Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
57 : Eldania


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pesta yang diadakan Azel bersama ibunya, Eldania berpamitan pulang.


[ Kenapa dia malah mengantarku?. ] Lirik Eldania kepada pria tinggi di sebelahnya.


Dalam dirinya dia sangat bertanya-tanya. Kenapa iblis seperti dia, malah bersedia berjalan bersama dengan dirinya yang notabene nya adalah seorang manusia.


Hari sudah berganti menjadi malam, dan perjalanannya yang biasanya ia lakukan sendirian, kali ini ada seseorang yang menemaninya.


" Ayah dan ibumu sangat menyayangimu ya?. " akhirnya Eldania membuka suaranya, mencoba untuk memulihkan keadaan yang hening seperti kuburan.


" Bagaimana denganmu?. " tanya balik Azel kepada Dania.


" Mereka...sudah pergi. " singkatnya tidak pernah bertemu dengan mereka berdua, apatah lagi ayah kandungnya. Pemikirannya mengarah ke mana, adalah tentang orang tua asli dari pemilik tubuh yang Eldania rasuki.


" Apakah kamu baik-baik saja dengan kepergian mereka?. "


" Aku tidak merasakan apapun tentang kepergian mereka. " karena hidupnya terbiasa dengan kesendirian, maka hal itu tidak jadi masalah untuknya. 


".................... " Azel merk liriknya sekilas. " Kalau mau, kamu bisa menganggap ayah dan ibuku sebagai orang tuamu juga. "


Eldania menghentikan langkahnya dan berkata. " Maksudnya berbagi kasih sayang?. Terima kasih. Tapi aku rasa itu tidak perlu. "


" Apa alasanmu?. "


Eldania sedikit mendongak ke atas. Awan gelap ternyata masih ada, dan sudah mulai menyelimuti sebagian besar kota. " Tamak. "


Azel langsung mengerti maksud dari jawabannya. 


Entah siapapun dan makhluk apapun itu. Jika sudah mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, maka ada satu kemungkinan besar dia akan semakin mencarinya lagi dan lagi. 


Hasrat dari makhluk hidup tidak akan pernah hilang dan terpuaskan, itulah ketamakan.


Dan Eldania, dia mencoba menghindari ketamakan dari rasa kasih sayang itu sendiri. 


Dengan kata lain, meskipun Eldania ingin merasakan kasih sayang dari seorang ayah dan ibu, dia beranggapan hal itu lebih baik untuk dijadikan rasa penasarannya.


Eldania sudah merasakan ketika dirinya merasa sayang pada sesuatu, dan itu sudah menjadi lebih dari cukup untuk menambal keinginan lainnya itu.


Dalam artian lain, dia tidak begitu memerlukan kasih sayang, walaupun terbesit rasa iri.


" Baiklah, terserah padamu. Tapi mereka berdua tetap akan senang dengan kedatanganmu ke rumah. "


" …………… " Elsania terdiam. Dia tidak memiliki hal yang pantas untuk membalas ucapannya Azel itu.


" Dan saat pulang nanti aku akan memberitahu ibu dan ayahku kalau kamu adalah sekutuku. " Tiba-tiba Azel mengucapkan hal itu.


" Menjadikanku temanmu?. "


" Apakah aku salah?. "


" Tidak, kamu orang ketiga yang menjadikan ku seorang teman. " jujur saja jika dulu juga sama namun orang yang dulu itu lebih ngotot dan memelas untuk menjadikannya teman, namun perbedaannya orang ini mengajaknya sebagai teman dengan mengatakannya secara langsung tanpa ragu. " Terima kasih. "

__ADS_1


" Tidak masalah. Dimana tempat asrama yang kamu dapat?. " tanya Azel. Kembali ke topik pembicaraan yang lebih ringan ketimbang tadi.


" Di distrik 2. " jawabnya lagi. Kuncinya sudah dia dapat, namun masalahnya Eldania belum tahu seluk-beluk kota Dilshade.


Berbeda dengan Academy pada umumnya dimana asrama akan berada di area sekolah tersebut, disini semua asrama untuk murid yang tinggal dari berbagai pelosok beberapa negara berada di luar komplek sekolah. 


[ Tunggu....., kalau aku tadi ke rumahnya berarti orang ini memang penduduk kota ini?. ] Benak hatinya. Eldania baru sadar, kalau sebenarnya dari tadi Azel lah pemandu pribadinya. [ Oh ya, aku dengar ibunya kalau Azel ini belum lama lahir. ] Eldania lagi-lagi menatap tubuh dari pria ini. [ Dari mananya dia belum lama Lahir. Dia malah terlihat seperti orang dewasa berumur 20 tahunan lebih. ]


Dia jadi sedikit tidak percaya dengan apa yang dia dengar tadi saat di rumahnya Azel dengan fakta di depan matanya. 


_______________


Malam ini.


Kegelapan saat menyelimuti hutan sudah menjadi hal yang biasa.


Tidak ada rasa takut akan kegelapan yang sering datang. Karena malam ini adalah malam untuknya. 


Waktu khusus bagi Everst.


Setidaknya burung dengan bulu coklat ini dinamai dan dipanggil Everst oleh satu-satunya perempuan yang pernah menyelamatkannya?.


Sorotan akan mata tajamnya langsung memandang bulan setengah purnama itu. Dia bertengger di atas batu yang berada di puncak bukit agar jangkauan pandangannya menjadi lebih luas.


Kesendiriannya menjadi keuntungannya karena tidak akan ada yang tahu kalau...


" Surat datang. " kepakan dari sayap yang lebih kecil itu menghampiri Everst yang sedang berdiri di atas batu.


Burung hantu berwarna putih ini tidak memperdulikan omong kosong yang terlontar dari mulut burung besar bernama Everst, karena misi utamanya adalah mengantarkan surat untuk burung yang satu ini.


" Hahh....... " Helaan nafas panjangnya memaksa dirinya untuk menerima surat dari entah berantah itu.


Dengan sihirnya, Everst membuat surat yang berada di paruh burung hantu itu terbang ke depan dan secara otomatis amplopnya terbuka dengan isi sepucuk surat.


Everst membaca secara teliti isi dari surat tersebut.


" Orang bodoh mana lagi memintaku menjadi kesatria sihir?. " tuturnya dengan nada mengejek, setelah membaca sekilas isi dari surat beserta undangan.


" Apakah anda bersedia menerima undangan tersebut?. " Tanya si burung hantu.


" Karena aku sedang bosan, tidak masalah jika bersenang-senang kan?. " jawab Everst.


_____________________________________________


Kepada tuan Lan Caster, jika anda sedang membaca surat ini berarti anda sudah menerima surat sekaligus undangan ini dari kami.


Kami menyatakan bahwa...


ACADEMY KLENON menerima anda Lan Caster 


sebagai salah satu kandidat yang terpilih untuk masuk ke Academy Klenon.

__ADS_1


 


_____________________________________________


Dan tanpa sepatah kata pun lagi, burung itu langsung terbang kabur, dan di beberapa detik kemudian burung hantu tersebut langsung menghilang dari pandangannya.


Melihat burung hantu tersebut mengetahui bahwa dirinya adalah Caster yang bisa merubah tubuhnya menjadi seekor burung juga, seketika dia berubah wujud menjadi sosok manusia.


" Jadi burung itu sebuah golem. " gumamnya, pandangannya hanya lurus ke depan dengan sorotan yang dingin.


[ Siapa yang mengetahui tentangku?. ] Caster tidak begitu percaya ternyata ada yang tahu tentang rahasia ini selain Darayad.


Dibalik satu fakta bahwa ada yang mengetahui identitasnya kalau Everst sebetulnya Lan Caster, pria bersurai pirang emas ini pun terpaksa menerima tawaran yang dia dapatkan itu agar dirinya bisa bisa beristirahat dari penyamarannya untuk sementara waktu.


Kemudian undangan yang dia dapatkan dia simpan di balik kekuatan yang Caster miliki. Kekuatan yang membuatnya mampu menyimpan segala harta benda di muka bumi di dalam sebuah dimensi. 


Terlepas dari undangan yang sudah Caster simpan, dia sebetulnya juga mengeluarkan satu benda dari kekuatan miliknya itu. Yaitu kalungnya. 


“........................, kau akan kembali ke pemilikmu yang sebenarnya. “ Gumam Caster sambil menatap kalung yang memiliki sebuah bandul berwarna biru.


 


Dia menggenggam dengan erat kalung tersebut. Kalung yang mana, itu adalah benda yang menyimpan segala kenangan tentang perjalanannya. 


Caster……..dia sebetulnya sadar sepenuhnya. Dirinya seolah terbelenggu oleh masa lalu karena kejadian waktu itu. 


[ Ternyata racunnya sampai seperti ini. ] Mata merahnya menjeling kalung yang diletakkan di samping tempat dia duduk.


Sebenarnya di dalam hati Caster terbesit rasa kesal juga karena punya perasaan yang membuat dirinya sendiri repot oleh banyak keadaan. Dan salah satunya adalah rasa bersalah yang tidak pernah hilang, meski waktu terus bergulir sampai berabad-abad lamanya.


Caster sedikit menekuk kaki kanannya dan meletakkan tangannya di atas lututnya. 


[ Hah………. ] Caster tersenyum mengejek. [ Padahal dia hanyalah wanita dari rakyat jelata. Tapi……….. ] ketika mendongak ke atas menatap langit yang kemudian datanglah sebuah gumpalan awan gelap, tatapannya berubah menjadi sengit. [ Aku harus direpotkan dengan perasaan bersalah ini. ]


Setelah satu menit berlalu, hujan akhirnya menyapa Caster di tempat tersebut.


[ Rasa bersalah yang berujung dengan beban dari pernyataan cintanya. Dasar konyol. Kau mati dengan membawa perasaan itu, dan aku hidup dengan perasaan bersalah dengan pernyataan cintamu padaku. ] Caster langsung berdecih kesal. “ Cih……..” 


Caster mengambil kalung yang ada di samping kakinya itu, dan kemudian melemparkannya ke depan dengan sekuat tenaganya bersamaan dengan  wajah kesalnya sendiri. 


Caster kesal dengan perasaannya sendiri. Padahal dulunya dia bukanlah orang yang memiliki perasaan pribadi sampai seperti itu. Dia bukanlah orang yang mendukung satu individu seperti ini.


Itulah Caster. Tapi semuanya berubah tepat saat dimana dia mendapatkan kalimat terakhir yang keluar dari mulut seseorang di masa lalunya itu.


“....................” Caster hanya menatap benda yang sedang melayang jatuh ke tengah hutan dengan tatapan datar. 


Kalung yang Caster lempar tadi dari tebing pun, tidak jadi hilang karena sudah terlebih dahulu masuk ke dalam gudang hartanya yang disimpan di dalam dimensi dari kekuatan yang dia miliki.


ZRASSHH………


Hujan lebat akhirnya turun membasahi Manisphure tanpa terkecuali. Bahkan Caster sendiri tidak memperdulikan tubuhnya yang sedang diguyur oleh hujan tersebut. 

__ADS_1


“ Pada akhirnya semua berubah. “ gumam Caster. 


__ADS_2