
BERR…..
Kuda itu meringkik kepada Eldania.
“ Kenapa kau mengikutiku?. “
“ Biarkan aku mengantarmu. “ kuda ini menjawab setelah menjatuhkan pelana di depan Dania. Alat yang dibawa dengan cara digigit tadi.
“ Aku tidak masalah, jika itu memang kemauanmu. “ Dania menyentuh dahi kuda itu dengan lembut. Kuda itu segera menundukkan kepalanya karena ingin lebih banyak di belai. “ Manja. “ celetuk Dania secara tiba-tiba.
“ …………!. “ ucapannya tepat sasaran, kuda ini sangat ingin di manja, tapi karena kondisinya tidak memungkinkan jadi dia menyerah.
Dania hanya menatapnya sekilas, lalu mengambil pelana yang tergeletak di bawah.
Eldania pun segera memasang perlengkapan untuk kuda ini agar dia bisa menungganginya dengan mudah.
“ Apa kau tidak takut mereka?. “ Dania bertanya sambil menunjuk ke arah depan, dimana semua orang sedang berjuang dengan melawan makhluk mengerikan yang bisa saja ******* manusia secara hidup-hidup.
“ Aku yakin dengan kemampuanmu. “ jawab kuda tersebut.
“................” Eldania hanya mengulas sebuah senyuman simpul. Setelah selesai memasang semua perlengkapan milik kuda ini, dia langsung menungganginya.
Membuat ksatria yang sedari tadi menatap mereka berdua, kembali tercengang. “ Bagaimana bisa, aku yakin dia cuma gadis biasa yang bisa masak saja. Tapi dari keterampilannya memakaikan pelana ke kuda liar itu, sudah menjadi dukti dia memang bisa berkuda. Dan juga……!. “
Mendapatkan lambaian tangan dari gadis itu, ksatria ini secara refleks ikut membalas lambaian tangannya.
“ Sebentar…!. Kenapa aku membalas lambaian tangannya?. “ ksatria ini langsung tersadar dengan tindakannya tadi dan buru-buru menarik tangannya lagi.
DRAP…..DRAP…...DRAP……
“ Apa imbalan yang kau inginkan?. “ Tanya Eldania kepada kuda yang sedang dia naiki.
__ADS_1
“ Maksudnya?. “
“ Jangan berdalih, aku tahu alasanmu mau mengantarku dengan tekad, berlari di tengah-tengah perang dengan monster seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa diputuskan dengan mudah. Kau bisa saja mati. “
“ Aku...ingin mencari keluargaku. Tepatnya, adikku. “ jawab sang kuda.
Sebelum dibawa ke dalam kamp, sebenarnya dia adalah kuda liar yang hidup di padang savana dengan satu--satunya keluarga, yaitu adiknya.
Tetapi karena terpisah dengan adiknya dan dia sendiri malah di bawa ke tempat lain, itu adalah alasan masuk akal sebagai kuda yang kehilangan keluarganya, jadi dia lebih sensitif dan tidak mau menuruti kemauan manusia untuk menggunakan tubuhnya sebagai kendaraan mereka.
“ Baiklah, kita lihat jika kau mampu untuk tidak mati di sini, aku akan membantumu mencari adikmu. “ kata Dania.
" GORARHH….!. "
Satu ekor monster datang menghampiri mereka berdua, dengan jarak saling berlawanan arah Eldania kembali berkata. “ Kau tetap lari saja. “ perintahnya.
Dania yang sudah membawa senjatanya sendiri yaitu pedang langsung dikeluarkan dari sarung pedangnya.
“ Namamu. “
“ Riz. “
“ Riz. Apa pun yang akan aku lakukan, tugasmu hanya lari dan menghindar saja. “ Dania memberikan peringatan terakhirnya, lalu setelah itu dia melepaskan tali yang dia genggam itu dan langsung turun dari kuda begitu saja.
Pedang yang sudah dikeluarkan segera Eldania ayunkan tepat saat monster itu hendak menerkamnya.
CRASHH…..
Tangan yang akan menghadangnya berhasil dia potong, setelah itu Dania kembali berlari ke arah monster tersebut. Karena besarnya tubuh yang dimiliki monster ini, membuat Eldania menggunakan tubuh monster itu sebagai pijakannya saat dia sedang menargetkan leher dari kepala monster ini untuk dia tebas.
CRASHH……
__ADS_1
Sebelum tumbang, Dania lebih dahulu melompat dan melemparkan pedangnya ke arah monster berikutnya tepat di titik vital mereka dan saat yang sama pula, karena mendeteksi adanya dua monster yang berlari ke arahnya juga, Eldania pun mengeluarkan dua belati yang disimpan di kedua pahanya dan dia lempar begitu saja.
JLEB…….JLEB……..JLEB……….
Tiga senjata itu, berhasil mendarat tepat di leher ketiga monster tersebut secara bersamaan.
Eldania menghampiri pedang yang sudah membunuh monster yang ada di depannya. Tapi di saat yang sama pula tangan kirinya menerima belati yang sudah kembali ke tangannya dan satu belati lainnya berhasil ditangkap dengan menggunakan giginya.
Cara membunuh yang paling efisien jika berhadapan dengan monster biasa.
Kuda bernama Riz ini tetap berlari lalu melompat menghindari tubuh monster yang sudah tumbang karena perbuatan dari gadis itu, kemudian Riz kembali berlari dan sekarang…..
TAP……
Dengan begitu handal Eldania sudah berhasil melompat dan mendarat di punggung kuda secara profesional.
DRAP…...DRAP……..DRAP………
“ Siapa dia?. Dia sangat hebat sekali, bisa membunuh empat monster sendirian dengan singkat. “ puji orang pertama yang melihat kejadian dari awal sampai akhir.
“ Bukannya dia gadis yang dipekerjakan untuk menjadi koki pribadi tuan Duke?. “ satu orang lagi merasa ikut terkejut karena gadis yang biasa dia lihat biasanya berurusan dengan sayuran, tiba-tiba sekarang sedang melawan monster dengan begitu hebat.
“ Kuda liar itu bahkan bisa bekerja sama dengan gadis itu dengan sangat baik. “ satu pujian yang tidak bisa mendarat pada orangnya secara langsung kembali terucap.
Di sisi lain yang tidak jauh dengan kejadian tersebut, dua orang ini saling pandang satu sama lain sampai akhirnya Duke Avrel bertanya.
“ Apa perempuan itu, yang kau maksud sebagai koki yang selama ini membuat makanan untukku?. “ tanya Avrel kepada Evan.
“ Iya. “ jawab Evan dengan singkat.
“ Dengan kemampuannya yang bisa membunuh monster dalam sekali serang tanpa bantuan sihir membunuh, dia bisa saja diam-diam menyajikan makanan dari tubuh mereka, tanpa aku sadari kan?. “ Kata Avrel, membuat Evan ikut terkejut dengan ucapan tuannya. “ Tapi saat melihat reaksimu saat ini, kau terlihat baru melihat kemampuan dari gadis itu secara langsung. “
__ADS_1
" Tidak. Ini kedua kalinya bagi saya melihat kemampuannya. Karena orang yang membunuh sebagian besar Fallen yang berhasil menerobos masuk adalah dia. " ungkap Evan.