
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Rendra sudah dipindahkan di atas ranjangnya lagi oleh Pak Rt dan dua warga yang lainnya. Kini Pak Rt dan warga sudah pulang sebab Rendra sudah tenang dan sudah tidak menangis lagi. Santi sudah menghubungi Zainal dan Rendra mengabari mereka tentang keadaan Rendra.
" Rendra aku tinggal ya, soalnya anak - anak tadi lagi pada tidur. Aku mau melihat mereka dulu, kalau ada apa - apa atau butuh sesuatu kamu telepon aku saja." Ucap Santi dengan ramah.
Santi juga merasa bersalah atas apa yang saat ini dialami Rendra. Perceraian antara Rendra dan Anisa dulu Santi juga ikut andil. Dialah yang mulai membawa masuk Erika dalam rumah tangga Anisa dan Rendra, dan dia juga turut serta membantu saat Erika menjebak Rendra.
" Iya mbak. Terimakasih sudah mau aku repotkan." Ucap Rendra.
" Iya sama - sama. Aku pulang dulu ya." Ucap Santi lalu keluar dari rumah dan pulang kerumahnya sendiri.
Sepeninggalan Santi, Rendra menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjangnya. Dia menyesali segala perbuatannya yang tadi sudah membuat repot Santi dan para tetangga. Waktu mereka harus terbuang sia - sia hanya untuk menolongnya.
" Bagas apa sudah menemui Erika dan Anisa ya ? " Tanya Rendra pada dirinya sendiri.
Rendra mencoba mengirimkan pesan kepada Bagas siapa tahu Bagas lupa menghubungi Anisa dan Erika. Jika belum meminta maaf kepada mereka berdua hidup Rendra belum tenang. Seakan masih ada beban dan rasa bersalah kepada mereka berdua.
[ Bagas, mas mau ingetin kamu. Jangan lupa hubungi Erika dan Anisa, mas ingin bertemu dan meminta maaf sama mereka. Apalagi belum lama ini mas sempat memaki - maki dan marah dengan Anisa. Tolong kamu hubungi mereka ya Gas.]
Rendra menunggu pesan balasan dari Bagas namun sampai hampir 1 jam Bagas tak kunjung membalasnya membuat Rendra tidak sabaran. Rendra melihat jam yang tergantung di dinding baru menunjukan pukul 3 sore.
" Sepertinya Bagas sedang sibuk dengan pekerjaanya." Ucap Rendra pada dirinya sendiri.
Rendra mengambil teh yang tadi dibuatkan oleh Santi dan meminumnya. Dia membayangkan bagaimana jika tidak ada Santi. Pasti tidak akan yang mengurus makan dan minumnya.
* Beruntung ada mbak Santi, dan Alhamdulillah dia sudah berubah. Seandainya tidak ada mbak Santi siapa yang akan mengurus makan dan minumku.* Gumam Rendra dalam batinnya.
Tringgg
[ Aku sudah menemui mbak Erika mas dia nanti sore akan datang kerumah, barusan dia menghubungiku lagi memberitahu jika dia hari ini bisa ketemu kamu. Kalau mbak Anisa aku belum tahu. ]
Rendra tersenyum senang mengetahui jika Erika bisa untuk datang menemuinya.
[ Baik Gas,terima kasih banyak.]
********
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa jam akhirnya waktu yang ditunggupu tiba. Zainal pulang dari bekerja dan bertepatan juga dengan kedatangan Erika. Mobil Erika berhenti tepat di halaman rumah Ibu Ratri. Erika kaget saat melihat ada Santi diteras rumah Zainal.
" Loh mbak Santi kok ada dirumahnya mas Zainal? Atau jangan - jangan kalian sudah rujuk ya ?" Tanya Erika yang ternyata memang belum tahu kabar rujuknya Santi dan Zainal.
Santi menghampiri Erika dan menyapanya dengan ramah. Dari dulu Santi dan Erika memang akrab,bahkan Erika dulu bisa masuk rumah tangga Anisa dan Rendra juga berkat ikut campur tangan Santi. Tetapi itu hanya masalalu dan tidak untuk diingat lagi. Melihat Santi yang menghampiri Erika membuat Zainal melangkah kembali masuk kerumahnya.
" Alhamdulillah Erik aku dan mas Zainal rujuk kembali. Kamu apa kabar ? Sekarang kamu sudah menikah lagi apa belum?" Tanya Santi dengan ramah.
" Belum nbak, lagi pula siapa sih yang mau sama janda yang mempunyai anak tidak diketahui siapa ayahnya. Mungkin memang memang sudah jalan takdirku tidak mempunyai suami. Untuk sekarang ini aku fokus dulu mencari nafkah untuk anakku. Aku kan sekarang menjadi orang tua tunggal untuk anakku mbak." Jawab Erika sambil terkekeh kecil.
Ada rasa kasihan menyelinap dalam hati Santi untuk Erika. Santi tidak pernah menyangka jika Erika akan mengalami jalan kehidupan seperti itu. Namun Santi salut dengan Erika, karena Erika bisa menjalani semuanya sendiri. Erika sekarang juga sudah tidak seperti dulu lagi, bicara tidak ketus dan tidak sombong. Meskipun Dulu mereka akrab, akan tetapi saat itu Erika masih sering bicara dengan nada sombong dan pongahnya.
" Oh begitu, Kamu mau bertemu dengan Rendra mari saya antar." Ucap Santi mengajak Erika masuk ke rumah yang ditempati Rendra.
Rumah masih terlihat sepi, bahkan lampu - lampu pun belum ada yang dinyalakan. Dengan segera Santi menyalakan lampu dan langsung mengajak Erika menuju kamar Rendra. Sebelumnya masuk ke kamar Rendra, Santi mengatakan terlebih dahulu jika saat ini Rendra hanya bisa berbaring di tempat tidur. Dan jika ingin melakukan aktifitas harus dengan bantuan seseorang atau menggunakan kursi roda.
" Rendra sekarang hanya bisa berbaring ditempat tidur saja. Dia lumpuh, tapi Insya Allah masih bisa disembuhkan." Ucap Santi memberitahu Erika.
" Iya mbak. Tadi Bagas juga sudah memberitahu aku. Hemm... Sepertinya mas Rendra lagi tidur ya mbak. Kok tidak menyahut juga saat pintunya diketuk. Kalau begitu aku tunggu di ruang tamu saja ya mbak, nanti mas Rendranya dibawa keluar saja." Ucap Erika.
" Oh begitu ? Emm baiklah aku panggil mas Zainal dulu ya, agar dia bisa membantu Rendra keluar dari kamarnya." Ucap Santi.
Erika dan Santi berjalan menjauh dari kamar Rendra, dan berhenti di ruang tamu. Erika lebih memilih menunggu di sofa yang ada di ruang tamu. Sedangkan Santi pulang ke rumahnya untuk memanggil Zainal, agar bisa membantu Rendra bangun dari tempat tidur dan memindahkannya ke kursi roda.
" Rendra kamu masih tidur?." Panggil Zainal saat sudah berdiri disamping Rendra.
" Eemm.. Mas Zainal ? Apa ini sudah sore ya mas ? Maaf aku ketiduran cukup lama, tadi kepalaku sakit sekali. Aku meminum obat dan tidak tahunya aku mengantuk sekali. Sehingga aku tertidur cukup lama."Ucap Rendra menceritakan kepada Zainal.
" Oh begitu, ya sudah sekarang kamu bangun. Ayo aku bantu kamu bersih-bersih badan kamu, sebab di luar sekarang sudah ada Erika yang sudah menunggu kamu."Seru Zainal memberitahu Rendra.
Rendra terkejut saat mengetahui Erika sudah ada di rumahnya. Dengan segera dia meminta tolong Zainal untuk mengantarkannya ke kamar mandi, meskipun tidak mandi setidaknya dia ingin mencuci muka terlebih dahulu agar wajahnya tidak seperti orang yang bangun tidur.
Setelah dirasa cukup dan wajah lebih segar, Rendra diantarkan Zainal ke ruang tamu untuk menemui Erika. Ada rasa bahagia saat mendengar Erika mau menemui dirinya apalagi saat ini sudah ada di rumahnya.
" Erika kamu sudah datang?."Tanya Rendra saat sudah berada di ruang tamu.
" Iya Mas. Jamu apa kabar?."Tanya Erika sambil mengulas senyumnya.
Meskipun dia masih menyimpan rasa benci untuk Rendra, akan tetapi saat melihat keadaan Rendra seperti itu, tiba-tiba dia merasa iba dan sangat kasihan dengan kondisi Rendra yang sekarang.
" Sekarang kalian ngobrol saja berdua ya, aku dan mas Zainal mau pulang dulu. Nanti kami pasti balik ke sini lagi. Sebab aku mau menyiapkan makan malam terlebih dahulu dan kasihan anak-anak ada di rumah berdua saja, apalagi ini sudah mau magrib." Seru Santi memberitahu jika sebentar lagi magrib.
" Apa tidak apa-apa mbak aku dan mas Rendra hanya berdua saja di rumah ini? Aku takut dikira kami berbuat yang tidak tidak." Seru Erika takut jika memang ada warga yang memergoki mereka hanya berdua saja di dalam rumah.
__ADS_1
Hahahahahaaaaa
Zainal, Rendra dan Santi hanya tertawa mendengar pertanyaan dari Erika. Mereka merasa lucu saja dengan pertanyaan Erika itu, apa Erika lupa jika saat ini Rendra saja tidak bisa berjalan. Tidak bisa beraktivitas tanpa bantuan seseorang.
" Tidak akan, tidak ada orang yang akan berpikir seperti itu. Apa kamu tidak melihat keadaanku? Lihat saja aku tidak bisa apa-apa tanpa pertolongan orang lain." Seru Rendra memberitahu Erika sambil terkekeh.
Erika mengulas senyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia justru merasa malu dengan pertanyaannya sendiri, bagaimana dia bisa lupa jika Rendra saat ini hanya bisa duduk di kursi roda saja.
Santi dan Zainal pun akhirnya pulang ke rumahnya dan meninggalkan Rendra dan Erika untuk bisa bicara berdua tanpa ada yang mengganggu.
" Kamu apa kabar Erika?."Tanya Rendra mulai membuka percakapan di antara mereka.
" Alhamdulillah kabarku baik Mas." Jawab Erika dengan singkat.
" Maaf aku sudah memintamu untuk datang ke sini, dan aku sudah menyita waktumu, Erika. Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu, dulu aku akui jika aku adalah suami yang tidak bertanggung jawab. Bahkan aku suami yang kasar kepadamu, aku sudah melukai batin dan fisikmu. Maukah kamu memaafkan aku ? "Ucap dengan memohon maaf penuh kesadaran kepada Erika.
Erika masih terdiam memikirkan yang baru saja dikatakan oleh Rendra. Rasa sakit hati itu pasti masih ada, bahkan masih nembekas di hati Erika. Akan tetapi, Erika tidak bisa egois. Rendra melakukan semua itu juga karena ulah dari dirinya yang sudah menjebak Rendra, sehingga Rendra sampai menikah dengannya. Padahal saat itu Rendra masih menjadi suami sah dari Anisa.
" Apa kamu tidak mau memaafkan aku, Erika?" Tanya Rendra lagi karena melihat Erika yang hanya terdiam saja.
" Aku sudah memaafkan kamu Mas. Justru aku sendiri juga ingin meminta maaf sama kamu, karena aku lah pernikahan kamu dan Anisa berantakan. Sehingga sampai berujung perceraian, aku juga yang menyebabkan kamu bersikap kasar kepadaku. Jadi kamu tidak salah mas, aku juga yang salah. Meskipun rasa sakit batinku masih terasa, namun aku tidak egois mas. Semua itu juga karena ulahku sendiri." Jawab Erika juga menyalahkan dirinya sendiri.
" Terimakasih Erika. Kita sama - sama salah, seandainya dulu aku tidak egois semuanya tidak akan berantakan. Aku juga yang tidak bisa menjaga nafsuku." Ucap Rendra dengan serius.
Erika dan Rebndra sama - sama meminta maaf. Mereka sama - sama mengakui kedalahan masing - masing. Akhirnya urusan permintaan maaf dengan erika sudah selesai, kini hanya tinggal meminta maaf dengan Anisa.
" Kamu sudah menikah lagi ?" Tanya Rendra membuat Erika malu - malu.
" Apa ada yang mau dengan janda sepertiku mas ? Bahkan orang melihatpun jijik, aku seorang janda dan mempunyai anak tapi tidak tahu siapa ayahnya. Aku tidak memikirkan soal suami terlebih dahulu mas. Saat ini yang menjadi prioritasku adalah anakku. Aku ingin bekerja sebaik mungkin dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk anakku, agar suatu saat anakku bisa mencapai pendidikan yang lebih baik dan mempunyai pekerjaan yang baik." Ucap Erika terlihat sekali rasa sedihnya terungkap dari kata-katanya.
Rendra melihat sosok Erika yang jauh berbeda dengan dulu. Erika yang sekarang terlihat lebih lembut dan sabar, serta lebih dewasa menyikapi suatu masalah. Tidak adalagi bahasa yang meledak - ledak saat menyampaikan sesuatu.
" Erika kamu sudah berubah , kamu terlihat lebih dewasa. Dari cara kamu bicara dan bersikappun kamu lebih lembut. Aku bangga sama perubahan sikap kamu Erika." Ucap Rendra salut dengan perubahan diri Erika.
" Ini semua berkat mantan istrimu, Anisa. Aku mendatanginya dan meminta maaf langsung kepada dia. Aku sangat menyesal karena aku sudah menghancurkan kebahagiaannya. Dan dengan kerendahan dan kelembutannya dia memaafkanku. Dari situlah aku ingin berubah seperti Anisa. Setidaknya aku bisa mencontoh Anisa yang selalu sabar, lembut dan rendah hati." Ucap Erika mengakui jika perubahannya itu semua juga berkat Anisa.
Deg..
Anisa lagi ? Hati Rendra semakin bergetar saat mendengar orang menceritakan kebaikan Anisa. Anisa memang bagaikan batu permata yang selalu bercahaya dan bersinar, seperti sumber air digurun pasir yang bisa menyejukkan siapapun yang meminumnya.
* Anisa lagi. Ternyata Anisa jug yang sudah membuat Erika berubah seperti sekarang ini. Mbak Santi juga karena Anisa, mas Zainalpun juga berkat Anisa dan teman kantornya. Ternyata selama ini aku sudah membuang batu berlian kebahagiaanku.* Gumam Rendra dalam batinnya.
**********
__ADS_1