
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Ibu... !" Teriak nadin dari dalam kamarnya.
Tidak ada jawaban dari ibu ratri, nadin kembali berteriak memanggil ibu ratri sampai ibu ratri datang kekamarnya. Sedikitpun nadin tidak mau menghormati ibu mertuanya , dia merasa uang bisa membeli segalanya . Sampai bisa membeli tenaga ibu mertuanya yang sombong itu.
" Ada apa sih Din ? Ibu baru saja tiduran kamu sudah teriak - teriak, kalau kamu mau makan itu ibu sudah masak kamu bisa ambil sendiri " Gerutu ibu ratri dengan kesal.
" Aku tidak mau makan masakan ibu dulu, tolong belikan aku nasi padang saja bu. Aku lagi ingin makan nasi padang pakai rendang, nih uangnya. Kalau ibu mau sekalin beli saja. Nah baikkan aku, eh tapi kalau ibu beli juga terus masakan ibu siapa yang makan ?" Seru nadin baru ingat jika ibu mertuanya juga sudah memasak.
Hhuuuffff...
Terdengar helaan nafas berat dari ibu ratri, padahal dia juga ingin makan nasi padang . Apalagi dia juga sudah lama tidak makan daging rendang. Semenjak dia diperlakukan sebagai pembanth oleh nadin, dia sudah tidak pernah lagi makan di luar.
" Bu, kenapa bengong ?" Tanya nadin .
" Tidak siapa yang bengong ? Ya sudah saya keluar dulu, mau nyari nasi padang " Jawab ketus ibu ratri.
" Hemmm.... " Jawab nadin hanya berdehem saja tanpa melihat kearah ibu mertuanya.
Apa yang ditanam ibu ratri pasa anisa dulu kini dia memetik hasilnya dari nadin. Nadin suka - suka dan semaunya memerintahnya, sama persis seperti dulu dia suka seenaknya memerintah anisa tanpa mau tahu anisa lagi apa dan sedang apa.
*Kenapa aku jadi seperti pembantu begini sih ? Aku ini mertuanya, dan aku juga yang punya rumah ini .*Gumam ibu ratri dalam batinnya.
Dengan terpaksa ibu ratri keluar rumah dengan berjalan kaki untuk membelikan nasi padang nadin. Kalau bukan karena dia masih butuh uang dari nadin sudah pasti dia tadi akan menolak dan memarahi nadin. Namun apa daya uang adalah segalanya sampai harga diri tidak dihiraukan lagi.
__ADS_1
" Mau kemana bu ?" Tanya ibu - ibu yang sedang berkumpul diwarungnya ibu neni.
" Iya nih ibu ratri sekarang sudah tidak pernah lagi berkumpul dengan kita - kita loh. Arisan Rt saja sudah tidak ikut lagi? Kenapa bu? Tidak ada uang lagi ya ?" Tanya ibu ida dengan beraninya.
" Mau beli nasi padang . Orang kaya mah kalau makan paka daging , nah ini mau beli nasi padang pakai rendang. Kalau kaliah sih makan pakai tahu tempe saja sudah cukup, iya kan ?" Tanya ibu ratri sambil mencebikkan bibirnya.
" Idih sombong banget sih bu , baru saja nasi padang bu. Lah kita makan nasi padang saja sudah biasa, jangan dikira kami cuma makan tempe tahu. Makanya bu sesekali itu keluar rumah dan ngumpul, ibu loh semenjak si rendra menikahi nadin sudah tidak pernah keluar rumah gabung sama kita - kita ini. Kenapa bu ? Dijadikan pembantu ya sama nadin ?" Tanya ibu ida tepat banget sama sasarannya.
Ibu ratri menatap tajam para perkumpulan ibu - ibu itu , terutama ibu ida si biang gosip dan biang masalah. Dengan kesal ibu ratri meninggalkan para ibu-ibu tukang gosip itu. Dia segera kerumah makan padang yang ada di jalan depan sana, padahal tanpa harus capek - capek jalan kaki ibu ratri bisa pesan langsung lewat ponselnya. Rumah padang melayani sistem delivery order.
Akhirnya dua bungkus nasi padang sudah ada ditangan ibu ratri, uang 50 ribu dari nadin hanya cukup untuk membeli dua bungkus nasi padang saja, akhirnya ibu ratri juga membeli untuk dirinya sendiri , masakannya bisa nanti diangetin untuk makan malam.
Saat melewati perkumpulan ibu - ibu itu lagi, ibu ratri sama sekali tidak menegur nya. Jangankan menegur, melirik saja tidak mau.
" Huuuhhh.... Sombong ! Baru juga nasi padang belagu banget. Maklum sih janda " Ucap ibu ida yang masih terdengar oleh ibu ratri.
Ibu ratri menghentikan langkahnya lalu menghampiri ibu ida. Dengan kesal ibu ratri menjambak rambut ibu ida sampai ibu ida kesakitan dan berteriak.
Ibu - ibu yang lain mencoba untuk memisahkan ibu ida dan ibu ratri. Tetapi tenaga ibu ratri sangat kuat sampai dia ditarik oleh dua ibu saja tangannya tetap mencengkram rambut ibu ida. Namun setelah puas ibu ratri melepaskan rambut ibu ida.
" Kamu itu belum ada apa - apanya dibandingkan dengan aku. Jadi jaga itu mulut mu " Ucap ibu ratri dengan nafas tersengal - sengal karena marah.
" Sudah, sudah. Kalian ini sudah tua dan juga hidup bertetangga masih saja ribut " Tegur aminah, salah satu ibu-ibu yang masih waras.
" Huuhh... Dasar, siapa juga yang mau memiliki tetangga seperti dia. " Seru ibu ratri.
" Ibu ratri sudah ! Lebih baik sekarang anda cepat pulang dan bawa itu nasi bungkus ibu , beruntung tadi aku amankan saat terjatuh. Kalau tidak pasti sudah keinjak - injak, dan pasti kamu kena omel sama menanantu mu itu. Cepat sana bawa pulang, sebelum menantumu berteriak " Ucap ibu aminah.
Ibu aminah sedikit tahu perlakuan nadin kepada ibu ratri, sebab rumah mereka memang bersebelahan jadi tahu dan mendengar saat nadin berteriak memanggil ibu ratri.
Dengan kesal ibu ratri pulang dengan perasaan dongkol, perlakuan nadin sudah diketahui oleh ibu aminah. Dan pasti akan sampai juga mulut dan telinga para tetangga yang lainnya, namun ibu aminah bukan orang seperti itu . Meskipun dia suka bergosip tetapi cukup menjadi pendengar saja dan tidak mau ikut berkomentar.
__ADS_1
Baru juga membuka pintu depan, nadin sudah menyambit kedatangan ibu ratri dengan berkacak pinggang. Pesanan nadin terlalu lama datang sehingga membuat nadin marah.
" Lama banget sih bu ? Ibu sengaja membuat aku kelaparan ? Dasar mertua tidak tahu diuntung!" Sentak nadin dengan kesal.
Deg....
Jantung ibu ratri terasa sakit dengan perkataan Nadin. Dulu jangankan dibentak dan dihina, anisa bicara kasar serta membantahnya saja tidak pernah. Justru dia yang suka membentak dan menghina anisa.
" Nadin jaga bicara mu ! Biarpun seperti ini aku ini ibu mertuamu, aku harus kamu hormati. Apa pantas kamu bersikap kasar seperti ini sama ibu ?" Tanya ibu ratri dengan kesal.
" Sudahlah bu jangan protes. Sekarang mana nasi ku, cepat siapkan aku mau makan, dan jangan lupa teh hangatnya sekalian. Selagi kamu dan mas rendra apa-apa masih mintak saya, jangan sesekali untuk protes atau mengaturku. Paham ! Oh iya jangan lupa makananku antar kekamar ya ibu mertuaku yang baik hati." Ucap nadin sambil terkekeh. Wajah ibu ratri terlihat marah dan tatapan matanya pun ada kilatan amarah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata - kata lagi.
" Keterlaluan kamu nadin " Ucap ibu ratri.
Nadin tidak perduli, dia hanya melambaikan tangannya saja sambil meninggalkan ibu ratri yang masih saja mematimung ditempatnya.
* Kenapa semakin hari nadin semakin berani, dia benar - benar keterlaluan. Huuhhh... Kalau seperti ini terus aku harus segera meminta rendra untuk segera meminta nadin untuk memegang usaha bar dan club malamnya. * Gumam ibu ratri dengan kesal.
Ibu ratripun segera kedapur untuk menyiapkan makanan nadin jika kelamaan pasti akan marah dan membentak - bentak ibu ratri. Kamu dapat karma mu sendiri ibu ratri, kamu terlalu sombong dan menyia - nyiakan menantu yang tulus dengan mu tetapi sekarang mendapat penggantinya dua - duanya tidak ada yang benar, bahkan sekarang tinggal satu tetapi tidak memperlakukan mu dengan baik.
" Ini makanan dan teh kamu, sudah setelah ini jangan teriak - teriak panggil ibu lagi. Karena aku juga mau makan setelah itu istirahat. Masalah rumah bersih atau tidak itu urusan saya karena ini rumah - rumah saya. Jadi terserah kapanpun saya mau membersihkan, kamu tidak perlu ribut " Ucap ibu ratri dengan nada bicara dengan ketus.
" Terserah kamu saja. Sudah sana cepat keluar dari kamarku, aku mual melihat wajahmu " Usir nadin dengan sombongnya.
" Iya saya juga mau keluar , malas berlama - lama ada didalam kamar orang sombong seperti mu " Ucap ibu ratri ketus.
Braaakkk
Ibu ratri menutup pintu cukup kuat sehingga suaranya terdengar sampai kamar zainal dan dapat membangunkan zainal yang memang masih tertidur di kamarnya.
" Brisik banget sih " Gerutu zainal dari dalam kamarnya.
__ADS_1
***********