
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Waktu semakin bergulir, Rendra dan Nadin sudah resmi bercerai dan kini hubungan Rendra dan Erika juga semakin membaik. Semenjak mereka bertemu dan saling memaafkan Erika dan Rendra sering berkirim pesan. Pagi ini, Anisa dan Riko sengaja datang kerumah Rendra untuk memenuhi undangan Bagas seminggu yang lalu.
" Maaf ya mas aku dan suamiku baru bisa datang menjengukmu hari ini. Karena selama seminggu ini mas Riko ada pekerjaan diluar negeri jadi baru bisa hari ini datang kesini." Ucap Anisa menjelaskan kenapa dia dan Riko baru bisa datang.
" Iya Anisa tidak apa - apa. Terimakasih sudah mau datang kesini. Pak Riko terimakasih atas waktunya." Seru Rendra dengan sikap ramahnya.
" Sama - sama Rendra. Panggil Riko saja jangan pak." Ucap Riko mengingatkan.
Rendra pun hanya menganggukkan kepalanya. Rendra pun menyampaikan apa yang seharusnya dia sampaikan, dia mengucapkan kata maafnya kepada Anisa dan Riko. Dia juga menyampaikan rasa maafnya, karena waktu itu sudah sempat marah-marah di rumah Anisa saat akan meminjam uang untuk menjamin ibunya keluar dari penjara.
Anisa dan Riko sudah memaafkan semua kesalahan Rendra. Bahkan mereka sudah melupakan semuanya dan menganggap semuanya itu tidak pernah terjadi. Baik Anisa maupun Riko, tidak mau mempunyai musuh ataupun tidak mau membenci seseorang. Memaafkan itu lebih mulia daripada bermusuhan.
" Aku dan istriku sudah memaafkan semua kesalahan kamu. Semoga apa yang pernah terjadi di masa lalu tidak akan pernah terulang lagi, dan jadilah pria yang bertanggung jawab dan bisa memperbaiki kehidupan kamu. Jangan pernah menyalahkan seseorang atas semua yang sudah terjadi pada dirimu." Ucap Riko mencoba menasehati Rendra dan memberi semangat untuk Rendra.
" Terima kasih Riko, Anisa. Kalian memang orang baik. Terutama kamu Anisa, berkat kamu orang-orang yang dulu bersikap buruk terhadapmu, orang-orang yang dulu membencimu justru sekarang mereka sudah berubah lebih baik. .bak Santi, Erika mereka dulu seperti apa kamu pasti tahu? Namun sekarang mereka sudah jauh lebih baik, bahkan mereka dengan ikhlas memaafkan semua kesalahanku. Riko kamu pantas mendapatkan Anisa dan Anisa pantas mendapatkan suami sebaik kamu." Ucap Rendra penuh rasa kejujuran.
" Mereka semua berubah menjadi lebih baik atas kemauan mereka sendiri mas, bukan karena aku. Aku hanya mencoba menjadi teman yang baik bagi mereka. "Ucap Anisa tidak mau terlalu dipuji oleh Rendra.
Menurut Anisa perubahan sikap baik Erika dan Santi bukan karena dirinya, tetapi karena kemauan dari mereka yang ingin merubah dirinya untuk jauh lebih baik lagi. Anisa sebagai teman hanya mendukung dan mengarahkan kebaikan untuk mereka.
" Terima kasih atas semua kebaikan kalian."Seru Rendra berterima kasih atas semua kebaikan Anisa dan Riko selama ini.
" Sama-sama kalau begitu kami berdua permisi lebih dulu karena hari ini kami ada acara di perusahaan. Tadi kami menyempatkan diri untuk datang ke rumahmu terlebih dahulu."Ucap Riko berpamitan.
" Iya silakan, terima kasih sudah mau datang dan menjengukku. Oh iya terima kasih untuk oleh-olehnya, Semoga Allah membalas kebaikan kalian berdua. Dan semoga kamu dan bayi dalam kandungan mu selalu sehat-sehat."Ucap Rendra dengan tulus.
__ADS_1
" Aamiin." Jawab Anisa dan Riko bersamaan.
Anisa dan Riko bangkit dan keluar dari rumah, mereka menghampiri mobil yang terparkir di depan rumah. Lalu Riko segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan tempat tinggal Rendra. Mobil melaju menuju perusahaan.
Santi yang memang sedari tadi ada di rumah, baru saja keluar untuk menghampiri Anisa. Ternyata Anisa sudah tidak ada, Santi memang tadi sengaja tidak mau ikut bergabung dengan mereka agar Rendra lebih leluasa saat berbicara.
" Loh Anisa sudah pulang ya Ndra?."Tanya Santi karena tidak mendapati mobil Anisa yang ada di halaman rumah. Padahal dia sudah tahu kalau mobilnya tidak ada pasti Anisa sudah pulang, daripada tidak ada yang ditanyakan ya San?
" Sudah mbak baru saja. Mbak Santi kenapa dari tadi nggak keluar rumah, mungkin Anisa mengira mbak tidsk ada dirumah. Mereka juga buru-buru mbak, sebab ada acara di perusahaan. Ini kan masih hari kerja mbak, wajarlah mereka orang kantoran. Oh iya mbak, ini ada oleh - oleh dari Anisa mbak ambil sebagian untuk Kiki dan Koko." Ucap Rendra sembari menunjul kearah kantong plastik yang ada diatas meja.
" Iya nanti mbak akan ambil. Rendra, hari ini putusan sidang kasusnya ibu. Kamu mau datang kesana tidak ? Kalau kamu mau datang kesana nanti bareng saja, biar mbak pesan taksi online. Nanti Kiki dan Koko biar mbak titipkan dirumah orang tuaku saja." Seru Santi mengingatkan Zainal jika hari ini adalah sidang terakhir ibu Ratri.
Rendra terdiam sesaat, dia hampir saja melupakan keberadaan ibunya yang saat ini masih mendekam di penjara. Sudah lama Rendra tidak menjenguk ibunya, lebih tepatnya semenjak dia kecelakaan dan tidak bisa berjalan. Sudah hampir satu bulan Rendra tidak keluar rumah juga, keluar rumah hanya saat kontrol kedokter. Bahkan untuk terapi saat ini Rendra belum mau, sebab dia tidak mau merepotkan kedua saudaranya.
" Jam berapa sidangnya mbak."Tanya Rendra dengan wajah lesu.
" Jam 1 atau setengah 2 siang ini Ndra." Jawab Santi.
" Baiklah mbak nanti aku ikut. Sudah 1 bulan ini aku tidak bertemu ibu. Bukannya sidang ibu seharusnya dua minggu yang lalu ya mbak ? Kenapa baru sidang sekarang?" Tanya Rendra heran.
Rendra menggeleng dia bisa sendiri sebab tangannya sudah sembuh. Tidak merasa nyeri lagi, jadi dia sudah bisa memungsikan kursi rodanya sendiri.
********
Jam satu siang Rendra dan Santi sudah sampai di kantor pengadilan. Disana sudah ada Bagas dan Zainal juga. Tidak ketinggalan Nadin juga ada disana. Bagas menghampiri Rendra dan membantu mendorong kursi rodanya.
" Kamu kenapa ?" Tanya Zainal yang melihat wajah gugup Santi.
" Aku gugup mas, karena ini pertama kalinya aku bertemu ibu setelah kita menikah. Selama kita menikah ini, aku belum pernah bertemu Ibu. Bahkan aku juga belum pernah menjenguk ibu selama dia di penjara. Aku masih takut nanti ibu memakiku dan memarahiku." Jawab Santi dengan jujur.
Sampai sekarang Santi memang masih takut bertemu dengan ibu mertuanya, sampai-sampai semenjak Ibu mertuanya di penjara dia belum pernah sekalipun Santi menjenguknya.
" Sudah tenang saja. Ibu tidak akan memarahimu, apalagi dia lagi mau menghadapi persidangannyan. Ya sudah kalau begitu sekarang kita masuk, sebentar lagi sepertinya sidang akan segera dimulai."Ucap Zainal mengajak mereka semua masuk.
__ADS_1
Nadin dan pengacaranya juga masuk lebih dulu. Zainal dan adik-adiknya juga masuk ke ruangan persidangan. Mereka tidak menyewa pengacara mereka menyerahkan semua permasalahan kemeja persidangan dan akan menerima semua keputusan dari hakim.
" Untuk apa kalian datang kesini jika tidak bisa membuat aku bebas. Untuk apa juga kamu ajak wanita kurang ajar ini ke sini. Ingat ya Zainal sampai kapanpun aku tidak mau mengakui wanita miskin ini sebagai menantuku. Sudah benar-benar Ibu mencarikan kamu calon istri yang kaya dan baik. Tapi tetap saja kamu memilih mantan istri kamu yang miskin ini." Seru Ibu Ratri sambil melirik tajam ke arah Santi.
Zainal sangat heran dengan kelakuan ibunya, sudah hampir 2 bulan mendekam di penjara tetapi sama sekali tidak bisa berubah. Justru terlihat semakin bersikap semaunya.
Mata Ibu Ratri memandang ke arah dimana ada seorang pria yang sedang duduk di kursi roda. Pandangan Ibu Ratri terlihat sangat menyimpan rasa kasihan terhadap orang itu, tiba-tiba matanya mengembun dan berkaca-kaca.
" Rendra."Seru ibu Ratri dengan suara serak menahan tangisnya.
" Iya bu ini Rendra. Maaf Rendra baru bisa datang, sebab ibu lihat sendiri bagaimana keadaan Rendra sekarang. " Ucap Rendra memaksakan mengulas senyum meskipun saat ini hatinya sangat perih.
" Kamu anak ibu yang selalu menurut apa kata ibumu ini. Kenapa kamu jadi seperti ini? Ibu sedih melihat keadaan kamu Rendra. Setelah kamu terpuruk seperti ini tidak ada lagi anak ibu yang peduli dengan ibumu ini. Mereka semua justru membiarkan ibu mendekam dipenjara." Ucap ibu Ratri dengan terisak.
" Maaf " Ucap Rendra pelan.
Suasana haru itu tiba - tiba dikagetkan oleh kedatangan salah satu anggota kepolisian yang meminta ibu Ratri segera duduk di kursi panasnya seban sidang akan segera dimulai. Ibu Rarti tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti apa kata polisi tadi.
Kini Zainal dan adik - adiknya serta Santi sudah duduk di kursi yang sudah disediakan. Persidangan Ibu Ratri juga sudah mulai, mereka semua mengikuti sidang dengan tertib tidak ada satupun yang mencoba membuat kegaduhan. Mereka semua sudah pasrah dan menerima semua keputusan sidang.
Sebelum kasus ibu Ratri bergulir dimeja persidangan, Santi dan Zainal sudah pernah menemui Nadin agar Nadin mau mencabut laporannya dan mereka akan memberikan uang ganti rugi untuk Nadin. Namun Nadin tidak mau dan kekeh untuk tetap melanjutkan kasusnya. Untuk menyewa pengacarapun tidak mungkin akan memenangkan kasus itu, sebab semua bukti - bukti sangat akurat. Ada rasa kasihan pada diri Zainal untuk ibunya, sebab ibunya dulu sangat memanjakannya dan menomor satukan dia.
Tok Tok Tok
Akhirnya sidang kasus yang dialami oleh ibu Ratri sudah selesai. Hakim sudah memutuskan Ibu Ratri mendapat hukuman 5 tahun penjara. Ibu Ratri langsung menangis histeris setelah Hakim memvonisnya 5 tahun penjara.
Ketiga anaknya juga merasakan kesedihan yang saat ini dirasakan oleh ibunya. Sebagai seorang anak tentunya mereka menginginkan yang terbaik untuk ibunya, tetapi tidak dengan dipenjara. Namun semuanya bukan salah mereka, ibu Ratri sendiri yang sudah membuat hidupnya menderita seperti itu.
" Aku tidak mau dipenjara. Aku ingin pulang !! Semua ini gara - gara wanita pelit itu!" Seru Ibu Ratri sambil menunjuk kearah Nadin dengan tatapan yang tajam.
" Jangan pernah menyalahkanku Bu. Aku sampai bersikap seperti ini semua juga karena ulahmu. Jika hanya makian, hinaan dan perlakuanmu yang tidak baik. Aku masih bisa terima, tapi kamu sudah berusaha menghabisi nyawaku sampai anak dalam kandunganku pun harus menjadi korban. Kamu harus mempertanggungjawabkan semua kesalahan mu." Seru Nadin tanpa ada rasa iba sedikitpun.
Ibu Ratri semakin menangis meraung-raung membuat ketiga anaknya merasa iba dengan apa yang saat ini dialami oleh ibu kandung mereka. Seburuk apapun kelakuan seorang ibu pasti seorang anak akan merasa iba dan kasihan, mereka tidak melupakan kasih sayang ibunya. Namun semua yang terjadi tidak bisa disalahkan, mungkin memang sudah takdir hidup ibu Ratri seperti ini.
__ADS_1
*********