pernah masuk mall saja, kampungan tahu Bu." Tegur Nadin membuat hati ibu Ratri terasa sesak dikatakan kampungan oleh menantunya sendiri.


Ibu Ratri akhirnya memilih berjalan berdampingan dengan Nadin. Dan dia menghentikan matanya yang mengitari setiap sudut mall itu. Dia tidak mau Nadin marah-marah , sebab akan membuat dia sendiri juga malu. Apalagi Mall memang sedang ramai, sebelum menuju tempat yang menyediakan perlengkapan bayi. Nadin mengajak Ibu Ratri berbelanja kebutuhan dapur terlebih dahulu yang masih ada di lantai bawah. Hari ini Nadin berbaik hati akan membelanjakan kebutuhan dapur untuk ibu mertuanya.

__ADS_1


" Kamu mau belanja kebutuhan untuk kita sehari-hari Nadin." Tanya ibu Ratri hampir saja tidak percaya saat Nadin mengajaknya berbelanja bahan pokok makanan, sebab sudah 1 bulan ini Nadin tidak pernah belanja kebutuhan dapur lagi.


" Iya mumpung aku berbaik hati, ambil saja apa yang menjadi kebutuhan dapur. Tapi ingat ambil secukupnya saja, ingat jika terlalu banyak aku tidak mau membayarnya." Ucap Nadin dengan tegas memperingatkan Ibu mertuanya agar tidak mengambil barang semaunya.


Ibu Ratri hanya mengangguk dengan pasrah karena angan-angannya ingin berbelanja banyak pupus sudah setelah mendengar peringatan dari Nadin barusan.


* Padahal aku tadi mau mengambil banyak bahan makanan cukup buat 1 bulan atau 2 bulan, ternyata terbatas juga dasar menantu pelit." Gumam Ibu Ratri dalam hatinya.


Ibu Ratri mengambil barang kebutuhan dapur masing - masing hanya boleh 1 bungkus saja. Namun untuk mie instan Nadin mengambilkan 10 biji. Nadin terus berjalan mencari bahan makanan yang sedari tadi dia inginkan. Akhirnya apa yang dia cari ketemu juga, Nadin mencari cumi asin. Dia sedang menginginkan makan cumi asin, sesampainya dirumah nanti Nadin ingin meminta ibu mertuanya untuk memasakkan cumi asin.


" Sampai rumah nanti masak ini ya bu. Ini demi cucu ibu, karena aku lagi ngidam makan cumi asini ini. Dimasak pakai cabai hijau, jangan lupa nanti ambil juga cabai hijau." Ucap Nadin memerintah seenaknya.


" Tapi kalau pulang dari sini masak ibu capek Din. Ibu tidak mau memasak kamu masak sendiri saja lagipula kamu juga yang ingin makan itu. Kalau ibu sih Ogah ! Aku tidak suka cumi asin, kalau yang cumi basah ya aku mau. " Ucap Ibu Ratri tanpa malu lagi.


" Kalau tidak mau memasak gagal baju barunya !" Seru Nadin mengancam.


Akhirnya ibu Ratri hanya mengangguk pasrah sajs. Diapun berjalan kearah rak yang lainnya untuk mencari barang yang dia inginkan. Saat tangan Ibu Ratri ingin mengambil saus tiram , tiba-tiba ada tangan lain yang juga ingin mengambilnya. Secara refleks ibu Ratri melihat ke arah orang itu dan begitupun orang itu juga melihat ke arah Ibu Ratri.


" Anisa "


" Ibu "


Seru Ibu Ratri dan Anisa secara bersamaan. Iya, orang yang saat ini bertemu Ibu Ratri adalah Anisa sang mantan menantunya.


" Ibu apa kabar ? Dan ibu ke sini sama siapa." Tanya Anisa mencoba untuk ramah karena bagi Anisa masa lalu sudahlah biar terlalu. Lagi pula Anisa sudah bukan menantunya lagi ,Tidak ada salahnya untuk menegur secara baik-baik.


" Untuk apa kamu menegurku? tidak usah sok baik dan sok ramah denganku." Jawab ibu Ratri dengan ketus.


Anisa hanya bisa menggelengkan kepalanya, ternyata sifat sombong dan ketus mantan Ibu mertuanya belum berubah juga. Ditegur baik-baik bukannya menjawab dengan baik justru dijawab dengan Ketus. Anisa seolah menyesal karena tadi sudah menyapa mantan mertuanya itu secara baik-baik.

__ADS_1


" Aku hanya menyapa saja Bu, kalau tidak mau menjawab ya sudah. Jika aku diam saja nanti dikira aku sombong, tidak mau menyapa. Padahal ibu sendiri ditegur jawabannya seperti itu." Ucap Anisa masih mencoba untuk bersikap ramah.


" Aku tidak butuh basa - basimu. Oh iya kelihatanya kamu bahagia banget ya menikah dengan orang kaya. Terlihat sekali sekarang kamu gemukan. " Ucap Ibu Ratri masih dengan tatapan sinisnya.


" Alhamdulillah aku bahagia sekali bu. Karena suamiku yang sekarang sangat menyayangiku dan memanjakanku. Rumah tanggaku juga adem ayem tidak ada mertua yang ikut campur. Dan Alhamdulillah lagi saat ini aku sudah hamil 3 bulan. Terbuktikan kalau aku ini tidak mandul." Ucap Anisa sengaja sedikit menyentil mantan ibu mertuanya.


Haaaahhhh....


Anisa hamil ? Sudah pasti saja bisa ambil karena selama ini ternyata yang bermasalah bukan Anisa tetapi si Rendra. Setelah dia berpisah dari Rendra dan menikah dengan Riko otomatis dia pun bisa hamil. Beruntung si Nadin juga hamil sehingga Anisa tidak tahu masalah Rendra. Ada untungnya juga Nadin hamil karena jebakanku dan Rendra. Semoga saja mulut Nadin tidak membuka aib ini di luaran sana.


" Oh kamu hamil ? Bisa hamil juga kamu, tapi syukur deh kamu hamil sehingga kamu akan mempunyai keturunan. Nadin sekarang juga sedang hamil 4 bulan, selisih 1 bulan ya dari kandunganmu. " ucap Ibu Ratri membanggakan Nadin.


" Soal itu aku sudah tahu karena setiap bulan saat periksa kandungan aku bertemu sama Nadin. Tapi kenapa kemarin lusa Nadin sendirian ya saat periksa kandungan ? Memangnya mas rendra ke mana? Bukannya selama ini mas Rendra dan ibu menginginkan seorang anak ? Tapi kenapa membiarkan Nadin periksa kandungan sendirian. Lagi pula mas Rendra kan sampai sekarang masih pengangguran. Jadi kalian hidup selama ini dari mana? nebeng sama Nadin?." Seru Anisa sambil terkekeh pelan.


" Bukan urusan kamu lagi pula Nadin itu menantuku dia menantu yang paling baik. Bahkan dia tidak pelit seperti kamu, Nadin itu penyayang, pengertian dan tidak perhitungan. Bahkan dia sangat lembut dan sopan dengan ku." Ucap Ibu Ratri dengan sinis tetap membanggakan Nadin.


Padahal apa yang dia ucapkan itu semuanya kebohongan semata agar tidak dipandang menyakitkan oleh Anisa. Demi sebuah gengsi dia rela berbohong.


" Ternyata ibu disini ? Aku capek mencari ibu, dasar sudah tua tidak tahu diri. Aku capek tahu membawa belanjaanku !!. Ibukan yang bawa troli jadi jangan jauh - jauh dari ku dasar menyebalkan sekali." Ucap Nadin yang datang secara tiba - tiba dan langsung memarahi Ibu Ratri bahkan sempat membentaknya.


Nadine tidak tahu jika ada Anisa yang sedang berbicara dengan ibu Ratri. Nadin mengira wanita itu hanya orang asing yang kebetulan juga sedang berbelanja. Maklum di Mall pasti banyak juga orang yang berbelanja sehingga Nadin tidak memperhatikan orang disekelilingnya.


* Hahahaaa tadi katanya menantunya itu lembut , sopan dan menghargai ibu ? Ternyata apa yang dia katakan tidak sesuai dengan kenyataannya. * Gumam Anisa dan tertawa dalam hatinya.


" Oh ini menantu ibu yang katanya lembut , sopan dan pengertian. Begini ya cara menantu ibu memperlakukan ibu dengan sopan dan lembut." Seru Anisa sambil menyeringai sinis.


* Anisa ? Sejak kapan ada wanita itu di sini atau jangan-jangan tadi yang sedang berbicara dengan ibu itu Anisa? Hemm.. tapi masa bodoh lah, dia tahu aku memperlakukan Ibu seperti tadi toh bukan urusan dia lagi. Sekarang Ibu adalah mertuaku jadi terserah aku dong mau memperlakukan ibu seperti apa.* Gumam Nadin dalam hatinya.


***********

__ADS_1


__ADS_2