Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Siapa pelakunya


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Nadin terbangun, kepalanya masih terasa sangat pusing bahkan kepalanya juga diperban. Dia mencoba mengingat - ingat kejadian yang menimpa dirinya. Nadinpun ingat jika tadi saat berkendara mobilnya sempat oleng karena rem yang tidak berfungsi lalu dia menabrak pohon besar yang ada di pinggir jalan. Setelah itu dia tidak ingat apa - apa lagi.


Nadinpun teringat dengan kandungannya , dengan cepat dia meraba perutnya tetapi perutnya sudah rata.


* Anakku mana ? Kenapa perutku rata begini?* Gumam Nadin dalam batinnya.


Nadin menangis dan sangat terpukul, apalagi saat ini dia hanya sendirian didalam ruangan. Namun akhirnya pintu kamar rawatnya terbuka dan masuklah Rendra.


" Sayang kamu sudah bangun?" Tanya Rendra menghampiri Nadin.


Hikkss Hiksss Hikks


Bukannya menjawab tetapi Nadin justru menangis. Dia sangat mengharapkan bayinya tetapi justru saat ini bayi itu sudah tidak ada di dalam perutnya.


" Sabar ya Sayang. Semoga semua ini ada hikmahnya untuk kita semua,meskipun anak itu bukan darah dagingku. Tetapi aku juga ikut sedih dan merasa kehilangan anak itu." Ucap Rendra sambil mengusap air mata Nadin.


" Kenapa aku harus keguguran mas ? aku sangat mengharapkan anak itu, karena aku tahu kamu tidak bisa memberikan aku anak. Anak itu yang akan menjadi harapanku satu-satunya. Tetapi dia sekarang sudah tidak ada, dan bagaimana aku akan bisa hamil sedangkan kamu pria mandul." Ucap Nadin sambil sesungguhkan.


Nadin merasa semua ini tidak adil baginya, dia sudah dijebak untuk tidur dengan Zainal sampai dia hamil. Dan di saat dia menginginkan anaknya, ternyata dia harus kehilangan anak itu untuk selamanya. Seakan hidup Nadin dipermainkan.


Rendra tidak bisa menjawab apa-apa, di mata Nadin dia memang sudah tidak ada harga dirinnya sama sekali. Apalagi semenjak Nadin mengetahui kemandulannya, bahkan sampai detik ini Rendra belum bisa menjadi seorang suami yang bertanggung jawab terhadap Nadin.


" Sabar Nadin, hanya itu yang bisa aku katakan kepadamu." Seru Rendra dengan nada bicara yang terdengar sedih dan pilu.

__ADS_1


" Kamu bilang sabar ! Hei Rendra aku ini baru tertimpa musibah Aku baru saja kecelakaan dan aku juga baru saja kehilangan anakku. Kamu minta aku untuk sabar ? bisa tidak kamu sedikit saja merasakan Kesedihanku? Bergunalah sedikit saat menjadi suamiku." Ucap Nadin bicara sambil memegangi kepalanya yang masih saja terasa sakit.


" Sudahlah Nadin ,jangan bicara seperti itu. Lebih baik kamu sekarang istirahat. Agar kondisi dan kesehatanmu cepat membaik. Jangan sampai kamu drop, kamu belum boleh memikir yang berat-berat." Ucap Rendra menasehati Nadin.


" Pergi kamu dari sini mas. Aku ingin sendiri." Usir Nadin dengan lantang. Nadin benar - benar tidak mau melihat wajah Rendra.


Tidak ada pilihan lain selain mengikuti permintaan Nadin. Akhirnya Rendra keluar dari kamar rawat Nadin. Saat dia berada diluar di melihat ada Santi dan Zainal yang berjalan kearahnya. Keduanya datang untuk menjenguk Nadin.


" Bagaimana keadaan nadin Ndra" Tanya Zainal tanpa berbasa-basi.


" Keadaannya tidak begitu parah, hanya benturan di kepalanya yang sampai saat ini masih butuh perawatan. Tapi ada kabar buruk , dia mengalami keguguran." Jawab Rendra jujur.


Deg


Zainal dan Santi saling beradu pandangan. Mereka berdua kaget dengan berita keguguran yang dialami oleh Nadin. Padahal baru siang tadi Nadin bertemu dengannya dan membahas soal bayi yang dia kandung. Akan tetapi sekarang justru bayi yang mereka bahas tadi sudah tidak ada di dalam kandungan Nadin.


" Apa aku boleh bertemu dengan Nadin, Ndra ?" Tanya Santi meminta izin.


Santi menganggukkan kepalanya dan dia pun masuk ke kamar rawat Nadin, dilihatnya Nadin sedang berbaring sembari menatap langit-langit kamar tempat dia dirawat. Melihat Nadin yang sepertinya sangat terpukul membuat santi merasa kasihan dan seakan merasa bersalah. Sebab Nadin kecelakaan saat dia pulang menemuinya tadi siang.


" Nadin ! Kamu baik - baik saja kan?." Tanya Santi yang kini sudah berada di samping Nadin.


" Mau apa kamu ke sini ? mau menertawakan aku ? sekarang kamu dan Zainal terbebas, benar-benar terbebas. karena anak itu sudah tidak ada lagi, aku keguguran Santi." Ucap Nadin sambil kembali terisak.


Santi memeluk Nadin, dia bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Nadin. Seburuk apapun prilaku seorang ibu, jika dia kehilangan anaknya pasti akan menangis bersedih dan terpukul. Hati ibu mana yang tidak akan sedih apalagi kehilangan anaknya.


" Sabar ya. Semua ini sudah ada yang menggariskan sendiri. Aku yakin kamu bisa menjalaninya. Kita semua hanya bisa merencanakan dan Allah yang menentukannya. Emm.. Gara - gara bertemu denganku kamu harus mengalami hal seperti ini. " Ucap Santi.


* Aku memang mengalami kecelakaan ini sehabis aku menemui Santi. Atau jangan - jangan Santi yang sudah mencelakaiku. Agar aku keguguran dan Zainal tidak menafkahinya. Tetapi bukannya tadi aku menolak semua nafkah yang akan diberikan Zainal. Heemm... Ada yang tidak beres ini, aku tidak boleh gegabah menuduh tanpa bukti. Aku harus mencari tahu sebab yang mengakibatkan rem mobil tidak berfungsi. Setelah aku keluar dari rumah sakit dan kondisiku sudah benar - benar baik aku akan mengusut masalah ini.* Gumam Nadin dalam batinnya.


" Aku kecelakaan memang setelah menemui kamu. Tapi aku yakin kamu bukan pelaku yang sudah memutus rem mobilku." Ucap Nadin tanpa melihat kearah Santi.

__ADS_1


Apa ?


Santi kaget setelah mendengar pernyataan Nadin. Secara tidak langsung Nadin sudah menuduh mencelakainya. Sebenarnya Santi terganggu sekali dengan pernyataan Nadin yang barusan, kenapa bisa Nadin bicara seperti itu.


" Kamu menuduhku ?" Tanya Santi dengan tegas. Dia tidak mau Nadin punya fikiran buruk tethadapnya.


" Tidak ! Aku tidak menuduhmu, aku pasti akan mencaritahu saat aku sudah sehat nanti. Aku yakin di seputaran Taman ada CCTV yang memantau. Aku yakin orang itu menyabotase mobilku saat aku parkir di dekat taman. Saat aku dari rumah mobil itu masih normal, bahkan aku masih sempat ngebut." Ucap Nadin memberitahu.


Santi setuju dengan apa yang dikatakan Nadin, orang itu pasti sengaja sudah mengintai Nadin dari rumah. Dan sengaja menyabotase mobil saat di parkiran taman, sehingga Santi yang akan tertuduh. Sebab Nadin kecelakaan setelah bertemu dengan Santi.


" Emm... Sepertinya ada yang sengaja melakukan ini saat kita bertemu. Sehingga kamu seolah akan menyalahkanku, kira - kira siapa ya Din orang itu?" Tanya Santi serius.


" Kamu betul San. Nanti aku pasti tahu siapa orang itu, jika sampai aku tahu siapa pelakunya aku tidak akan memberi ampun." Ucap Nadin sambil mengepalkan kedua tangannya.


* Sepertinya aku tahu siapa pelakunya, tapi aku harus mencari bukti - buktinya terlebih dulu baru aku akan menyeretnya kepenjara. Tidak ada kata ampun untuk seorang penjahat seperti dia yang sudah hampir mencelakaiku. Bahkan anak dalam kandunganku harus menjadi korban. * Gumam Nadin dalam batinnya.


Zainal dan Rendra ikut masuk ke kamar rawat Nadin. Nadin memindai Zainal dan Rendra secara bergantian. Pandangan Nadin kearah keduanya tidak luput dari pandangan Santi.


* Apa Santi mencurigai mas Zainal dan Rendra. Apa iya mas Zainal yang melakukannya ? Kalau Rendra ? Entahlah aku tidak mau berudzoon dulu kepada mereka berdua. * Gumam Santi dalam hatinya.


" Bagaimana keadaanmu Din? " Tanya Zainal dengan canggung.


" Seperti yang kamu lihat." Jawab Nadin ketus dengan membuang pandangan kearah lain.


Hhhuuuffff


Zainal hanya menghela nafas dengan kasar. Dia juga merasa sedih atas musibah yang menimpa Nadin, apalagi anak yang di kandung sampai keguguran. Meskipun bukan anak yang diinginkannya tetapi Zainal juga masih punya hati dan nurani, tidak mungkin dia akan mengingkari anak itu.


" Emm.. Santi lebih baik kita sekarang pulang. Ini sudah semakin sore." Seru Zainal mengajak Santi untuk pulang.


Situasi diruangan itu benar - benar membuat Zainal bingung untuk bersikap. Sehingga lebih baik mengajak Santi untuk pulang. Akhirnya Santipun mengiyakan ajakan dari Zainal untuk pulang.

__ADS_1


**********


__ADS_2