
“ TEMBAK!. “
Sebuah tembakan berhasil mendarat di antara segerombolan monster yang datang.
Beberapa ledakan pun terjadi, memberikan kebisingan yang cukup memekakkan telinga.
“Argghh…!“ Salah satu orang terhempas ke belakang dengan cukup kuat setelah terkena hantaman dari salah satu monster yang memukulnya.
CTANG…………
CTANG………..
“ Bagaimana ini? Kita di buat kewalahan dengan jumlah mereka yang melebihi jumlah pasukan kita tuan! “ teriak salah satu ksatria, melihat situasi semakin kacau balau dengan jumlah musuh yang terasa tidak ada habisnya.
“ Dimana Irine?! “ tanya Duke Avrel saat tidak melihat tanda-tanda keberadaan gadis penyihir itu.
“ N-nona….” ksatria ini melirik ke samping kanan sedikit ke depan. “Dia disana!“ menunjuk ke satu orang perempuan yang hanya berdiri mematung saja.
CRASZHH……..
Setelah berhasil membunuh satu monster, Duke Avrel menoleh ke belakang. Dia melihat Irine justru hanya berdiri saja tapi dengan wajah tercengang. [ Apa yang membuatnya berekspresi seperti itu?!] pikirnya.
Itu seperti ekspresi antara terkejut juga takut.
[ Sejak kapan anak itu terlihat seperti takut? ] saat masih melihat ke arah Irine yang hanya berdiam diri saja, tiba-tiba Duke Avrel melihat gadis itu kini sudah mulai mengayunkan tangan kanannya ke atas, tapi dengan wajah super cemas.
Kemudian sebuah petir langsung menyambar.
JDERRRR………!.
Sukses membuat semua orang dan monster yang sedang saling bertarung menoleh ke sumber asal dari petir yang tiba-tiba datang itu.
“ I-itu apa?!“
“ B-besar sekali?! “
“................” Duke Avrel ikut tercengang. [Manusia setengah ular?! Siluman?!] Avrel pun melihat sosok besar dari tubuh seorang wanita yang dimana setengah tubuhnya berwujud ular.
“Walah-walah…., petir tadi cukup menggelitik kulitku. “ lirik wanita setengah ular ini, kepada Irine yang baru saja mengeluarkan sihir petir kepadanya, namun yang didapatkan hanyalah sensasi menggelitik saja.
Wanita ini baru saja keluar dari dalam tanah, dan makhluk ini pula yang membuat Irine merasakan tekanan hebat yang didasari dari rasa mengintimidasi.
“ Dia-“ Merasakan tekanan dari aura yang cukup dingin, membuat Irine mundur satu langkah.
Setelah melirik ke arah Irine, dia merubah tatapannya untuk menatap para manusia dan monster yang berhenti bertarung karena kedatangannya.
Wanita berambut panjang, dengan separuh tubuh ular itu kemudian tersenyum lebar, sembari berkata. “ Aku puji tekad kalian yang tidak goyah melawan anak-anakku, walaupun kalian sudah tahu bahwa hari ini hari hari terakhir dari hidup kalian. “
__ADS_1
“ Gawat….!“ merasakan merinding di sekujur tubuhnya, prajurit bayaran ini langsung mundur.
“ Kita tak mungkin bisa menang! Lari! “
Tidak hanya tiga empat orang saja, sebagian besar ksatria dan prajurit bayaran langsung lari demi menghindari kematiannya.
“Aku tidak mau mati disini-”
BRAKK…..
Ekor dari tubuh ularnya, berhasil menimpa beberapa manusia yang hendak kabur itu. “ Berisik sekali, manusia. “ merasa terganggu dengan suara berisik dari ketakutan para manusia yang kabur itu.
“ Sebenarnya apa maumu? “
“ Duke…!“ Salah satu seorang ksatria yang tidak kabur sedikit berteriak pada pria berjabat Duke itu, sebab tiba-tiba menanyakan hal yang sudah jelas tujuannya.
Wanita separuh ular ini menjawab. “ Makhluk kecil yang sangat rapuh dan lemah. Apa kau masih sok berpura-pura tidak tahu?“
“ Antara tahu dan tidak tahu, setidaknya katakanlah tujuanmu, kenapa tiba-tiba muncul di saat-saat seperti ini?“ ucap Duke Avrel yang tetap tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun pada makhluk besar di depannya.
“ Saat ini aku merasa sangat lapar. Kalian akan menjadi pengorbanan untukku. Mungkin kalian akan terasa tidak enak, tapi kalian tetaplah makanan. “ jawab wanita ini.
“ Tarik nafas yang dalam, Irine!. Kau masih akan merasa takut, tapi ototmu akan terasa rileks. “ Perintah Duke Avrel kepada Irine yang ketakutan itu.
Irine yang mendengar perintah dari tuannya, segera menjawab. “ Baik. “
Duke Avrel dan Irine sama-sama menarik nafas yang dalam, bahkan Evan pun sama-sama mencoba melakukannya. Tak berapa lama, mereka bertiga mulai sedikit rileks dan bisa bergerak.
GLUKK…….
Mereka menelan salivanya sendiri, rasa khawatir akan kemampuan mereka yang tidak sebanding dengannya menjadi keraguan mereka.
“ Hehh….” dengan senyuman liciknya, wanita separuh ular yang memiliki sepuluh kepala anak ular di tubuhnya itu langsung bergerak menargetkan para manusia yang tersisa di depannya.
Tiap mulut yang terbuka, langsung memunculkan tembakan api yang cukup membuat dinding langsung hancur seketika.
DHUARR……
“ Evan, Irine, bersiaplah. “ perintah Duke Avrel. “ Manusia mungkin memang terlihat kecil dimatamu, tapi kami tidak selemah yang kau katakan. “ Avrel menambahkan.
Evan dan Duke Avrel sudah bersiap dengan pedang mereka, sedangkan Irine bersiap dengan posisinya untuk menyerang makhluk itu dari sisi yang tidak akan dijangkau dan memastikan bisa melindungi orang-orang di belakangnya yang sedang berlari mundur.
“ Hyaahh….!.“ Avrel dan Evan kemudian berlari bersamaan dengan pedang sudah berada ditangannya, mereka berdua pun mulai melakukan serangan.
________________
Gelap, dingin, bercampur aroma dari suhu ruangan yang lembab.
__ADS_1
[ Tempat ini, berisi banyak telur. ] gadis ini mulai memasuki tempat yang dikenal sebagai kuil darah.
Dia mencoba menjelajah dari tempat persembunyian satu-satunya binatang besar yang dia tebak sebagai induk dari semua telur yang ada di sarang ini.
Sebuah gua suram yang diselimuti oleh ribuan telur yang dilindungi oleh jaring-jaring yang terbuat dari aliran darah, membuatnya semakin memperlihatkan kengeriannya.
Eldania yang sedikit berjalan mendekat ke salah satu telur itu, tiba-tiba melihat sosok seperti manusia muncul dan seperti ingin keluar.
[ Apa itu masih disebut sebagai manusia?. Dia terlihat sudah berubah menjadi sesuatu yang lain. ] pikir Eldania, lalu berjalan menjauh. Karena bagaimanapun dia tidak ingin membuat makhluk di dalam telur itu keluar, dia tidak mau bersimpati dengan manusia di dalam sana karena pada akhirnya selalu merepotkan.
Eldania memutuskan untuk melanjutkan penjelajahannya selagi pemilik dari kediaman kuil darah ini sedang pergi.
Terus berjalan, semakin dalam, dan semakin masuk ke dalam. Di dalam perjalanannya ada tulang ular yang masih utuh, tapi itu tidak menghentikannya untuk terus masuk kedalam.
Sampai di satu titik, dia menemukan ruangan yang cukup luas.
“ Siapa? “
Satu suara yang lembut itu membuat Dania celingukan untuk mencari dari pemilik suara itu, tetapi yang ada disana hanya dia seorang diri.
“ Katakan namamu. “ Suaranya mengisi seluruh ruangan.
“ Eldania. “ jawabnya. Dia mencoba menunggu antara kemunculan dari pemilik suara ini, atau pertanyaan berikutnya.
“ Eldania, apakah kau adalah manusia yang diramalkan untuk membunuhku? “
“ Entahlah. Memangnya aku tahu masa depanku yang akan membunuhmu?. Jadi aku tidak tahu. " kata Eldania dengan sedikit ketus.
" Hahaha....benar juga. Sejak awal datang kau adalah manusia yang tidak punya alasan untuk membunuhku. "
" Siapa yang tahu itu?"
" Ya.....siapa yang kalau tahu kalau di detik berikutnya kau akan membunuhku jika aku melakukan sesuatu yang mengancammu. "
"......................" Eldania terdiam. Dia tidak akan menyangkal kalimat yang satu itu. " Perlihatkan dirimu. “ pinta Dania, terhadap suara yang terus menerus melontarkan pertanyaan kepadanya, tapi dia belum tahu seperti apa wujud dari pemilik suara itu.
“........................” Setelah keterdiaman nya, sebuah kolam dengan air merah yang merupakan darah, tiba-tiba memunculkan sebuah gelombang. Setelah itu, hal yang pertama kali muncul adalah sebuah kepala, dan seiring berjalannya waktu makhluk berwujud seperti manusia terus berjalan keluar dari kolam.
Sosok gadis kecil dengan rambut berwarna merah yang cukup panjang, sehingga membuat rambut panjang nya itu di kepang ke belakang. Tetapi kedua tangannya di segel dengan rantai yang cukup panjang yang terikat dengan sesuatu yang ada di dalam kolam. Apa itu, Eldania tidak tahu.
Berhasil terbujuk keluar dari persembunyiannya, gadis ini berjalan mendekat ke arah manusia yang sedang berdiri itu, yaitu Eldania.
“ Jadi kau yang namanya Eldania?“ tanya gadis ini kepada Eldania.
“ Benar, aku Eldania. “ jawabnya.
Gadis berambut merah membara ini menatap Eldania dari atas sampai bawah, lalu berkata. “ Aku kira kau orang itu. “
__ADS_1
[ Siapa yang dia maksud?] Eldania mulai penasaran dengan ucapannya itu.
“ Kau punya aroma yang sama dengannya. Jadi aku mengira, kau adalah orang itu. “ katanya lagi, sambil menunjuk Eldania dengan jari telunjuknya sendiri.