Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
78 : Eldania


__ADS_3

Di Academy.


" Hahh....! Ternyata mereka berdua lebih gila. " Mericta mengeluh karena ada pertarungan lebih ganas dari yang dipikirkannya. " Dan apa-apaan dengan pria berambut emas itu, sihirnya hampir membunuh orang tanpa pandang bulu. " 


Jika tidak tepat waktu setelah peringatan yang diberikan Azel, mereka berdua pasti akan masuk jauh ke dalam pertarungannya itu. Apa lagi benar-benar bisa jadi tusuk sate dengan daging manusia pertama dalam sejarah jika tidak waspada.


" Neizel!. Bagaimana pertandingan mu?, apakah menang?. " Panggil Arden pada Neizel yang baru saja muncul setelah tamatnya ujian di antara kedua tim yaitu Neizel dan Mericta. Arden merasa kalau wanita disebelah Neizel adalah Mericta itu, Mericta si bangsawan iblis Necus.


" Huh?. " Mericta baru sadar setelah melihat kedua pria ini berdiri bersama. " Apa kalian berdua manusia bersaudara?. " tanyanya, saat sudah membandingkan kedua wajah dari mereka berdua tidak jauh berbeda.


[ Apa dia harus terus menyebut kalimat manusia?. ] Pikir Arden dengan kesan Iblis Mericta. 


Sudah beberapa kali Arden berpapasan dengan Mericta, dan di setiap pertemuan tidak kesengajaannya itu, di setiap pembicaraan Mericta jika menyangkut lawan bebuyutan mesti selalu menyebutkan kalimat manusia sebagai patokan pembicaraan dengan para manusia.


" Ah....lebih tepatnya kami kakak beradik. " Arden mengklarifikasi maksud Mericta barusan.


" Ohh....jadi, mesti kau manusia kakak dari Neizel kan?. " terka Mercta lagi.


" Ya.. " Arden menjawabnya dengan nada malas.


" Aku pergi dulu. " Tanpa sepatah kata pun, Neizel lebih memilih pergi dibandingkan menjawab pertanyaan Arden beberapa waktu lalu.


" Apa kalian tidak akur?. "


" Dari pada itu, ternyata iblis sepertimu masih bisa tenang setelah dikalahkan olehnya. " Arden sengaja menyindir Mericta. Sebenarnya Arden sudah tahu kalau Neizel yang memenangkan pertandingan, tapi dia bertanya hanya untuk basa basi belaka. Meski lagi-lagi dia diabaikan karena menanyakan pertanyaan yang bagi Neizel tidaklah berguna.


" A-pa?, apa masalahnya?. Cuma ujian, ujian tidaklah penting dari pada pertempuran asli di lapangan, aku tidak mempermasalahkan aku kalah darinya karena kita berdua akan memulai pertarungan lagi di lain waktu. Ha....!. " Mericta berjalan satu langkah ke depan, sehingga ia berhadapan langsung dengan Arden yang memiliki 25 cm lebih tinggi darinya. " Bagaimana manusia?, Karena Neizel tidak berminat membuat taruhan, aku akan membuatnya denganmu. "


" Tidak ada yang perlu di pertaruhkan, kalau kalah tetap saja kalah. " Arden memalingkan wajahnya ke samping kiri, lalu diikuti tubuhnya. " Karena kami berdua bukan tipe orang yang suka dengan taruhan. Kalau mau menyindir dengan sindiran dari mulut ibils seperti kalian kami berdua tidak mempermasalahkannya. " 


" Tch, kalian berdua tidak menyenangkan sama sekali. " Mericta mendengus kesal karena tidak menemukan kesenangan dengan kedua orang ini.


" Apa kal-...." 


DUK....


Kalimatnya langsung terpotong sebab tubuhnya terdorong oleh seseorang dari belakang. " Arh... " Mericta langsung terhuyung ke depan, tapi untungnya dia dapat segera menyesuaikan posisinya sebelum terjatuh menabrak Arden, yah...setidaknya dengan jarak yang tinggal 10 cm dari wajahnya yang hampir saja membentur dada bidang milik Arden.


" Apa kau mau memelukku?. " tanya Arden tanpa tahu malu sambil sedikit merentangkan tangannya.


" Mana mungkin!. " jawab Mericta dengan cepat dan segera mengatur posisi tubuhnya dengan benar. Setelah itu dia langsung menoleh ke belakang dan hampir berteriak. " Apa kau bu- " tapi suaranya tertahan di tenggorokan, ketika melihat fenomena tak terduga lainnya.


" Maafkan aku, aku tidak sengaja. " tutur Eldania ke arah Mericta.

__ADS_1


" Manusia perempuan?. " ujar Mericta dengan jari telunjuk menunjuk ke arah Eldania dengan wajah terkejutnya.


" Ya?.....aku memang manusia dan seorang perempuan.. " Jawab Eldania dengan polosnya.


" Apa kau Neizel versi perempuan?. " tanya Mericta, ia tidak percaya akan melihat wajah Neizel namun dalam versi seorang perempuan.


" Nei- " Eldania tidak jadi menyebut namanya, karena ia melihat seseorang itu lagi yaitu Arden. " Kamu lagi~ " wajahnya seketika menunjukkan wajah tak suka saat bertatapan dengan Arden [ Kenapa ada lagi yang memanggilku Neizel!?. ]


" Apa kamu ada waktu?. " tanya arden sambil berjalan mendekat dan menawarkan niat baiknya dengan maksud untuk meminta maaf atas kejadian tempo hari itu.


" Kau kenal dia?. " Mericta bertanya dengan polosnya, melihat Arden begitu entengnya menanyakan waktu pada seorang perempuan yang sudah menabrak Mericta tadi.


" Untuk sekarang tidak ada, karena aku sudah punya janji dengan seseorang. " jawab Eldania ketusnya, seraya menunjukkan wajah horornya.


Bagaimana tidak?, waktu sudah hampir menunjukkan sore hari, satu janji yang sudah disepakati dengan Erich karena memenangkan taruhan, membuat Eldania harus pergi ke restoran.


Alih-alih ingin menghindari orang ini.


Eldania mengusap dahinya yang bercucuran keringat dengan punggung tangan kanannya, selain panas yang cukup terik, ujian tadi juga lumayan menguras air keringatnya. Dan sebetulnya juga sedang menghindari satu orang lagi yaitu Caster.


" Kalau begitu bagaimana dengan lain waktu?. " tanya Arden lagi.


" Jangan-jangan kau membuat salah dengannya?. Sepertinya kau sudah memberikan kesan tak bagus di pertemuan awal. " Tutur Mericta sambil berbisik kepada Arden.


[ Sangat membuatku ingin muntah. ] pikirnya. " Kalau mau minta maaf untuk yang waktu itu, sudah tidak perlu lagi. Aku sudah mau melupakannya, tapi niatanmu membuatku jadi mengingatnya lagi. Jadi jangan membicarakannya lagi. " jelas Eldania, untuk ucapannya kali ini juga ia mengatakannya dengan serius. " Maaf untuk yang tadi, aku tidak sengaja menabrakmu. " ucapnya lagi, itu ditujukan kepada Mericta.


" Yahh....tidak mas- " lagi-lagi kalimatnya menggantung ketika seorang pria berambut pirang itu datang. " Kau...orang yang hampir membunuhku!. " kata Mericta dan menunjuk ke arah pria yang ada di belakangnya Eldania.


" Rupanya kau di sini. " Pria berambut pirang pun datang dan menghampiri Eldania dari belakang. Dia melirik secara bergantian pada dua makhluk di depannya yaitu Mericta dan Arden.


" Kenapa kau menatapku begitu.? " Tanya Mericta, tidak suka dengan tatapan yang diberikan natapk kepadanya.


" Ku Kira apa, ternyata aku cuma melihat makhluk penghasut sedang berbincang dengan seorang manusia. Apa kalian sudah akur daripada yang seharusnya?, tapi aku bisa mengucapkan cukup cocok untuk kalian berdua. " tutur Caster dengan senyuman liciknya.


Mericta terkesiap lagi dengan ucapan orang lain, beberapa waktu lalu adalah Azel, namun sekarang murid baru ini.


Dan Mericta juga merasa tersinggung dengan panggilannya ' Makhluk penghasut. '


" Arden. Dia. Sangat..... " Entah kenapa, bulu kuduknya terasa merinding dan merasakan aroma amis darah yang kuat saat melihat Caster dari dekat saat bertatapan muka seperti ini.


" Aku tahu " Arden tahu maksud Mericta, jadi ia sedikit bersikap waspada dengan kehadirannya.


" Tidak perlu berkeringat dingin. Aku akan memaafkan kelancangan kalian. Karena sudah sadar akan keagunganku. " tutur Caster dengan kesombongannya, dia membuat wajar meremehkan kepada dua orang di depannya. Lalu dia memegang bahu Eldania dan menariknya ke belakang sambil berkata lagi, namun tatapannya tertuju kepada Arden, seolah-olah dia adalah mangsa selanjutnya. " Sebaiknya kau jangan mengganggunya lagi, jika masih tidak sadar juga. Tapi jangan mengharapkan sesuatu kepadanya jika menginginkan sesuatu darinya, karena dia sudah bukan yang sebenarnya. "

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu, Caster sedikit mendorong tubuh Eldania dengan maksud pergi dari sana.


“ Eldania, kenapa kau tiba-tiba pergi?. “


“ Bukannya pembicaraan kita tadi sudah selesai?. “ ujar Eldania kepada Caster. Tapi di detik itu pula Caster langsung membuat sihir teleportasi dan membuat mereka berdua langsung menghilang dari depan mata Mericta dan Arden.


" Apa yang dimaksud dia?. Tapi aku sarankan, lebih baik berurusan dengan iblis sepertiku daripada orang seperti dia. " Mericta tiba-tiba menawarkan diri.


"...........jangan mengarut, lebih baik aku tidak berurusan dengan kalian berdua. " jawab Arden. [ Aku harap maksudnya, bukan seperti yang sedang aku pikirkan sekarang. Mengingat gadis yang dibawa rambut pirang itu memiliki wajah yang lumayan mirip dengan Neizel, ini sedikit membingungkan karena sejatinya Neizel juga memiliki adik, namun…  Kenapa ada.?. ]


______________


Sebaliknya, setelah membawa Eldania ke tempat lain.


“ Siapa yang bilang?. Tentu saja perbincangan kita belum selesai. Dan apakah salah jika mengikutimu, lagi pula kita pergi ke arah yang sama. "


" ……., bukankah aku sudah bilang akan membalas kebaikanmu lain waktu. Lalu tidak perlu bertingkah seperti ini seolah kita kenal dekat. " Ucap Eldania pada remaja sombong itu. Lalu ia menepis tangan Caster yang menempel di bahunya.


Caster segera mengangkat kedua tangannya dari atas bahu gadis tersebut sambil menjawab. " Jangan membuatku tertawa, apa kau tidak tahu siapa aku?. Padahal kita sudah sering bertemu. " 


" Tidak. " Jawab Dania dengan cepat tepat di detik itu juga.


[ Kenapa dia tidak mengingatku?, apa dia sedang berpura-pura?. ] Caster masih memandang gadis di sebelahnya dengan semua pikiran mengacu pada sebuah pertanyaan. [ Tidak mungkin, bahkan dulu dia adalah wanita yang pandai menipuku. ]


" Aku tidak berpura-pura. Dan rasanya aku memang seperti melupakan satu nama di kepalaku…, tapi sepertinya bukan kau juga. Aku mana mungkin kenal dengan orang sombong sepertimu. " Eldania tiba-tiba melotot ke arah Caster dari atas sampai bawah, sambil membuat wajah berpikir keras, dia menjawabnya lagi namun dengan nada lebih lirih. " Itu terjadi setelah pertarunganku dengan nenek sihir itu, sih " gumam Eldania dengan lembut.


Caster hanya mengerjapkan matanya beberapa kali dengan wajah polosnya saat mendengar gumaman dari gadis ini. Caster masih mendengarnya dengan jelas apa gumaman dari wanita ini, sehingga tangan kanannya pun ia angkat lalu dengan cepat langsung menyentil...


CTAK....


" Aduhh...! " seru Eldania dan tangannya langsung menggosok keningnya yang baru saja di sentil.


" Hahaha….memangnya sesombong apa diriku ini?. “ Caster tertawa lepas mendengar pernyataan dari wanita di depannya itu.


“ Memangnya aku perlu menjelaskannya?. “ Eldania merutuki dirinya sendiri bisa-bisanya terlibat pembicaraan dengan Caster yang banyak omong itu.


“ Ya….., aku sudah banyak menerima pujian dari banyak mulut yang sudah tidak bisa bicara lagi saat ini. Jadi kau tidak usah menjelaskan tentangku, jika memang tidak mau. Tapi kalau kau mau aku juga bersedia mendengarkannya. “ ujar Caster dengan tawa menyindir. “ Jadi apa kau sudah ingat?. " tanya Caster lagi.


"  Ingat apa?!. " tanya balik Eldania dengan suara sedikit garang. Ternyata ada orang yang lebih berisik di sekitarnya, padahal dari apa yang Eldania lihat beberapa hari ini, Eldania berpikir kalau Caster adalah orang yang tidak banyak bicara, tapi dia salah besar soal tebakannya itu.


" Jangan mengelabuhiku, kalau sudah ingat ya sudah. Apa kau tidak mau masuk?, lalu……." saat Caster hendak berjalan melangkah mendahului Eldania, dia menambahkan. “ Aku berubah pikiran soal ucapanku tadi. Jelaskan tentangku dari sudut pandang matamu, apalagi tentang kesombonganku. Aku penasaran dengan itu, Eldania. “


Eldania benar-benar tidak percaya bahwa hari ini, dia akan mendapati bersosialisasi dengan orang ini, dan dari semua ucapannya terus berisi perintah.

__ADS_1


__ADS_2