Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
82 : Eldania


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang mengisi waktu luangnya, Azel dan Dania akhirnya sampai di depan rumah Azel. " Mau mampir?. " Azel menawari gadis ini untuk mampir ke rumahnya. 


" Tidak, aku ingin langsung pulang saja. " jawab Dania dengan singkat, dia menolak tawaran dari iblis ini sebab merasa sudah sering mampir, itu membuatnya terasa tidak nyaman juga, dan sebagai alasan lain untuk menghindari ocehan ibunya Azel yang cerewet. 


Benar, sebenarnya Dania tidak begitu suka dengan orang yang terlalu banyak bicara. Jadi hari ini, dia ingin menghindari hal itu, karena ada satu hal yang lebih penting dari itu, yaitu benda yang sudah dia dapatkan beberapa waktu lalu. 


" Sampai jumpa besok. " 


" Ya. " Dania berbalik dan pergi meninggalkan Azel yang masih berdiri di depan pintu rumahnya. Sambil menepuk saku baju yang dipakainya sebuah senyuman terukir di bibirnya, dia tidak sanggup menahan apa yang ingin dia lakukan setelah pulang ini.


Sebab dibalik baju itu, dia satu saku, dimana dia menyimpan suatu benda paling berharga diantara yang lainnya. 


Setelah kepergiannya, ibunya keluar rumah dan menghampiri Azel. " Oh....Azel sudah pulang. " menyapa anaknya dengan ramah. " Bagaimana dengan kencanmu hari ini?. " tanyanya lagi dengan senyuman penuh harap.


Wanita ini sangat berharap perjalanan yang dilalui anaknya itu berjalan lancar.

__ADS_1


Azel yang tidak mengalihkan pandangannya dari keberadaan satu gadis yang kian berjalan terus menjauh, langsung menjawab ucapan ibunya. " Sebaiknya ibu jangan terlalu menyimpulkan tentang hubungan kami berdua dengan pemikiran ibu itu. " kata Azel memberikan peringatan.


" Eh..apa maksud Azel?. Kalian berdua baru saja kencan, berarti kalian berdua punya hubungan yang lebih dekat dari sekedar teman kan?. Dia cocok denganmu loh, Azel. Ibumu ini sangat mendukung antara hubunganmu dengan Dania. " kata sang ibu.


" Dia itu manusia. "


" Ibu tahu. " ketusnya, tetap pada pendiriannya, dia sangat mendukung hubungan anaknya dengan gadis manusia itu. 


Melirik ke arah ibunya, Azel kembali berkata. " Apa ibu percaya dengan takdir?. Dia adalah manusia yang sudah memiliki takdirnya sendiri, bahkan sebelum terlahir didunia ini. Sekalipun ibu menyukainya, dan aku bisa memilikinya, tapi yang sudah menjadi miliknya, akan terus kembali kepadanya. "


" ...................., jadi...tidak bisa ya?. " tanya ibunya Azel dengan wajah masam. Cukup kecewa dengan jawaban dari anaknya, padahal dia sangat berharap anaknya itu bisa mendapatkan gadis manusia itu sebagai menantunya.


Burung bernama Everst itu melirik sekilas kearah bawah. [...................] Tanpa sebuah pemikiran karena tidak terlalu berarti setelah melihat Azel yang menatap ke arahnya, Everst terus terbang mengekori Dania dari atas. 


________________________

__ADS_1


Berdiri di dekat jendela di dalam kamarnya, Caster termenung dengan pemandangan yang ada di bawah sana.


"...................." Walaupun tidak bisa dekat dengan perempuan itu secara langsung, tapi dengan keberadaan peliharaannya, dia bisa tetap bisa mengawasinya sekaligus berinteraksi dengan Dania. 


Walau hanya melalui perantara, dia tetap tidak akan merubah metodenya itu, karena dia berpikir dengan cara seperti itu, dia bisa leluasa melakukan dua hal secara bersamaan.


Mengawasi gadis itu dengan dekat, dan di satu sisi dia bisa melakukan yang harus dia lakukan untuk membuat tubuhnya terus bertahan di dimensi dunia ini.


" Eldania, kau cukup banyak membuat hubungan dengan orang lain. Tapi tidak peduli dengan semua hubungan itu, ramalan yang dulu tertulis pada tablet takdir kedua, dan setelah kalimat yang kau ungkapkan padaku, itu akan tetap membuat kita tetap bersama. " Kata Caster dengan wajah tanpa ekspresinya. " Suatu saat kau akan menyadari itu. Jadi sebaiknya….., jangan menghindariku lagi. " dengan akhir kalimat yang cukup lirih.


Caster, dia tidak begitu peduli dengan semua hubungan yang ada antara Eldania dengan orang lain, karena itu adalah kehendak dari perempuan itu sendiri. Itu adalah keputusannya, karena Caster tetap percaya dengan akhir dari takdir mereka yang akan tetap bersama, sekalipun dunia di dimensi ini berakhir.


Melihat perempuan yang dari tadi dia tatap sudah masuk ke dalam asrama, Caster berbalik sambil berkata. " Apa yang membuatmu datang kesini, Darayad. "


Dalam kamar yang sedikit gelap itu, sebuah kabut dengan warna sedikit kehijauan muncul, dan langsung menghadirkan sosok wanita berambut panjang berwarna hijau. Darayad, ratu penguasa hutan yang dia temui beberapa minggu yang lalu, kini wanita itu ada disini.

__ADS_1


" Saya ingin memberitahukan suatu hal kepada anda. "


"......................." dengan tatapan tegas yang diberikan Caster pada wanita itu, Caster akhirnya mencoba mendengar apa yang ingin dikatakan Darayad kepadanya. " Katakan. "


__ADS_2