
Pelukan yang kian dalam dan karena rasa lelah yang ia dapatkan setelah melakukan pekerjaan di luar urusannya sendiri, Eldania yang tadinya terus memeluk Averst dalam dekapan yang cukup erat, akhirnya membuat gadis itu tertidur juga.
Karena sudah begitu, maka burung Elang itu akhirnya menghilang layaknya butiran debu berwarna emas yang kian terbawa oleh angin.
WUSHH........
Membawa angin dingin masuk untuk sementara waktu, sampai akhirnya Eldania pun tertidur sendirian dengan hanya menggunakan handuk yang membalut tubuhnya yang polos.
__________________
"Yang Mulia, saya harap anda segera istirahat. Ini sudah terlalu larut untuk terus bekerja, padahal esok pagi akan ada jadwal rapat dengan para menteri dan para komandan dari pasukan anda." Kata seorang wanita bercadar coklat tipis ini kepada seorang pria berambut pirang emas, dianya saat ini tengah duduk di kursi singgasananya dengan memegang sebuah tablet yang terbuat dari tanah liat.
Karena hari sudah cukup larut, maka sekarang di aula milik kekuasaan dari sang Yang mulia yang di panggil Raja itu hanya tinggal mereka berdua.
Sang Raja itu sendiri dan di temani oleh seorang wanita berkerudung putih, yang mana separuh wajahnya selalu tertutupi dengan kain tipis berwarna coklat, menutupi kecantikan dari wajah yang di miliki oleh wanita yang memiliki status di bawah sang Raja itu sendiri.
__ADS_1
"Kau memperingatkanku untuk istirahat, lantas kau sendiri masih ada di sini?" Tanya balik pria arogan ini.
Tangan kanannya masih memegang tablet tanah liat itu sendiri, tapi sudut matanya itu sempat untuk mencuri-curi pandang anak buahnya yang masih berdiri di bawah singgasanya.
Karena mata mereka berdua sempat saling bertemu, gara-gara wanita itu dengan cukup berani memandang ke arahnya, pria ini pun kembali mengalihkan tatapan matanya untuk kembali membaca.
Ia membaca semua catatan dari sekretaris kerajaannya, yang berisi semua laporan tentang semua aktivitas di kerjaannya, baik itu soal perdagangan, soal ekonomi, persediaan makanan dan pengobatan serta persenjataan, karena di daerah utara ada banyak prajurit miliknya yang di tempatkan di dinding utara untuk mencegah monster dari sana masuk ke dalam wilayahnya.
"Mungkin saja anda tiba-tiba memerlukan bantuan saya, maka dari itu saya akan tetap di sini untuk menemani anda." itulah jawaban dari wanita bercadar ini.
Di mata semua orang yang ada di seluruh kerajaan, wanita yang terlihat kalem ini sungguh sangat terkenal, karena ia merupakan pendeta yang memimpin ritual dari kerjaan Ururika, sekaligus asisten pribadi dari seorang raja berjulukan tiran dingin, yaitu Gilsh.
Dua orang dengan posisi sebagai pemegang kekuasaan yang berbeda antara atasan dan bawahan, tidak membuat mereka berdua nampak seperti itu.
Karena yang ada, wanita yang mempunyai dua peran sekaligus dalam melaksanakan pekerjaannya, baik itu sebagai pendeta maupun sebagai asisten pribadi dari Raja Gilsh, justru nampak seperti orang yang tepat untuk menjadi pendamping dari sang Raja yang sudah mulai menginjak usia dua puluh delapan tahun itu.
__ADS_1
"Kau memang cukup keras kepala." Sindir Pria ini sembari meletakkan satu tablet tanah liat yang sudah ia baca dari awal hingga akhir, dan akhirnya semua informasi yang ada di dalamnya itu sudah masuk kedalam memori baru yang ada di dalam otaknya.
Tapi tanggapan dari sindiran yang di berikan oleh sang Raja kepada wanita itu justru aalah sebuah senyuman manis nan cantik.
Mungkin itulah alasan di balik separuh wajahnya yang selalu di tutupi dengan cadar, agar ia bisa melindungi kecantikannya dari banyak orang.
Termasuk sang Raja sendiri.
"Mungkin saja, karena saya sudah lebih dulu tertular oleh sifat keras kepala anda." Jawab wanita ini.
Mendengar sebuah kalimat yang terdengar seperti lelucon itu, hal itu pun membuat pria berambut pirang emas itu akhirnya meletakkan tablet tanah liat yang terakhir kali di baca itu ke atas tumpukan tablet yang lain, lalu dia beranjak dari singgasananya.
Gilsh pun turun dari tempatnya, dan berjalan menuruni beberapa anak tangga.
"Kalau begitu, ayo tidur." Tawar Gilsh kepada wanita bercadar itu.
__ADS_1