
BRAK.....
Eldania seketika itu meletakkan satu peti kotak kayu penuh dengan kentang yang sudah dikupas semua tanpa meninggalkan jejak kotoran sedikitpun, tepat di depan tiga orang wanita yang masih sibuk mengupas wortel.
"K-kau.....sudah mengupas semua kentang ini?!" Tanya wanita yang sedang duduk dengan wortel di tangan kirinya masih separuh bersih dari kulit seketika tercengang.
Dan ketiga orang itu masih menatapnya dengan wajah terkejut mereka, bagaimana bisa dalam waktu kurang dari setengah jam sudah bisa menyelesaikan satu tugas yang bisa memakan satu jam untuk sekedar mengupas kulit kentang sebanyak satu kotak peti kemas?
"Kau pasti minta bantuan orang lain kan?" Bertanya lagi. "Tidak mungkin bisa membersihkan kentang ini dalam waktu singkat, padahal kami yang bertiga saja butuh waktu satu jam."
Sesaat gadis ini melirik ke arah mereka secara bergantian. "Kenapa peduli sama prosesnya? Bukankah yang penting aku sudah mengerjakan bagianku?" Ucapnya.
Mendengar pernyataan yang cukup dijadikan bahan untuk merendahkan mereka, wanita ini langsung memberikan perintah berikutnya. "Jika sudah selesai, selanjutnya iris semua bawang merah dan bawang putih itu!" Sambil menunjuk ke arah pojok tenda, disana sudah terlihat satu baskom penuh berisi bawang putih dan bawang merah yang sudah dikupas.
Dan Eldania disuruh untuk mengiris semua itu?
Tanpa sepatah kata lagi Eldania mengambil perintah itu tanpa komentar apapun.
[Memangnya siapa dia disini? Hanya anak baru, tapi kata-katanya tadi cukup sombong sekali.] Batinnya.
Eldania yang melihat ratusan bawang putih dan merah sudah ada di depannya, dia sangat yakin bahwa kali ini dia akan perang dengan air mata. [Aku sempat mencarinya, tapi tidak menemukan batang hidung kesatria itu. Lalu...semenjak aku datang ke sini, hidungku jadi lebih sensitif untuk mencium aroma daging bakar. Apa mereka juga sedang mengadakan pesta BBQ?] Dalam diam Eldania terus terpikirkan dengan aroma lain yang dia cium selama beberapa waktu ini.
Aromanya bukan berasal dari tenda yang sedang dia tempati.
Tanpa membuang waktu lagi Eldania kemudian menggunakan kacamatanya dan memulai pekerjaan bagian kedua yang baginya justru lebih mudah dari pekerjaan pertamanya. Dia tinggal mengirisnya saja dan itu juga adalah salah satu keahliannya.
Dalam seketika itu Eldania langsung mengiris bawang merah dan bawang putih dengan cepat dan lagi-lagi membuat semua orang yang ada di dalam tenda itu mematung dengan kecepatan yang diperlihatkan oleh Eldania dalam mengiris bawang.
__ADS_1
Kurang dari lima belas menit dia akihirnya menyelesaikannya, sekaligus sebagai orang yang baru saja memecahkan rekor tercepat.
[Hebat sekali.] Seorang wanita yang akan mengisi panci dengan air langsung terpaku dengan orang baru yang baru kali dia lihat di tenda dapur.
[Dari mana anak ini berasal? Aku baru pertama kali melihat anak ini di sini. Tapi dari pada itu, gerakan tangannya yang sangat cepat itu bukanlah tangan yang dilatih hanya untuk satu dua tahun saja, itu adalah tangan yang sudah punya jam terbang paling banyak diantara kami semua.] Wanita ini juga turut terpana sekaligus terus memperhatikan Eldania yang mulai melakukan pekerjaan lain dengan kedua tangannya yang sedang dalam bekerja untuk memotong wortel dan terong yang sebenarnya semua bahan itu jumlahnya cukuplah banyak.
__________
"Bagaimana keadaan dindingnya?" Tanya Ksatria Evan kepada rekannya.
Kesatria ini menjawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari dinding yang seharusnya masih kokoh itu. "Masih dalam proses perbaikan. Karena retak nya tidak sekedar ada di sini saja, tapi di tempat lain juga."
"Apa nona Irine tidak bisa memperbaikinya?"
Salah satu alisnya terangkat. "Hmm? Nona Irine kan tipe penyihir tempur."
"Bicara itu memang mudah. Sayangnya tipe penyihir yang seperti itu tidak begitu banyak. Penyihir lebih dominan menguasai teknik untuk menyerang, karena upah dari seorang penyihir tempur itu cukuplah lumayan jika sudah masuk medang perang." Jelasnya.
"Dari penjelasanmu, kamu terdengar lebih tahu tentang mereka." Evan berpikir kalau kesatria yang satu ini terlihat lebih mempunyai pengetahuan tentang penyihir, padahal orang ini adalah kesatria yang baru direkrut tiga bulan yang lalu.
Orang ini hanya meliriknya sekilas. Hingga di detik yang sama seseorang datang ke arah mereka berdua dengan cara berlari.
Evan dan rekannya itu berbalik ke belakang lalu langsung mendapatkan sebuah laporan penting tepat saat ksatria itu sampai didepan mereka berdua.
"Apa yang terjadi?" Tanya Evan.
"Saya ingin melaporkan, dinding di sebelah barat runtuh!"
__ADS_1
Kedua orang ini terkejut, tepat di hari yang sama situasi paling mendesaknya adalah dinding akhirnya runtuh juga.
"Sudah pasti banyak monster yang kegirangan bisa membobol tembok yang sudah diincar mereka sejak lama. Ha.....hari ini kita akan berpesta." Kesatria ini pun tiba-tiba memberikan senyuman mencibir dan membuat Evan dan ksatria rekan Evan yang lama tiba-tiba merasakan kengerian pada ksatria baru itu yang terlihat senang dengan kondisi darurat itu.
"Kami sudah meminta pasukan bantuan untuk ke sana tapi beberapa monster berhasil lolos." Beritahu kesatria ini lagi.
Evan langsung beranjak dari sana dan dua orang kesatria itu pergi mengekori Evan di belakang. "Apa yang mulia duke sudah tahu?"
"Sudah. Kami juga sudah mulai menyebarkan informasi ini kepada semua prajurit bayaran dan ksatria untuk berjaga di tempat yang sudah ditentukan."
"Lalu bagaimana dengan para wanita yang bekerja di dapur?" Tanya Evan lagi.
"Seharusnya mereka sudah mulai melakukan prosedur darurat untuk mengungsi mereka." Jawab kesatria ini lagi.
"Harusnya?" Evan berhenti melangkah, menoleh ke arah rekannya karena sudah membuat dirinya meragukan jawaban yang satu itu.
Sepersekian detik kesatria ini ragu dengan jawabannya sendiri dan terpaksa membuat berbagai alasan yang masih masuk akal. "I-itu...., kami semua sibuk dengan pembagian tugas dadakan ini, kemungkinan akan ada keterlambatan karena dapur berada di sebelah timur. Tapi saya pastikan mereka akan selamat karena para ksatria sudah berada ditempat yang cocok untuk menghadang para monster." Jelasnya.
Tapi semua penjelasan yang berasal dari alasan itu justru membuat Evan semakin meragukan pekerjaan dari anak buahnya itu.
"Jawabanmu masih meragukan, aku yang akan datang mencari tahu itu sendiri. Sedangkan kalian berdua pergi cari si penyihir itu agar memperbaiki dinding sebelah barat dengan cepat." Perintah Evan kepada kedua orang ini.
"Baik." Dua orang ini memberikan hormat kepada Evan lalu bergegas pergi.
Sedangkan Kesatria Evan buru-buru pergi ke arah timur, dimana semua pekerja di bagian dapur berada di sana.
"..................." Evan melirik ke samping kiri, ada satu ekor kuda yang terikat di bawah pohon maka dia pun menggunakan kuda itu untuk pergi ke tempat tujuannya. "Hyah.." Menarik tali pelana, Evan bergegas pergi dari tempatnya.
__ADS_1
Dalam kecepatan lebih dari tiga puluh kilometer per jam karena dia harus menghindari orang-orang yang sibuk pergi ke sana dan ke sini. Tapi tidak perlu waktu yang lama Evan sampai di tempat. Dia pergi ke arah tenda dapur untuk memastikan bahwa.......