Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Rendra menghilang


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Mas apa kamu tidak mau terapi ?" Tanya Bagas saat sedang menemani Rendra kontrol.


Rendra hanya menggelengkan kepalanya saja, dia tidak mau semakin membebani Zainal dan Bagas. Untuk biaya kontrolnya saja sudah memakan biaya yang lumayan banyak ditambah lagi untuk obat-obatannya. Jika harus ikut terapi pasti lebih banyak lagi uang yang akan dikeluarkan oleh Zainal dan Bagas.


" Tidak Ndra. Aku tidak mau semakin menjadi beban untuk kalian berdua. Biarkan saja aku seperti ini, menjalani kehidupanku seperti ini. Bila perlu tidak perlu lagi minum obat dan kontrol ke dokter. Uang kamu , kamu tabung saja untuk biaya masa depan kamu. Biarkan saja aku seperti ini,berobatpun sepertinya percuma Gas. Cuma menghabis - habiskan uang saja." Jawab Rendra seperti sedang patah semangat untuk sembuh.


Hhhuuffff


Mendengar jawaban Rendra yang tidak bersemangat untuk sembuh membuat Bagas ingin sekali mendorong kursi roda Rendra sekencang mungkin dan membiarkan Rendra jatuh begitu saja. Rendra sama sekali tidak ada semangat untuk sembuh, padahal Zainal dan Bagas sudah mengupayakan agar Rendra cepat sembuh. Namun seolah pengorbanan mereka tidak dihargai sama sekali.


" Terus mas Rendra mau selamanya duduk di kursi roda dan tidak bisa berjalan seperti ini? Iya mas ? Kamu kira aku dan mas Zainal akan selamanya mau mengurus kamu mas ?" Seru Bagas dengan kesal melihat Rendra yang tidak ada semangat untuk hidup.


" Kalau kamu tidak mau mengurus mas ya bilang saja tidak perlu kamu bicara seperti itu. Untuk apa kamu mengajak mas kontrol kalau pada akhirnya kamu justru merendahkan masa seperti itu." Seru Rendra justru dia yang marah kepada Bagas.


" Mas Rendra denger ya, aku dan mas Zainal itu mengupayakan mas agar bisa cepat sembuh. Bukan berarti aku dan mas Zainal tidak mau mengurus kamu mas. Kami berdua mau kamu cepat sembuh dan bisa menikmati hidup kamu lagi Mas. Karena tidak selamanya kami bisa ada untuk mas Rendra. Mas Zainal sudah berkeluarga, dan suatu saat nanti Bagas juga akan berkeluarga mas. Jadi tolong mas Rendra semangat untuk sembuh, jika kami meminta mas untuk terapi berarti kami memang ada biaya untuk mas. Jangan pernah mempermasalahkan soal biaya atau enak dan tidak enaknya suatu saat nanti pasti kami berdua juga akan membutuhkan pertolongan mas Rendra juga. " Ucap Bagas bicara panjang lebar tanpa peduli saat ini sedang ada di rumah sakit.


Bagas dan Rendrra sedang menunggu giliran untuk mengambil obat. Hampir semua orang memandang ke arah Rendra dan Bagas, perdebatan Rendra dan Bagas barusan sangat menyita perhatian orang - orang di sekitarnya, apalagi antrian pengambilan obat lumayan ramai.


Rendra langsung diam, tidak tahu kenapa akhir - akhir ini semangat untuk sembuhnya hilang. Bahkan dia seperti tidak semangat menjalani hari - harinya. Rendra ingin sekali tidak menjadi beban untuk kakak dan adiknya, namun bagaimana caranya dia belum menemukannya.


Kini nama Rendra dipanggil oleh petugas apotik yang ada dirumah sakit. Bagas yang berjalan mengambil obat untuk Rendra. Hanya butuh waktu beberapa menit obat sudah ada ditangan Bagas, dengan segera Bagas mendorong kursi roda Rendra menuju parkiran. Sebelumnya Bagas sudah memesan taksi online dan sebentar lagi pasti akan sampai.

__ADS_1


" Mas, maaf ya soal yang tadi." Ucap Bagas merasa jika tadi dirinya sudah keterlaluan bicara dengan Rendra.


" Iya tidak apa - apa. Justru mas juga yang seharusnya meminta maaf sama kamu dan mas Zainal." Seru Rendra bicara tanpa melihat kearah Bagas.


Tiba-tiba Bagas merasakan perutnya mulas tak terkira. Bagas pun pamit ke toilet dan meminta Rendra untuk menunggu di dekat pintu keluar rumah sakit, sembari menunggu kedatangan taksi online yang sudah Bagas pesan.


" Mas aku ke toilet dulu ya, mas tetap di sini dan tunggu sampai Bagas datang kembali, jangan kemana - mana ya mas. Mungkin 10 menit lagi atau 5 menit lagi taksi online yang Bagas pesan sudah datang." Ucap Bagas izin ketoilet terlebih dahulu.


" Iya aku akan menunggu kamu di sini." Jawab Rendra singkat.


Dengan sedikit berlari Bagas menuju toilet yang ada di di lantai bawah. Melihat Bagas sudah tidak terlihat lagi, Rendra melajukan kursi rodanya menjauh dari rumah sakit. Dengan tangan yang mulai terasa panas dan pegal, Rendra terus membawa kursi rodanya menjauh. Sudah 10 menit Rendra membawa kursi rodanya menjauh, bahkan dia saja tidak tahu sekarang dia ada dimana.


" Loh mas Rendra kemana? Apa mungkin mas Rendra sudah masuk ke mobil." Seru Bagas saat tidak melihat keberadaan Rendra.


Bagas menghampiri taksi online yang sudah menunggunya, tadi Bagas sudah memberitahu jika dia sedang ada di toilet sehingga meminta sang driver untuk menunggunya sebentar.


" Loh kakak saya kemana pak ? Saya kira dia sudah masuk ke mobil, tapi kok tidak ada. Kemana dia ya Pak?." Tanya Bagas mulai menghwatirkan keberadaan Rendra.


" Kakak saya tadi memakai celana panjang warna hitam, dan kemeja warna abu-abu. Tetapi dia duduk di kursi roda. Dan dia menunggu di dekat tiang itu. Apa bapak tidak melihatnya saat tadi Bapak datang?." Tanya Bagas lagi


" Tidak mas. Saya tidak melihat siapa-siapa, bahkan saat saya datang di sini memang tidak ada siapa-siapa."Jawab sang driver dengan jujur.


Bagas semakin khawatir dengan keadaan Rendra, apalagi Rendra yang memang hanya bisa kemana-mana dengan menggunakan kursi rodanya. Bagas turun dari mobil dan mencoba mencari Rendra di dalam rumah sakit, siapa tahu Rebdra tadi memang pergi ke toilet menyusulnya.


Di toilet pun tidak ada, Bagas mencari di setiap sudut rumah sakit dan dia hanya mencari di lantai bawah saja. Sebab tidak mungkin Rendra bisa naik ke lantai atas meskipun itu menggunakan lift.


" Ke mana perginya Mas Rendra. Oh iya aku coba hubungi saja ponselnya, kenapa aku sampai lupa."Seru Bagas lalu mengambil ponsel yang ada di kantong celananya dan mencoba menghubungi ponsel Rendra.


Namun nihil, ponsel Rendra sudah tidak aktif lagi. Sepertinya memang Rendra sengaja mematikan ponselnya agar tidak terdeteksi oleh Bagas dan Zainal. Rendra memang sengaja pergi dan mencoba ingin hidup mandiri, meskipun tidak tahu dia akan tinggal di mana dan dapat makan dari mana. Dia sudah malu selama 2 bulan ini merepotkan adik dan kakaknya.

__ADS_1


Bagas kembali menghampiri taksi online nya tadi, dan Bagas mendapat info dari sang Driver soal Rendra.


" Kata pak satpam tadi ada orang memakai kursi roda pergi kearah sana mas. Ciri - cirinya sama dengan yang mas sebutkan tadi. Kata pak Satpam orang itu perginya sendiri" Ucap sang driver yang tadi memang membantu mencari keberadaan Rendra disekeliling rumah sakit.


" Tolong antarkan saya mencari keberadaan kakak saya Pak sesuai dengan arahannya dari tadi dikasih tahu oleh Pak satpam seru Bagas dengan boro-boro dia masuk ke mobil.


Driver taksi online itu pun mengangguk lalu dia segera masuk dan menghidupkan mesinnya, lalu meninggalkan pekarangan rumah sakit menuju jalanan yang tadi ditunjuk oleh Pak satpam. Sepanjang perjalanan mata Bagas melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Rendra. Sudah cukup jauh Bagas mencari Rendra namun belum juga ketemu.


Bagas tidak putus asa dia tetap mencari keberadaan Rendra. Sampai akhirnya dia merasakan lelah dan dia baru menyadari jika saat ini dia ada di dalam taksi online.


" Maaf Pak. Saya lupa jika tadi saya menggunakan taksi online, kalau begitu tolong antarkan saya pulang ke alamat yang tadi sesuai dengan aplikasi ya pak. Nanti untuk uang nya saya berikan lebih karena Bapak tadi sudah menolong saya mencari kakak saya. Pasti waktu bapak sudah terbuang sia-sia karena menolong saya." Ucap Bagas merasa tidak enak dengan sang driver taksi online.


" Iya mas tidak apa-apa namanya orang sedang kesusahan, jadi kita wajib tolong menolong. Jadi ini Mas nya mau pulang saja, dengan alamat tujuan sesuai aplikasi tadi." Tanya sang driver taksi online.


" Iya Pak." Jawab Bagas singkat. Sepertinya Bagas memang sudah sangat kelelahan mencari keberadaan Rendra.


Taksi online itu akhirnya melaju menuju alamat yang sesuai dengan aplikasi pemesanan Bagas. Setelah 1 jam setengah akhirnya Bagas sampai di depan rumah. Rumah masih dalam keadaan sepi dan pintu pun tertutup. Bagas yakin jika Rendra belum pulang. Setelah memberikan ongkos taksi sesuai yang diminta oleh sang sopir, Bagas pun masuk ke rumah dan mencoba menghubungi Zainal untuk memberitahu jika Rendra hilang.


Bagas kerumah Santi untuk membetahu Santi jika Rendra menghilang.


" Apa ? Rendra menghilang? Kok bisa begitu Gas, memangnya kamu tadi kemana ? Kok sampai Rendra pergi kamu tidak tahu?" Tanya Santi dengan pertanyaan beruntun.


Bagas menceritakan kronologi kehilangan Rendra. Mendengar cerita Bagas, Santi bisa memahami apa yang dirasakan oleh Rendra. Dia pasti putus asa dengan keadaanya yang tidak bisa berjalan tanpa bantuan orang lain.


" Kita cari lagi Gas, pakai motor saja biar lebih mudah. Kamu makan siang saja dulu, mbak mau menitipkan anak - anak dirumah ibu aminah." Seru Santi mengajak Bagas untuk kembali mencari keberadaan Rendra.


" Iya mbak. Aku memang sangat lapar banget ini. Ternyata sudah jam 2 siang." Seru Bagas sambil mengusap perutnya yang sudah keroncongan.


Sembari menunggu Bagas makan siang, Santi membawa kedua anaknya Kiki dan Koko untuk dia titipkan dirumah ibu Aminah saja. Santi tidak tega meninggalkan kedua anaknya dirumah hanya berdua saja sehingga dia lebih memilih menitipkannya dirumah ibu Aminah, seorang tetangga yang baik dan tidak julit. Tidak lupa Santi juga membawakan baju ganti untuk kedua anaknya.

__ADS_1


*************


__ADS_2