Keluarga Suamiku Ternyata Benalu

Keluarga Suamiku Ternyata Benalu
Gagal jual rumah


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Tidak !!!!


Zainal berteriak dengan keras menolak keinginan ibunya dan Rendra yang akan ikut tinggal dirumahnya jika rumah ibu ratri terjual. Tidak ada pilihan lain selain ikut tinggal dirumah Zainal, akan tetapi zainal tidak mengizinkan.


Rendra dan ibunya saling pandang, kalau mereka tidak tinggal dirumah zainal mau tinggal dimana lagi. Apa lagi uang yang diminta nadin harus segera ada jika tidak nadin akan melaporkan mereka berdua kepolisi.


" Zainal, kami ini keluarga kamu dan ibu ini ibu kandung kamu. Apa kamu tega jika melihat ibu tinggal dikolong jembatan ?" Tanya ibu ratri dengan heran.


Sangat heran dengan penolakan zainal, bagaimana dia bisa bersikap pelit dan kikir seperti itu dengan ibu dan adik kandungnya sendiri.


" Iya mas, tolonglah mas jangan seperti ini. Kalau bukan mas, siapa lagi yang akan menolong kami " Ucap rendra dengan memohon.


" Kaliankan mau jual rumah ? Rumah dan tanah itu sekitar 300 - 400 juta laku. Kaliankan bisa sewa rumah atau mengontrak ! Begitu saja kok repot sih " Seru Zainal dengan ketus.


" Uang sisanya mau kami pakai usaha mas, agar kami dapat penghasilan dan tidak merepotkan mas zainal. Ayoklah mas tolong kami, kami janji tidak akan merepotkan mas. Untuk makan minum kami biar kami usaha sendiri, kami hanya numpang tinggal saja. Bagaimana mas ?" Tanya rendra masih saja mencoba merayu Zainal agar zainal mau menampung dia dan ibunya.


Zainal terdiam, sebenarnya dia tidak tega dengan ibunya saja. Rendra terserah mau bagaimana zainal tidak perduli. Akan tetapi dimana ada ibu ratri pasti rendrapun harus ada.


Hhuuuffff


Rendra membuang nafas dengan berat, dia terlihat frustasi dan mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak pernah menyangka jika nasibnya akan serumit ini dan tiga kali rumah tangga tidak ada yang bisa dipertahankan semua.


" Zainal apa kamu tega sama ibu yang sudah melahirkan kamu ?" Tanya ibu ratri dengan mata yang berkaca - kaca.


Zainal semakin tidak tega melihat wajah sedih sang ibu , bagaimanapun ibunya bertaruh nyawa saat melahirkannya.

__ADS_1


" Baiklah ibu aku izinkan tinggal disini. Karena kamar dirumah hanya ada dua, jadi ibu saja yang tinggal denganku tidak denganmu Rendra !" Jawab zainal dengan tegas.


" Zainal biarkan rendra juga tinggal dirumah mu. Setahu ibu rumah kamu ada kamar lagi tapi di belakang rumah. Biarlah itu ditempati oleh rendra kasihan dia nal, ibu mohon sama kamu biar rendra menempati kamar belakang itu " Ucap ibu ratri .


Tidak ada keputusan lain selain mengiyakan permintaan ibunya. Tetapi zainal menampung mereka tidak secara cuma - cuma. Zainal meminta ibu ratri dan rendra yang membersihkan dan merapikan rumah, serta zainal juga membebankan uang listrik kepada rendra dan ibunya.


" Jangan gila kamu Zainal !Cuma numpang tidur dan tinggal disini saja kamu perhitungan. " Sentak ibu ratri dengan kesal.


Sikap sombong, pelit dan perhitungan zainal dari dulu sama sekali tidak berkurang. Justru semakin mendarah daging dalam tubuhnya.


" Tidak mau ya sudah !" Seru zainal dengan santainya.


" Listrik bagi dua ya mas " Ucap rendra bernegosiasi dengan zainal.


" Tidak !" Jawab singkat zainal tetap tidak mau membagi dua tagihan listrik.


" Uang listrik paling hanya 300 ribu gitu saja repot dan harus bagi dua. Pokoknya jika kalian mau tinggal dirumahku harus setuju dengan persyaratan yang aku buat. Pahamkan ?" Tanya zainal penuh penekanan.


Akhirnya setelah menempuh perdebatan panjang rendra menyetujui persyaratan yang diberikan oleh zainal. Tentunya dengan sangat dan sangat terpaksa. Jika ada pilihan lain sudah pasti rensdra tidak akan tinggal dirumah zainal.


" Terserah kamu saja Ndra. Baiklah kita pulang yuk. Sepertinya tadi nadin juga sudah tidak ada dirumah. Dia pergi tapi tidak mengendarai mobilnya, dia naik taksi. " Seru ibu ratri memberi tahu.


Zainal hanya menyimak obrolan antara ibu dan anak itu tanpa mau ikut berkomentar. Akhirnya rendra dan ibu ratri pulang kerumahnya sendiri. Mulai hari ini mereka akan membereskan barang - barangnya. Barang - barang akan mereka pindahkan kerumah Zainal.


" Bu, rumah mas zainal apa muat jika diisi dengan senua barang - barang ini. Rumah mas zainal itu tidak sebesar rumahnya ibu. Jadi apa tidak kita jual saja seperti kulkas, sofa, lemari dan yang lainnya. Kasur juga kita jual saja tah dirumah mas zainal sudah ada. " Ucap rendra.


" Sofa sama kasur ibu jangan ya ? Itu ibu beli dengan harga mahal. Sofa bisa diletakkan di ruang Tv saja, terus kasur dan Tv letakkan dikamar yang akan ibu tempati, jadi kasur dikamar itu bisa kamu pakai dikamar belakang " Ucap ibu ratri mengatur.


Bruummm Bruuummmm Bruuummmm


Terdengar suara motor bagas masuk pekarangan rumah. Mereka hampir saja melupakan keberadaan bagas. Mereka sama sekali tidak mendiskusikan terlebih dahulu dengan bagas jika rumah akan dijual. Bagaimanapun bagas punya bagian dan hak yang sama dirumah itu.


" Memangnya mau kemana buk kok ini beberapa barang ada yang dikardusin ?" Tanya bagas yang saat ini sudah ada dalam rumah.

__ADS_1


" Rumah mau ibu jual dan kita akan tinggal dirumah mas mu Zainal. Tapi kamu tidak bisa ikut tinggal disana gas karena rumah zainal hanya ada kamar dua, tiga sama dibelakang satu itupun sangat kecil. Jadi kamu tinggal dikontrakan temanmu saja ya " Ucap ibu ratri .


" Aku tidak mengizinkan rumah ini dijual ! Ini rumah warisan dari bapak, satu - satunya harta peninggalan bapak yang masih ada. Selagi bagas masih hidup rumah ini tidak ada yang boleh menjual, apa ibu lupa jika rumah ini itu jadi haknya bagas. Silahkan saja kalau ibu mau menjual rumah ini, tapi jangan harap ibu menemukan sertifikat rumah ini. Ingat bu, bagas sekarang sudah 20 tahun jadi bagas berhak menuntut apa yang sudah sewajarnya menjadi milik bagas !" Ucap bagas penuh penekanan.


* Maafkan bagas bu. Bagas hanya tidak mau rumah peninggalan bapak ini ikut raib seperti tanah dan sawah yang lainnya. Bagas sudah merubah surat - surat rumah ini atas nama bagas * Gumam bagas dalam hatinya.


Dua bulan yang lalu bagas mengambil sertifikat rumah yang ada dilemari ibunya tanpa sepengetahuan ibunya. Setelah itu bagas membuat surat kuasa pengalihan nama kepemilikan rumah dan ditangani oleh ibu ratri. Bagas beralasan jika itu surat izin magang dari kampus yang harus di tandatangani oleh orang tua, tanpa fikir panjang ibu ratri langsung menandatangani kertas yang diberikan oleh bagas tanpa membacanya terlebih dahulu.


" Maksud kamu apa gas ? Rumah ini ibu berhak menjualnya karena sertifikat masih atas nama ibu. Tenang saja kamu nanti akan dapat 20 juta dari hasil penjualan rumah ini. Serrifikat ada dilemari ibu " Ucap ibu ratri percaya diri.


" Silahkan cari kalau ada " Jawab bagas dengan santainya.


Selesai bicara seperti itu bagas masuk kamarnya , dia berniat kembali tinggal dirumah ibunya. Sejauh manapun kaki melangkah suatu saat nanti pasti akan pulang kerumah juga.


Ibu ratri mengobrak - abrik lemarinya mencari surat rumah. Namun sudah lama mencari surat itu belum juga ditemukan.


" Mana surat rumahnya bu ?" Tanya rendra menghampiri ibunya kekamar.


" Tidak ada ndra. Sertifikat rumah hilang, biasanya ibu simpan dilaci lemari ini dan lemari selalu ibu kunci dan kunci ibu simpan..Lantas kemana hilangnya ?" Ucap ibu ratri dengan panik.


" Bagas !" Seru ibu ratri dan rendra bersamaan.


Mereka berdua langsung menuju kamar bagas, sengaja pintu kamar tidak bagas kunci agar dua manusia aneh itu bisa dengan mudah masuk kamarnya dan memakinya .


" Mana sertifikat rumah itu Gas ?" Tanya ibu ratri dengan geram.


" Ini. " Seru bagas dengan santainya menyerahkan selembar kertas kepada ibunya.


Ibu ratri langsung menerimanya dan segera membaca sertifikat yang diberikan oleh bagas, kertas itu adalah foto copy sertifikat rumah yang sudah berubah nama kepemilikannya menjadi nama Bagas.


" Kenapa bisa begini ? Kenapa bisa nama kamu yang tertera sebagai pemilik rumah ini ?" Tanya ibu ratri dengan bingung.


* Kalau begini bisa gagal jual rumah dan dapat uang 400 juta. Sebab ada yang sudah menawar rumah ini 400 juta. Padahal buka harga 500 juta, bagas ini memang sialan !* Gumam rendra dengan kesal.

__ADS_1


********


__ADS_2