
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Pov. Santi
Malam itu seperti biasa mas zainal memintak haknya dan dengan senang hati aku memberikannya. Kami melakukan selams satu jam, saat kami sedang melakukannya ponsel mas zainal terus bergetar namun mas zainal tidak menyadarinya karena posisi dia ada diatas ku dan ponselnya ada dibawah bantal. Mungkin karena dia sedang menikmati pergumulan kami sehingga dia tidak menyadari ponselnya terus bergetar.
Satu jam permainan pun usai, mas zainal masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri. Kebetulan jika setiap habis bergumul mas zainal akan langsung mandi meskipun tengah malam. Saat mas zainal mandi aku gunakan waktu itu untuk mengecek ponselnya.
Ponsel itu aku ambil dan aku melihat ada 17 panggilan tak terjawab dari Santo. Dari namanya saja aku tahu jika dia seorang laki - laki, mungkin teman kerja mas zainal. Sehingga aku tidak curiga sediktpun, namun saat aku akan meletakkan ponsel itu kembali ada pesan masuk dari kontak atas nama santo.
[ Sayang kok teleponku tidak di angkat sih ? Aku kangen, bisakah malam ini kamu menginap dikontrakan ku lagi. Aku ingin dipeluk, dimanja. ]
" Santo ? Kenapa namanya santo ?Tapi memanggil sayang, masak mas zainal penyukai pria ?" Aku terus bertanya - tanya siapa kontak atas nama santo.
Akupun mencoba membalas dengan tak kalah mesra.
[ Aku juga kangen, tapi ini sudah malam. Kamu kirim foto dong sayang ]
" Semoga segera dibalas sebelum mas zainal selesai mandi " Aku was-was sambil melirik kearah kamar mandi.
Ting
Sebuah foto masuk, dan betapa terkejutnya aku saat foto itu terpampang dengan jelas seorang wanita sedang terlentang dan memfoto dirinya dalam keadaan tidak berpakain. Bahkan aset - aset semua nya nampak jelas.
[ Aku sudah siap sayang. Apa kamu tidak kangen dengan goyangan ku. ]
Aku jijik membaca pesan yang wanita itu kirimkan, lalu aku mencoba membuka galeri di ponsel mas zainal betapa terkejutnya aku isi ponsel mas zainal ternyata banyak foto mesra dengan wanita yang bernama santo tadi. Hatiku seakan hancur, jiwa ku runtuh. Malam yang tadinya dingin kini menjadi panas . Panas karena api amarah, rasanya aku ingin membanting ponsel mas zainal tapi aku tidak mau ada ketibutan ditengah malam begini. Aku buru - buru mengirim foto dan bukti chatt serta nomor ponsel perempuan itu keponselku. Setelah selesai pesan itu aku hapus dan aku matikan ponsel mas zainal.
" Kamu tidak mandi san ?" Tanya mas zainal saat sudah selesai mandi.
" Iya " Aku menjawab dengan singkat.
Aku masuk kamar mandi, ku guyur tubuhku dengan air yang dingin. Aku menangis sejadi - jadinya dikamar mandi. Apa kurangku sehingga suamiku harus mencari kesenangan diluar sana, padahal saat ini kami sudah mempunyai dua anak. Sengaja aku berlama - lama dikamar mandi untuk menangis sampai mas zainal mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
" Santi , jangan lama - lama mandinya nanti kamu masuk angin. Aku dengar dari tadi kamu mandi terus mengguyur tubuhmu. Dingin santi sudah cepat keluar " Teriak mas zaunal dari depan kamar mandi.
Aku tidak perduli dengan teriakan mas zainal, aku terus mengguyur tubuh ku sampai aku kedinginan baru aku menyudahi mandiku.
" Dingin kan ? Makanya jangan ngeyel " Ucap mas zainal memarahiku.
" Tadi tiba - tiba aku kepanasan mas. Makanya aku berlama - lama tapi saat udahan kok dingin " Jawabku beralasan agar mas zainal tidak mencurigaiku.
Sepertinya mas zainal tidak memeriksa ponselnya, dia langsung mengecas ponselnya yang tadi memang sengaja aku matikan agar wanita gatal itu tidak mrnghubungi mas zainal. Bisa - bisa aku ketahuan jika tadi membuka ponselnya.
" Kamu kenapa ? " Tanya mas zainal mengagetkan lamunanku.
" Tidak apa - apa mas. " Jawabku singkat.
Belum saatnya aku menanyakan hal ini kepada mas zainal yang ada dia pasti akan marah. Aku harus mencari sumber bukti yang lebih akurat lagi agar mas zainal tidak mengelak. Kurebahkan tubuhku disamping mas zainal, kini mas zainal benar - benar terlihat perubahannya.
Jika mas zainal berselingkuh apa aku harus terus bertahan ? Aku kasihan dengan anak - anak ku, selama ini aku hanya mengandalkan mas zainal. Jika mas zainal berhenti menafkahi kami bagaimana? Segudang pertanyaan yang ada dalam benakku ini tapi tak ada satu pun aku bisa menjawabnya.
Malampun berlalu, aku bangun lebih awal untuk membuatkan sarapan mas zainal. Ya, semenjak anisa sudah pindah rumah kami memang jarang makan dirumah ibu. Mungkin hanya sesekali kami makan malam dirumah ibu.
" Santi.... Santi.... !" Mas zainal berteriak memanggilku dari kamar.
" Apa?" Tanyaku dengan ketus. Aku masih ingat betul chatt mesra nya dengan wanita yang dia berinama santi di kontak ponselnya.
" Kamu lihat ponsel ku ?" Tanya mas zainal.
Ternyata dia berteriak karena mencari keberadaan ponselnya. Aku juga tidak tahu ponsel dia ada dimana sebab semalam dia cas di atas meja kamar. Mas zainal yang sekarang bukan lagi mas zainalku yang dulu, dia sudah tidak sepenurut dulu bahkan uang gajinya sekarang tidak lagi dipercayakan kepadaku. Dia hanya memberiku seperlunya saja, selebihnya dipegang dia. Dia beralasan jika uang itu ditabung untuk biaya sekolah anak - anak, sekarang aku tidak yakin jika uang dia tabung. Pasti habis untuk diberikan kepada gundik nya yang gatel itu.
" Mana aku tahu " Jawabku masih dengan malas.
" Ditanya itu jawabnya yang benar dulu santi, kamu sekarang kenapa jadi seperti ini ? " Ucap mas zainal mencoba untuk protes.
" Maksudnya ? Aku berubah begitu ? Bukannya kamu yang sekarang berubah ? Kamu dikit - dikit ponsel, sekarang jika dirumah ponsel terus yang mas pegang. Hari liburpun ponsel ? Ada apa sih dengan ponselmu mas ? Apa ada selingkuhanmu didalam ponsel itu ?" Pertanyaan beruntun mulai aku lontarkan untuk mas zainal. Aku sudah tidak bisa lagi menahan amarah ku , akhirnya pagi ini aku keluargan semua amarahku yang semalam sempat aku tahan.
Mas zainal memandang ku tajam , mungkin dia bingung mau menjelaskan apa kepadaku. Dan mungkin juga dia heran kenapa aku bisa tahu apa yang ada dalam ponselnya.
" Kamu ini bicara apa sih san ? Tidak ada selingkuhan apapun di ponselku, itu isinya hanya pekerjaan saja kenapa kamu bisa beranggapan aku selingkuh. Jangan ngawor deh kamu san, aku ini pria setia." Mas zainal tetap mengelak , padahal aku sudah tahu semua apa yang dia sembunyikan.
" Kalau kamu memang mempunyai wanita lain ngomong saja terus terang mas ! Seharusnya kamu ingat jika kamu itu sudah punya anak 2 bahkan mereka sudah mau masuk sekolah. Aku tidak yakin jika uang kamu tabungkan, pasti kamu habiskan sama gundik mu itu. Dimana alamat gundikmu itu mas? Biar aku datangi dia dan aku cabik - cabik mulut dan wajahnya " Aku sudah tidak takut lagi dengan amarah mas zainal.
__ADS_1
Mas zainal memandangku tajam, tapi aku juga tidak kalah tajam. Hebat sekali wanita itu bisa membuat mas zainal seperti ini, padahal selama ini mas zainal selalu bersikap baik , mengalah dan menuruti segala keinginanku.
" Kamu ini bicara apa ?" Tanya mas zainal masih mencoba menutupi kesalahannya.
Saat kamu sedang ribut dikamar tiba - tiba kiki dan koko datang menghampiri kami dikamar.
" Papa ini ponsel papa, tadi koko pinjam main game. Papa masih tidur " Ucap koko datang sambil memberikan ponsel.
" Dasar lancang ! Seharusnya kamu izin dulu koko, kiki di ponsel papa ini banyak rahasia soal pekerjaanya. Kalau mau pinjam ponsel papa itu bilang dulu " Ucap mas zainal.
Aku segera menyuruh kiki dan koko bermain di teras rumah saja agar mereka tidak mendengar keributan antara papa dan mama nya. Mas zainal dulu tidak seperti ini, kapanun kiki dan koko meminjam ponsel pasti akan diberikan karena anak - anak juga hanya menonton video kartun kesukaannya mereka saja.
" Apa di ponselmu banyak rahasianya ? Rahasia foto - foto mesra mu dengan selingkuhan mu ?" Tanyaku dengan geram.
" Jangan membuat aku marah santi, di ponselku tidak ada foto seperti itu. Aku hanya takut anak - anak salah pencet dan salah buka file saja"Jawab mas zainal terlihat gugup. Dia belum tahu jika aku sudah melihat semua isi dalam ponselnya termasuk foto - foto mesra dengan gundiknya itu.
" Sini ponselmu biar aku cek " Ucapku sambil mengulurkan tangan ku untuk meraih ponsel mas zainal.
Mas zainal menepis tangan ku dengan kasar dan menyembunyikan ponselnya dalam kantong celananya.
" Kalau kamu mau selingkuh itu seharusnya mikir jika kamu itu sudah punya dua anak.!!" Bentakku sambil terisak. Aku sudah tidak tahan lagi untuk menahan airmataku.
" Santi kamu ini apa - apaan sih ? Aku tidak selingkuh, aku ini bekerja siang malam sampai lembur hanya untuk kalian ! Bisa - bisa nya kamu menuduhku selingkuh " Ucap mas zainal tetap membela diri.
" Kamu bohong mas ! Kamu sudah berbohong ! Sekarang kamu pilih aku dan anak - anak atau wanita murahan itu ? Jawab mas ?" Teriakku lagi.
" Ahhh...sudahlah pusing aku ! Lebih baik aku berangkat kerja sekarang daripada kamu curigai terus menerus " Ucap mas zainal.
" Pergi sana.. Pergi ! Pergi saja kerumah gundikmu mas !" Ucapku lagi dengan air mata yang sudah mulai membanjiri pipiku.
Mas zainal benar pergi dia berangkat bekerja saat masih pagi bahkan dia tidak meminum kopi. Mungkin dia akan minum kopi di rumah gundiknya itu.
Sejak kejadian keributan dipagi hari itulah mas zainal tidak pulang , bahkan menghubungiku pun tidak. Sudah dua hari mas zainal tidak ada kabar, aku takut mas zainal benar - benar meninggalkan kami. Bagaimana aku akan menafkahi anak - anak.
***********
TERUS DUKUNG KARYA - KARYA AUTHOR YA KAK ❤️❤️ AGAR AUTHOR SEMAKIN SEMAMGAT UNTUK UPDATENYA.
TERIMAKASIH 🙏🙏❤️❤️
__ADS_1