Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
59 : Eldania


__ADS_3

Sore itu.


" Kenapa membawaku ke sini?. " Tanya Eldania dengan polosnya kepada Millie.


Setelah kepulangan mereka semua, kini hanya ada mereka berdua, dan MIllie membawanya ke dalam stadion, lalu kini membuatnya berdiri di tengah arena.


TAP.........


TAP.......


TAP.......


Millie, berjalan ke depan melangkah masuk ke dalam sebuah podium.


Kini...apa yang ada di tangannya, Eldania melihat wanita tersebut menggenggam sebuah batu dengan tulisan berwarna biru.


Batu apa, itu terlihat seperti pecahan batu biasa. Tapi yang jadi tidak biasa adalah huruf-huruf yang terlihat kuno itu tertulis di permukaan batu tersebut.


[ Itu.............?. ] Perasaan yang tidak biasa kembali datang. Eldania sedang berpikir, bahwa batu itu pernah dia lihat di sebuah buku yang pernah dia baca.


"..................!. " [ Aku ingat, itu adalah batu Altar!. ]


" Sudah aku bilang, yang salah harus diberi hukuman. Jadi.....hukuman apa yang paling pantas untuk kaum rendahan sepertimu itu?. " Millie yang masih berwajah serius langsung melempar batu itu ke atas, tepat dimana Eldania berdiri di tengah-tengah.


[ Kenapa tiba-tiba?. Hanya tertidur sesaat, apa hukumannya harus sampai seperti ini?. ] Tentu saja, Eldania merasa tidak begitu terima dengan perlakuan seperti ini.


Apa lagi.....


[ Batu Altar.....dia mau memanggil roh iblis. ] Eldania tahu, di catatan dari sebuah buku yang pernah dia baca tentang kaum iblis.


Di antara banyaknya benda yang berkaitan dengan ras iblis, ada yang namanya batu Altar.


Fungsi dari batu altar sendiri adalah sebagai perantara untuk pemanggilan.


Apa yang bisa dipanggil lewat batu altar itu adalah roh monster, dan sering di panggil roh iblis. karena sejatinya roh mereka sudah berada di dunia berbeda.


Bagaimana cara memanggilnya?, itu seharusnya dipegang oleh si pemegang, tapi kenapa tiba-tiba di lempar?.


[ Aku hanya harus menghindarinya saja. ] pikir Eldania. 


Tatkala hendak berlari menghindari batu yang berbahaya itu, lantai yang di pijaknya tiba-tiba bersinar dan membentuk lingkaran sihir.


SRRINGG~~.


Dalam sekejap mata, batu sekaligus gadis itu langsung menghilang.


" Heh......, selamat bersenang-senang manusia . " Miliie yang tersenyum puas, lalu pergi meninggalkan stadion sambil bergumam. " Itu akan membawamu ke istana bawah tanah yang mengerikan, dengan jumlah roh iblis yang tidak terhitung jumlahnya. Aku jadi penasaran, apakah mentalmu yang seorang manusia itu bisa kuat?. "


TAP........


TAP...........


TAP........


" Dia guru yang cukup mengerikan. " ucap Ownel. Dia kini sedang bertengger di atas atap stadion.


Diam-diam, dia mengikuti apa yang akan dilakukan oleh guru yang dipanggil Milile itu. Hasilnya...lumayan untuk dijadikan bahan tontonan, karena Millie punya sifat harga diri yang tinggi, dan tidak begitu menyukai kaum rendahan yang bukan seorang bangsawan.


_____________


TAP..........


Kedua kakinya langsung mendarat di atas lantai batu.


Suhu yang dingin seperti berada di permukaan es, membuat tiap nafas yang dikeluarkan menjadi uap air.


Itu pun....jika memang bisa di lihat.


Sayangnya apa yang dia lihat sekarang hanyalah kegelapan dan rasa dingin itu sendiri. [ Sekarang aku di mana?. ] 


TAK....


Sampai bunyi batu yang terjatuh itu, segera membuat obor yang menempel di dinding sekitar menjadi menyala semua.


WHOORR..............


WHOORR..........


WHOORR.........


WHOORR...........


Dalam beberapa puluh detik itu, seketika obor tersebut menyala satu persatu secara berurutan dari bawah sampai ke atas.


Eldania yang melihat hal tersebut refleks mendongak ke atas. Dirinya seperti berada di lubang sumur, dengan dinding sekitar berhiaskan ratusan pintu tepat dari lantai bawah hingga paling atas.


Saat melihat ke bawah kakinya, batu Altar tadi kini ada di sebelah kakinya, dan tulisan kuno yang menyala tersebut, lantas memberikan efek selanjutnya.


Kabut tipis berwarna hitam perlahan mulai berkumpul di atasnya dan suara bisikan yang memilukan sempat terdengar olehnya.

__ADS_1


Eldania perlahan mengambil satu langkah mundur kebelakang, karena dia mulaimelihat sesuatu yang belum pernah dia lihat. Hingga tepat di langkah kedua nya, Eldania langsung dikejutkan oleh sesuatu yang detik itu juga, suara teriakan segera menggema.


" AARRGGHH.........!. "


************


1 Hari yang lalu.


Saat ujian masuk pertama di mulai.


" Ah......kau burung, apa tidak ada makanan?. " tanya Eldania kepada Ownel. Saat ini, dia masih berada di ruang tunggu dan apa yang dia dapat, dia mendapatkan antrian nomor 50, padahal baru 5 sesi pertandingan yang baru saja dimulai.


" Saya memang burung. Tapi saya juga memikiki nama. Panggil Ownel. "


" Bukan Owlen, tapi Ownel. Padahal lebih bagus Owlen ketimbang itu, loh.  " Eldania berkomentar.


" Tapi anda lapar?. " tanya Ownel, tidak memperdulikan ucapan Eldania barusan.


" Tidak......... " ketusnya. Melihat burung hantu itu menatapnya dengan seksama, Eldania merubah kata-kata nya tadi. " Tentu saja lapar, makannya aku bertanya padamu. Owlen. "


" Saya jantan, jadi jangan panggil nama panggilan untuk betina. Dan soal pertanyaan anda tadi kami tidak menyiapkan makanan. Tapi jika nanti anda menan, dan lulus semua ujian masuk, anda akan mendapatkan fasilitas asrama juga makanan yang enak. " jelas Ownel kepada Eldania.


" Hahh....~. " dengan nada selamba, Eldania menatap burung hantu tersebut dengan ekspresi tidak tertarik. " Maksudnya aku harus menunggu menang baru bisa makan, begitu?. "


" Benar. "


".................... "


" Apa ada masalah lain?. "


" Tidak, kebetulan aku mendapatkan pencerahan. Di sini ada pedang. " Melirik deretan pedang yang terpajang di depannya. Lalu arah pandangannya berpindah pada seekor burung hantu ada di sebelahnya. " Lalu kamu hewan yang bisa aku makan, sangat kebetulan kan?. " tutur Eldania dengan senyuman lebarnya.


"...........!. " Burung hantu yang tiba-tiba merasa terancam ini langsung terbang, apalagi saat melihat ekspresi wajah dari gadis manusia dengan tatapan jenaka ini, itu lebih tepat...bahwa ucapannya terlihat lebih serius!.


" Mau kabur kemana!. " Eldania segera beranjak dari sofa dan pergi mengekori arah burung hantu ini pergi.


" Tentu saja pergi menghindari anda. " jawab Ownel.


" Memangnya aku berkata serius?. " berlari keluar dari ruang tunggu.


" Anda justru terlihat lebih serius, jika anda mengejar saya seperti ini!. " jawab burung hantu ini sekali lagi.


" Kalau kau pergi, aku tidak akan segan loh. Berhenti, aku tidak ada teman ngobrol jika kau pergi. " pinta Eldania kepada Owlen. 


" Tidak, itu terdengar seperti bahwa anda memang mau menangkap saya dengan kebohongan anda itu. " Ownel masih saja mampu menjawab ucapannya Eldania.


KEPAKK......


" Eh, dia kenapa?. " bisik orang pertama.


" Tadi, terlihat seperti sedang mengejar burung hantu yang barusan terbang lewat. " lirik orang kedua, bertanya-tanya kenapa ada pula orang yang berlari dan mengejar burung hantu yang notabennya jelas-jelas adalah peliharaan milik Academy.


" Kau manusia dari benua mana?. " tanya perempuan ini, seorang iblis.


"...........?, timur?. " refleks Eldania menjawabnya. [ Kenapa mereka melihatku seperti itu?. ] 


" Oh....timur. " keempat orang itu mengangguk-angguk paham.


Dan ke empat orang yang terdiri dari dua orang wanita dan dua orang laki-laki adalah kelompok iblis yang sedang berkumpul.


" Aku dengar, di sana.....belum lama ini ada gempa besar sampai terjadi tsunami. " ucap wanita berambut sebahu ini.


" Oh ya!. Benar, di sana ada gempa, tapi sepertinya tsunami yang kau maksud itu......tidak pernah terjadi. " salah satu temannya mengiyakan akan informasi tentang gempa tersebut, tapi di satu sisi ada yang tidak sependapat.


" Mana mungkin tidak ada tsunami setelah gempa sebesar itu. "


Masih tidak percaya, atau tepatnya kurang percaya, jadi pandangannya langsung mengarah ke Eldania yang sedikit bingung dengan situasi di depannya itu. " Apa benar tidak terjadi tsunami di sana?. "


Sekumpulan manusia iblis, berbicara kepadanya!. 


" itu........" Eldania ragu untuk mengungkapkan kebenarannya. [ Bagaimana aku menjelaskannya ya?. ] Sampai akhirnya, membuat alasan lain.


" Aku kurang tahu, karena pada saat itu aku ada di kota. " dan alasan dari sebuah karangan sendiri, menjadi jawaban untuk mereka semua. 


"........................" All.


Keempat iblis ini saling pandang satu sama lain.


" Ok.....sepertinya dirimu tidak punya informasi yang menarik. " tutur laki-laki ini. " Oh ya...ngomong-ngomong......" 


Lalu laki-laki itu tiba-tiba saja berjalan mendekat ke arah Eldania berdiri.


" Aromamu cukup menarik. " sebuah kalimat...


Bagai godaan. 


Apa lagi terlihat saat wajah penuh dengan sorotan mata iblisnya itu, seperti baru saja menemukan mangsa yang terlihat enak untuk dimakan.


" ...................!. " merasakan sebuah ancaman, Eldania langsung waspada dengan ucapan dari iblis yang satu ini. [ Ucapannya.........., memang apa yang menarik dari aromaku?, padahal aku saja belum mandi. ] Eldania mendengarnya hanya dengan ekspresi seriusnya.

__ADS_1


PLAKK.......


" Ahw.........." RIntihnya, setelah temannya langsung menepuk punggungnya dengan keras.


" Kau jangan menggodanya bodoh. " peringat laki-laki ini kepada temannya yang barusan mengatakan hal yang bagi manusia, cukup dijadikan sebagai ucapan penuh godaan.


" Apa salahnya itu?, aku hanya mengujinya. " 


" Ethan...!. " teriak seseorang di belakang mereka.


Yang dipanggil Ethan, dan tepatnya laki-laki barusan yang baru saja menggoda Eldania, segera menoleh ke sumber suara.


" Ada apa?. " tanya laki-laki bernama Ethan ini kepada perempuan yang baru saja berlari ke arahnya itu.


" Apa kau tidak melihat Nathan?. " tanya wanita berseragam putih ini kepada Ethan yang memakai seragam berwarna merah.


" Oh....maksudnya saudaraku yang lemah itu?. Kenapa tanya padaku?. " kata Ethan dengan sedikit menaikkan nadanya.


Dan nadanya seperti orang yang tidak terlalu suka dengan nama yang barusan di sebut Nathan itu.


Yang ternyata adalah saudaranya?!.


" Bukannya kau yang sekelas dengannya, kenapa tanya padaku. " ucap Ethan lagi.


Eldania terus menatap kedua iblis yang sedang bercengkrama itu.


" .....................!. " Sampai dimana, Eldania sempat bertatap mata dengan perempuan tersebut.


Tatapannya pun seperti sudah mewakili kata-kata yang ada di dalam pikirannya.


' Kenapa ada manusia ini ada di sini? '


Sudah tentu, jika sekumpulan empat orang tadi ini adalah manusia iblis, dan Eldania hanya manusia yang kebetulan diajak bicara oleh mereka berempat.


" Justru.......karena kau saudaranya, maka nya aku bertanya. Mungkin saja sempat bertemu denganmu untuk sesaat. " kata wanita berseragam putih ini kepada Ethan.


" Memangnya ada apa dengannya?. " tanya perempuan lainnya.


Eldania yang diam-diam berbalik dan mencoba untuk pergi, sampai tidak sengaja mendengar alasan itu.


Alasan perempuan iblis yang sekelas dengan Nathan itu mencari-cari keberadaan Nathan lewat saudaranya, yaitu Ethan.


" 3 Jam lalu, dia dihukum oleh Bu Millie, tapi sampai sekarang, dia tidak kelihatan sama sekali. Makanya aku bertanya, mungkin ada yang melihat dia?. “


" Dihukum karena?. " tanya iblis yang lain.


" Terlambat masuk kelas. " jawab wanita ini.


DEGG........!.


Semua iblis terdiam. Dan Eldania sudah berlalu pergi menjauhi mereka semua.


 


" Dia pasti guru Millie. " bisik iblis ini secara diam-diam kepada temannya.


[ Hanya terlambat masuk kelas, memangnya hukuman seperti apa yang dia dapatkan?. ] Karena suatu penasaran yang tinggi itu pula, dan indera penciumannya seperti mencium aroma busuk dari suatu kejahatan yang sudah lama tersembunyi.....


Maka.........


**********


Disinilah dia.


Eldania yang di hukum karena tertidur di kelas.


Sekarang dia terjebak di...entah lubang apa, di dalam bangunan apa, satu hal yang dia mengerti, dia seolah sedang berada di tengah altar untuk persembahan para roh iblis yang sebentar lagi akan datang.


" ARGHHH.....! "


"....................! " Refleks Eldania menutup kedua telinganya karena erangan yang sangat keras itu terjadi setelah langkah kakinya yang sedang mundur ke belakang, sempat bersenggolan dengan sesuatu.


" Arghhh.........!. " 


" ......................?. " Menoleh ke belakang dan menunduk ke bawah. Ada orang yang terbaring meringkuk di atas lantai batu yang dingin ini. " Hei.....kau tidak apa-apa?. " tanya Eldania kepada iblis berseragam putih yang terlihat kesakitan itu. Tapi dia langsung tersadar dengan pertanyaannya sendiri yang salah. [ Ha...?, apa yang aku tanyakan tadi?, dilihat bagaimanapun, dia bukan tidak apa-apa, tapi apa-apa. ] 


PLAKK....


Tapi tangan Eldania langsung ditepis dengan kasar oleh iblis tersebut sebelum menyentuh tubuhnya, dan iblis itu kembali berteriak keras. " Jangan berisik!. Jangan berisik lagi....!. Kepalaku seperti mau pecah!. "


".................." Eldania mengernyitkan matanya.[ Apa itu parah?. ] melihat tangannya sendiri di tampar oleh laki-laki ini, padahal belum disentuh sedikitpun tapi sudah tahu kalau tangannya mau menyentuh bahunya. [ Kenapa dia berteriak seperti itu?. Apa aku barusan bertanya dengan nada keras?. ] batinnya. " Pasti bukan kan?. " lalu Eldania bergumam lirih dengan seringaian yang tiba-tiba mengembang.


Eldania mendongak ke atas.


Pintu yang terpahat di dinding itu semuanya sudah terisi oleh makhluk hitam dengan mata berwarna merah menyala.


Dilihat dari manapun, mereka punya bentuk karakter yang berbeda-beda.


Jadi......apa yang akan dilakukan oleh makhluk itu?.

__ADS_1


__ADS_2