Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
95 : Eldania


__ADS_3

[Aku tidak pernah berpikir, kalau hari ini akan berjalan lebih panjang. Tapi perempuan itu, Eldania-] Pikir Nathan. Dia merasa bahwa hari ini sudah banyak kejadian berlalu begitu saja, baru dua hari tapi seakan waktu yang berlalu terasa lebih lambat dari biasanya.


Dari pada itu, dalam kesempatannya bisa mendengar pernyataan bahwa gadis itu masih bisa mengingat nama 'Ethan' yang sebagian besar orang tidak mengingat pemilik dari nama ini, justru dialah, gadis manusia bernama Eldania satu-satunya orang yang mengingat semua hal, sekaligus melakukan sesuatu dalam berbagai kesempatan, membuat penyandang nama Nathan ini, merasakan ragu.


Kenapa?


Apa alasan manusia itu melakukannya?


'Eldania'


Nama yang langsung terukir di dalam kepalanya.


Baik itu Ethan maupun Nathan, mereka berdua lagi-lagi mendapatkan sebuah bantuan dari seorang manusia yang belum lama mereka kenal.


Pada dasarnya, setiap orang mempunyai tujuannya masing-masing, tetapi apa tujuan dari gadis itu menolong mereka berdua?


Baik itu Ethan maupun Nathan, di dalam kondisi permasalahan yang berbeda, mereka mendapatkan sebuah bantuan dari gadis itu 'Eldania'.


"Apa yang sedang kali ini kau renungkan?" Sampai tiba-tiba sebuah suara milik Ethan, segera menyapu bersih pemikiran Nathan barusan.


Nathan menatapnya dengan waspada, dan segera mengambil langkah diam ketimbang bicara. Mengingat beberapa waktu lalu, tangannya itu sudah berhasil mencekik lehernya, dan kali ini dia merasakan rasa bersalah.


Ethan berdiri di depan saudaranya itu dengan tatapan lembut, lalu berkata. "Tidak perlu merasa bersalah. Lagi pula, semua itu bukan dari keinginanmu." Ucap Ethan, berusaha mencairkan suasana yang canggung diantara mereka berdua.


Padahal beberapa waktu lalu, adiknya terdengar bersemangat karena amarahnya sendiri, dan sasarannya adalah gadis manusia itu.


Menganggap semuanya adalah kesalahannya, padahal di sini yang salah adalah dirinya yang harus tidak ada menjadi ada.


Ethan dan Nathan pada dasarnya adalah berasal dari satu jiwa yang dibagi menjadi dua.


Jika saja orang tuanya tidak melakukan eksperimen, maka semua ini tidak akan terjadi.


Sekaligus.....


[Aku mana mungkin bertemu dengannya.] Yang Ethan pikirkan saat ini adalah gadis bernama Eldania.

__ADS_1


Jika bukan karena hal ini juga, Ethan juga sebenarnya tidak akan pernah mengenal Eldania, yang notabene nya adalah seorang manusia.


Apa lagi dengan kejadian yang tadi, meski bukan kehendaknya, tapi merasakan sensasi bertarung dengan gadis manusia itu, Ethan merasakan senang sekaligus bersalah juga.


Padahal pertemuan keduanya, tapi berakhir dengan melawan gadis itu tanpa sungkan.


Ethan merasa dirinya jadi Iblis yang tidak berguna, karena terhasut dalam sihir kendali. Dan membuat dirinya serta adiknya bertarung melawan Eldania bersama-sama.


Meskipun untungnya, Eldania mempunyai keahlian bertarung yang membuat perempuan itu bisa menangkis dan melawan segala serangan yang Ethan dan Nathan gunakan untuk menyerangnya.


[Yah...untung saja dia benar-benar bisa melawan kami berdua dengan sangat baik. Aku takjub dengan kegigihannya untuk melawan monster itu, dan lagi-lagi pada akhirnya kami diselamatkan olehnya lagi. Jadi sekarang aku punya tiga hutang untuknya.] Pikir Ethan dengan semua rangkaian kejadian, dari awal dirinya bertemu dengan Eldania.


Yang mana pertemuan pertamanya adalah, dirinya diselamatkan dari ruangan penyiksa itu.


Terus menyadari saudaranya terus melirik ke arahnya, Ethan langsung bertanya. "Apa kau mau seragammu lagi?" Ethan menawarkan seragamnya yang berwarna merah itu kepada adiknya. Karena dari awal, adiknya lah pemilik dari seragam pembukti status bangsawan Iblisnya.


Nathan dengan wajah masamnya, melirik ke arah lain dan menjawab. "Tidak perlu, pakai saja itu." Dan kata lanjutannya beralih ke pikirannya. [Lagi pula, dia terlihat lebih cocok memakai seragam itu ketimbang aku.]


“Tidak, dari awal seragam ini memang milikmu. Nanti aku kembalikan.”


“Tapi-” Nathan kembali melirik kakaknya.


Dia memberitahu kepada adiknya, bahwa seragam hanyalah sekedar baju dengan warna sebagai pembeda. Tapi tidak dengan jati diri seorang pemakai. 


“Kau lihat manusia perempuan itu kan?” Tanya Ethan kepada adiknya.


“Hm…” Nathan jadi termenung lagi. Setelah mendengar penjelasan singkat dari kakaknya, dirinya sudah mulai sadar.


Bahwa warna seragam hanyalah warna, tapi jati diri dari seseorang yang memakainya, tetap tidak bisa dibandingkan dengan sebuah status. Karena Nathan sudah melihatnya sendiri…


Eldania, si manusia yang memakai seragam putih, tidak mengartikan perempuan yang dari luar terlihat polos itu adalah seseorang yang lemah.


“Dia adalah pemilik dari segala keterbalikan.” Ucap Nathan.


Kenapa Nathan berkata demikian adalah karena beberapa alasan.

__ADS_1


Yang pertama, karena Eldania memakai seragam putih, maka di cap tidak memiliki gelar bangsawan.


Yang kedua, diartikan sebagai orang yang lemah.


Yang ketiga, Eldania sang pemilik wajah seperti perempuan polos, jadi terlihat seperti orang yang mudah ditindas.


Ketiga itu, adalah keterbalikan dari sifat asli Eldania yang sebenarnya.


“Dia punya siasat dan pikiran yang tidak bisa aku tebak. Eldania, dia…. meskipun tidak punya gelar bangsawan, tidak merubah fakta dia sebenarnya bukanlah manusia yang lemah, karena saat ini aku merasakan sihir yang kuat dari dirinya. Juga……” Nathan kemudian menengadah ke atas, dimana dia hanya melihat sebuah kegelapan.“Perempuan itu, dia punya sifat licik dibalik wajah polosnya.” 


Nathan jadi tersenyum lemah sendiri, saat melihat kali pertama dirinya bertemu dengan Eldania saat ujian masuk itu.


Nathan sempat-sempatnya membuat ucapan menggodanya, karena dari penampilan luarnya Eldania, Nathan berpikir Eldania adalah perempuan polos yang mudah dipermainkan.


Tapi yang ada…


“Aku seperti dipermainkan olehnya.” Nathan langsung mendesah pelan dengan senyuman mencibir. 


Nathan mengingat kembali pertemuannya saat di tengah jalan, yang mana dagunya langsung kena hantam kepala Eldania.


Nathan dalam diam merasa jadi iblis yang menyedikan juga, karena pertama kalinya ada yang mencibirnya, dan itu adalah Eldania yang menatapnya dengan tatapan jijik kepadanya.


“Eldania, dia adalah-”


“Seseorang yang diluar pikiran kita.” Ucap Ethan, menyela ucapan adiknya.


_________________


“Hmm…”


Di tempat yang berbeda namun sama dengan seperti Ethan dan Nathan yang ada di dalam tempat yang dipenuhi kegelapan, Eldania juga sama-sama berada di tempat gelap, namun perbedaannya adalah dia sedang berdiri sendirian di sana.


Dia sedang berdiri sambil menunduk ke bawah. Membuat helaian rambut kusutnya benar-benar menutupi separuh wajahnya yang sudah memperlihatkan wajah penatnya.


“Aku mendengar semua nya.” Gumam Eldania dengan nada yang cukup lirih. 

__ADS_1


Kemudian dia menoleh wajahnya ke samping kanan.


“Aku...pemilik dari segala keterbalikan?” Gumam Eldania lagi, dengan wajah dingin tanpa ekspresi.


__ADS_2