Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
41 : Eldania


__ADS_3

“ Aku menemukanmu. “ kata Arga. 


“...............!. “ Eldania dengan segera merespon ucapan Arga dengan cepat. “ Aku juga akhirnya menemukanmu. “ Menghiraukan rasa terkejutnya tadi, Eldania dengan cepat mengikuti alur dari suasana yang dibuat Arga atau lebih tepatnya sosok lain di dalam tubuh Arga dengan sebuah senyuman.


[ Apa?. ] Mendengar pernyataan lawan bicaranya yang terdengar merasakan hal yang sama dengan yang baru diucapkannya, membuat Arga seketika membuka matanya lebar-lebar.


Dia akhirnya melihat wajah gadis itu lebih dekat lagi. Apa lagi dengan tangan yang membalas cengkramannya. Membuat sosok yang ada dalam diri Arga merasakan rasa lega yang luar biasa. 


Dia melirik ke arah dimana tangannya digenggam erat oleh Eldania. Entah karena suhu udara di Helion itu memang sedang dingin, Arga tidak merasakan kehangatan di tangannya.


Arga menepis segala keanehan itu.


[ Apa itu artinya dia juga mencariku?. ] batinnya. “ Jadi kita merasakan hal yang sama?. “ tanya Arga dengan wajah penuh harap. Dia berharap bahwa ini bukanlah mimpi.


Tetapi berbeda dengan yang diharapkan oleh Arga. Senyuman lembut yang terukir di bibir gadis itu seketika menghilang dan tergantikan dengan tatapan dingin. 


Ekspresi wajahnya berubah lebih cepat dari membalikkan halaman buku.


Eldania sedikit memiringkan kepalanya ke kiri dan berkata. “ ‘ Merasakan hal yang sama? ‘ " tanya Eldania balik dengan nada sedingin Es batu, seakan sedang merendahkan. " Itu hanya perasaanmu saja. Yang aku maksud adalah, aku akhirnya bisa menangkapmu, makhluk halus. Mengerti?!. “ Sambung Eldania sekali lagi dengan ekspresi dan nada yang serius, tangannya pun membalas cengkraman tangan yang diberikan Arga itu dengan lebih kuat.


GERTT……..


“..........!. “ Seketika Arga mengernyit, sebab cengkraman tangan yang diberikan gadis ini tak kalah kuat. [ Makhluk halus?. Aku sudah bukan lagi makluk halus!. ] batin Arga.


Ya…..walaupun tangan dari gadis ini lebih kecil darinya, tapi itu tidak menjadi tolak ukur dari kekuatan yang sebenarnya dimiliki oleh Eldania sebenarnya cukuplah kuat.


“ Katakan, siapa sebenarnya kau dan apa alasanmu merasuki tubuh orang ini?. “ tanya Edania, langsung mengungkit keberadaan dari sosok yang merasuki tubuh Arga. [  Aku sejujurnya malas ikut campur, tapi karena sepertinya berhubungan denganku, mau tidak mau aku harus turun tangan. ] batinnya. [ Tapi….. ] Eldania semakin menatap Arga dengan lebih serius.


Reaksi yang ditunjukkan oleh Arga adalah reaksi datar. Dia termenung sambil menatap lawan bicaranya itu. [ Jadi..aku salah sangka. Aku kira dia kenal denganku. Apa karena aku menggunakan tubuh yang berbeda?. ] batin sosok lain dari dalam diri Arga, kemudian menjawab.  “ Aku adalah orang yang kamu kenal. Lin…., ingatlah. “ 


Tidak ada yang akan dia sembunyikan, karena dia percaya bahwa orang yang sedang dia cari adalah perempuan yang ada di depannya ini.


Arga meyakini itu setelah dia memperhatikan wanita ini dari sekian lama. 


Sedangkan Eldania terkesiap. Tatapan Eldania seketika bertambah dingin saat mendengar nama panggilan lama-nya terdengar kembali dan justru terucap dari mulut Arga?!.


Siapa sebenarnya sosok di dalam tubuh Arga ini?.


Berbagai tanda tanya terus bermunculan.


Eldania dibuat semakin waspada pada sosok yang merasuki tubuh Arga ini.


[ Kenapa dia tahu nama panggilanku di kehidupanku dulu? ] Detik hati Eldania.


Tebakan mengenai sosok yang merasuki Arga adalah roh yang berasal dari kehidupan lalunya pun semakin jelas. Meski belum tahu siapa, tapi hal itu sudah mempersempit kira-kira siapa sosok lain di dalam diri Arga.


Sosok dari orang yang biasanya berterus terang di depannya. Eldania semakin mencoba memperkecil semua deretan nama yang masih dia ingat di dalam ingatannya. Daftar nama yang muncul, mulai memperlihatkan jawaban pastinya.


“...................... “ Eldania terus berpikir keras sembari menatap Arga dengan begitu seriusnya. [ Apakah dia?. ] tiba-tiba pikiran nya menunjuk pada satu orang.


Sekelebat ingatan yang muncul adalah orang yang memiliki rambut pirang, lalu sepasang iris mata berwarna biru cerah. 


[ Warna biru dari bulan yang terakhir kali aku lihat sebelum kematianku. ] batin Eldania sekali lagi. 


[ Wajahnya terlihat tidak baik. Apa dia kenal dengan sosok yang merasuki tubuh Arga ini?. ] Evan melirik ke arah Arga. Dia melihat ekspresi lain dari wajah Arga yang tidak pernah dia lihat sekalipun selama ini.


Itu adalah ekspresi dari rasa kesepiannya. Tatapan mata dari orang yang akhirnya menemukan cahayanya. 


Siapa sosok lain dari Arga ini?.


[ Itu seperti ekspresi dari merindukan seseorang. Apa yang dirindukannya adalah nona Eld?. ] Evan kembali melirik Eldania. Dia merasa tidak habis pikir bahwa hari ini ia menemukan drama lain yang diperankan oleh Eldania. 


Belum satu hari penuh, petang itu Evan disuguhkan pertunjukkan menarik lainnya yang ditunjukkan antara Eldania sendiri, Everst, juga Arga.


Jadi siapakah sosok sebenarnya dari Arga ini?.


_______________


Tempat di dunia sebelumnya. 


Malam dimana kematiannya menjadi luka untuk sosok yang merasuki tubuh Arga.


DUARRR…….


Malam di hutan yang harusnya gelap, akhirnya diwarnai oleh ledakan yang besar di langit angkasa yang diselimuti cahaya bulan purnama berwarna biru. 


Satu-satunya cahaya yang menyinari malam yang menjadi akhir dari riwayatnya di tengah hutan yang dingin.


Itu adalah akhir dari riwayat gadis yang aku sukai.


“ Tidak!!. “ di bawah tekanan dari empat orang yang menindih tubuhku  ini, aku berteriak keras setelah melihat dua ekor burung yang terbang berdampingan dengan membawa seorang yang sangat aku kenali, menemui kematiannya tepat di depan mataku sendiri. 


Dihutan ini, aku benar-benar tidak sendirian. Aku bukanlah satu-satunya orang yang menjadi saksi mata atas pembunuhan itu.


Karena si tersangka, serta anak buah yang dibawanya juga ada disini.


Bersamaku.


“ Ah…….Ernald. Ternyata kau benar-benar menyukainya. Pantas saja sikapmu menjadi lembek  jika sudah menyangkut wanita itu ya?. “ kata pria ini dengan wajah tidak peduli. 


Tidak peduli dengan apa yang sedang dirasakan olehku.

__ADS_1


Aku tidak habis pikir, bahwa laki-laki yang terlihat pendiam di depanku ini benar-benar melakukan tugasnya dengan cara ekstrim. 


[ Rudolf. ] Pikirku. 


Nama yang aku sebut dalam pikiranku ini adalah orang yang menjabat sebagai tangan kanan seseorang.


Orang yang terlihat seorang pendiam ini, benar-benar melakukan misi yang diberikan oleh 'orang itu'.


Kenapa?.


Aku bertanya-tanya sendiri, kenapa orang sepertinya justru mengerjakan tugasnya dengan cara seperti ini, sampai menggunakan senjata besar.


Bukankah misinya untuk menangkapnya juga?.


Tapi apa yang aku lihat itu, bukannya justru adalah untuk 


membunuhnya?!.


Sekalipun Rudolf berkata sudah memodifikasi senjatanya, tapi tetap saja. Dari sudut manapun ledakannya cukuplah besar.


Lalu……..


Memangnya siapa orang yang dibunuh oleh Rudolf ini?.


Itu adalah satu-satunya orang yang menjadi alasanku masih bisa hidup sampai sekarang.


Wanita yang mampu mengerjakan segala hal tanpa memandang apa yang dikerjakannya bermanfaat untuk dirinya sendiri atau tidak, sampai beresiko sekalipun tetap dikerjakan dengan baik. Dia adalah sosok yang dituntut oleh seseorang untuk sempurna dalam segala situasi. 


Baik dari situasi untuk menyamar untuk bertindak seperti perempuan nakal, polos dan tidak berpendidikan, atau situasi dimana dia harus bersikap anggun layaknya seseorang dari keluarga terpandang.


Menyembunyikan jati dirinya sendiri untuk mengelabui mata orang lain demi misi yang diterimanya.


Sosok yang terlihat kuat dari luar namun di dalamnya sebenarnya dia adalah sosok yang kesepian. 


Siapa lagi kalau bukan………


Alinda.


Perempuan yang sosoknya adalah seseorang yang awalnya aku kagumi karena menarikku dari ambang kematian beberapa tahun lalu.


Hanya saja, rasa kagumku ternyata berubah menjadi rasa suka.


Itulah kenapa sekarang hatiku merasa sakit saat melihat orang yang  aku sukai justru meninggalkanku lebih dulu. 


Takdir yang begitu tidak adil.


Aku tersenyum getir. Aku punya pikiran, bahwa alasanku untuk hidup juga sudah tidak ada lagi.


Yang tersisa hanyalah luka yang berisi dendam, kesedihan, juga amarah.


SREKK…..


“ ……………. “ Tiba-tiba Rudolf sudah berjongkok di depanku. Mata hitam miliknya terus menatapku dengan tatapan dingin, sepasang mata tanpa cahaya. “ Ini. “ 


Satu kalimat pendek pun yang terucap di bibirnya.


“ Apa?. “ tanyaku dengan nada rendah. Rudolf rupanya menyodorkan sebuah pistol kepadaku. [ Kenapa dia memberikanku pistol?. ] batinku, masih tidak mengerti apa yang sedang dilakukan orang ini terhadapku.


“ Ayo duel. “ katanya.


Kalimat pendek yang menyatakan ‘ duel ‘, seketika membuatku tersadar dari perasaan campur aduk tadi.


“ Apa maksudmu?. “ tanyaku, mengkonfirmasi maksud dari ucapannya Rudolf dengan wajah serius.


“ Ekspresimu wajahmu terus mengatakan ingin membunuhku, benar kan?. “ ucap Rudolf sekali lagi dengan wajah datar alias tanpa ekspresi. “ Seperti yang kau lihat tadi. Aku baru saja mematahkan sayap burung. Dia pasti terjatuh di suatu tempat. Siapa cepat yang mendapatkan tubuhnya, dialah yang dapat. Jika kau menang duel denganku selagi merebut kesempatan itu, aku akan melepaskanmu bersamaan dengan anak itu. " tawar Rudolf.


Aku terdiam dengan penuturan dari laki-laki yang lebih tua dua tahun dariku ini. 


Apa yang dikatakan oleh laki-laki ini memang benar. Aku sangat ingin sekali membunuh orang ini dengan kedua tanganku sendiri. Demi apa yang sedang aku rasakan, aku butuh pelampiasan terhadap pelaku dari drama malam ini, tidak lain adalah karena Rudolf.


Dalam kesempatan adil yang ditawarkan Rudolf padaku, aku harus bergerak cepat untuk mencari keberadaan tubuh Alinda. Tapi di saat yang bersamaan, aku juga harus melawan Rudolf.


Jika aku bisa mengalahkannya sekaligus lebih dulu mendapatkan tubuh Alinda sebelum dia, maka Rudolf akan membiarkanku dari skema perburuan malam ini.


Maka dari itu tanpa basa-basi lagi aku menjawab. “ Baiklah. “


Dalam seketika itu anak buah yang dibawa Rudolf langsung melepaskanku. 


Entah apa yang dipikirkan Rudolf kali ini saat aku menerima tawarannya, aku tidak memperdulikannya. 


Karena tujuanku adalah satu. Yaitu membalas dendam. 


Sekaligus membawa tubuh 'dia' sebelum Rudolf.


Maka dari itu, malam ini akan menjadi malam penentuan.


DORR…..


DORR……


[ Malam penentuan, apakah aku dapat menang sekaligus membawa tubuh Alinda bersamaku, atau………. ]

__ADS_1


Aku menembakkan pistolku ke arah Rudolf. Tetapi Rudolf mampu menghindari segala seranganku. Baik dari pertarungan fisik maupun pertarungan antara senjata.


Aku mengerahkan apa yang sudah aku punya dalam diriku untuk melawan orang ini.


" Ernald. Aku beritahu kamu, bertarung yang didasari dari amarah itu tidak akan membuatmu menang. " Tiba-tiba Rudolf memperingatkanku di sela-sela pertarungannya. “ Dan jangan percaya denganku. “


Kalimat yang seolah, adalah kalimat peringatan terakhir untuk ku, bahwa….


[ Malam ini akan menjadi malam kematianku?. ] seketika aku membuka mataku selebar-lebarnya dan menoleh ke belakang.


Dari jarak kurang dari lima ratus meter, ternyata ada seorang penembak jitu. 


Dan kilatan dari tembakan senjata yang dibawanya, langsung menghampiriku dengan sekejap mata


DORRR……….


Suara tembakan yang keras akhirnya menggema ke segala penjuru hutan.


Hutan malam yang memang gelap, terasa lebih gelap di mataku. Aku pun….


[ Mati disini juga?. ] Kesempatan di detik terakhir yang membuatku tiba-tiba tersenyum adalah ketika aku ternyata masih bisa membayangkan wajahnya. “ Alinda. “


“ Semoga kau bisa bertemu dengannya lagi di tempat lain. “ ucap Rudolf kepadaku sebelum akhirnya pergi meninggalkanku.


“..................” Disini, anehnya kalimat terakhir yang Rudolf katakan itu ternyata tidak membuatku merasakan penyesalan, meski Rudolf menantangku dengan cara liciknya.


Dan untuk tidak percaya kepadanya.


Karena disini yang terpenting aku bisa bebas. Baik bebas dari aturan dunia maupun terbebas dari perasaanku sendiri.


Aku bisa pergi menyusulnya. 


Itulah yang tidak membuatku menyesal setelah mendapatkan kematianku tidak lama setelah kematiannya.


___________


Itulah cerita dibalik keberadaannya saat ini.


Ernald.


Karena hatinya sudah berisi dendam yang disertai amarahnya kepada Rudolf. Ernald langsung melawan laki-laki itu dengan seluruh kemampuannya. 


Kematian dibalas dengan kematian. Itu yang diyakini Ernald saat itu.


Tapi sayangnya, mau bagaimanapun jika amarah dengan dendam tapi ternyata bercampur kesedihan, terlebih lagi lawannya saat itu jauh lebih berpengalaman, hasilnya tidak sesuai harapan.


[ Karena hatiku juga sudah memiliki lubang, gara-gara itu pula aku tidak bisa sepenuhnya memenangkan duel itu. Aku kalah dari Rudolf dengan luka tembakan di perutku. ]  batin Ernald. [ Dan akhirnya kematianku di hari yang sama dan di tempat yang sama dengan Alinda. ]


Ernald pun mati dengan luka satu tembakan di perutnya. Itulah yang dia dapatkan. 


Tapi karena Ernald merasa kematiannya adalah demi untuk menemani kematiannya Alinda, maka Ernald pun tidak mempermasalahkannya.


Arga atau lebih tepatnya Ernald, dia kemudian merenung. [ Tapi tuhan ternyata berkata lain. Tempat yang aku kira adalah alam baka, ternyata adalah tempat dari kehidupanku yang kedua. ]


Ernald masuk ke dunia yang tidak Ernald ketahui, selain dirinya masuk kedalam tubuh seseorang yang dalam keadaan sekarat.


Seorang tubuh laki-laki dengan fisik kuat yang seolah tubuh yang Ernald diami adalah seorang binaragawan.


Tetapi tubuh yang Ernald masuki adalah seorang laki-laki yang memiliki pekerjaan sebagai ksatria suci di kerajaan Linstone. 


[ Waktu aku merasuki tubuh ini, tubuhnya dalam kondisi keracunan setelah mendapatkan racun dari monster yang dilawannya. Berkat orang yang berperan menjadi pendeta, kekuatan suci itu akhirnya menyembuhkanku. 


Kemudian aku pun mulai beradaptasi dengan pekerjaanku, juga lingkungan baru yang aku hadapi. ] Dan diam-diam  Ernald tersenyum getir di dalam hati. 


Dia tidak menyangka kalau tubuh yang dia masuki sebenarnya jiwanya masih ada.  Dengan kata lain, jiwa Arga yang asli dengan jiwa Ernald ada dalam satu tubuh.


Lalu sekarang?.


Benar…..


Sekarang Ernald lah yang menguasai tubuh dari Arga. Ernald mengendalikan tubuh Arga tepat setelah mengetahui Arga mencengkram tangan Eldania karena penasaran dengan senjata yang baru saja digunakannya.


Dia sebenarnya sesaat memerankan sisi tak terduganya untuk mengetes Eldania. Apakah wanita itu akan terkejut karena tiba-tiba senjatanya berbalik menodong kepalanya atau tidak. Tapi yang tidak dapat dipungkiri adalah, Ernald berhasil menembakkan peluru dari pistol mili Eldania, dan malahan sebagai ganti dari perbuatannya, dia justru mendapatkan hadiah paling menyakitkan dari seekor burung Elang, yang ukurannya benar-benar besar. 


__________


Kembali ke cerita.


Eldania terdiam melihat ekspresi yang ditunjukkan Arga terlihat kasihan. Dia merasa tiba-tiba tidak tega untuk memojokkannya lagi, mengingat Arga baru saja dijadikan bulan-bulanan Everst.


[ Yah…… karena aku tidak merasakan dia punya niat buruk padaku, aku akan mengawasinya saja dulu dan mengintrogasinya pelan-pelan. ] pikir Dania. 


Eldania melakukannya juga bukan karena Arga, melainkan karena dirinya sendiri. Gara-gara Everst berubah menjadi besar, sekarang dia sudah menjadi pusat perhatian banyak orang.


“ …………… “ Eldania awalnya memandang Arga selama beberapa waktu. 


Eldania memang yakin dengan satu hal yang sudah didapatkan setelah membuka server di otaknya, kalau sosok yang ada dalam tubuh Arga adalah seseorang ia kenali di kehidupannya dulu. Tapi dia harus mengetepikan semua pemikiran itu, karena ada pekerjaan yang lebih penting.


Eldania langsung menghela nafas pelan. “ Sudahlah. Kita akan melanjutkan pembicaraan ini setelah makan malam. “ Ajak Eldania pada Arga yang terbengong, karena tiba-tiba Eldania bersikap lebih baik kepadanya.


Setelah membantu Arga berdiri, Eldania langsung memunggunginya dan pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Tapi belum sempat mengambil langkah pertamanya, Eldania menjeling ke arah Arga dan menyampaikan hal yang ingin dikatakannya sebelum pergi. “ Oh….aku ingatkan. Aku mungkin memang sudah menyembuhkan lukamu, tapi bukan berarti sudah benar-benar sembuh. Butuh beberapa waktu, karena pedang yang digunakan temanku untuk menusukmu itu terbuat dari sihirnya. Jadi ada kemungkinan efek samping lainnya. “


Setelah berkata seperti itu, Eldania langsung pergi. 


__ADS_2