
“ Evan, aku punya pertanyaan untukmu. “
“ Apa itu? “
“ Apakah kamu pernah berpikir kalau perempuan yang disana itu iblis?“ tanya pria ini kepada Evan.
Mereka berdua kini sedang berdiri di atas dinding, sambil mengamati pergerakan yang tidak lain adalah pertarungan yang sedang terjadi di depan mereka.
Diantara banyaknya orang yang turun tangan untuk mengerjakan pekerjaan mereka yaitu membasmi monster, ada satu orang yang terlihat lebih semangat.
Itu adalah Eldania.
Lalu kembali lagi ke Evan. Sebenarnya Evan memang pernah berpikir bahwa perempuan yang dia temui di pasar adalah seorang iblis. Tapi sayangnya, itu hanya prasangka buruk yang dia lihat berdasarkan dari luarnya saja.
Apalagi karena Evan belum pernah sekalipun bertemu iblis, jadi hanya asal menyimpulkan saja.
Tetapi sekarang, semua pemikiran itu sudah menghilang setelah dia berjabat tangan dengannya. Jabatan tangan yang membuat tubuh lelahnya seketika hilang dalam sekejap.
Efek dari kekuatan yang pernah dia rasakan ketika dahulu, yaitu kekuatan suci.
Dan kekuatan suci hanya dimiliki oleh manusia. Oleh sebab itu, Evan berani menjawab. “ Aku sangat yakin, dia manusia seperti kita. Kenapa bertanya seperti itu?“ ucapnya, sembari bertanya balik.
Ksatria ini sedikit membungkuk ke depan, siku tangan kanannya bertumpu pada batu pembatas untuk alasan menopang dagunya, sedangkan arah pandangannya tetap terpaku pada sang perempuan yang terlihat gila di mata kesatria ini.
Untuk pertama kalinya, dia bisa melihat seorang perempuan menikmati pertarungannya sendiri. Oleh karenanya, itu menjadi tontonan yang cukup menarik.
“ Kamu tahu kan? Mata merah adalah warna mata yang dianggap hina oleh banyak orang? “
“ Iya, aku juga tahu tentang itu. Tapi aku tidak sekalipun membencinya hanya karena alasan seperti itu. “ Walau Evan sedang termenung, tapi mulutnya tetap menyahut ucapan temannya itu.
“ Ho~.......Seperti yang aku duga dari Evan. " selanya, dengan nada sedikit menggoda.
"..............?" Sedangkan Evan tidak mengerti maksud dari praduga dari temannya itu.
" Banyak yang menyamakannya dengan iblis, tapi bahkan iblis sekalipun sebenarnya tidak ada seorangpun yang punya warna mata merah seperti itu loh. Itulah alasanku bertanya padamu untuk meminta pendapatmu tentang itu. “ tambahnya lagi.
“ Kalau begitu aku tanya balik, dari mana kamu bisa tahu bahwa iblis tidak ada yang punya warna mata seperti dia?“ Tanya Evan penasaran, karena banyak diantara mereka yang belum sekalipun bertemu dengan iblis.
Itu terjadi karena peperangan melawan iblis sudah berhenti sejak lima ribu tahun yang lalu, tepatnya setelah kematian Raja iblis sebelumnya.
Sebab sukses membuat Evan penasaran, ksatria ini lalu mendekatkan kepalanya pada Evan, hingga berakhir dengan sebuah bisikan kecil. “ Tentu saja aku tahu. Aku hanya akan memberitahumu saja, jadi rahasiakan ini dari orang lain. Termasuk Duke Avrel, ok?“ bujuk pria ini pada Evan, agar merahasiakan apa yang akan ksatria ini ceritakan.
“ Hmm….” Evan berdehem, sebagai jawabannya.
Kemudian Ksatria ini menjeling ke arah kanan dan kiri, memastikan tidak adanya orang di sekitar mereka. Setelah dirasa aman, dia pun mengungkapkan satu rahasia yang dimilikinya kepada Evan seorang.
“ Apa kamu pernah mendengar pulau Manisphure? "
" Ya. " Evan tahu apa itu pulau Manisphure. Itu adalah pulau dimana asal muasal kaum makhluk iblis berada.
Itu adalah pulau yang mempunyai julukan pulau kabut, karena sekitar area pulau selalu terselimuti kabut.
" Sebenarnya aku punya sertifikat izin untuk keluar masuk wilayah iblis. “ bisik ksatria ini.
“ Apa?" mata Evan langsung membulat sempurna dan segera menatap temannya itu dengan ekspresi serius tidak percaya.
Evan merasa tidak percaya, bahwa temannya itu memiliki surat izin untuk memasuki wilayah Iblis?!.
Seperti yang diketahui banyak orang, setelah perdamaian yang terjadi setelah kematian Raja iblis lima ribu tahun yang lalu, membuat kaum iblis dan manusia memiliki sebuah perjanjian damai.
Dimana salah satu perjanjian itu adalah, kaum iblis tidak lagi membuat masalah, dengan cara adanya izin ketat penduduknya untuk tidak keluar dari pulau Manisphure.
Dan karena adanya penjagaan ketat seperti itu, untuk manusia yang hanya menginginkan tujuan bisnis dengan mereka kaum iblis, membuat para manusia harus memiliki surat izin resmi.
Hal ini disebabkan, mau selama apapun perjanjian perdamaian yang sudah dibuat mereka, namun dalam jati diri mereka tetap menyimpan dendam juga perasaan tidak suka pada musuh bebuyutan mereka.
Itulah cara meminimalisir perselisihan diantara mereka.
" Aku tidak bohong, lihat ini. " Ksatria ini kemudian memperlihatkan sebuah kalung dengan bandul hitam dengan lambang warna emas bentuk bintang terbalik, dan di tengah-tengahnya terdapat tiga huruf kuno.
Huruf pertama, mengartikan nama pulau iblis yaitu Manisphure, yang kedua nama pemilik kalung, dan yang ketiga adalah sandi khusus miliknya.
" Percaya kan?"
Karena baru pertama kali melihat kalung itu dengan mata kepalanya sendiri, Evan masih menyimpan sedikit keraguan.
Dan karena terlihat dari wajah Evan adalah wajah yang masih tidak percaya, maka ksatria ini akhirnya sedikit menanamkan 'mana' sihir miliknya kedalam kalung yang sedang dipegangnya. Setelah itu, selembar kertas berwarna coklat muncul, kemudian dia memberikannya kepada Evan.
Evan yang sedikit tercengang dengan fenomena itu, langsung dibuat percaya setelah membaca dari isi surat itu.
[ Ini asli. ] pikir Evan, lalu mengembalikan kertas itu kepada pemiliknya.
“ Aku sudah bertemu banyak penduduk iblis disana. Rupa mereka sebenarnya mirip seperti kita, tapi yang namanya iblis ya iblis. “ ucapnya lagi. " Juga jangan terkecoh dengan penampilan luarnya, karena mereka tetap memiliki aura berbeda dari manusia, ksatria yang mempunyai 'mana' akan mudah membedakannya. " tuturnya lagi, memberikan peringatan.
“ Kita kembali ke topik utama. Apa lagi yang kau tahu tentang cerita kalau warna mata merah itu adalah warna hina? “
“ Soal mata merah. Nona Eld….., keberadaannya sebenarnya dilambangkan sebagai anak haram. Itulah mengapa yang mempunyai warna mata ini dianggap hina, karena artinya dia lahir dari hubungan gelap dari keturunan yang sama-sama memiliki nasib yang sama. “ jelasnya.
__ADS_1
“....................” Evan masih menyimak dengan seksama. Dan Evan yang hendak angkat bicara untuk menanyakan sesuatu, langsung mengurungkan niatnya itu karena langsung disela.
“ Pasti ada yang membuatmu bertanya-tanya kenapa? Kenapa dia punya mata merah hanya karena hasil dari hubungan gelap. Padahal aku sendiri yang juga punya nasib yang sama, justru tidak memiliki warna mata seperti itu. Ya kan? “ tanyanya, mencoba memancing rasa penasaran dari diri Evan.
“ Lanjutkan. “ sela Evan dengan cepat, dia tidak sabar ingin mendengar kelanjutan ceritanya.
Ini dikarenakan Evan tidak suka cerita tak berdasar yang tidak diketahui asal usulnya. Jadi, Evan secara otomatis langsung terpancing saat temannya itu membahas salah satu rumor yang sudah lama tidak di ketahui dari mana asalnya.
Dengan senang hati, ksatria ini mengungkapkan fakta yang diyakininya. “ Kasus ini terjadi karena salah satu diantara kedua orang tua gadis itu pasti tidak lain adalah manusia campuran. Selebihnya aku tidak tahu lagi, karena identitasnya lebih rumit, dan lebih panjang dari sejarah kekaisaran. Itulah penyebab rumor tentang warna matanya, cukup terkenal. “
" Hmm….dari semua ceritamu tadi, aku mulai paham. Tapi dari apa yang aku lihat, nona Eld seperti tipe orang yang tidak peduli dengan identitasnya. " ujar Evan
" Kamu benar, walaupun tidak banyak orang yang membicarakan tentang mata itu secara terang-terangan disini, tapi semua tatapan benci mereka yang justru terlihat cukup jelas, nyatanya tidak membuat anak itu terusik. " jelasnya lagi.
Dan ksatria ini pun mulai mengangkat salah satu kakinya ke atas batu, dia berencana untuk melompat, tetapi sebelum melompat, dia meninggalkan sedikit pesan.
" Tapi karena karakternya itulah, dia menjadi pembeda dari perempuan lainnya. Dan ngomong-ngomong….. instingku mengatakan dia punya lebih banyak pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang lain, ada baiknya kamu coba mengorek informasi apapun yang dia punya. " ucap ksatria ini sebelum akhirnya dia melompat turun dari atas dinding itu.
" Gampang sekali dia bicara seperti itu. " Evan bergumam lirih. [ Tapi apa yang dikatakannya, memang tidak pernah salah. Hanya saja….., sepertinya nona Eld sudah menyadarinya lebih dulu bahkan sebelum aku mencoba saranmu. ] pikir Evan saat mengetahui tatapan sekilas dari Eldania kepadanya tadi, sebelum pergi berlanjut bertarung.
Belum apa-apa tapi sudah ketahuan, Evan tersenyum miring.
Meski begitu, Evan tetap memperhatikannya dari tempatnya sendiri. Dia kemudian memikir ulang semua cerita yang sudah dia dengar barusan.
Diantaranya adalah tentang izin masuk ke pulau Manisphure.
[ Pulau Manisphure, tempat dengan izin ketat bagi manusia yang ingin masuk. Tapi jika ada hubungannya dengan Academy Klenon……, itu menjadi satu pengecualian untuk para kandidatnya.
Yang terpilih langsung diperbolehkan masuk.
Hmm….Academy Klenon...ya. Tempat tujuan yang dihuni oleh musuh bebuyutan kami, hanya untuk mendapatkan medali Brillante, dan nona Eld ternyata masuk dalam pemilihan itu.
Medali yang terbuat dari batuan sihir yang paling langka di benua.
Dan yang beruntung, dia akan mendapatkan otoritas memasuki segala tempat tanpa pemeriksaan. ] pikir Evan dengan keras.
Ini terjadi karena Evan tahu, bahwa di dekatnya ada satu orang yang akan pergi ke tempat itu.
Evan sebenarnya menyayangkan hal itu, karena perempuan yang wajahnya terlihat polos itu akan memasuki sarang berbahaya.
Evan berpendapat, perempyan seusianya itu lebih cocok untuk memakai gaun cantik, bukan pakaian dengan celana macam laki-laki.
Tangan kurus kecil dengan kulit putih pucat yang terlihat lebih anggun untuk memegang pena, bukan pedang.
Juga...
Tetapi semua pikiran itu hanyalah sebuah imajinasi belaka yang tiba-tiba muncul dan membuat Evan tersadar kembali.
“..............! “ Evan sekilas tersadar, dan langsung mengatur kembali ekspresi dari wajah berpikir nya tadi. Tangan kanannya langsung Evan gunakan untuk menutup mulutnya dan bergumam sendiri. “ Kenapa aku tiba-tiba berpikir seperti itu?“ gumam Evan.
Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba saja terlintas sebuah pikiran imajinasi yang terasa cocok untuk standar lingkungan dari sosok perempuan yang di sapa nona Eld oleh Evan.
Tetapi ketika Evan menatap telapak tangan kanannya, dia kembali di buat berpikir. [ Hmm……, dari seni bertarungnya saat ini, dia pasti sering berlatih pedang. Tapi tangannya……, dia tidak terlihat seperti itu. Apa karena itu?]
Evan kembali mengingat saat dirinya bersalaman dengan Eldania lima hari yang lalu. Evan masih bisa mengingat jelas perasaan yang Evan rasakan saat bersalaman itu.
[ Kecil, hangat, tapi halus. ]
Beberapa detik kemudian, Evan langsung menepuk jidatnya sendiri sambil menghela nafas. Dia lagi-lagi berpikiran seperti itu, terhadap perempuan yang belum lama dia kenal
Namun itulah kesan yang Evan miliki saat itu. Dan masih membekas dalam pikirannya.
Dan waktu kian menunjukkan jam sore.
Satu orang tambahan, temannya yang baru saja turun itu, kini terlihat diam-diam mencuri-curi pandang nona Eld yang sedang berdiri sambil memandang monster yang sudah tergeletak setelah menjadi korban dari pekerjaannya.
“ Heh……., “
[ Dia tersenyum?] detik hati Evan, saat tidak sengaja sudut matanya langsung menemukan senyuman tipis, dari jarak sejauh itu.
Tetapi senyuman yang Evan lihat bukanlah senyuman yang selama ini pernah dia lihat, melainkan sebuah senyuman sinis yang terlihat seperti seorang perempuan antagonis yang akan memerankan karakter jahatnya.
Setelah tersenyum demikian, gadis itu terlihat menggerakkan bibirnya dan mengucapkan beberapa patah kata yang tidak dapat dia dengar, kecuali…
‘ Kena kau. ‘
“...............?! “ Evan bingung dengan maksud dari ucapan dia perhatikan dengan gerakan bibir yang dilihatnya tadi.
Lalu saat ini Evan pun sudah melihat pedang yang dipegang oleh Eldania sudah terangkat, setelahnya pedang tersebut pun langsung dihunuskan ke bawah.
JLEBB……..
[ Apa yang dia lakukan?! ] Evan tidak mengerti maksud dari tindakan yang dilakukan oleh Eldania itu, karena dari tempat Evan berdiri, pedang itu hanya terlihat di tancapkan ke tanah.
___________
Senyuman yang menghiasi bibirnya adalah senyuman miris bercampur dengan senyuman puas.
__ADS_1
Pedang yang dipegang oleh Eldania sukses memotong tubuh yang menjadi bagian penyebab Eldania kini sedang memperlihatkan ekspresi horor dengan senyuman paksanya.
Dua perasaan bercampur aduk, yaitu perasaan puas juga jijik.
Itulah yang Eldania rasakan saat ini.
Eldania kemudian mengernyitkan mata sambil menarik kembali pedang yang ditancap ke tanah, pedang itu sebenarnya baru saja digunakan untuk membelah tubuh hewan yang paling dihindari selama ini.
“ Aku tidak mengerti, tapi kau lebih menjijikan ketimbang monster-monster ini. “ gumamnya dengan ekspresi merendahkan.
Hewan dengan tubuh panjang, memiliki banyak kaki yang biasa bergerak secara berurutan. Apa lagi kalau bukan Lipan.
[ Bagaimana makhluk seperti ini bisa ada di sini? ] pikirnya.
Dalam hatinya, dia sebenarnya sudah berteriak.
Eldania terkejut dalam diam dengan kemunculan binatang kecil itu. Sehingga tanpa sadar karena kebetulan tangannya sedang memegang pedang, maka dia cukup puas karena bisa langsung menyingkirkan hewan tersebut tanpa basa-basi.
“ Walaupun kau sudah mati, tapi tubuhmu tetap memperlihatkan kesan menjijikan… “ Eldania segera berpindah posisi, dia kini berdiri dengan pedang di kedua tangannya, lalu menggunakannya ke belakang. [ Kau harus aku buang jauh-jauh dari sekitarku. ]
Setelah berpikir demikian, Eldania langsung mengayunkan pedangnya ke bawah dengan posisi seperti bermain golf. Lalu dengan sekuat tenaga dia akhirnya melempar tubuh lipan itu jauh-jauh.
SYUUNG……..
Seketika Eldania tersenyum puas bisa membuang tubuh Lipan jauh dari tempatnya dengan begitu mudahnya.
Itulah yang direncanakannya dengan modal pedang yang dipegangnya.
Tetapi apa yang sebenarnya terjadi ketika Dania sudah berhasil memindahkan tubuh Lipan yang tidak enak dipandang dimata Eldania?
|
|
PLUK…………
Dua tubuh mungil dan menjijikan milik Lipan langsung terjatuh ke tanah, tapi di detik itu pula tubuh hewan tersebut langsung terinjak.
JRATT……
“...............?! “ Sampai mengeluarkan bunyi yang cukup mengerikan, sepasang matanya langsung melihat ke bawah. Dia mengangkat salah satu kakinya, dan terlihat sudah berbagai cairan dan organ dalam dari tubuh kecil itu sudah berserakan melumuri telapak sepatunya. [ Siapa gerangan orang yang melempar makhluk ini ke kakiku?]
Matanya mencari-cari si tersangka, dan setelah merotasikan arah pandangannya ke segala penjuru, dia akhirnya menemukan seseorang yang terlihat bahagia dengan pedang yang terus diayunkan dari samping belakang, lalu diayunkan ke bawah dan berlanjut ke depan.
“ Dia?“ Pemilik dari surai berwarna senja ini langsung memungut sisa separuh tubuh Lipan yang masih utuh itu dengan ujung pedangnya.
Dan selanjutnya, orang ini sedikit melemparnya ke atas. Sampai di detik dimana tubuh Lipan itu mulai terjatuh kembali, dan saat posisi hewan kecil itu ada di depan matanya, tangan kanannya yang masih memegang pedang itu langsung diayunkan dari belakang ke depan dengan keras.
Orang ini langsung memukul keras sisa dari separuh tubuh Lipan yang masih utuh itu ke seseorang yang menjadi penyebab dari detik pembalasannya.
Di saat yang sama, Eldania yang memang sedang terpikirkan untuk mencoba bermain Golf kembali, langsung merasakan hawa keberadaan yang terus mendekat dengan kecepatan yang cukup cepat.
Meski begitu, Eldania justru merasakan sebuah ancaman yang terasa familiar yang belum lama ini dia rasakan.
Itu adalah perasaan mengancam beberapa detik yang lalu.
Apa itu?!
“....................” Seketika Eldania menundukkan kepalanya, dia terdiam sejenak.
Yang diam itu hanyalah mulutnya saja. Karena hati dan pikirannya terus berteriak, membuat tangannya tidak bisa tinggal diam untuk membiarkan satu ancaman yang mengerikan itu datang ke tempatnya lagi.
Maka dari itu tangan kirinya pun dengan cepat langsung menyambar pistolnya. Dia mengarahkan senjatanya ke samping kiri, lalu ujung jarinya pun menarik pemicunya, hingga di detik itu…..
DORRRR….
“...............!“ Pemilik rambut senja ini kembali membelalakkan matanya.
Suara yang tidak seberapa keras itu segera ikut mengisi dari segala suara erangan dan berbagai tebasan pedang yang memotong daging monster.
Dalam jangkauan kurang dari sepuluh meter itu, makhluk yang menjadi target Eldania seketika menghilang.
Eldania kembali berhasil menyingkirkan salah satu musuhnya.
Tetapi, jangkauan tembakan yang Eldania lakukan rupanya juga melebihi target sebenarnya.
Tepatnya, peluru yang berhasil di tembakkan itu terus melesat ke depan dan berhasil menjangkau seseorang yang sedang berdiri jauh di jarak lima puluh meter depan sana.
SRATT………
Goresan tipis di pipi sebelah kanan berhasil didapatkan oleh ksatria Arga. Namun korban yang selanjutnya dari peluru yang lewat itu adalah makhluk yang diam-diam sudah berada persis di belakang Arga.
“ Arghh………” rintihan langsung terdengar, tepat setelah benda kecil dan mungil seperti batu kerikil itu masuk ke dalam perutnya. Hingga akhir dari drama menegangkan mereka semua adalah berhasilnya Eldania menyingkirkan monster terakhir itu dalam sekali serang.
[ Dia berbahaya. ] Pikir monster ini, di detik dimana sebelum pandangannya menjadi kabur dan gelap, hingga berakhir tubuhnya tumbang ke atas tanah.
BRUKK……...
__ADS_1