
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sepuluh hari berlalu
Rendra sudah diperbolehkan pulang, hari ini hanya Bagas yang membawa Rendra pulang sebab Zainal masih ada dikantor. Sekitar jam 1 siang Rendra dan Bagas sampai rumah. Di rumah sudah ada Santi dan Pakde Warso yang sudah menunggu kepulangan Rendra. Rendra terpaksa harus menggunakan kursi roda, meskipun susah dia harus bisa belajar.
" Bagas, Rendra Pakde pulang dulu ya? Nanti pasti Pakde akan datang lagi kesini, kamu yang sabar ya Ndra. Semua ini mungkin memang ujian hidup kamu. Jangan pernah menyalahkan takdir yang sudah di tetapkan Allah. Jalani semua ini dengan ikhlas dan hati yang lapang, pakde yakin kamu pasti bisa menjalani semua ini."Ucap Pakde Warso memberikan semangat untuk Rendra.
Meskipun berat Rendra harus menerima semua ini, tidak ada yang bisa Rendra lakukan selain menerima dengan hati yang lapang. Untuk menyesalpun sudah tidak ada gunanya lagi, semua sudah terjadi dan Rendra hanya bisa menerima semuanya.
" Iya Pakde terimakasih. Rendra minta maaf jika selama ini Rendra punya salah sama Pakde Warso. Doskan Rendra semoga Rendra bisa menjalani ini semua dengan ikhlas dan bisa segera sembuh." Seru Rendra penuh harap.
" Aamiin. Pakde sudah memaafkan semua kesalahan kamu. Pakde yakin kamu pasti bisa sembuh dan berjalan seperti dulu lagi, insya Allah pakde akan bantu biays berobat kamu." Ucap pakde Warso.
" Terimakasih Pakde." Jawab Rendra dengan senang.
Pakde Warso akhirnya pulang, kini Bagas membantu Rendra hendak masuk kekamar namun tiba - tiba ada pak Rt dan beberapa warga ada yang datang hendak menjenguk Rendra. Bagas mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
" Mas Rendra, ini ada sedikit sumbangan dari warga semoga bisa sedikit membantu mas Rendra. Memang jumlahnya tidaklah banyak, semoga bisa bermanfaat untuk mas Rendra." Ucap pak Rt sembari menyerahkan amplop yang berisi yang sumbangan warga kepada Rendra.
Mata Rendra berkaca - kaca menerima amplop dari pak Rt. Padahal selama ini dia kurang berbaur dengan warga, tetapi warga masih saja peduli dengan dirinya. Hati Rendra sangat terharu dengan kebaikan dan kepedulian para warga tempat tinggalnya. Rendra mengucapkan banyak terimakasih kepada pak Rt dan yang lainnya.
" Semoga Allah membalas semua kebaikan pak Rt dan warga yang lainnya. Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih banyak." Ucap Rensra lagi.
" Aamiin. Sama - sama mas, kita sesama warga memang harus saling membantu. Apalagi jika memang ada warga yang terkena musibah dan membutuhkan pertolongan. Semoga mas Rendra cepat sembuh ya, kami permisi dulu." Ucap Pak Rt bangkit lalu berpamitan kepada Rendra dan Bagas.
" Iya pak Rt terimakasih semuanya." Ucap Bagas juga tidak lupa mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Pak Rt dan yang lainnya.
Setelah Pak Rt dan rombongan pulang, Bagas mendorong kursi roda Rendra masuk kekamar. Bagas juga membantu Rendra naik keatas kasur, sebab Rendra belum terbiasa jadi masih kaku dan susah untuk bergerak dengan kursi roda.
" Gas, ini uang dari pak Rt tadi kamu yang simpan ya. " Seru Rendra sembari memberikan uang sumbangan yang diberikan pak Rt tadi.
" Baik mas, nanti uang nya Bagas pergunakan untuk biaya berobat dan terapi mas Rendra. Sekarang mas Rendra istirahat saja, Bagas juga sepertinya mau istirahat.
" Maaf ya Gas, gara - gara ngurusin mas kamu jadi kurang istirahat begini. Kuliah kamu juga terganggu karena seminggu ini kamu harus menemani mas di rumah sakit." Seru Rendra merasa tidak enai dengsn Bagas sudah merepotkan dia terus menerus. Apalagi dalam jangka panjang pasti Bagas yang akan selalu dia repotkan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa mas. Oh iya sebentar lagi Bagas juga sudah mulai menyusun skripsi doakan ya mas semoga semuanya lancar." Seru Bagas penuh semangat.
Rendra mengangguk sambil tersenyum, Rendra bangga atas pencapaian Bagas. Bagas bisa berkuliah sambil bekerja, meskipuj kuliah dengan beasiswa dia juga butuh uang untuk beli keperluan yang lainnya. Namun dia bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan dia akan lulus kuliah dengan cepat.
" Gas, boleh mas minta tolong sama kamu ?" Tanya Rendra terlihat serius.
" Apa mas ?" Tanya Bagas.
" Aku ingin bertemu Anisa dan Erika. Aku ingin meminta maaf kepada mereka berdua, terutama Anisa. Aku sudaj sangat menyakitinya dengan mengkhianati pernikahan kami. Dan Erika, aku dulu sering menyakiti fisiknya. Tolong pertemukan mas sama mereka, Gas" Ucap Rendra.
" Nanti Bagas coba hubungi mereka ya mas. Sekarang mas Rendra istirahat saja." Ucap Bagas dengan sabar.
Bagas keluar dari kamar Rendra, lalu dia masuk kamarnya sendiri dan mengistirahatkan tubuhnya. Selama sepuluh hari ini Bagas kurang istirahat, apalagi saat malam hari dia sering terjaga sebab Rendra sering buang air kecil kekamar mandi.
************
Sementara itu saat ini dipenjara ibu Ratri sedang meratapi nasibnya. Bayangan hukuman bertahun - tahun dipenjara sedang menantinya. Pagi tadi dia baru ikut persidangan atas kasusnya. Dan anak- anaknya hanya Zainal yang data g untuk melihat proses persidangan.
Agenda minggu depan sidang terakhir dan pembacaan keputusan hukuman untuk Ibu Ratri. Saat ini wanita yang sudah tidak lagi muda itu hanya bisa meratapi nasibnya dibalik jeruji besi.
" Apa aku bisa bebas dengan cepat ? Aku ingin berkumpul dengan anak - anakku. Aku ingin melihat keadaan Rendra." Ucap ibu Ratri pada dirinya sendiri.
Ibu Ratri teringat Rendra yang menurut kabar dari Zainal dan Bagas, dia mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan yang dialami. Sebagai seorang ibu sudah pasti dia sangat khawatir dengan kondisi Rendra,namun apalah daya hukuman sedang menantinya.
Ibu Ratri memanggil-manggil salah satu polisi dan polisi itupun mendekat kearah sel tahanan ibu Ratri.
" Kenapa teriak - teriak !" Tanya petugas polisi dengan tegas.
" Maaf pak. Kalau saya tidak teriak bapak pasti tidak dengar. Pak apa boleh saya memakai telepon umumnya ?" Tanya ibu Ratri penuh harap agar permintaanya dikabulkan.
Dikantor polisi memang disediakan telepon umum yang dikhususkan untuk para narapidana. Mereka akan mendapat giliran untuk bisa berkomunikasi dengan anggota keluarganya, dan setiap napi hanya diberikan kesempatan 2 kalai dalam seminggu, dan waktu bicara hanya 15 menit saja.
" Hanya 15 menit dan tidak boleh lebih. Telepon itu akan mati secara otomatis saat 15 menit kamu gunakan. Dan ingat hanya 1 kali telepon saja,pergunakan waktumu dengan baik." Ucap petugas kepolisian.
Ibu Ratri mengangguk paham, lalu dia digiring keruangan dimana letak telepon umum berada. Dengan perasaan senang dan bahagia akhirnya dia berkesempatan menghubungi Rendra. Iya, orang yang akan dia hubungi adalah Rendra. Sudah sepuluh hari lebih dia tidak bertemu dengan Rendra.
Sampai dua kali panggilan Rendra belum juga mengangkat telepon dari ibu Ratri, membuat ibu Ratri menjadi gusar. Namun dia terus nencoba namun tetap saha tidak diangkat.
" Bagaimana ?" Tanya polisi.
" Belum diangkat Pak. Tolong berikan kesempatan satu kali lagi ya pak." Ucap ibu Ratri memohon.
__ADS_1
" Baiklah coba kamu hubungi Slsekali lagi, jika ini tidak juga diangkat berarti kamu gagal menghubungi keluarga kamu. Dan kesempatan kamu bisa menghubungi keluarga kamu dalam waktu 3 hari lagi." Ucap polisi itu dengan tegas.
Ibu Ratri mengangguk paham lalu dia mencoba kembali menghubungi nomor ponsel Rendra, dan beruntungnya kali ini Rendra mengangkat telepon dari ibu Ratri.
[ Hallo ] Seru Rendra dari seberang telepon.
[ Hallo Rendra ini ibu, kamu kemana saja dari tadi Ibu telepon tidak kamu angkat juga. Hampir saja Ibu gagal menghubungi kamu, karena kamu terlalu lama mengangkatnya.] Seru ibu Ratri langsung memarahi Rendra.
[ Ibu ! Maaf Bu Rendra tadi lagi istirahat dan Rendra baru saja terbangun karena mendengar suara telepon dari ibu ini. Ibu apa kabar? Maaf Rendra belum bisa datang ke sana karena kondisi Rendra yang tidak memungkinkan.]
[ Buat apa kamu tanya kabar Ibu ? Sudah pasti kabar Ibu buruk. Kamu tahu kan Ibu itu tidak suka di dalam penjara? Oh iya kata Bagas dan Zainal kamu kecelakaan dan sekarang lumpuh ?Terus bagaimana sekarang keadaan kamu?.]
[ Alhamdulillah Rendra masih diberikan umur panjang Bu. Jecelakaan itu menghancurkan motor Rendra, tetapi Rendra tidak sampai luka parah hanya lecet-lecet di tubuh Rendra. Namun Rendra sekarang tidak bisa berjalan Bu, Rendra lumpuh semua apa-apa serba dibantu oleh Bagas dan mas Zainal.]
[ Haahh... Dasar anak tidak berguna kamu Rendra! Terus nasib ibu di sini bagaimana ? Padahal harapan ibu itu cuma kamu tapi kalau kamu sudah seperti ini Ibu bisa apa lagi? Mengharapkan Zainal dan Bagas tidak mungkin, mereka berdua itu sama-sama keras kepala.]
Polisi yang ada di belakang Ibu Ratri hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Ibu Ratri dalam telepon itu. Anak yang seharusnya mendapatkan dukungan agar bisa sembuh justru malah dihina dan dipatahkan semangatnya.
* Ii orang sudah masuk penjara tapi tidak tobat juga, padahal umur juga sudah tua bahkan anak yang baru kecelakaan saja dimaki-maki. Dasar orang tua * Gumam pak polisi yang ada dibelakang ibu Ratri.
[ Maaf Bu Rendra tidak bisa mengeluarkan Ibu dari penjara. Ibu nikmati saja apa yang selama ini sudah Ibu tanam hukum tabur tuai itu ternyata ada Bu. Sekarang Rendra sama ibu yang sudah mengalaminya, kita sama-sama menuai apa yang sudah kita tabur bu. ]
[ Dasar anak durhaka kamu Rendra? Apa begini cara kamu balas budi kepada ibumu? Ingat Rendra aku yang sudah melahirkanmu dan Surgamu ada padaku.!]
Ibu Ratri memaki dan memarahi Rendra secara membabi buta, dia tidak peduli jika saat ini dia sedang ada di kantor polisi. Bahkan ada polisi yang sedang mengawasinya di belakangnya saja dia tidak perduli, yang penting amarahnya sudah dia luapkan tanpa memandang situasi dan kondisi.
Ehehhh... Ehhheeemm
Polisi itu sengaja berdehem agar ibu Ratri tahu diri dan tahu tempat. Jika saat ini dia sedang ada di kantor polisi sehingga bisa menjaga ucapannya.
Waktu yang dimiliki Ibu Ratri tinggal 3 menit lagi, polisi pun sudah mengingatkan jika sebentar lagi telepon itu akan mati secara otomatis.
[ Maaf Bu mungkin Rendra memang anak durhaka, kali ini Rendra benar-benar tidak bisa menolong Ibu dengan keadaan Rendra yang lumpuh seperti ini. Jika pun Rendra sudah sembuh rendra juga tetap akan membiarkan ibu di kantor Polisi, untuk mempertanggung jawabkab semua kesalahan atas perbuatan ibu sendiri. Maafkan Rendra Bu.]
[ Dasar anak tidak tahu diri awas kamu Rendra.....]
Tut Tut Tut
Sambungan telepon tiba-tiba terputus dan ternyata waktu ibu Ratri bicara dengan Rendra memang sudah habis sehingga. Telepon mati secara otomatis, Ibu Ratri meletakkan gagang telepon itu dengan menggerutu tidak jelas. Dia masih kesal karena belum selesai bicara teleponnya sudah lebih dulu mati.
Polisi pun kembali menggiring Ibu Ratri masuk ke dalam sel tahanannya. Di dalam sel tahanan, Ibu Ratri hanya bisa memaki-maki Rendra. Polisi yang tadi mengantarkan Ibu Ratri pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan narapidana yang sudah tua itu.
__ADS_1
***********