
Normal Pov.
Itulah segala rencana yang dimiliki oleh gadis muda bernama Eldania ini.
Jadi untuk selanjutnya, karena perangkap itu sudah mulai tidak begitu efektif lagi, mau tidak mau Eldania harus melakukan sesuatu untuk malam ini.
Hanya tinggal tiga hari lagi dia akan pergi melanjutkan perjalanannya, apalagi setelah mendapatkan bayaran. Dengan begitu itu akan menjadi hari paling terindah saat mendapatkan uang yang sangat dia inginkan.
[Tapi, semua jebakan yang sudah aku buat tidak mungkin akan sempurna tanpa bantuan dari penyihir itu. Kalau tidak salah, namanya...] Kembali membuka matanya, Eldania akhirnya tidak bisa tidur lagi setelah kembali terbayang oleh wajah dari penyihir yang sudah membantunya waktu itu. “Terrian." Dania bergumam lembut. [Apa dia sudah pergi dari sini?] pikirnya lagi.
__________
“Evan. Kalau aku pikir-pikir jumlah monster yang datang terus berkurang. Kau juga merasakan itu kan?“ Tanya duke Avrel kepada Evan.
Kini mereka berdua sedang berkuda dan hendak pergi menuju hutan.
“Saya tahu, maka dari itu saya ingin menyelidikinya secara langsung.“ jawab Evan.
Avrel sepintas menjeling Evan di samping kanannya. “ Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?. “
“Tidak. Memangnya apa yang bisa saya sembunyikan dari anda?“
“Aku pikir, kau diam-diam akhirnya mempunyai hubungan dengan seorang wanita. Saat malam itu, aku melihatmu di atas sedang berbicara dengan seorang perempuan. Tidak hanya disitu saja, kau menggunakan uang pribadi untuk membangun satu tenda di timur paling ujung, apa lagi dengan satu buah kasur empuk. Jadi, Evan~....” Dengan senyuman penuh perhitungan, Avrel berbicara lagi. “Apa kau secara diam-diam sudah melakukan hubungan sampai sejauh itu.“
“Apa?!“ tercengang dengan ucapan yang dilontarkan Duke Avrel, Evan seketika menarik tali pengekang kuda agar kudanya berhenti. “H-hubungan apa yang anda maksud itu?"
__ADS_1
“Tidak perlu seolah tidak paham. Siapa namanya? Kau bisa perkenalkan dia secara langsung denganku, maka aku bisa memutuskan kau akan menikah dengannya secepatnya.“ jelas Avrel, dia lumayan suka dengan Evan karena tidak akan ada yang tahu sisi lain dari ksatria ini adalah mempunyai sisi malu jika sudah sedikit membahas soal hubungan.
“T-tunggu..tunggu. Anda salah paham dengan itu. Dia bukan siapa-siapa saya.“ Evan terus berusaha untuk menyangkal.
“Lalu kenapa denganmu yang terlihat memperlakukan dia secara khusus?“ Tanya Avrel masih tidak mengerti.
Evan menghela nafas sesaat, lalu mulai mengatur kata-katanya. “Bukannya anda suka dengan semua makanan selama empat hari ini?“
“Ya...aku suka, karena menurutku enak. Juga terlihat seperti masakan dari bintang lima." jawab Acvrel sembari menjilat bibirnya dengan lidahnya.
“Wanita yang anda maksud itu, sebenarnya orang yang membuatkan makanan untuk anda selama empat hari ini.“ Akhirnya Evan pun memberitahu apa yang dia ketahui pada tuannya. “Sekaligus, dia adalah orang yang mengajukan diri menjadi prajurit bayaran untuk satu minggu ini. Dia adalah nona Eld."
“.................!“ Sekilas Duke Avrel sedikit memperlihatkan wajah terkejut tidak percaya. [Jadi surat kontrak yang aku baca adalah milik anak itu?] Akhirnya Avrel mulai mendapatkan pencerahan dengan semua teka-teki yang selama ini dia pendam dan dia pikirkan sendiri.
Duke Avrel sekilas mengingat semua pertemuan yang tidak sengaja saat melihat berbagai aktivitas dari gadis itu yang terkadang terbilang tidaklah biasa.
Dalam pemikirannya lagi, mengenai semua pekerjaan tentang prajurit bayaran dan ksatria selalu didominasi oleh laki-laki, jadi Avrel pun mulai mengetahui sedikit alasan Evan melakukan itu kepada gadis itu.
[Tapi jika gadis itu memang prajurit bayaran, kenapa aku tidak pernah melihatnya bertarung?] itulah yang dipikirkan oleh Avrel. Padahal selama empat hari ini, untuk berjaga-jaga dia terpaksa menetap di dalam kamp.
KWAKK…………..
Suara dari seekor burung elang coklat segera menarik perhatian mereka berdua untuk mendongak ke atas.
“Sejak kapan disini ada elang?“ Gumam Avrel, baru pertama kalinya melihat ada burung elang terbang di wilayah Helion yang terkenal dingin.
__ADS_1
Tetapi, setelah kemunculan burung elang itu, suara selanjutnya adalah bel peringatan.
TENG…….
TENG………
TENG…….
[Jumlahnya tiga. Itu artinya….!] Avrel menoleh ke belakang, kejadian darurat akhirnya datang.
“Apa yang kalian berdua lakukan disini?"
Suara yang tiba-tiba datang, membuat Avrel dan Evan mencari-cari sumber suara tadi yang ternyata berasal dari penyihir berjubah hitam.
“Segerombolan monster mulai datang, sebaiknya cepat kembali dan bergabung dengan pasukan anda.“ Perintah penyihir ini kepada kedua orang tersebut.
“Apa yang terjadi? Padahal selama empat hari ini, jumlah mereka menyusut.“ tanya Evan dengan lirih.
“Itu karena di dalam hutan terpasang jebakan untuk mereka. Tapi karena sudah tidak begitu efektif, jadi sebaiknya bersiap pada pertarungan normal kalian.“ Jelas pria ini. Dia adalah penyihir yang beberapa hari lalu di sergap oleh Dania yang menyamar menjadi seorang laki-laki, yaitu Terrian.
Semua orang tidak mengenalnya, karena dia hanya memberitahu namanya pada satu orang saja.
[Apa dia penyihir yang bekerja sama dengan Nona Eld?] Evan mencoba menerka dengan dua pernyataan yang hampir mirip, antara penyihir ini dengan apa yang dikatakan oleh Dania beberapa waktu lalu.
“Sebaiknya kamu jelaskan, jika kau sudah selesai.“ pinta Duke Avrel, lalu memerintahkan kudanya untuk berputar balik.
__ADS_1
Evan segera menyusul setelah berpikir sesaat. Sedangkan Terrian, dia berbalik dan justru pergi masuk ke dalam hutan lagi.