
"Kenapa ramai sekali disini?" melihat banyak orang lari kesana kemari seperti dikejar hantu, ibu nya Azel pun memberhentikan salah satu orang yang kebetulan lewat di depannya. "Tunggu! Kenapa kalian lari-lari?" tanyanya.
"Nyonya?! Bagaimana tidak lari? Disana ada iblis gila." jawab pria ini kepadanya sambil menunjuk ke arah taman kota. "Sebaiknya nyonya cepat pergi juga." pinta pria ini sebelum akhirnya kembali melanjutkan pergi melarikan diri.
"Iblis gila?" gumamnya, ia berpikir untuk putar arah agar tidak ikut larut dalam marabahaya di antara mereka, namun karena lokasi dia berdiri dan taman sudah tidak terlalu jauh lagi, dia menyadari satu hal secara tidak sengaja. Dia melihat seorang gadis berlari ke arahnya, karena itu wanita ini justru menyapa gadis yang sangat dia kenali itu sambil tersenyum lebar dengan melambaikan tangannya.
DRAP......DRAP….DRAP…...
Wajah seriusnya menunjukkan kalau dirinya belum memberikan sapaan yang betul.
Tentu saja! Eldania sendiri juga merasa heran, bagaimana bisa di situasi daruratnya bisa di berikan senyuman lebar seperti itu?
"Eldania! Matilah! MATILAH BERSAMAKU!" Teriak iblis gila bernama Zen kepada gadis yang ada di depannya, dan masih terus berlari.
Sedangkan ibu nya Azel sedikit terheran sekaligus terkejut. "Huh?!" ekspresinya langsung terkejut, dia baru menyadari kenapa Eldania berlari dan itu adalah karena sedang di kejar iblis bak zombie itu.
" Dania! Ayo menantuku! Cepat lari!" memberikan semangat kualitas tinggi kepada Eldania.
[Apa-apaan dengan ucapannya itu?!] Pikir Eldania, dia memejamkan matanya dan dalam seketika dia sudah berada di depan ibunya Azel yang sedang terpana ketika Eldania tiba-tiba sudah muncul di depannya persis.
Eldania memunggungi wanita itu sambil memberikan sebuah halauan agar tidak melihat apa yang akan terjadi di depannya.
Tangan kirinya digunakan untuk mengisyaratkan agar wanita di belakang itu tidak pergi kemanapun, dan tangan kanannya direntangkan ke depan untuk membuat sesuatu sebelum terkena dampak yang cukup fatal.
"DANIA! KAU HARUS MATI JUGA!" Serunya sekali lagi hingga, langkahnya tiba-tiba berhenti di titik arah 15 m sebelum sesuatu langsung terjadi pada tubuhnya.
Mana hitam bercampur biru kehitaman itu berkumpul di dalam tubuhnya Zen mengakibatkan sebuah ledakan besar.
DUARRR.....!
Efek samping dari ledakan adalah angin panas bercampur dengan beberapa bongkahan batu terbang melayang ke arah mereka.
WHUSHHH.......!
Keringat dingin mulai bercucuran di wajah dinginnya, sekali lagi atau untuk kesekian kalinya ada seseorang yang menginginkan Eldania mati.
[Sayang sekali, aku sudah mati 3 kali tapi masih hidup sampai sekarang.] kutuk gadis ini pada jalan hidupnya yang kali ini, sudah tidak bisa dikatakan sebagai manusia biasa lagi.
Beberapa kali sudah pernah berada di ambang kematian, tapi akhir dari semua itu adalah dia masih bisa berdiri sampai saat ini.
SYRUKK.....
Beberapa serpihan kecil ada yang berhasil menembus dinding transparan nya, dan berhasil menggores pipi kanannya, membuat luka baru dan menghasilkan darah dari luka kecil itu.
Namun seketika penyembuhannya mulai berlangsung tiap ada serpihan datang mengenai tubuhnya.
__ADS_1
"Nia?!" Panggil wanita ini dengan lirih, dia tak menyangka akan diselamatkan oleh menantunya.
"Apa anda tidak apa-apa?" tanya Eldania, kepadanya ibunya Azazel ini.
"Ya.” mengangguk iya. " Bagaimana denganmu?. " tanya lagi dengan wajah khawatir.
Setelah ledakannya selesai dia baru sempat untuk menoleh ke belakang untuk melihat wajah khawatir dari seorang wanita yang lebih tua delapan belas tahun darinya.
[Dia mengkhawatirkan ku?] Eldania tidak pernah berpikir, kalau wanita ini malah mengkhawatirkannya. "Aku tidak apa-apa." jawabnya.
Meski berkata begitu, ibunya Azel melihat ujung baju lengan tangan kanannya Eldania sedikit terbakar akibat ledakan tadi. "Kamu terluka!" langsung memegang tangannya Eldania.
"Sudah tidak." jawabnya. Eldania segera menarik kembali tangan kanannya itu. Ia merasa segan jika tangannya di sentuh orang lain, jadi dia menariknya lagi dan menganggapnya tidak apa-apa.
Ketika Eldania kembali menoleh ke samping kanan, seseorang sudah tergeletak di atas jalan yang sudah rusak sekaligus menjadi cekung gara-gara ulahnya dari Zen tadi.
Kenapa dia bisa sampai seperti itu?
Apa yang sebenarnya sudah terjadi?
Kenapa harus dirinya lagi-lagi masuk dalam daftar musuh seseorang?
Berbagai macam pertanyaan masih terlintas di dalam kepala nya.
Namun disini Eldania tidak memiliki bukti atau apa pun itu untuk dijadikan sebagai informasi alasan Zen jadi begitu, kecuali jika bertanya kepada orang tua nya.
Eldania malas hanyut dalam sebuah masalah lagi jika berurusan dengan orang itu.
"Ibu! Apa yang terjadi?" Azel akhirnya muncul menemui mereka berdua setelah telat selama beberapa menit.
"Hanya iblis yang hilang kendali, tapi Ibumu tidak apa-apa." jawab Eldania secara sepihak.
Azel jadi tersenyum sendiri dan menawarkan. "Apa kau mau makan di rumahku?"
"Boleh." soal makanan harus menjadi nomor satu, setelah sedikit mengeluarkan energinya maka harus diisi dengan makanan yang enak dan menyelerakan mulut, tenggorokan serta lambungnya. itulah yang Eldania harapkan dari berteman dengan sosok seperti Azel yang ramah, karena selalu mengajaknya makan.
___________
Di malam harinya, Ketiga orang tersebut sudah sampai di rumah.
Selagi sang ibu memasak dan Eldania turut membantunya. Tapi lain hal dengan Azel yang sedang membicarakan sesuatu dengan seekor burung hantu putih yang sedang bertengger di tangan kirinya.
"Wahh! kamu jadi repot-repot membantu ibu." tuturnya sambil memotong jamur.
"Tidak masalah.” Eldania ikutan membantu agar persiapannya cepat selesai. Karena dengan begitu maka dia bisa menikmati makanannya lebih cepat.
__ADS_1
"Tapi ternyata menantuku pandai memasak!" lagi-lagi wajah bahagianya dan ucapan tak terduga itu kembali terlontar dari mulutnya.
"Aku bukan menantu, tapi sekutu." Interupsi Eldania yang sudah merasa lelah, ketika telinganya lebih sering mendengar kalimat menantu.
"Alah-alah, jangan malu-malu begitu. " godanya lagi sambil menyikut pinggangnya Eldania.
Terus di goda oleh ibunya Azel, membuat hatinya jadi geram sendiri. Dia cepat-cepat mengocok telurnya, mencincang daun bawang sampai lembut, mengiris bawang merah dan bawang putih lebih cepat layaknya koki sungguhan.
Kurang dari 15 menit akhirnya makannya sudah jadi, dan siap dihidangkan.
Entah untuk berapa kali, dia akhirnya membuat makanan untuk orang lain lagi. Telur dadar gulung, kari ayam, salad, Gratin, spaetzle, Herbs Roasted Chicken ada roti sebagai makanan pendamping dan steak.
"Ibu, dimana ayah?" Tanya Azel akhirnya turun dari lantai dua.
"Oh! Azel? Ayahmu sedang menyelesaikan pekerjaannya." jawab ibunya dengan antusias.
"Kita sudah selesai." sedangkan Eldania langsung menyala ucapan di antara mereka berdua.
Azel melihat semua hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja. "Kamu membuatnya juga?" tanyanya, melihat beberapa hidangan yang tidak pernah dia lihat.
"Dania membantu ibu memasak agar cepat selesai, tapi dia juga membuat makanannya sendiri yang enak untukmu." Jawab Ibu Azel, menjelaskan alasan kenapa ada beberapa makanan yang asing, namun dilihat dari penampilannya, sudah berhasil membuat mereka yakin, kalau masakan yang dimasak oleh Eldania cukup enak.
Sebab menemukan bahan makanan saat pulang tadi, dengan bahan murah di bisa membuat makanan lezat tingkat bintang lima.
"Jadi seperti itu." singkat Azel.
Ketiga orang itu pun duduk bersama, eldania duduk di sebelahnya ibunya Azel dan Azel sendiri duduk di seberangnya Eldania.
"Mari kita makan, sebelum makanan enak ini keburu dingin." terangnya, dia mengambil satu sendok gratin yang di campur jamur dan memakannya.
Azel mendukung ucapan ibunya, ia menunduk dan menatap makanan yang sudah tersaji di atas piringnya. "Benar. Makanan ini harus di makan sebelum di-" tapi ayatnya segera menggantung ketika ada satu sendok hadir ke depan wajahnya.
Siapa yang melakukannya adalah Eldania sendiri yang ingin menyuapinya makanannya kepadanya.
Menatap satu sendok yang ada di depan matanya, Azel bertanya. "Apa kau tak menyesal? Jamur itu enak lo." tanyanya.
"Aku tidak peduli soal jamur. Ahhh!" membuat kode agar Azel membuka mulutnya.
Namun akhirnya Azel membuka mulutnya dan memakan satu suapan yang disodorkan oleh Eldania lagi.
"Bagaimana?"
Dengan serius, Azel menjawab "Cukup sempurna." sambil tersenyum.
Seperti sebuah ciuman tidak langsung, Eldania kini sudah makan satu suapan dengan sendok bekas milik Azel. "Lain kali aku akan membuat pencuci mulut yang enak." ucapnya lagi.
__ADS_1
"Wah, kamu bisa?" dengan mata berbinarnya ibunya Azel jadi makin berharap bahwa 'lain kali' itu segera datang.
"Akan aku tunggu waktu yang ingin kau tunjukkan itu.” Azel pun menjawab juga.