
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sudah seminggu berlalu dari insiden zainal menghajar Rendra. Selama seminggu itu juga zainal tidak menginjakkan kakinya di rumah orang tuanya. Dia masih belum sanggup melihat wajah Rendra, jika melihat wajah rendra yang ada zainal ingin menghajar rendra lagi.
" Mas zainal mau kemana ? " Tanya nadin dari teras rumah mertuanya saat melihat zainal mengeluarkan motor dari rumahnya.
Zainal hanya melirik sekilas tanpa menjawab pertanyaan nadin. Sebenarnya nadin tidak bersalah, tetapi tidak tahu kenapa zainal juga ikut membenci adik iparnya itu. Zainal fokus dengan motornya dan mengelapnya terlebih dahulu sebelum dibawa pergi.
" Ditanya kok tidak dijawab sih mas ?" Tanya nadin dengan heran.
Tidak biasanya zainal cuek begitu kepada nadin, sebelum negara apa menyerang zainal baik dan perduli dengan nadin. Namun semuanya berubah saat zainal mengetahui jika anak yang dikandung nadin adalah anaknya
" Bukan urusan kamu !" Jawab zainal ketus.
Nadin melongo mendengar jawaban zainal yang ketus dan sama sekali tidak ada ramah - ramahnya. Nadin mencoba mengingat - ingat apa dia punya salah sama kakak iparnya, namun nadin sama sekali tidak merasa punya salah.
" Kamu kenapa sayang ?" Tanya rendra menghampiri nadin yang berdiri diteras rumah.
" Oh, ituloh mas. Kok mas zainal sepertinya marah gitu, padahal aku tidak punya salah dan memang tidak ada salah. Sudah seminggu ini juga loh mas zainal ini tiap ketemu sama aku buang muka terus " Ucap nadin heran.
" Mungkin mas zainal sedang ada masalah , maklum duda ini. Dia pasti kesepian terus bawaannya marah - marah gitu. Sudah biarkan saja , nanti dia juga bakal berubah sendiri " Jawab rendra mencoba mencari alasan yang lain.
Baru juga rendra selesai bicara tiba - tiba zainal langsung menyela apa yang dikatakan oleh rendra, sehingga membuat rendra ketar - ketir. Takut jika zainal akan mengatakan semuanya kepada nadin.
" Kalau cari alasan itu yang masuk akal, tidak perlu menghinaku duda segala. Biarpun aku duda yang penting aku punya uang dan pekerjaan, tidak seperti kamu punya istri tetapi tidak di nafkahi. Justru bermain curang " Seru zainal dari teras rumahnya.
Nadin tidak paham denngan apa yang dikatakan oleh zainal, sehingga dia menatap rendra untuk mencari jawaban .
" Sudah sayang yuk masuk saja, jangan ditanggepin lagi orang itu. Mungkin dia lagi kumat stress nya, masuk yuk. " Ucap rendra menarik tangan nadin masuk kerumah.
Nadin hanya mengikuti langkah kaki rendra, namun saat saampai dalam rumah nadin langsung menarik tangannya.
" Maksud mas zainal tadi itu apa sih ? Curang soal apa ? " Tanya nadin serius.
" Emm.. itu, bagaimana ya. Anu, mas ada hutang sama mas zainal 2 juta dan mas janji bayar satu minggu tetapi ini sudah lebih satu minggu belum mas bayar. Mungkin karena itu mas zainal bilang aku curang " Ucap rendra terus berbohong bahkan sekarang kebohongannya bertambah.
Ibu ratri yang mendengar obrolan rendra dan nadinpun langsung menghampirinya. Dia ingin tahu apa yang saat ini dibahas oleh nadin dan rendra.
" Ada apa sih ndra, din kok ibu denger ribut - ribut ?" Tanya ibu ratri dengan penasaran.
" Itu bu mas zainal masak aku tanya baik - baik kok jawabannya seperti itu. Makanya mas kalau tidak punya uang itu tidak usah berhutang, kalau tidak bisa bayar jadi di sewotin kan sama saudara sendiri " Ucap nadin kesal.
__ADS_1
" Mas berhutang karena butuh untuk servise motor sayang. " Jawab rendra pura - pura.
Ibu ratri melirik rendra yang hanya senyum - senyum sambil garuk - garuk kepala yang sama sekali tidak gatal.
* Apa mungkin rendra beralasan pinjam uang sama zainal sehingga zainal marah . Hemmm... encer juga otak nya rendra * Gumam ibu ratri dalam hatinya.
Bruum.... Brummm.... Bruummmm
Suara motor zainal memekakkan telinga, zainal yang sedang mamanasin mesin motornya sengaja mengarahkan knalpot kearah rumah ibunya agar penghuni terganggu.
* Sepertinya mas zainal ini sengaja mau cari ribut. Kalau tidak takut nadin tahu semuanya mungkin saat ini dia sudah aku datangi dan aku hajar habis dia.* Gumam rendra sambil mengepalkan kedua tangannya.
********
Motor zainal sudah sampai didepan rumah mantan mertuanya, dengan gaya sok cool dan sok kayanya zainal turun dari motor dengan membawa sekabtong plastik besar jajanan untuk anaknya.
" Papa " Seru kiki yang sedang bermain dengan tenannya dihalaman rumah.
Mendengar saudara kembarnya memanggil papa membuat koko lari keluar rumah untuk memastikan siapa orang yang dipanggil papa oleh kiki. Dan ternyata benar orang itu adalah zainal, papa mereka berdua.
" Papa " Teriak koko juga ikut berlari menghampiri zainal.
Kiki dan koko kini berada dalam pelukan zainal, zainal sengaja datang tanpa memberitahu santi. Sebab dia sudah tahu hari ini santi libur jadi pasti santi berada dirumah.
" Kalian apa kabar ? Sekarang tambah gemuk saja ?" Tanya zainal tanpa malu.
Zainal hanya meringis menanggapi pertanyaan anaknya. Mau dijelaskan juga sang anak pasti tidak akan paham karena mereka masih terlalu kecil untuk mengetahui masalah antara mama dan papanya. Tetapi biarpun sudah menjadi mantan suami, tidak ada yang namanya mantan anak dan urusan nafkah masih wajib.
" Mama ada?" Tanya zainal .
" Mama ada pa, lagi masak didapur. Kalau nenek sama kakek lagi pergi kepasar, belanja untuk warung " Jawab kiki jujur.
" Oh...ini ada jajanan untuk kalian. Itu ada dua teman nya, dikasih ya dan sisanya dibawa masuk untuk nanti lagi " Ucap zainal sambil memberikan kantong plastik besar yang berisi jajanan.
Dari dalam rumah santi sudah bisa melihat jika tamu yang datang adalah ayah dari anak - anaknya,Zainal. Santi sengaja tidak mau buru - buru keluar rumah karena membiarkan zainal sama anak - anaknya dulu. Sudah hampir 3 bulan anak - anaknya tidak bertemu dengan papanya.
* Mimpi apa dia semalam,atau tadi saat sarapan dia salah makan ? Tumben banget dia datang dan bawa banyak makanan untuk anak - anak. Coba saja kamu tidak berkhianat dan tidak pelit. Mungkin saat ini kita masih hidup bahagia bersama keluarga kecil kita * Gumam santi dalam hatinya.
Setelah membagi jajanan kepada dua temannya,kiki dan koko berlari masuk kerumah sambil berteriak memanggil mamanya.
" Mama... Mama. Papa datang ma !" Teriak kiki dan koko bersamaan.
" Iya sayang mama sudah tahu, jangan lari - larian ya nanti jatuh. " Jawab santi menghampiri kedua anaknya.
Zainal dan santi hanya saling pandang, santi sama sekali tidak menampakkan senyum nya. Berbeda dengan zainal yang justru tersenyum lebar. Dia berharap santi memeluknya namun apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Santi memang mendekatinya tetapi untuk mengajaknya duduk diteras.
" Kita ngobrol diteras, karena bapak sama ibu tidak ada dirumah " Ucap santi tegas.
__ADS_1
" Iya " Jawab zainal dengan lesu.
Padahal dia sudah berkhayal bisa duduk berduaan didalam dan anak - anak main di luar bersama teman - temannya.
* Khayalanmu sangat tinggi zainal, menyesalkan kamu meninggalkan santi demi anita siwanita gila itu * Gumam zainal dalam hatinya sendiri.
" Mau apa kamu datang kesini ?" Tanya santi dengan ketus.
" Aku datang karena ingin bertemu dengan anak - anak. Aku jugakan papa mereka jadi aku berhak menemui mereka,yang pasti aku ini kangen dengan mereka " Ucap zainal menganggap dirinya selalu benar.
Santi hanya tersenyum tipis, dia tahu zainal datang pasti karena ada maunya. Selama hampir 8 tahun berumah tangga dengan zainal, santi sudah hafal dengan sifat dan sikap mantan suaminya. Tidak akan mungkin tiba - tiba datang dan baik begini jika tidak ada maunya.
" Oh ya ? Kamu kangen dan perduli sama mereka ? Apa kamu lupa mas ? Sudah 3 bulan kita berpisah tapi sama sekali kamu tidak pernah menanyakan kabar anak - anak. Bahkan nafkah wajib untuk merekapu tidak kamu berikan mas. Kamu memang mantan suami ku, tapi anak - anak tetap anakmu dan kamu wajib menafkahinya !" Seru santi penuh penekanan.
" Tapi yang menggugat ceraikan kamu? Jadi aku ya tidak wajib dong menafkahi mereka " Bela zainal. Dia tidak mau disalahkan oleh santi.
" Aku memang menggugatmu karena aku tidak mau dimadu. Terus kamu dapat ajaran darimana itu, jika istri yang menggugat cerai sang mantan suami tidak wajib menafkahi anak - anaknya ? Sekarang begini saja jika kamu tidak mau menafkahi anak - anak lebih baik kamu jangan pernah datang kesini untuk menemui mereka,anggap saja papanya sudah mati !" Ucap santi dengan tegas.
Zainal langsung terperangah dengan perkataan santi. Mana bisa seperti itu, padahal tujuan dia mendekati anak - anaknya karena dia ingin anaknya dekat dengannya,dengan begitu dia akan menggunakan anaknya untuk rujuk dengan santi.
* Santi yang sekarang terlihat lebih cantik dan tegas , aku semakin kagum dengannya * Gumam zainal dalam hatinya.
" Jangan pernah berfikir kamu mendekati anak-anak untuk rujuk dengan ku. Sampai kapanpun aku tidak sudi rujuk dengan mu, anak - anakpun sudah tahu jika papanya sudah punya istri lain. Biarpun mereka masih kecil, secara perlahan aku memberitahu mereka dan mereka sekarang sudah paham kondisi antara mama dan papanya yang tidak lagi hidup bersama " Ucap santi dengan pandangan lurus kedepan.
Deg...
Zainal tidak menyangka jika santi tahu apa yang saat ini ada dipikirannya. Pupus sudah harapan zainal untuk bisa rujuk dengan santi, belum juga mengatakan sesuatu santi sudah menolaknya mentah - mentah.
" Mama... kiki sama koko boleh ambil ice cream yang dikulkas ? Tadikan sudah makan nasi ma " Ucap kiki berlari menghampiri santi.
" Boleh sayang, tapi masing - masing satu ya. " Jawab santi sambil tersenyum lembut.
Kiki dan koko kembali masuk rumah dan mengambil ice cream yang sengaja santi stock didalam frezeer.
" Kamu sekarang lembut banget kalau bicara sama anak - anak. Padahal dulu kalau bicara kamu itu teriak - teriak." Ucap zainal sambil tersenyum.
" Semua bisa berubah, dan semua itu berubah setelah aku keluar dari rumah mu. " Jawab ketus santi.
Zainal hanya mengangguk saja, sudah satu jam zainal ada dirumah orang tua santi tetapi apa yang ingin dia sampaikan belum juga dia sampaikan.
" Santi, apa kamu tidak mau rujuk dengan ku. Ini demi anak - anak san,dan aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu lagi" Ucap zainal menjadikan anak sebagai alasannya.
" Tidak !! Dan tidak akan pernah aku rujuk dengan mu !" Seru santi dengan tegas.
Zainal lemas mendengar jawaban santi yang tidak sesuai dengan harapannya. Tanpa mau berlama - lama lagi zainal akhirnya berpamitan pulang. Kiki dan koko menyalaminya begitu saja tanpa mencoba untuk menahan papanya agar tidak pulang lebih dulu. Zainal memberikan anaknya uang masing - masing dua lembar merah.
* Anak - anak terlihat biasa saja saat aku pulang. Tidak ada drama menangis atau mengambek , padahal saat aku datang tadi mereka terlihat senang dan bahagia. Aku kira saat pulang aku akan ditahan mereka. Hhuuu....* Gumam zainal.
__ADS_1
********