
Terlepas dari perdebatan batin dari Iblis bersaudara itu, suara ledakan yang cukup keras, sesaat setelah pergi menjauhi rumah tadi.
"Liam? Berapa lama lagi sisa waktu kita? “ Tanya wanita ini kepad Liam.
"5 jam 38 menit." Jawab Liam sambil melirik ke arah jam tangannya. Dia sudah melihat jarum dari jam tangannya menunjukkan pukul 12 siang, dan 5 jam kemudian adalah perjanjian yang sudah di sepakati mereka bersama, yaitu keluar dari wilayah medan perang.
"Ada apa dengan waktunya kak?" Tanya anak yang di bawa wanita ini.
"Apa kalian ingin melihat pemandangan dari atas sana? Itulah yang harus kita tunggu." Jawaban simpel untuk ke dua anak itu akhirnya keluar.
Wanita ini tahu, karena bagaimanapun ke dua anak ini hanya seorang bocah yang hanya boleh mendengar hal-hal baik, dan lagi pula di sini tidak ada kebohongan hanya kata-kata dalih yang di perhalus aja.
Sambil berjalan melangkah menyusuri satu gedung ke gedung lain, satu persatu suara tembakan demi tembakan lagi dan lagi, terus terdengar.
Pria yang di panggil Liam oleh wanita di sampingnya itu, tiba-tiba memanggil namanya. "Lin."
"Hmm?" Si empu langsung melirik ke arah Liam.
"Apa amunisimu masih banyak?" Tanya Liam kepada wanita yang dia panggil Lin, yaitu pemilik dari nama lengkap Alinda.
"Apa kau khawatir aku kehabisan amunisi?" Tanya wanita in balik kepada Liam sambil mengumbar senyuman remeh.
"Soalnya orang yang paling boros disini hanya satu seorang saja, yaitu kau." Ucap Liam, menyindir.
JLEB........
Tepat sasaran, wanita yang di panggil Lin alias Alinda ini hanya tersenyum tawar. "Ahaha! Bisa di bilang masih cukup. Jadi tidak usah khawatir, aku yang pemboros ini masih bisa mengendalikan persediaan peluruku. Dan kalau kau mau, aku bisa memberikanmu pelusu sebanyak satu truk."
"Aku tidak butuh peluru."
[Peluru? Truk?, sebenarnya apa yangs edang mereka berdua bicarakan? Rasanya dari tadi tidak ada pembicaraan yang berfaedah.] Pikir Nathan, tidak mengerti.
Sedangkan Ethan hanya menikmati untuk menggekori mereka semua dari belakang.
"Bukannya tadi kau membahas peluru? Jika bukan itu apa?" Tanya Alinda dengan wajah poos seperti tidak tahu.
“.................” Ethan dan Nathan seketika tersentak kaget.
Mereka beruda akhirnya mulai percaya, kalau wanita di depannya itu adalah Alinda yang mereka kenal. Dan itu diperkuat karena mereka berdua juga pernah melihat reaksi wajah polos yang di gunakan oleh Alinda.
"Kakak, dia menginginkan hatimu." Bisik anak ini tepat ke telinga Lin.
"Elvin! Diamlah." Tapi sang kakak dari anak yang di panggil Elvin itu, langsung memberikan sebuah peringatan kepada Elvin.
"Bocah itu, pintar sekali kalau bicara?" Ucap Nathan, yang bahkan ucapannya yang berupa gumaman lirih itu masih bisa terdengar oleh Ethan.
"Bukankah, dia benar-benar persis sepertimu?" Ledek Ethan kepada saudaranya lagi dengan sengaja.
"Mana mungkin! Aku adalah orang ya-" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Nathan langsung di berikan sebuah tembakan.
DORR.....!
Tepat ke bagian perutnya yang nyatanya hanya menembusnya saja bagai angin kosong, peluru itu pergi mengarah ke belakang wanita itu.
[Suara itu lagi?!] Ethan segera mengalihkan pandangannya ke belakang.
Dari jarak 100 meter ada satu orang yang sedang berdiri di atas sebuah gedung terbengkalai, dan dialah tersangka dari kasus penembakan yang baru saja terjadi.
DORR......!
__ADS_1
DORR…..!
Belum sempat menoleh lagi ke depan, suara tembakan terdengar kembali, di sertai bunyi benturan yang cukup keras dan nyaring.
CTANG.....!
Ethan melirik ke arah dua orang yang sedang menggendong masing-masing satu anak, Liam dan Lin sudah berbalik dengan tangan kanan mengacungkan senjata mereka ke depan.
Lin adalah orang yang berhasil menangkis peluru tadi, sedangkan Liam menembak target, yaitu orang yang menjadi tersangka atas penembakan secara diam-diam tadi, tepat di bagian kepala.
"Apa tidak masalah, seperti ini?" Tanya wanita ini kepada Liam.
"Memang tidak ada bagusnya, tapi inilah keadaan yang sebenarnya." Jawab Liam, sambil mengisi ulang senjatanya dengan amunisi yang baru.
CKREK....
Ke dua orang ini, melihat masing-masing satu anak yang mereka bawa, sedang membuat wajah ketakutan setelah melihat pemandangan mengerikan yang tidak pantas untuk seorang anak kecil lihat.
"Apa sekarang kalian mengerti? Kenapa kami membawa kalian?" Tanya Liam, beralih untuk bertanya pada ke dua anak ini.
"Uhm…!" Jawab anak laki-laki ini dengan deheman kecil, meskipun wajahnya masih memasang ekspresi takut.
Dan Liam kembali menambahkan. "Aku tahu kalian berdua bukan sekedar anak biasa, jadi ada baiknya kalian ikuti alur permainan perang-perangan ini, dengan tetap diam." Pinta Liam kepada kedua anak tersebut.
"...............!" Dua reaksi wajah terkejut yang sama, terjadi kepada ke dua anak itu. "Mengerti!"
"Apa yang sebenarnya kita lakukan di sini? Mereka berdua jelas terlihat sama persis dengan kita, dan wanita itu, juga punya wajah yang sama dengan gadis bernama Eldania itu. Ethan! Apa kau tidak punya komentar apa pun tentang ini?" Tanya Nathan.
"Kelihatannya, aku tahu apa ini."
"Apa?"
Perlahan, Ethan mengatupkan mulutnya dan menjawab, "Ini adalah-"
Tepat ketika Ethan hendak mengungkapkan pemikirannya kepada Nathan, semua lingkungan di sekitar mereka langsung berubah begitu saja, menjadi tempat suram seperti ruang bawah tanah, yang di hiasi puluhan tiang penyangga yang besar serta memiliki area luas, dengan lantai paling rata dan mulus sepanjang sejarah yang pertama kali mereka berdua lihat.
Itu adalah Basemen.
"Adalah apa?" Nathan menaruh rasa penasaran yang semakin membuatnya jengkel gara-gara Ethan sengaja menggantungkan kalimatnnya.
"Kita sedang berada di salah satu ingatannya." Jawab Ethan kepada saudaranya.
DORR.......!
"...........!" Tepat di detik itu juga suara tembakan kembali datang, bahkan bisa dikatakan senjata kecil dengan daya mematikan yang besar, sempat berpapasan dengan wajah Ethan.
Ethan dan Nathan secara serentak menoleh ke samping, terlihat ada seseorang sedang bersembunyi di balik tiang.
"Hiks...hiks....hiks…! Kak! Aku takut. " Kata Elvin dalam tangisan kecilnya, dan dia masih dalam gendongan serta memeluk erat leher wanita yang menggendongnya.
Dua tembakan tadi sebenarnya hampir mengenainya, namun untungnya tidak berhasil karena ada yang sedang melindunginya dan itu adalah Alinda.
“Aku tahu. Tapi tahan dulu sebentar lagi.” Ucap Alinda kepada Elvin yang masih merungut dengan tangisan kecilnya yang sudah sesenggukan. “Kamu tahu apa yang harus dilakukan jika ada penjahat?”
“Menangkapnya.” Jawab Elvin, di tengah tangisannya yang sudah mulai iditahan.
“Benar. Mereka adalah orang jahat yang harus ditangkap.” Jawab Alinda, membenarkan ucapan Elvin tadi.
Tapi aslinya, penjahat yang sedang mengejar mereka tidaklah harus di tangkap, melainkan dibunuh.
__ADS_1
Alinda kini tengah berdiri di balik tiang sambil menggendong Elvin, dan tangan kanannya masih bersiaga dengan senjatanya sendiri, yang tak pernah dia lepaskan.
"Hah....hah....hah!" Dengan deru nafas yang memburu akibat berlari sambil membawa beban, Alinda menjawab. "Jadi Elvin, kau tahan sebentar lagi ya. Tidak lama lagi kau naik helikopter loh, mau terbang melihat langit lebih dekat kan?" Wanita ini lagi-lagi membujuknya.
Berusaha untuk menenangkan anak kecil yang dia gendong dalam sebuah perlindungan, dia benar-benar akan melindungi anak itu bagaimana pun juga.
Karena itulah misinya.
“Uhm. Tapi aku takut! Apalagi kakak terusan menggendongku, pergerakan kakak pasti akan terbatas jika ingin membalas serangan mereka dan menangkapnya kan?" Jelas Elvin.
Elvin, sekalipun masih kecil dia benar-benar sudah tahu posisi dan situasinya sendiri, maka dari itu dia mengkhawatirkan kakak perempuan ini.
Sudah di gendong, tapi di waktu yang sama harus menghindari berbagai serangan yang ada di sekitarnya.
Sudah jelas, pergerakannya menjadi lambat.
Tapi di satu sisi, alasan lainnya adalah jika tidak di gendong, maka sepasang kaki kecilnya adalah satu penyebab yang lebih memperlambat tujuan mereka untuk pergi ke suatu tempat.
" ..............!" Alinda sepintas menatap wajah anak ini dengan wajah terpana, tapi di detik berikutnya ekspresinya berubah menjadi serius lagi. "Liam! Kau yang bawa mereka berdua." Pintanya, kepada pria yang ada di 10 meter di samping kanannya.
Dia sama-sama berdiri di balik tiang beton untuk menjadi tempat berlindung sementara waktu mereka, dari beberapa orang yang sama-sama bersembunyi, tapi tujuannya adalah untuk menyerang.
"Tidak! Kita harus pergi bersama!" Liam menolak permintaannya dengan keras.
"Jangan membuatku merasa bersalah, jika kau yang bawa mereka, aku jadi mudah mengurus orang-orang itu." Menjeling ke arah belakang, sebuah tembakan kembali di lancarkan. Dia langsung menarik lagi kepalanya sebelum tertembak.
DORR....!
DORR….!
DORR….!
DORR….!
"Keluar kau! Serahkan anak itu pada kami!" Teriak seorang pria awal 30 tahunan, yang memakai seragam militer.
"Tch..!" Mendesis kesal, Alinda kembali mempersiapkan senjatanya dengan mengisi kembali pistolnya dengan peluru. "Elvin! Tidak ada cara lain, paman di sana bisa membawa kalian lebih cepat jika aku yang menghadang pergerakan mereka."
"T-tapi?!” Elvin merasa ragu dengan keputusannya. Meninggalkan kakak perempuan ini?
Dia benar-benar merasa segan untuk melakukannya.
"Aku akan berada di belakang kalian." Alinda tersenyum lembut sambil mengusap kepala kecil itu dengan perasaan gemas. "Bagaimana?"
Dan sebuah anggukan kecil menjadi jawabannya.
"Baiklah! Ikuti rencana ini. Selagi aku mengalihkan perhatian mereka sambil melindungimu, cepat lari ke arah paman Liam. Dia kuat untuk menggendong kalian berdua loh, setelah itu cepat naik ke lantai paling atas. Apa kalian mengerti?" Alinda mau tidak mau melakukannya atas inisiatif dari rencananya sendiri.
"I-iya!"
"Tung-" Liam langsung kehabisan kata-kata, sebab wanita ini langsung keluar dari persembunyiannya begitu saja. “Lin!” Panggil Liam.
Tapi Alinda hanya menoleh sesaat sambil memberikan senyuman kecil.
“Apa dia mau mengorbankan dirinya?” Gumam Nathan. [Jika Alinda adalah reinkarnasi dari wanita ini, berarti apakah ini adalah hari kematiannya?]
Ethan dan Nathan sama-sama memiliki pikiran yang sama.
Senyuman tipis seperti itu, seperti adalah senyuman terakhir dari perpisahan yang akan terjadi diantara Liam dengan wanita ini
__ADS_1