
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Anisa kedatangan Santi beserta anak dan suaminya, juga ada Bagas yang juga ikut. Bagas saat ini menjadi pengasuh untuk para anak - anak kecil. Ada Kiki, Koko dan Cantika yang saat ini mengajak Bagas untuk bermain. Daripada mengobrol tidak ada teman ngobrol Bagas memilih bermain dengan anak - anak.
" Jadi ibu sekarang dirawat dirumah sakit jiwa mbak ? Kasihan sekali ya mbakhidupnya ibu, dulu dia dengan arogan dan dengan mulut tajamnya sering menghinaku dan merendahkanku. Sekarang hidupnya benar - benar tragis. Semoga saja yang terbaik untuk ibu." Ucap Anisa merasa sangat iba dan kasihan dengan apa yang terjadi dengan mantan ibu mertuanya.
Dalam hati Anisa terlalu terucap doa baik untuk mantan ibu mertuanya dan almarhum Rendra. Sedikitpun Anisa tidak menyimpan dendam dan benci kepada keduanya.
" Mungkin sudah jadi jalan takdir ibu begini Nis. Aku, mas Zainal dan Bagas sudah pasrah. Biarpun bagaimana ibu, beliau tetap mertua ku juga. Harapan kami semoga saja ibu segera diberi kesembuhan." Ucap Santi penuh harap.
" Aamiin." Ucap Anisa mengaminkan ucapan Santi.
Obrolan mereka berlanjut sampai akhirnya malam sudah larut, Kiki dan Koko pun sudah tertidur. Bagas dan Santi membawa mereka satu - satu masuk mobil. Akhirnya mereka berpamitan untuk pulang. Zainal mengendarai mobil, disampingnya ada Santi yang sedang memangku Kiki. Bagas duduk di kursi belakang sembari merebahkan Koko di kursi dan menjadikan pahanya untuk bantalan Koko.
" Tiga hari lagi Anisa mau syukuran atas kelahiran bayinya, Mas. Tadi dia sekalian mengundang kita sama Bagas." Ucap Santi memberitahu.
" Iya, nanti kita pasti datang. Kamu siapkan saja hadiah untuk anaknya Anisa. Mas, percaya sama kamu mau kasih apa saja." Ucap Zainal sembari melirik kearah Santi.
" Kalau Bagas enaknya ngasih apa ya, Mbak? Mereka itu kan orang kaya pasti sudah punya segalanya. Tetapi kalau bagas datang tidak bawa apa-apa tidak enak, sebab mbak Anisa itu sudah baik sama Bagas. Motor Bagas itu saja dulu dibeli pakai uang mbak Anisa, Bagas sudah pernah mau mengembalikannya dia tidak mau." Ucap Bagas dengan bingung apa yang ingin dia berikan kepada anak Anisa.
" Apa saja Gas yang penting kamu ikhlas. Anisa dengan senang hati pasti akan menerimanya. Dia itu biarpun kaya hidupnya tidak glamour, dia sangat sederhana." Jawab Santi serius.
__ADS_1
Bagas mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Santi. Tanpa terasa kini mobil sudah berhenti tepat di depan rumah mereka. Tanpa membangunkan Koko, Bagas menggendong keponakannya itu turun dari mobil dan membawanya masuk kerumah langsung kekamarnya.
" Kamu menginap saja Gas." Ucap Zainal.
" Heleh mas, mas rumah cuma bersebelahan saja loh. Kenapa harus menginap segala, aku berani kok pulang sendiri." Ucap Bagas sambil tertawa.
" Iya juga sih." Jawab Zainal ikut tertawa.
Bagas langsung pulang kerumahnya, sesampainya dirumah Bagas termenung di kamar Almarhum Rendra. Rumah sepi, Bagas hanya sendirian dan dia teringat kenangan masa kecilnya saat kakaknya masih bujangang. Hidup mereka saling rukun dan damai.
" Aku kesepian, mas Rendra susah tiada. Ibu di rumah sakit jiwa dan mas Zainal sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Bu, Mas Rendra tahun ini aku wisuda. Fulu mas Rendra yang ingin melihatku menjadi seorang sarjana tetapi kini justru mas Rendra sudah pergi untuk selamanya." Ucap Bagas pada dirinya sendiri.
Diluar Bagas terlihat tegar tetapi dalam hatinya dia sangat rapuh,sedih dan kesepian. Tidak dapat dipungkiri dia sangat - sangat kehilangan sosok Rendra. Sedari kecil memang dia lebih dekat dengan Rendra, sehingga saat Rendra tiada dia benar - benar kesepian.
" Mas Rendra, Bagas kangen Mas." Ucap Bagas sambil terisak.
Bagas menangis dalam kesunyian malamnya. Dia teringat almarhum Rendra, dia teramat rindu dengan kakak keduanya itu. Tanpa terasa Bagas tertidur di kamar almarhum Rendra.
Acara yang ditunggu - tunggu Anisa pun akhirnya tiba, hari ini Anisa dan Riko mengadakan pengajian dan aqiqah tasyukuran atas kelahiran putranya. Yang saat ini sudah genap berusia 1 minggu. Acara sudah dimulai dari jam 9 pagi tadi dan saat ini sudah selesai, para tamu undangan sudah banyak yang pulang. Hanya tinggal beberapa saja yang memang sengaja sedang berbincang-bincang dengan tuan rumah sehingga mereka belum pulang.
" Alhamdulillah ya Nis, acaranya berjalan dengan lancar. Anak-anak yatimnya tadi juga semua sudah mendapatkan makanan dengan rata." Ucap Serena.
" Iya mbak, Alhamdulillah. Ini semua juga berkat bantuan kalian semua. Oh iya mbak, minggu depan ada yang mau menikah loh. Sudah tidak ada yang jomblo lagi." Seru Anisa sembari melirik kearah Silvia.
Serena dan Santi tahu maksud Anisa, pasti Silvia yang akan menikah. Sebab diantara mereka berempat hanya Silvia yang masih jomblo.
" Silvia mau menikah?." Tanya Serena memperjelas.
__ADS_1
" Iya mbak. Akhirnya tunanganku pulang lebih cepat dan memutuskan untuk menikah dan akan tetap tinggal disini. Semoga saja semuanya berjalan lancar ya mbak, mohon doanya, nanti undangan pasti sampai kerumah kalian semua. Siapkan saja isi amplopnya yang tebal jangan sampai tipis loh ya, siapa tahu cukup untuk aku honey moon ke maldives selama sebulan." Seru Silvia sambil tertawa lepas.
Sadar diri jika saat ini dirinya sedang menjadi pusat perhatian semua orang, Silvia langsung menutup mulutnya yang barbar itu. Dia meringis menahan malu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Makanya kalau tertawa itu pakai rem biar tidak kebablasan. Beruntung bayiku saat ini dikamar sama kedua neneknya, kalau dia ada disini pasti saat ini langsung kaget." Seru Anisa mengomeli Silvia.
" Maaf sih temanku yang cantik." Jawab Silvia sambil nyengir kuda.
" Lebay ." Seru Anisa sambil menarik telinga Silvia, sehingga Silvia meringis kesakitan.
Santi dan Serena hanya geleng - geleng melihat kelakuan Silvia dan Anisa yang memang senang benar berdebat. Namun itulah bumbu - bumbu pertemanan sehingga pertemanan mereka awet sampai sekarang.
" Bagas Kapan kamu wisuda."Tanya Riko menanyakan wisuda Bagas.
" Insya Allah 3 bulan lagi, Mas. Ada apa ya mas Riko menanyakan soal wisudanya Bagas?."Tanya Bagas ingin tahu tumben sekali Riko menanyakan soal wisudanya, terlebih Bagas memang tidak terlalu dekat dengan Riko.
" Kalau kamu sudah selesai kuliah, kamu bisa bekerja di perusahaan, Mas. Kebetulan memang perusahaan sedang merekrut beberapa karyawan baru . Jika kamu mau dari sekarang pun kamu bisa bekerja sembari menunggu kamu wisuda."Ucap Riko menawarkan pekerjaan kepada Bagas.
" Terima kasih mas, tetapi saat ini Bagas juga memang sudah punya pekerjaan meskipun hanya sebagai pelayan di cafe. Tapi Insya Allah selesai wisuda nanti, tawaran mas Riko akan Bagas pertimbangkan."Ucap Bagas menolak secara halus.
Bagas tidak mau merepotkan Riko maupun Anisa terus menerus, dia ingin mencoba menggunakan ijazah sarjananya untuk mencari pekerjaan secara mandiri tanpa ada bantuan dari keluarga maupun orang dalam. Bagas yakin pasti dia bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keinginannya.
" Baiklah kalau begitu kapanpun kamu mau bekerja di perusahaanku kamu datang saja."Ucap Riko tahu jika Bagas merasa tidak enak dengannya.
" Iya mas terima kasih atas tawarannya."Jawab Bagas sambil menganggukan kepalanya.
" Iya sama- sama Gas. Kamu tidak perlu merasa tidak enak ya Gas, aku tahu kamu pasti merasa tidak enak kan dengan ku. Aku ini orangnya profesional dan obyektif, perusahaan ku memang mencari karyawan yang baru lulus dari universitas. Dan aku yakin kamu bisa menjadi salah satu calon karyawan baru diperusahaan ku. Kebetulan aku tahu dari Anisa jika kamu ini cerdas dan kuliah juga beasiswa. Semoga kamu berminat bergabung dengan perusahaan ku ya, Gas?." Ucap Riko lagi.
__ADS_1
" Insya Allah ya, Mas." Jawab Bagas sambil menganggukkan kepalanya.
*********