
Setelah melemparnya dengan sekuat tenaga, tombak itu berhasil ditangkap oleh monster itu.
“Kau pikir aku tidak bisa menangkap ranting seperti ini?“ ucap monster ini,setelah berhasil menangkap tombak itu sebelum menusuk tubuhnya.
[Tapi itulah yang aku harapkan.] Tidak kehilangan akal, di detik itu juga Dania langsung mengayunkan kaki kanannya dan menendang ujung batang tombak itu dengan kekuatan yang dia tumpukan di kaki kanannya. Sehingga tombak yang masih dipegang oleh monster itu seketika langsung terdorong kuat ke depan.
Dalam sepersekian detik itu juga suara daging tertusuk kembali terdengar.
JLEBB……
“ARGHH…….., k-kuat sekali.“ ujung dari tombak tersebut berhasil menusuk dada dari monster itu dengan begitu mudahnya seperti meletakkan lilin ulang tahun di atas sebuah kue.
Lalu sebelum Eldania mendarat, dia justru menyempatkan diri untuk melemparkan belati ke arah monster ketiga yang berada di samping kiri nya.
Memang berhasil ditepis dengan mudah hingga belati itu berubah arah menancap ke batang pohon. Tetapi seperti yang diharapkan dari monster iblis itu, karena mereka adalah iblis, maka cara paling efektif untuk melemahkan lawan seperti mereka tidak lain adalah dengan kekuatan suci.
“....................” Eldania melirik ke arah belati yang sudah menancap ke pohon. Memang sungguh disayangkan karena monster itu bisa menepisnya dengan mudah, tetapi apa yang terjadi jika senjata itu sebenarnya bisa Eldania dikendalikan sendiri?
Belati yang tadinya sudah menancap ke pohon sekarang sudah berhasil tercabut dengan sendirinya dan bergerak kembali menyerang monster ketiga itu dengan cepat.
Bahkan tanpa menunggu sebuah aba-aba lagi belati tersebut meluncur untuk menancapkan dirinya ke tubuh monster itu, meski hasilnya monster itu bisa menghindar dan hanya mendapatkan sebuah goresan kecil, itu tidak masalah bagi Dania.
GREP……..
Belatinya sudah kembali ke tangannya dan darah yang tertinggal di pisaunya langsung menghilang dengan sendirinya.
“................” Melihat monster berkepala singa itu hendak menyerangnya dengan tangan yang memiliki lima jari dengan kuku tajamnya, Dania segera turun dan melompat ke belakang untuk menghindari serangan tersebut.
BRAKK…..
Tanah yang awalnya datar, sekarang berubah menjadi cekung.
“Apa yang kau tunggu, serang manusia ini.“ kata monster berkepala singa ini kepada monster ketiga itu setelah melihat temannya itu justru berjongkok sambil memegang bekas luka sayatan kecil di tangannya.
__ADS_1
“...........” Tanpa sepatah kata, monster ini hanya melirik kearah rekannya, lalu bergantian untuk menjeling ke arah gadis yang sudah mendarat dengan sempurna bersama dengan belati yang sudah kembali ke tangannya.
[Apa yang terjadi dengan monster itu? Dia terlihat tidak baik-baik saja, setelah mendapatkan goresan sekecil itu. Apa di belati milik nona Eld ada sebuah racun?] Batin Evan.
Evan yang tidak bisa tinggal diam untuk menonton saja, dia bergegas untuk mengalahkan satu monster yang tersisa di depannya. Evan sejujurnya berniat ingin membantu gadis itu dengan menyerang monster yang terdiam itu, tapi dia harus berurusan dengan monster yang ada di depannya terlebih dahulu.
“Itu juga kalau temanmu itu mampu untuk melawanku.“ Tiba-tiba Eldania bersuara, memberikan peringatan kepada monster jelek berkepala singa itu.
“Apa maksudmu manusia.“ ingin menerima alasan dibalik kata-kata dari gadis ini barusan.
Namun Eldania justru memberikan jawaban yang menjengkelkan monster tersebut. ”Tidak ada maksud apa-apa. Mana mungkin aku memberitahu trik ku pada kalian. Bukannya itu sama saja dengan menghilangkan kesempatanku untuk menang?“
“Ha...benar juga.“ celetuk monster ini, sambil berpikir [Apa belati itu sudah dilumuri racun yang tidak aku ketahui? Aku harus hati-hati dengan senjatanya itu.] Pikir monster ini.
Tahu monster itu sedang mencurigai belati yang sedang di pegangnya, Eldnia hanya mengabaikan apa reaksi yang sedang dia perlihatkan dengan wajahnya itu apakah sedang membuat wajah serius, senang, atau sebuah wajah datar namun dengan senyuman licik, Eldania tidak memikirkan itu selain dengan terus bertindak untuk melanjutkan pertarungannya dengan kedua monster yang tersisa itu.
____________
“Hah...hah...hah.“ Irine sudah tersengal-sengal setelah mengerahkan segala kekuatannya, akhirnya dia sudah berada di batas kemampuannya. Energinya sudah di titik terendah, jadi mau tidak mau dia harus beristirahat.
Pria ini adalah seorang penyihir yang bertugas untuk memperbaiki kerusakan dari dinding benteng yang runtuh ini. Namun semua itu sudah teratasi dengan baik selain harus menghadapi sisa-sisa monster yang masih bisa bertahan hidup dan masih bersikeras untuk menyerang lagi.
Sedangkan Irine hanya mengatupkan mulutnya setelah melihat pria penyihir itu tiba-tiba langsung menjeling ke arahnya dengan sorotan mata yang cukup dingin, seolah Irine pernah mengusik penyihir ini.
Benar. Karena dari awal tatapannya sudah menjadi isyarat bahwa..
‘Aku tidak memerlukan bantuanmu.’
“Baiklah, aku pergi.“ dengan wajah masam, Irine berjalan pergi menjauhi penyihir itu.
“...................” Melihat akhirnya gadis itu pergi, pria ini pun akhirnya merasa sedikit bebas. Itulah yang baru dia rasakan sebelum mengetahui bahwa ada satu monster yang datang dan hanya berdiri saja jauh didepan sana. “Dia-“
Reaksi pertama dari orang yang terkejut melihat monster berbentuk kadal itu tiba-tiba bisa mengeluarkan api dari tangan kosongnya dan langsung dilempar ke arahnya…, tidak, bukan kearahnya, melainkan ke arah gadis bernama Irine itu, penyihir ini segera membuat dinding penghalang besar dan di detik selanjutnya sebuah ledakan yang cukup besar segera menarik perhatian semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
DHUAARR……..
Sedangkan Irine yang refleks menoleh ke belakang setelah melihat adanya dinding penghalang yang menghalanginya pergi, matanya langsung membulat lebar setelah satu bola api besar sudah berada di depan matanya.
“Anda pergi saja.“ kalimat perintah yang akhirnya terlontar dari mulut pria penyihir ini.
“T-tapi tadi-”
“ ………..” Dihadiahkan tatapan serius ke arahnya, membuat Irine tidak bisa membantah perintah pria itu.
“T-terima kasih untuk yang tadi.“ Irine pun mengucapkan rasa terima kasih sebelum akhirnya dia pergi dan menyerahkan semua urusannya kepada penyihir asing itu.
Setelah kepergian Irine, sekarang Duke Avrel yang datang untuk melihat kejadian secara langsung. “Monster itu, dia…, bisa mengeluarkan sihir api?“
“Dia bukan monster sembarangan. Julukan sebenarnya adalah Fallen.“ beritahu penyihir berjubah hitam ini kepada Duke Avrel.
___________
“Fallen?“ ucap Evan setelah mendengar nama baru dari julukan monster yang bisa bicara itu dari Eldania.
“Hm…., dia adalah monster yang sudah berubah menjadi iblis, namun punya kekuatan layaknya seorang penyihir.“ jelas Dania secara singkat.
[Dia bahkan tahu apa yang sedang dia hadapi. Apa perempuan ini sudah pernah melawan monster seperti mereka?] Evan akhirnya mengerti setelah mendapatkan sedikit penjelasan dari gadis yang ditemukannya itu.
“Sudah aku duga, kau gadis yang itu!“
“Kau yakin? Ingin melawanku sebab kau ingin mati di tanganku?“ tanya Eldania dengan senyuman tipis yang meremehkan.
“............!“ Evan melirik ke arah Dania dengan wajah sedikit terkejut. Kata mati dan tatapan dari mata milik gadis itu terlihat adalah tatapan yang tidak biasa.
Bahkan kata ‘Mati’ bisa diucapkannya dengan begitu mudahnya, seolah gadis itu bisa membuat Fallen itu bisa mati di tangannya semudah dengan apa yang baru diucapkannya.
“Mati atau tidak, jawabannya akan jelas setelah itu berakhir.“ kata sang Fallen.
__ADS_1
[Kenapa aku jadi bertemu dan bertarung dengan fallen lagi disini? Aku kira anak raja iblis itu sudah membawa semua pasukannya, tapi fallen ini justru mencariku secara langsung untuk bertarung denganku. Dia terlihat bukan seperti memiliki dendam, tapi ingin merasakan kesenangan untuk bertarung. Berarti ada kemungkinan, bahwa bukan hanya mereka bertiga saja.] Eldania akhirnya terus berada di titik untuk terus mencurigai semua kebetulan ini.
Meski pada akhirnya Eldania dituntut untuk bertarung melawan makhluk itu lagi.