
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Rendra sudah berada di kantor polisi, saat dikantor polisi Rendra juga bertemu kembali dengan Nadin. Nadin sedang memberikan keterangan kepada polisi. Rendra sudah menghubungi Zainal dan Bagas namun nomor keduanya tidak ada yang aktif. Jika Bagas pasti masih mengikuti kuliahnya, sedangkan Zainal sepertinya memang sengaja mematikan ponselnya karena saat ini Zainal masih berada di rumah mertuanya. Dan akan kembali ke rumahnya esok hari sekalian memboyong Santi dan kedua anaknya.
Selesai memberikan keterangan, Nadin di persilahkan untuk duduk terlebih dahulu agar nanti jika ada yang ingin ditanyakan lagi oleh Polisi Nadin masih ada di tempat.
" Dasar menantu durhaka !! Ibu mertuanya sendiri dipenjarakan benar-benar kurang ajar kamu Nadin !." Seru Ibu Ratri dengan penuh amarah.
" Tenang saja Bu, sebentar lagi aku bukan menantumu lagi. Karena aku sudah melayangkan gugatan cerai ke kantor pengadilan agama. Dan tinggal tunggu dalam beberapa hari ini ada surat panggilan sidang dari pengadilan agama untuk anak kesayanganmu itu. " Jawab Nadin dengan begitu santainya.
" Tolong jangan bahas perceraian terlebih dahulu Din, lebih baik kita fokus kepada masalah kalian berdua ini. Aku minta tolong sama kamu Nadin, tolong cabut laporan kamu dan maafkan Ibuku. Aku tahu ibu salah tetapi kamu bisa lihat sendiri kan Ibu ini sudah tua. Apa kamu tidak kasihan melihat ibu mendekam di penjara?." Ucap Rendra mencoba bernegosiasi dengan Nadin.
" Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi,Rendra. "Jawab Nadin dengan tegas.
Akhirnya sudah tidak ada lagi yang ingin ditanyakan oleh polisi dan Nadin dipersilakan untuk meninggalkan kantor polisi. Sedangkan ibu Ratri harus mendekam di penjara sampai penyelidikan selesai, dan sampai Hakim mengetuk palu dan memberikan hukuman yang sesuai dengan kejahatan yang sudah dia perbuat.
" Rendra kamu harus menyewa pengacara agar ibu bisa bebas dari penjara. Ibu tidak mau dipenjara Rendra, kamu harus membebaskan ibu."Seru ibu Ratri meminta Rendra untuk mencari pengacara.
" Aang dari mana Bu ? Rendra tidak ada uang untuk menyewa pengacara. Ibu juga yang bikin masalah kenapa ibu mencoba mencelakai Nadin, seharusnya ibu bisa mengendalikan diri. "Seru Rendra yang frustasi dengan permintaan ibunya yang tidak masuk akal. Padahal dia sendiri tidak mempunyai uang sepeserpun jangankan untuk menyewa pengacara untuk makan saja dia bingung . Apalagi Nadin sudah menggugat cerai dia.
" Ibu tidak mau tahu pokoknya kalian bertiga harus membebaskan Ibu. Zainal, Bagas dan kamu harus menyewa pengacara. "Ucap Ibu Ratri semakin tidak bisa dibantah lagi.
Rendra membuang nafas dengan kasar dia sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutan hidupnya dengan dirinya yang hanya sebagai pengangguran. Apalagi untuk membayar pengacara. Ibu Ratripun akhirnya dibawa ke sel tahanannya dan Rendra dipersilahkan untuk pergi dari kantor polisi
__ADS_1
Dengan hati yang kacau serta perasaan tidak menentu, Rendra keluar dari kantor polisi menggunakan sepeda motornya.
" Akhirnya wanita tua itu masuk penjara juga. Aku tidak akan pernah mencabut laporanku. Secepatnya masalah ini harus masuk kemeja pengadilan agar wanita tua itu tidak sombong lagi." Ucap Nadin yang kini sudah kembali dirumahnya sendiri.
Nadin mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, lalu Nadin mencari kontak di ponselnya yang bernama Santi. Ya, Nadin ingin menghubungi Santi dan memberitahu Santi jika saat ini Ibu mertuanya sudah mendekam di penjara. Nadin memang belum menceritakan kepada siapapun, siapa pelaku yang sudah menyabotase mobilnya. Tetapi sekarang sudah tidak perlu lagi untuk disembunyikan sebab Ibu Ratri sendiri sudah ditahan di kantor polisi.
[ Halo assalamualaikum. ] Sapa Santi dari seberang sana.
[ Waalaikumsalam pengantin baru. Apa kabar pengantin baru ? Oh iya apa pengantin baru ini sudah tahu kabar heboh hari ini ?.] Tanya Nadin secara beruntun.
[ Kabar kami baik Din. Berita heboh apa yang kamu maksudkan.]
[ Oh kalian belum tahu ? Apa mungkin Rendra belum menghubungi kalian ya. Hemm ya sudah kalau begitu biar aku kasih tahu saja, ini soal kecelakaan yang menimpaku beberapa hari yang lalu dan hari ini pelakunya sudah tertangkap dan sudah mendekam di penjara.]
[ Haaahh kamu serius Din ? Siapa pelakunya? Apa kami mengenalnya?.]
[ Kalian sangat mengenalnya bahkan sangat-sangat mengenalnya. Orang itu adalah ibu mertua kamu sendiri alias Ibu Ratri yang saat ini sebentar lagi akan menjadi mantan ibu mertuaku.]
[ Iya kamu betul sekali Santi. Ya sudah ya aku cuma mau memberitahu itu saja. Sekarang hubungan kamu dan Zainal aman tidak ada lagi orang yang akan mengganggu apalagi ikut campur dalam rumah tangga kamu. Semoga bahagia ya bersama Zainal.]
[ Terus kamu mau bercerai dengan Rendra ?]
[ Iya aku sudah melayangkan gugatan cerai itu Kantor Pengadilan Agama ,tinggal menunggu surat panggilan dari pengadilan saja. Sudah ya San, aku mau istirahat menikmati masa kemenanganku. Assalamualaikum.]
[ Waalaikumsalam.]
Klik
Sambungan telepon dimatikan oleh Nadin. Nadin melempar ponselnya di atas kasur dan dia merebahkan tubuhnya di tengah-tengah kasur besarnya, kasur yang sudah lama tidak dia tempati. Kini hari - harinya akan semakin bahagia sebab orang yang sudah menghancurkan kehidupannya sudah mendekam dipenjara.
__ADS_1
* Meskipun anak yang aku kandung bukan anak dari suamiku, tetapi anak dari kakak iparku sendiri. Aku sudah cukup bahagia saat mengetahui aku hamil. Setidaknya anak itu yang suatu saat nanti menjadi tumpuan hidupku, bisa mengurusku disaat hari tuaku. Tapi semua dihancurkan oleh wanita tua gila harta itu. Aku benci wanita itu, aku benci !!* Gumam Nadin dalam hatinya.
Sementara itu Anisa dan Riko sedang makan siang bersama di salah satu Restoran bintang Lima. Mereka sengaja makan siang direstoran itu sebab Anisa sedang ngidam makan steak yang dijual direstoran itu. Sebagai seorang suami yang baik dan pengertian sudah pasti Riko akan menuruti apapun yang diminta oleh Anisa.
" Mau nambah sayang ?" Tanya Riko saat melihat Anisa memakan steaknya dengan lahab.
" Tidak mas. Ini saja sudah cukup, ini juga masih ada menu yang lainnya yang belum dimakan." Jawab Anisa sambil mengunyah makanannya.
" Hemmm.. Baiklah. Calon anak papa ini memang pintar ya ? Minta makan yang dijual di restoran bintang 5, tidak apa - apa ya sayang berkelas sedikit." Ucap Riko terkekeh sembari mengusap perut Anisa yang sudah mulai kelihatan kehamilannya.
Anisa hanya tersenyum dan mengangguk sembari menikmati makanannya. Dia sangat bersyukur mempunyai suami seperti Riko. Riko sangat menyayanginya, sangat memanjakannya dan sangat pengertian. Sedikitpun Riko tidak pernah menyinggung perasaannya, bahkan tidak pernah bicara dengan kasar Riko benar-benar meratukan Anisa. Padahal saat menikahi Anisa,Anisa adalah seorang Janda. Riko sama sekali tidak pernah menyinggung status jandanya.
" Ehhh... Sayang. Aku mau bicara soal Rendra apa kamu memperbolehkannya. " Tanya Riko hati - hati khawatir membuat Anisa tersinggung karena harus membicarakab soal mantan.
" Ada apa dengan mas Rendra?." Tanya Anisa dengan penasaran.
" Begini sayang. Heemm beberapa hari yang lalu yang lalu, Rendra datang ke perusahaan. Dia meminta pekerjaan kepadaku, tetapi sampai sekarang aku belum memberikannya. Karena aku ingin mendiskusikannya kepada kamu terlebih dahulu. Aku kasihan sama Rendra, sampai dia memohon - mohon agar bisa diterima di perusahaan itu lagi. Apapun pekerjaan yang akan aku berikan dia akan menerimanya. Menurut kamu bagaimana sayang?" Tanya Riko meminta pendapat dari Sang istrinya terlebih dahulu.
Anisa meletakkan sendoknya lalu meminum segelas air putih yang ada di hadapannya. Anisa memandang ke arah sang suami, yang terlihat sekali wajahnya sangat takut. Riko memang takut jika Anisa akan marah atau tersinggung dengan kata-katanya tadi.
Jujur sebenarnya Anisa sudah tidak mau lagi berhubungan dengan mantan keluarga suaminya. Terutama Rendra dan ibu Ratri, kedua orang itu sebisa mungkin Anisa jauhi. Namun demi kemanusiaan akhirnya Anisa pun mengizinkan Rendra bekerja di perusahaan suaminya.
" Jika dia memang masih pantas untuk bekerja di perusahaanmu mas, aku tidak masalah." Jawab Anisa sambil tersenyum hangat memastikan jika dirinya memang baik-baik saja.
" Kalau soal pekerjaan, selama dia bekerja di perusahaanku pekerjaan dia bagus, baik dan memang hanya ada beberapa masalah kecil saja itupun di akhir-akhir sebelum pemecatannya. Saat ini yang ada hanya sebagai salah satu staff marketing saja. Apa kamu mengizinkan." Tanya Riko lagi ingin meminta persetujuan dari Anisa
" Iya mas tidak apa-apa." Jawab Anisa sambil mengangguk pasti.
Anisa merasa senang karena Riko menanyakan terlebih dahulu kepada dirinya, meskipun sebenarnya Riko tidak perlu menanyakan masalah ini kepada Anisa. Sebab perusahaan itu adalah milik Riko, Anisa hanya sebagai istri. Dengan begitu berarti Riko sangat menghargai perasaan Anisa dan sangat menghargai keberadaan Anisa sebagai istrinya.
__ADS_1
* Terimakasih mas sudah melibatkanku disaat kamu hendak mengambil keputusan.* Gumam Anisa dalam hatinya.
**********