
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Hari berikutnya Rendra datang kerumah Pakde Warso, dia menyampaikan keinginannya untuk meminjam uang. Dan dia juga memberitahu jika ibunya saat ini ada dipenjara, ternyata Pakde Warso sudah tahu dari Bagas. Bagas sudah memberitahunya lewat sambungan telepon.
" Biarkan saja ibu kamu dalam penjara , biar dia mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tidak semua orang bisa dia perlakukan seenaknya saja. Kamu saja yang bodoh, tidak bisa tegas dengan ibu. Kamu tuai sendirikan apa yang selama ini kamu tanam. Rumah tangga berantakan, pengangguran , tabungan tidak punya. Lengkap sudah nasib malang kamu, Rendra." Ucap Pakde Warso sambil geleng - geleng kepala.
Rendra hanya bisa menunduk, dia memang dari dulu paling takut dengan Pakde Warso. Orang yang tegas, galak tetapi dia baik hati.
" Terus kamu datang kesini untuk pinjam uang? Kamu mau usaha bengkel? Kamu kira cukup uang sedikit? Kamu harus beli peralatannya, belum bangun tempatnya. Paling tidak hampir 100 juta itu , Rendra. Daripada uang itu habis terbuang lebih baik aku tabungkan saja, dan kamu ikut aku bertani saja." Ucap Pakde Warso tegas.
Rendra hanya bisa menelan salivanya sendiri, bagaimana bisa dia harus ikut bertani dengan Pakde Warso. Sedangkan dia tidak ada keahlian di bidang pertanian, memegang cangkul pun dia tidak pernah. Apalagi jika terkena sinar matahari, sudah pasti dia tidak akan sanggup menjalani sebagai seorang petani.
" Tapi Pakde, Rendra tidak tahu sama sekali soal bertani. Jadi bagaimana bisa Rendra ikut dengan Pakde mengolah lahan dan sawah itu."Jawab Rendra menolak secara halus.
" Asal ada kemauan semua bisa teratasi Rendra, dulu Pakde juga tidak bisa tapi Pakde belajar. Kalau kamu mau nanti pak ajarin."Ucap di Pakde Warso membuat Rendra semakin terpojok.
Rendra hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Selama ini tidak ada impiannya untuk menjadi petani, jangankan bermimpi menghayalkan atau membayangkan saja dia tidak pernah. Padahal dulu ayah Rendra meskipun seorang PNS dia juga seorang petani yang sukses. Sawahnya ada di mana-mana tetapi, setelah Ayahnya sakit banyak sawah yang terjual untuk biaya pengobatan ayahnya. Namun penyakit ayahnya tidak bisa disembuhkan juga.
" Sepertinya Rendra tidak bisa Pakde, bahkan sawah rendra dulu saja digarap sama Pakde kan?"Ucap Rendra mencoba menolak.
__ADS_1
" Aku tidak menggarapnya secara cuma-cuma, ibu kamu yang sudah menggadaikan sawah itu kepada Pakde. Jadi wajar dong kalau Pakde menggarapnya, tapi sekarang sawah itu kan sudah menjadi milik Pakde. Kamu sudah menjualnya. Tapi kalau memang kamu tidak bisa bertani ya sudah. Kamu coba aja cari pekerjaan yang lainnya, yang pasti pakde tidak mau meminjamkan uang jika kamu mau buka usaha. Kamu sendiri memang tidak punya keahlian mau sok buka usaha." Ucap Pakde Warso panjang lebar.
Rendra hanya menunduk pasrah saja, harapannya satu - satunya ternyata juga tidak mau meminjamkan uang kepadanya. Akhirnya Rendra memilih untuk pulang, karena yang diharapkan Rendra tidak ada hasilnya. Dengan langkah gontai Rendra melangkah menuju motor nya, harta satu - satunya yang dia punya.
" Jika aku jual motor ini kira - kira laku berapa ya ? Tapi aku mau kemana - mana juga susah." Ucap Rendra bermonolog sendiri.
AAarrrrgggghhhh...
Rendra berteriak diatas motor sembari mengendarai motornya. Dia terlihat frustasi dengan jalan hidupnya yang semakin rumit. Semua orang yang dia harapkan tidak mau membantunya. Sebenarnya Pakde Warso tidak mau membantu Rendra, karena memang Rendra tidak mempunyai keahlian. Mau buka bengkel juga Rendra tidak tahu banyak mesin, dulu saja saat SMA memang dia sekolah mesin tapi sudah sekitar 15 tahun yang lalu dan tidak pernah dipraktekkan juga.
Sesampainya Rendra dirumah dia melihat ada sebuah mobil terparkir dihalaman rumahnya. Rendra segera turun dari Motor dan melihat siapa yang datang. Namun pintu rumahnya saja tetap terkunci.
" Rendra !!" Panggil seseorang dari arah rumah Zainal.
" Nadin kamu sama siapa sayang ? Dan ini mobil siapa ? Kamu beli mobil baru?" Tanya Rendra beruntun masih memanggil Nadin dengan panggilan sayang.
" Ssssttt... Jangan panggil aku sayang karena sebentar lagi kita akan bercerai. Ini memang mobil baruku, mobil ku yang lama aku jual. Oh iya aku datang kesini karena mau memberikamu ini. Itu surat dari pengadilan, 3 hari lagi sidang pertama perceraian kita. Aku sarankan sih, kamu tidak perlu datang sehingga akan mempermudah semua proses perceraian kita. Aku sengaja meminta surat ini dan mengantarkan langsung sama kamu, agar kamu tahu jika aku tidak main - main dengan perceraian ini." Ucap Nadin sembari surat panggilan dari kantor pengadilan.
Ya Tuhan....
Rendra rasanya ingin menjerit di hadapan Nadin. Nadin begitu serius ingin bercerai, sepertinya tidak ada harapan lagi untuk Rendra bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Nadin.
Tiga kali menikah tetapi tiga kali juga digugat cerai oleh ketiga mantan istrinya. Seandainya ada lomba perceraian, Rendra akan mendapatkan juara dan penghargaan.
" Apa tidak ada kesempatan sekali lagi untuk kita memperbaiki rumah tangga kita Nadin. Lagipula bukan aku kan yang menyebabkan kamu kecelakaan? Semua itu juga ibu yang melakukannya dan kamu sudah memenjarakan ibu. Aku mohon jangan bercerai Nadin, aku ingin rumah tangga kita tetap utuh." Seru Rendra memohon agar Nadin membatalkan perceraiannya.
__ADS_1
" Apa yang mau dipertahankan ? Kamu itu suami tidak berguna ? Kasih uang tidak bisa, apalagi kasih anak ? Pokoknya aku tetap akan melanjutkan perceraian ini. Lagipula aku sudah muak sama kamu, orang yang tidak punya hati. Kamu fikir drama penjebakan kamu dan ibu itu sudah aku lupakan begitu saja ? Tidak Rendra, aku sangat membenci kamu ! Seandainya didunia ini tidak ada hukum, sudah aku habisi kamu !!" Teriak Nadin dengan lantang.
Santi yang sedari tadi mengintip dari jendela rumahnya pun hanya bisa mengusap dadanya. Ternyata Nadin benar - benar marah dan sangat membenci Rendra dan ibu mertuanya. Terlihat sekali Nadin meluapkan amarahnya saat bicara dengan Rendra. Bahkan ada beberapa tetangga yang cukup kepo dengan pertengkaran antara Nadin dan Rendra. Mereka ikut berkumpul di pinggir jalan menyaksikan perdebatan Rendra dan Nadin.
Rendra tidak bisa berbuat apa - apa lagi selain mengiyakan perceraian yang di inginkan oleh Nadin. Mempertahankanpun percuma karena Nadin sudah tidak mau lagi menjadi istrinya. Rendra sadar diri , dia bukan lelaki yang sempurna. Nadin pasti bisa mendapatkan lelaki yang lebih sempurna dari dirinya.
" Baiklah, mulai hari ini kamu aku Talak. Dan semua proses perceraian kamu urus sendiri." Ucap Rendra dengan suara terdengar penuh keterpaksaan.
" Terimakasih . Akhirnya aku bercerai juga dari pria tidak berguna seperti kamu." Seru Nadin memandang sinis kearah Rendra.
Rendra masuk ke rumahnya dan sudah tidak memperdulikan Nadin lagi. Nadin sendiri setelah Rendra masuk ke rumah ,dia juga masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan pekarangan rumah Rendra tanpa pamit terlebih dahulu dengan Santi. Padahal tadi dia menunggu Rendra dirumah Santi dan sempat minum teh juga.
" Aarrrgghh... Kenapa hidupku jadi berantakan seperti ini ! Tiga kali aku menikah tiga kali juga aku digugat cerai oleh istriku. Semua ini gara - gara ibu, iya semua karena ibu. Seandainya ibu tidak ikut campur dalam rumah tanggaku pasti saat ini aku masih bahagia bersama Anisa. " Seru Rendra marah - marah dan mengacak kamarnya.
" Istri tidak punya, uang tidak punya dan aku juga seorang pengangguran. Semua ini gara - gara ibu ! Biar kamu membusuk di penjara saja Bu.!" Teriak Rendra.
Rendra sepertinya benar-benar terpukul, kehidupannya hancur karena dia terlalu mengikuti apa kata ibunya. Tidak semua kesalahan ada pada ibunya, Rendra sendiri yang memang tidak bisa bersikap tegas kepada ibunya. Seandainya Rendra bisa tegas mungkin hidupnya tidak akan seperti saat ini.
" Aku bodoh ! Selama ini aku tidak bisa tegas kepada ibu ! Rasanya aku tidak sanggup lagi hidup seperti ini, aku ingin mati saja." Seru Rendra sambil terisak.
Tidak ada lagi yang bisa Rendra harapkan, semuanya hancur dan kebahagiannya juga sudah hancur. Bahkan dirinya sendiri juga hancur.
* Apakah ini semua hukum karma ku ? * Gumam Rendra dalam hatinya.
********
__ADS_1