Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
22 : Eldania


__ADS_3

Kuil Darah.


Dalam pengetahuan yang sudah dimiliki oleh Eldania, dia mengetahui apa itu tempat yang sudah dia juluki sebagai kuil darah.


Kuil darah adalah tempat utama, dimana monster utama berada. Dari awal bertelur sampai menetas, mereka semua berasal dari satu tempat yang sama.


Benar…


Kebanyakan dari monster terlahir dari awal mula yaitu telur. Apa lagi dengan asal mereka yang kebanyakan dari utara, itu sudah membuktikan bahwa para monster berasal dari tempat yang sama, lalu diperintahkan oleh induk yang sama.


Itu seperti aturan khusus untuk wilayah Helion ini. Itulah mengapa monster cenderung lebih suka menyerang Helion, karena keberadaan mereka juga berada di tempat yang sama dengan para manusia. 


________________


“ Jadi ini tempatnya?. “ pria ini akhirnya menemukan bangunan besar yang terhubung dengan sisi dari sebuah gunung. 


Bagian depan tampak seperti bangunan dari istana era romawi kuno, tetapi jika masuk ke dalam, ruangan gelap dan dingin menjadi penyapa kulit dari penyihir ini. 


“ Energi paling kuat, berasal dari sini, tapi…….” Pria bernama Terrian ini mulai berpikir ulang. Dia merasa tidak perlu bertindak sejauh itu sampai mendatangi area terlarang dengan energi sihir yang cukup besar. 


Lebih besar ketimbang energi sihirnya sendiri.


Baginya, itu tidak sebanding dengan hidupnya. 


Terrian bisa berada di sini juga suatu kebetulan dan alasan di balik keberadaannya berada di sini hanyalah untuk bersinggah sementara. Jadi jika melihat apa yang ada di depannya, sebuah fenomena sihir yang tidak sebanding dengannya itu sama saja dengan cari mati.


Padahal dia bukan bagian dari Helion.

__ADS_1


Karena Terrian punya hal paling penting dari apa yang dimiliki Terrian saat ini, yaitu misinya untuk mencari buruannya. 


[ Kalian berjuanglah sendiri. Karena perjuangan kalian, membuktikan kemampuan kalian dalam menghadapi kutukan. ] Batin Terrian. 


Pria berjubah hitam ini pun melangkah keluar dari kuil. Dia hanya ingin berperan di depan dinding Helion saja, karena itu lebih baik dan rutinitas sebenarnya akan kembali datang setelah hari ini terlewati.


Dalam artian, [ Besok aku harus melanjutkan perjalananku. Jadi sebaiknya, hari ini aku melakukan seperlunya saja. ]


Tetapi setelah kepergian Terrian, sepuluh menit kemudian seekor makhluk besar dan panjang keluar dari sarangnya. 


__________________


Di tengah hutan.


“ Terima kasih untuk yang waktu itu, karena sudah menyembuhkanku. “ 


Jujur saja dia memang suka sengaja menyembunyikan kemampuannya agar tidak banyak diketahui oleh banyak orang.


Apa lagi kekuatan suci.


Dia menyembunyikannya demi dirinya sendiri untuk menghindari hal yang tidak perlu. Karena kebiasaan dari masalah yang sepele pasti akan dibesar-besarkan oleh orang-orang. Seperti halnya di era zaman ini, siapapun yang memiliki kekuatan suci yang besar maka orang itu harus terikat dengan kuil dan dijadikan saintess.


Dan Eldania tidak begitu suka pada hal yang terikat dengan sesuatu, apalagi  yang berkaitan dengan agama yang dianut di sini. 


Dalam hal ini, dia sebenarnya percaya bahwa tuhan itu ada, tapi bukan berarti dia percaya bahwa itu adalah dewa. Makannya, Dania tidak pernah memohon sesuatu pada yang namanya Dewa dan gereja atau kuil bukanlah tempat yang harus dikunjungi.


Dia meyakini dengan yang dia yakini sendiri.

__ADS_1


“ Apa kau lihat burung disana?. “ Eldania memberikan petunjuk pada kudanya dan menunjuk ke arah seekor burung yang terbang mengikuti. “ Ikuti dia, dia akan membawamu pada adikmu. “  kata Eldania.


Membuat kuda tersebut menurunkan langkah kakinya dan akhirnya berhenti. 


Kuda tersebut menatap seekor burung yang sudah bertengger di salah satu batang pohon dengan tatapan tajamnya. 


Melihat hal tersebut, Dania menambahkan. “ Walaupun tampangnya seperti sedang marah, dia akan memandumu. Percaya saja dengan ucapanku. “ beritahunya, dia memang sengaja berbicara normal karena disekitarnya tidak ada siapapun.


Kuda hitam itu mengangguk dan berlari mendekat ke arah burung tersebut, tapi burung yang tidak lain adalah Everst akhirnya langsung terbang begitu saja.


Setelah kepergian mereka berdua, kini tinggal dia seorang diri yang berada di tengah hutan. 


“ Hahhh~......hariku tidak ada yang damai. Aku harus mencari uang, dan…” menjeling kesamping kanan, Dania sedikit merasakan suatu kehadiran. [ Aku tahu, aku memang bertindak terlalu berlebihan. Tapi demi mencari lebih  banyak pengalaman dalam bertarung dan ingin melampaui batas kemampuanku, aku akan melakukan segalanya. Jika aku kuat dan lebih banyak memiliki segala pengetahuan, aku akan mudah dalam melakukan segala hal yang aku inginkan tanpa mengkhawatirkan apapun. ]


Tidak sekedar mencari uang untuk melunasi pinjamannya, tetapi karena tujuan utamanya adalah ke tempat yang berhubungan dengan iblis, maka dari itu Eldania merasa harus lebih banyak yang harus dipelajari agar tidak mudah dikalahkan oleh iblis.


[ Ya... jika aku bisa melakukan hal besar untuk kalian, sebaiknya bayar aku lebih banyak uang. Karena jasa yang dikeluarkan harus dibayar dengan harga yang sepadan. ] batinnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia berharap lebih, membuat ekspektasi yang cukup tinggi mengenai bayarannya.  [ Jadi...dimana bos monster di wilayah ini?. ] 


Hingga secara tidak sengaja, jauh di jarak tiga puluh meter dari tempat dia berdiri terlihat ada satu jejak yang cukup familiar.


Garis panjang seperti sesuatu yang diseret.


“......................” Ketika di dekati, dia sedikit tidak begitu yakin dengan tebakannya yang menebak bahwa jejak itu adalah jejak ular. [ Tapi jika jejak ular, ini terlalu besar. ]


Dania tersenyum tawar, dia akhirnya sedikit mengerti bahwa yang baru saja melintas kemungkinan besar memang monster berbentuk ular dengan ukuran yang cukup besar. 


[ Asalnya dari sana. ] Melihat lebih jeli lagi jejak yang di tinggalkan itu berasal dari dalam hutan yang lebih dalam dari ini.

__ADS_1


__ADS_2