
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Lima hari telah berlalu namun sakitnya Rendra justru semakin parah dan kondisi tubuhnya semakin melemah. Segala macam cara sudah dokter upayakan untuk penyembuhan Rendra namun sepertinya dokter harus berjuang lebih lagi. Namun segala apa yang terjadi semua itu adalah ketetapan sang pencipta.
Dari 3 hari yang lalu hasil pemeriksaan Rendra sudah keluar dan ternyata Rendra juga menderita penyakit kanker otak stadium 3, Zainal dan Bagas tidak pernah menyangka jika selama ini Rendra menderita sakit yang cukup mematikan.
" Bagaimana keadaan Rendra mas?" Tanya Santi saat Zainal pulang untuk mandi dan mengganti bajunya.
" Tidak tahu Sayang. Sepertinya tidak ada harapan lagi untuk Rendra bisa sembuh. Namun segala kemungkinan masih bisa terjadi. Sebenarnya Rendra sering mengelih sakit kepala 1 tahun terakhir ini namun dia tidak pernah memeriksakan denganserius." Jawab Zainal mencoba menjelaskan kepada Santi.
" Kasihan sekali Rendra itu mas, sudah terkena sakit paru-paru sekarang juga dia terkena kanker otak. Semoga saja Rendra bisa segera disembuhkan."Seru Santi penuh harap.
Terdengar helaan nafas berat yang keluar dari saluran pernafasan Zainal. Dia seolah pasrah dengan keadaan Rendra, terlihat sekali keputusasaan dalam raut wajah Zainal. Harapan Rendra untuk bisa sembuh seperti sedia kala sangatlah tipis, kanker otak sudah menggerogoti tubuhnya ditambah sakit paru-paru yang dia derita.
Menurut penjelasan dokter sakit paru-paru yang diderita Rendra itu disebabkan karena Rendra dari awal perokok berat. Ditambah lagi dia sering keluar malam dan menghirup debu dan asap-asap kendaraan yang berlalu lalang. Terlebih selama dua bulan terakhir dia memang selalu beraktifitas dijalanan.
Sampai sekarang Zainal dan Bagas belum memberitahu keadaan Rendra yang sesungguhnya kepada Ibu Ratri. Bahkan mereka sendiri seolah lupa dengan keberadaan ibunya yang saat ini sedang mendekam di penjara. Sebab mereka terlalu sibuk mengurusi Rendra di rumah sakit, terlebih Bagas juga sedang mempersiapkan skripsinya dan Zainal juga sibuk dengan pekerjaannya. Hanya bisa datang ke rumah sakit di saat libur ataupun pulang bekerja. Dalam minggu ini juga mereka belum ada yang menjenguk ibu Ratri di penjara.
" Mas Zainal mau mandi dulu apa mau makan. Malam ini mau ke rumah sakit lagi ?."Tanya Santi dengan lembut Santi harus berbesar hati menerima semuanya. Dia harus lebih mengalah bagaimanapun Rendra adik dari suaminya yang saat ini sedang membutuhkan mereka. Sehingga waktu Zainal juga habis untuk menemani Rendra di rumah sakit.
" Tidak sayang, malam ini mas istirahat di rumah. Mas juga kangen sama kamu dan anak-anak, Bagas yang akan menunggunya di sana. Sebab hari ini Bagas bekerja sampai sore saja jadi malam dia bisa menunggu Rendra di rumah sakit. Makan nya nanti malam saja ya bareng sama anak-anak, sepertinya mas mau mengajak mereka jalan - jalan sore dulu." Seru Zainal.
__ADS_1
" Iya Mas beberapa hari ini memang kamu sibuk sama pekerjaan kamu dan masalah Rendra. Aku sendiri tidak masalah Mas, aku tahu Rendra itu membutuhkan kita tetapi tidak dengan anak-anak. Mereka berdua selalu menanyakan kamu yang jarang bermain dan ada waktu untuk mereka. Aku harap mas bisa meluangkan waktu untuk bermain bersama mereka, agar mereka tidak merasa diabaikan."Ucap Santi memberitahu Zainal jika anaknya sering menanyakan keberadaannya.
" Iya Sayang, maafkan mas beberapa hari ini mas memang sibuk dengan pekerjaan dan urusan Rendra. Malam ini mas akan pergunakan waktu untuk keluarga mas tercinta, kalau begitu mas mau mandi dulu ya jangan lupa nanti malam."Ucap Zainal sembari memainkan alisnya.
Santi sudah paham apa yang dimaksud oleh suaminya, memang benar selama Rendra dirawat di rumah sakit mereka belum melakukannya lagi. Bahkan Zainal sendiri sering menginap di rumah sakit dan akan pulang di saat subuh. Santi memanggil anak-anaknya untuk segera mandi sebab akan diajak Papanya untuk jalan-jalan sebentar sembari menunggu waktu magrib.
Kedua anak Santi pun berlari masuk ke rumah dan secara bergantian untuk mandi. Mereka sangat senang dan bahagia setelah mengetahui ayahnya akan mengajak mereka jalan-jalan. Tidak menunggu waktu lama, hanya 10 menit saja mereka berdua sudah siap dan kini sedang menunggu Zainal yang sedang bersiap-siap.
" Wah anak-anak papa sudah cantik dan ganteng, kita mau jalan ke mana? Tapi tidak lama-lama ya sayang karena sebentar lagi sudah mau magrib. Kita hanya punya waktu kurang lebih 35 menit saja."Ucap Zainal dengan lembut sambil mengusap pucuk kepala kedua anaknya.
" Kita ke minimarket saja ya Pa, beli es krim sama coklat."Jawab Koko dengan senang.
" Boleh tapi tidak boleh makan coklat banyak-banyak ya, ingat sakit gigi itu sakit banget."Seru Zainal memperingatkan anaknya untuk tidak makan coklat terlalu banyak.
" Siap Papa Boss" Jawab Kiki dan Koko bersamaan sembari tangannya hormat.
Mereka bertiga pun berangkat dengan mengendarai mobil Zainal. Santi sengaja tidak ikut dengan mereka sebab sedang menyiapkan masakan untuk makan malam untuk keluarga tersayangnya. Setelah Zainal dan kedua anaknya pergi, Santi kembali kedapur untuk melanjutkan masakannya.
**********
Dughh Dughh Dughh
Riko menempelkan telinganya di dekat perut besar Anisa dia mendengar tendangan-tendangan kecil dari sang jagoannya. Riko sangat antusias mendengarkan dan merasakan tendangan dari janin yang ada dalam kandungan Anisa.
" Dia menendang sayang suaranya seperti orang yang sedang bermain bola. Apa perut kamu tidak sakit sayang, ditendang-tendang seperti ini?."Tanya Riko takut jika Anisa kesakitan dengan tendangan yang diberikan oleh sang buah hati.
Anisa menggeleng sembari tetap mengunyah buah anggur yang ada di tangannya. kehamilannya yang sudah memasuki usia delapan bulan ini membuat Anisa susah bergerak. Bahkan dia sudah tidak lagi masuk ke kantor dari usia kehamilannya 6 bulan.
__ADS_1
" Beneran tidak sakit sayang? Tapi ini suaranya sepertinya keras sekali loh sayang."Seru Riko seolah tidak percaya dengan Anisa.
" Sakit sih tidak mas, hanya nyeri-nyeri sedikit tapi itu tidak masalah. Lagi pula ini memang sudah menjadi kodratnya seorang perempuan, sehingga aku menikmati proses dan masa-masa kehamilanku ini. Justru aku sangat berterima kasih kepada kamu mas, kamu sudah menjadi suami siaga untukku."Seru Anisa sembari tersenyum dengan mulut yang tetap mengunyah buah anggur.
Riko langsung memeluk dan mendekap istrinya. Dia sangat bahagia mempunyai istri sepengertian Anisa. Selama menjadi istrinya, Anisa sedikitpun tidak mengeluh tentang apa yang sudah Riko lakukan. Bahkan saat hamil pun Anisa tidak menyusahkan Riko ngidamnya pun masih bisa Riko atasi dengan baik.
" Terima kasih Istriku kamu memang bidadari surgaku."Seru Riko lalu mencium kening Anisa dengan lembut.
" Aku tidak pernah menyangka mas bisa menikah denganmu mas. Padahal dulu saat aku masih berkuliah, dan mas Riko sering bertemu denganku saat main ke rumah, aku hanya menganggap mas Riko sebagai temanku sekaligus kakak karena mas Riko memang temannya mas Abi. Tidak menyangka ya mas kita bisa menikah seperti ini, bahkan sebentar lagi kita akan mempunyai seorang anak. Tetapi saat itu kamu mendapatkanku dengan statusku sebagai Janda."Seru Anisa mengingat masa lalunya.
Riko tersenyum dengan lembut sambil mengusap perut buncit Anisa. Dia tidak mau membahas hal yang lalu, cukup dijawab dengan senyuman saja sebab pasti Anisa akan teringat dengan mantan suaminya dan dia akan merasa bersalah seolah dia tidak pantas mendapat suami seperti Riko, Anisa sering berkecil hati.
Anisa memandang ke arah Riko, dia tahu Riko memang tidak suka jika dia membahas soal masa lalu. Namun kali ini yang dibahas bukan masa lalunya pribadi tetapi soal masa lalu mereka pada saat zaman-zaman mereka masih kuliah dahulu. Namun Anisa tidak mau merusak suasana jadi dia juga menghentikan pembahasannya soal masa lalu mereka.
" Mas , kamu sudah siapkan nama untuk calon anak kita ini?."Tanya Anisa mengalihkan pembicaraan.
" Sudah dong. Nanti pasti kamu tahu, pokoknya anak pertama ini Mas pribadi yang memberi nama. Nanti anak kedua kamu yang memberi nama. Bagaimana ?."Seru Riko meminta persetujuan Anisa.
" Iya tidak apa-apa Mas." Jawab Anisa singkat sembari mengulas senyum manisnya.
Riko memeluk Anisa semakin erat sampai Anisa merasakan perutnya begah sebab dia susah untuk bernafas.
" Mas, jangan begini dong perutku semakin begah dan aku susah bernafas." Seru Anisa sambil memonyongkan bibirnya.
" Ahh maaf sayang. Mas tadi sangat gemas sama kamu sampai lupa kalau perut istriku sudah sebesar ini. Heheee... Maaf ya sayang, papa tadi tidak sengaja." Ucap Riko sembari mengusap perut buncit Anisa.
Malampun semakin larut, Anisa mengajak Riko untuk masuk kekamar. Seperti biasa saat masuk kamar Riko akan menggendong Anisa, Anisa sendiri merasa sangat bahagia diperlakukan seperti ratu oleh suaminya.
__ADS_1
* Terimaksih Ya Allah engkau telah mengirimkan seseorang yang begitu baik dan penyayang dalam hidupku. Bayang - bayang rumah tangga yang pernah membuatku trauma kini sudah sirna. Rumah tangga yang aku jalani ini sungguh membuat aku bahagia, aku diratukan dalam rumah tangga ini. Mungkin inilah jawaban dari doa-doaku yang selama ini aku panjatkan.* Gumam Anisa dalam batinnya.
************