
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Zainal memboyong Santi dan kedua anaknya pulang kerumahnya sendiri. Kali ini Santi pulang kerumah yang dulu pernah dia tempati dengan rasa sedikit nyaman karena tidak akan bertemu dengan ibu mertuanya. Tapi bukan berarti Santi tidak perduli dengan ibu mertuanya, mau bagaimanapun Ibu Ratri tetap Ibu mertuanya yang harus dia hormati dan dia sayangi seperti dia menyayangi Zainal.
Namun untuk saat ini Santi belum mau bertemu dengan ibu mertuanya terlebih dahulu. Dia menunggu saat yang tepat untuk bertemu Ibu mertuanya, dan dia sendiri yang akan datang ke kantor Polisi untuk menjenguk Ibu mertuanya.
Kedatangan Zainal dan keluarga kecilnya sudah ditunggu-tunggu oleh Bagas. Bagas yang memang sengaja memberi sambutan kecil untuk dua keponakan nya Kiki dan Koko.
" Wah terima kasih ya Om Bagas Kiki suka sama balon-balon ini nanti kalau Kiki sama-sama Koko ulang tahun Om Bagas ya yang menghias ruangannya. Kata Papa nanti saat kami ulang tahun mau dirayakan." Ucap Kiki dengan bahagia dan penuh semangat.
" Siap Princess kecilnya Om Bagas. Nanti Om Bagas yang akan menyiapkan semua dekorasinya saat twins ini ulang tahun." Ucap Bagas membuat kedua keponakannya semakin sangat menyayanginya.
Kedua anak itu pun berlari ke kamar mereka masing-masing. Kini mereka sudah mempunyai kamar masing-masing, sebelum menikah dengan Santi. Zainal memang sudah merenovasi sedikit rumahnya untuk memisahkan kamar kedua anak-anaknya.
Sedangkan Santi masuk ke kamarnya untuk membereskan pakaian yang dia bawa, dan memberikan ruang untuk Zainal dan Bagas agar lebih leluasa untuk berbincang.
" Mana Rendra Gas ? Kok tidak kelihatan ? motornya juga tidak terlihat, biasanya motor itu selalu stand by di teras." Tanya Zainal yang memang sedari dia datang tidak melihat keberadaan Rendra.
" Mas Rendra pergi. Katanya lagi mau cari pekerjaan, sepertinya dia sudah mulai sadar Mas." Ucap Bagas.
__ADS_1
" Syukurlah kalau dia memang sudah sadar, setidaknya dia hidup bisa lebih berguna juga. Tidak selalu membuat pasangan hidupnya susah, dengan dia bekerja setidaknya dia punya kesibukan sehingga tidak berlarut-larut memikirkan masalah rumah tangganya dan masalah ibu." Seru Zainal kini lebih sering bicara dengan bijak.
Bagas benar-benar kagum dengan perubahan sikap Zainal. Zainal yang sekarang lebih ramah, baik, sopan dan mementingkan kebahagiaan keluarganya. Tidak seperti Zainal yang dulu, yang sombong ,cuek dan bahkan tidak perduli dengan keluarganya sendiri. Bagas juga sangat berharap, suatu saat Rendra juga bisa hidup seperti Zainal. Dia bisa berubah dan menemukan kebahagiaannya dengan wanita yang benar-benar tepat, benar-benar mau menerima segala kekurangan dan kelebihan Rendra.
" Mas Zainal sudah bicara sama Mas Rendra masalah ibu ? dan bagaimana tanggapan Mas Rendra?."Tanya Bagas ingin tahu karena dia dan Rendra tidak pernah lagi membahas masalah hukum yang sedang dijalani ibunya.
" Iya kemarin aku sudah menemui ibu, dan sepulang dari sana aku mampir ke rumah bertemu sama Rendra. Rendra sepertinya juga seperti kita, akan membiarkan ibu di penjara. Sebab dia juga tidak ada biaya kan untuk menyewa pengacara dan menjamin kebebasan ibu." Ycap Zainal lagi.
" Iya Mas bahkan waktu itu mas Rendra pernah datang ke rumah Mbak Anisa untuk meminjam uang 300 juta. Dan beruntungnya mbak Anisa dan mas Riko tidak memberikannya. Jujur saja saya malu sama mbak Anisa jika sampai dia harus dilibatkan dalam masalah Ibu ini. Selama ini mbak Anisa sudah cukup menderita karena ulah ibu dan mas Rendra." Seru Bagas dengan menatap ke arah luar rumah. Sepertinya dia mengingat semua keburukan Ibunya dan Rendra terhadap Anisa.
Zainal setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bagas. Dia tidak akan membawa-bawa Anisa dalam masalah yang saat ini dihadapi oleh ibunya, bagaimanapun Anisa saat ini tidak ada hubungan keluarga lagi dengan ibunya. Hanya sebatas mantan menantu saja dan sekarang Anisa sudah menikah dan bahagia dengan suami barunya. Justru Zainal menganggap ini semua Karma untuk ibunya.
Seandainya saja kemarin Zainal tahu jika Rendra akan meminjam uang kepada Anisa sudah pasti Zainal akan memarahinya. Rendra justru mempermalukan dirinya sendiri, Anisa yang tadinya tidak tahu akan tahu masalah yang saat ini sedang menimpa sang ibu.
" Oh ya sudah kalau begitu terima kasih ya Gas atas sambutan kamu ini. Anak-anak jadi bahagia dan senang datang ke rumah ini lagi. "Ucap Zainal tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Bagas.
" Iya Mas sama-sama." Jawab Bagas singkat.
Setelah berpamitan Bagas pun keluar rumah dan pulang ke rumahnya sendiri. Rumah yang saat ini hanya dia tempati bersama Rendra saja. Sudah tidak ada lagi suara terikan dari sang ibu, tidak ada lagi suara amarah dari sang ibu. Rumah itu sekarang kelihatan sunyi dan sepi.
" Bagas sudah pulang Mas?" Tanya Santi yang baru saja selesai menyusun pakaiannya ke dalam lemari.
" Sudah San, baru saja. Oh oya untuk makan siangnya kita pesan online saja ya ? karena mas lupa mengisi kulkas terlebih dahulu. "Ucap Zainal.
" Iya mas tidak apa-apa, pesankan saja soto daging sama perkedel kentang. Sudah itu saja tidak perlu banyak-banyak." Seru Santi dengan lembut sembari tersenyum hangat kearah Zainal.
__ADS_1
" Oh ya sudah kalau begitu Mas pesan itu saja ya? Apa kamu sudah selesai membereskan pakaiannya ? kalau sudah, lebih baik kamu istirahat saja dulu. Mas yang akan melihat anak-anak kekamarnya. Nanti mas juga yang akan menyusun pakaian mereka." Ucap Zainal dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Santi mengangguk setuju Sebab Dia sendiri Memang sudah sangat lelah dan letih saat zainan keluar dari kamar senti lebih memilih merebahkan tubuhnya dan mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur yang sudah lama dia rindukan.
* Alhamdulillah akhirnya aku bisa kembali ke rumah ini lagi, dan merasakan nyamannya tidur di kasur ini. Tapi untuk kali ini aku kembali ke rumah ini dengan Santi yang berbeda, bukan Santi yang dulu lagi. mungkin seandainya dari dulu aku dan mas Zainal bersikap seperti ini, aku dan mas Zainal tidak akan pernah bercerai.* Gumam Santi dalam hatinya.
Santi memejamkan matanya karena memang sangat lelah, sehingga hanya beberapa menit saja Santi sudah terlelap dan tertidur dengan nyenyak.
Sementara itu saat ini Anisa dan Riko, sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. Kandungan Annisa saat ini sudah memasuki usia ke 4 bulan dan hari ini mereka akan melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anaknya.
" Bagaimana dokter Apa jenis kelamin anaknya sudah bisa kelihatan?" Tanya Riko yang sangat semangat untuk mengetahui jenis kelamin anaknya.
" Ini jenis kelaminnya tidak kelihatan Pak, sepertinya dedek bayinya sedang malu-malu sehingga dia menutupnya. Tapi kalau dilihat-lihat sih sepertinya dedek bayinya cowok, tapi ini hanya perkiraan saya saja ya Pak. Semuanya masih bisa berubah kapanpun karena memang belum terlihat secara nyata." Ucap sang dokter menjelaskan.
" Iya dokter tidak apa-apa. Kenapa ya kok anak di dalam rahim saja bisa malu-malu seperti itu ya? Padahal di sana kan tidak ada siapa-siapa? Apa saat dijengukin papanya juga dia akan seperti itu ?." Tanya Riko mulai bicara yang membuat Anisa merasa malu.
Bagaimana tidak malu jika Riko bicara mengarah ke urasan ranjang. Suaminya itu kalau bicara sekarang memang asal jeplos. Beruntung orang yang dia ajak bicara dokter kandungan jadi Anisa tidak malu - malu amat.
" Apaan sih mas ?" Seru Anisa.
" Heheee... Keceplosan sayang." Ucap Riko sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Riko membantu Anisa turun dari brankan, Anisa segera meminta resep obat dan vitamin kepada dokter agar mereka tidak terlalu lamu di dalam ruangan prakter dokter. Agar tidak tetjadi pertanyaan- pertanyaan yang semakin aneh dan tidak masuk akal yang akan ditanyakan oleh Riko.
*********
__ADS_1