Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
84 : Eldania


__ADS_3

" Dua puluh."


" Tiga puluh. " 


" Dua puluh lima. " 


" Tiga puluh. " 


" Dua puluh enam. " 


" Tiga puluh. "


" Ish…. Dua puluh delapan atau tidak sama sekali. " Ancam Erich dengan dahi berkerut-kerut. Dia masih memperdebatkan angka yang sedang dia lakukan dengan perempuan ini, yaitu Eldania.


" Padahal dari tadi masih bisa naik." Eldania menjawabnya dengan selamba. Dia masih berusaha keras untuk membuat kesepakatan yang sedang dia inginkan dengan Erich.


Setelah memperlihatkan kemampuannya dalam memasak kepada Erich, akhirnya Eldania mendapatkan sebuah kesempatan untuk bekerja sama dengan Erich. 


Tapi dari kesepakatan itu, Eldania bersikeras untuk mendapatkan bagiannya sebesar tiga puluh persen dari total pendapatan yang didapatkan oleh Erich.


Tapi saat ini, mereka berdua menemui satu kendala. Erich tidak bisa memberikan sebagian besar pendapatannya yang sebanyak tiga puluh persen itu kepada Eldania. Karena dirasa terlalu tinggi.


" Iya.....atau tidak. " Tawar Erich lagi, karena disini dialah yang menentukan seberapa banyak imbalan yang akan didapatkan oleh Eldania ketika hubungan kerja sama ini bisa disepakati.


" Tetap tiga puluh. " Eldania masih tidak mau kalah dalam hal mengambil keuntungan dengan orang ini, jadi sebisa mungkin memerasnya, dengan terus-terusan menyebut angka tiga puluh. Sampai di satu waktu, Eldania tersenyum simpul setelah melihat wajah Erich sendiri sudah terlihat mulai muak karena terus mendengarnya.


Erich menghela nafas pelan karena harus menghadapi Eldania yang keras kepala. Gara-gara dia, sekarang kepala Erich terasa sudah mulai ditumbuhi kata ' Tiga puluh ' terus. 


" Dua puluh delapan. Itu tawaran tertinggi yang bisa aku berikan padamu. " Ujar Erich lagi sambil memijat pangkal hidungnya, dia benar-benar tidak bisa membuat nilai yang lebih tinggi sampai tiga puluh persen.


Sedangkan Eldania bersilang tangan di depan dada sambil berbicara dengan nada ketus. " Pelit. Padahal aku memberikanmu resep tiap sepuluh hari sekali. Harusnya setara lah. " Tuturnya, sekaligus membujuknya agar Erich mau menerimanya.


" Tapi bagiku tiga puluh persen itu sudah terlalu tinggi. " Erich mulai memberikan alasannya. " Keuntungan bersih yang aku dapat juga masih belum pa-...."


Eldania yang masih duduk itu, tiba-tiba menyilangkan kakinya dan bersandar ke belakang kemudian menyela ucapannya. " Erich. Memangnya konsep tiga puluh persen yang aku pikirkan itu sama denganmu?. " Pungkas Eldania, sukses membuat Erich terdiam sejenak.


" Kamu meminta jatah tiga puluh persen tiap resep yang kamu berikan kan?. " Tanya Erich demi meng konfirmasi maksud dari tujuan angka tiga puluh persen itu sendiri kepada wanita di depannya itu.


Eldania menatap Erich dengan tatapan malas, dan menjawabnya. " Yang aku maksud dari tiga puluh persen itu, jatahku untuk satu bulan itu sendiri. Tiap satu resep maka keuntungan yang kau berikan di sepuluh hari itu adalah sepuluh persen untukku. Jika satu bulan tiga kali, bukannya sama saja dengan tiga puluh persen?. " Jelas Eldania kepada Erich sambil sedikit memiringkan kepalanya, menunggu reaksi Erich berikutnya yang terasa lucu.


" Hah...?. Cara berpikirmu itu- . " Erich langsung kehilangan kata-katanya dengan cara berpikir Eldania, yang bagi Erich cukuplah aneh, sama seperti kepribadiannya yang juga sama anehnya. [ Ucapannya memang cukup masuk akal, tapi dia minta sepuluh persen saja?. ] 


Karena cara berpikir mereka yang berbeda itulah, selalunya membuat sebuah kesalahpahaman. Tapi kesalahpahaman yang Erich berikan itu, bagi Eldania justru lebih mengerikan, ketimbang dirinya. 


" Tulis saja syaratnya, aku sudah memberitahumu tadi, jadi harusnya sudah paham. Intinya, keuntungan di setiap sepuluh hari itu pasti akan selalu berbeda tergantung dengan pengunjung yang datang. Maka jumlahkanlah di tiap akhir bulan, maka itulah bagianku yang sebenarnya. Tiga puluh persen. 


Aku mempercayaimu sebagai partner, Erich. " Jelas Eldania lagi, sembari memperlihatkan ke tiga jari kanannya di depan bibirnya.


[ Sebenarnya apa yang sudah terjadi seharian ini?. Pagi tadi aku bertarung dengannya tapi kalah taruhan, tapi ujung-ujungnya dia ingin membuat kesepakatan denganku. Seolah…., dia sudah merencanakan ini dari awal. ] Melirik ke arah perempuan yang ada di depannya itu, Erich menatapnya dari atas sampai bawah, cara dan tingkah Eldania yang sedang duduk itu membuat Erich berpikir lagi. [ Dia jadi terlihat seperti bukan sekedar orang yang bisa bertarung, tapi pintar membuat negosiasi di luar nalarku sendiri. ] 


Erich tidak bisa berkata apapun kecuali mengiyakannya. Karena bagi Erich, kesempatan seperti ini juga tidak bisa dibiarkan begitu saja, apalagi setelah mengetahui kalau Eldania adalah orang yang punya kemampuan untuk menciptakan sebuah masakan yang belum ada di sini.


" Berari ini sudah jadi tidak masalah kan?. " Tanya Erich, sedikit ragu dengan tangan kanannya yang hendak menuliskan syarat nomor empat itu.


Sambil tersenyum simpul, Eldania menjawabnya dengan percaya diri. " Aku yang menginginkannya, jadi tidak masalah. " 


" Jika iya, aku akan menulisnya. " Erich melirik ke depan, kemudian kembali menatap kertasnya. 


Eldania hanya mengangguk setuju. " lakukanlah. " Sambil mengayunkan tangannya kepada Erich.


Ucapan bagai perintah, Erich dibuat berpikir kembali [ Cara bicaranya, di sini yang jadi bosnya aku apa dia sih?. ] Pikir Erich akhirnya memutuskan untuk menggoreskan tinta hitam itu ke atas kertas, dan berakhir membuat untaian kalimat yang membentuk deretan kata, yang menjadi salah satu syarat kerja sama mereka di antara syarat lainnya yang sudah tertulis.


Setelah selesai, kontrak kerja sama di antara mereka pun akhirnya terwujud dan hanya tinggal minta tanda tangan.


" Aku sudah membuat tiga lembar, tanda tangani semuanya. " Erich menyodorkan lagi kertas kedepannya Eldania, dan ditambah dua salinan untuk berjaga-jaga saja.


Melihat lembar kontrak yang sudah di tulis oleh Erich sendiri, Eldania pun menerima lembaran kertas itu sekaligus pena yang tadi Erich gunakan dengan wajah sumringah. 


[ Dengan begini, aku hanya tinggal menunggu pundi-pundi uang berada di tanganku. Tanpa bersusah payah pula, berinvestasi dengan cara seperti ini, memang lumayan juga.

__ADS_1


Malahan....bisa jadi aku yang pertama, mengusulkan investasi semacam ini kan?. Erich memang orang yang berguna, diam-diam malah punya restoran di kota tempat tinggal para iblis, padahal aku kira, dia hanya seorang laki-laki biasa yang kerjanya cuman bisa membuka pintu. ] Dengan berbagai macam pikirannya, tangan kanannya pun mulai bekerja untuk membuat sebuah tanda tangan yang akan menjadi penentu atas surat kontrak yang dia buat dengan Erich ini.


Hanya tinggal tanda tangan saja.


Benar....


Tetapi tiba-tiba dia menghentikan tangannya di detik itu juga. [ Tunggu........, aku hampir saja membuat tanda tanganku yang dulu. ] 


Sekarang dia punya nama yang berbeda dengan kehidupannya yang dulu, dengan kata lain dia juga harus membuat tanda tangan baru atas namanya yang sekarang.


Eldania pun akhirnya membuat tanda tangan baru tanpa pikir panjang lagi.


[ Menggunakan tangan kiri?. ] Erich mengernyitkan matanya saat melihat Eldania justru membuat sebuah tanda tangan menggunakan tangan kiri. [ Eldania, dia benar-benar orang yang membuatku terus merasakan nostalgia. ] 


Merasakan Erich tiba-tiba tersenyum, Eldania bertanya. " Kenapa tiba-tiba tersenyum?. " Selagi menulis, dia menjeling ke arah Erich yang duduk di depan sana, tepatnya di seberang meja.


" Apa tersenyum, juga harus butuh alasan?. Aku hanya teringat dengan masa laluku. “ Jawab Erich.


".................." Mendapatkan jawaban yang tidak berguna, dia kembali menggoreskan tinta ke atas lembar kertas kedua.


" Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, apa kau bisa menjawabnya dengan jujur?. " 


[ Ada apa ini?, suasananya tiba-tiba jadi berubah. ] Eldania melanjutkan membuat tanda tangannya yang terakhir, lalu menyerahkan dua lembar itu ke Erich. " Akan aku jawab semampuku. "


" Apa kau pernah menjadi seorang ksatria?. " Sebuah pertanyaan yang tidak terduga untuk Eldania sendiri, terucap dari mulutnya Erich.


[ Aku kira dia akan tanya tentang makananku. ] Tatap Eldania, perkiraan kenapa Erich yang tiba-tiba bertanya itu, Eldania berpikir bahwa Erich sudah menyadari sesuatu tentang makanan yang tadi dia sajikan adalah makanan yang dia ingat dari kehidupan lalunya, itulah kenapa dia jadi sedikit terkejut. " Tidak. "


" Tapi kemampuanmu itu cukup hebat. "


Eldania tersenyum miring. “ Jangan memujiku. Tapi memangnya aku sehebat dengan apa yang kau katakan?. “


“ Dari cara bertarungmu, itu terlihat seperti kemampuan yang sudah dilatih tidak hanya satu atau dua tahun saja. “


“ Memang benar…..aku punya kemampuan karena aku melatihnya. Tapi bukan berarti aku pernah bekerja sebagai pasukan kesatria juga.


Aku juga sebenarnya sudah pernah mencoba mendaftar, tapi selalu diluar ekspektasi. Yang pertama aku bekerja di gudang senjata, dan yang kedua, karena alasan pribadi seseorang. 


“ Maksudmu berperang?. “


“ Benar. Meskipun tidak semua kerajaan berperang, tapi……...aku sadar. Aku tidak ingin diatur oleh orang lain. “ Eldania semakin menurunkan nadanya di kalimat terakhirnya. [ Lagi. ]


“.......................”


“ Ah….tapi lain lagi jika itu menjadi ksatria bayaran. Aku bisa membuat kesepakatan sesuai yang aku mau dalam jangka waktu tertentu dengan imbalan yang sesuai keinginanku. “ Ucap Eldania menambahkan.


“ Uhuk….!. “ Erich tiba-tiba tersedak karena ludahnya sendiri sebab mendengar pernyataan Eldania yang mau menjadi ksatria bayaran. “ Jadi maksudmu, kau akan melakukan apapun asal imbalannya sesuai?. “


Eldania langsung berekspresi masam. “ Tidak begitu juga. Siapapun punya aturannya sendiri, termasuk aku. “


" Hmm...ok. Aku juga punya satu pikiran yang sama denganmu, akan disayangkan menyerahkan leher pada orang lain. “ Erich menyetujui pendapat Eldania soal menjadi kesatria kerajaan. 


Memang benar, dengan menjadi seorang kesatria suatu kerajaan akan membuatnya menjadi orang yang kaya, dan punya status yang cukup tinggi karena jadi punya gelar sendiri. Tapi disatu sisi, pekerjaan itu akan memiliki konsekuensi sendiri. Diantaranya adalah harus menuruti perintah orang lain layaknya seekor anji*ng.


“ Lalu pertanyaanku yang kedua. Kenapa orang sepertimu mendapatkan seragam putih terlepas dari kemampuanmu yang lumayan itu?. "


" Haishh……. “ Eldania mengernyit tidak suka dengan pertanyaan Erich. Dalam sekian banyak waktu yang sudah dilalui, Eldania sering kali mendapatkan topik pembicaraan mengenai baju seragamnya yang berwarna putih. “ Soal seragam ini, Itu terjadi karena nila ujian sihirku cukup rendah. Jadi jangan bicara soal seragam lagi, itu membuatku muak. “ Jelas Eldania sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, melainkan karena muak dengan semua kalimat yang selalu tertuju pada seragamnya yang berwarna putih. 


“...........!. “ Erich pertama kalinya melihat wajah Eldania yang berekspresi tidak suka secara terang-terangan tepat di depan matanya. [ Tapi kemampuan sihirnya rendah?, dari mananya yang terlihat rendah jika beberapa minggu lalu bisa menggunakan sihir sebesar itu untuk menghancurkan asteroid. ] pikir Erich, tidak paham dengan sistem penilaian yang terjadi di Academy Klenon. “ Ok...aku tidak akan membahas soal seragam mu lagi. Tapi…..ngomong-ngomong, dari kemampuanmu bertarung denganku tadi pagi, apa kau pernah mempermainkan nyawa seseorang?. “


DEG..........


Eldania mengernyitkan mata, menatap Erich dengan wajah seriusnya. [ Kenapa dia tiba-tiba bertanya itu?. ] Eldania segera membuang muka, sambil menjawab. " Bukankah kau sudah tahu segala hal yang pernah aku lakukan, setelah lama menguntitku?. "


Erich seketika tercengang. " Menguntit!?, sudah aku bilang aku tidak menguntitmu. " Erich membuat sangkalan.


" Kalau bukan namanya menguntit berarti stalker, kan?. " Dengan sebuah seringaian, Eldania mulai memojokkan Erich agar mengaku. Sekaligus, dia berhasil mengalihkan topik pembicaran nya tadi, sehingga dia tidak perlu menjawab pertanyaannya Erich tadi.


" Cara bicaramu...." Erich mencoba menahan kesabarannya. " Bisakah sopan sedikit, aku bukan menguntitmu, tapi bertugas untuk memperhatikanmu. " Jelas Erich dengan akhir dengan sebuah helaan nafas kasar karena terprovokasi ucapannya.

__ADS_1


" He~, bukannya sama saja. Karena tertarik denganku, pada akhirnya kau menguntitku seperti orang mesum. " Eldania masih mampu membalas ucapannya Erich dengan senyuman bangganya. Dia bangga bisa sedikit bermain-main dengan Erich. 


CTAS.........


"......................!. " Dikatain mesum, membuat Erich yang sudah kehilangan kesabarannya, dengan reaksi amarahnya itu Erich langsung beranjak dari tempat duduknya lalu....


BRAKK.......


Erich segera naik ke atas meja pendek itu dengan kaki kanannya, kemudian turun dengan langkah lebar. Erich secepat kilat sudah berhenti di depan Eldania yang sedang duduk itu dan langsung membungkuk dengan mendaratkan lutut kanannya di samping kiri kakinya Eldania, dan ketika sudah tepat di depan orangnya, Erich langsung melayangkan tangan kanannya ke belakang, sehingga Erich benar-benar berada di jarak terdekatnya dengan wajah wanita ini. 


" Apa?. " Mendongak ke atas, Eldania sejujurnya sedikit terkejut dengan amarah Erich yang tiba-tiba datang dengan reaksi berlebihan seperti itu.


Sampai membuat laki-laki di depannya itu, seperti hendak menerkamnya. 


Eldania tersenyum tawar dalam diam dengan reaksi Erich kali ini.


" Kau, kenapa kau tiba-tiba mengungkit kata 'menguntit' kepadaku lagi?. " Dengan nada rendah, Erich menundukkan sedikit kepalanya dan berakhir dengan wajah mereka berdua yang terus termakan oleh jarak. Sampai-sampai setiap hembusan nafas, mereka dengar dengan begitu jelas. " Mengatakan aku mesum?. Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu sampai mengatakan seperti itu?. " 


Menoleh ke arah kanan demi menghindari tatapannya, kali ini Dania benar-benar kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya.


Melihatnya terdiam, Erich menambahkan sambil mendekatkan wajahnya ke samping telinga kirinya Eldania. Lalu Erich kemudian mengungkapkan kata-kata dengan sebuah bisikan, " Apa karena kau sedang menggodaku?. "


' Menggoda '


Eldania sebenarnya juga tidak tahu apa niatnya itu, sampai-sampai mengungkit-ngungkit Erich menguntit, padahal itu kejadian yang sudah lama. Tapi keterdiaman nya yang berlalu beberapa saat, membuatnya kembali menatap ke depan. Yang terlihat, adalah kemeja berwarna merah dan jas hitam itu melekat pada tubuh Erich.


" Kenapa diam?. " Erich menjeling ke samping, terlihat telinga dri perempuan ini sudah memerah. 


" Kalau aku bilang memang sedang menggodamu, kali ini apa yang akan kau lakukan selanjutnya?. " 


"..................!. " Sebuah jawaban yang tidak terduga, Erich terkesiap dengan itu dan membuatnya menarik wajahnya dari samping wajah perempuan ini, tetapi....


PUK......


".................?!. " Sebuah tepukan, langsung mendarat ke dada bidangnya. Sontak Erich melirik ke bawah, ternyata benar, Eldania menempelkan tangannya ke dadanya.


" Lihat, tanganku sudah merasakan debaran jantungmu. " Ucapnya dengan begitu entengnya, tanpa melihat reaksi wajah Erich yang sebenarnya semakin terkejut.


" Kau...!. " Tersentak dengan kata-katanya, refleks Erich berdiri menjauhkan tangan itu dari dadanya.


" pft........hahaha. " Kembali mendongak ke atas, Eldania memberikan tawa cekikikannya kepada Erich. " Aku merasakan jantungmu berdetak kencang, kira-kira apa artinya?. Tapi........" Menarik tangan kanannya, Eldania meletakkan tangannya di dadanya sendiri. " Jantungku juga sebenarnya berdetak cepat, sangat mengusik, tapi di saat yang sama juga menyenangkan. “


[ A-apa?. Aku sebenarnya sedang menghadapi wanita yang seperti apa ini?. Aku memang marah, di cap orang mesum oleh perempuan ini, jadi aku ingin mengancamnya, tapi justru aku yang kena godaannya. ] Erich diam membeku dengan segala pikiran dan reaksi terkejutnya atas tindakan dari gadis di depannya ini.


' Adrenalin perdebatan hati '


Melihat wajah Erich yang sedemikian tercengangnya, membuat Eldania tidak bisa berhenti untuk tertawa.


" Duduk. " Pinta Eldania sambil menunjuk ke belakang, tepatnya untuk duduk di atas meja. Dan pelan-pelan menata hatinya agar tidak tertawa lagi.


" Ha?. " Erich tidak tahu apalagi yang mau dilakukan oleh perempuan ini.


Malas menunggu Erich yang hanya bereaksi wajah saja, Eldania segera menarik tangan Erich dan membuatnya terduduk di sebelahnya. Di saat itu juga, Eldania langsung mencondongkan tubuhnya ke depan Erich dan menyentuh lagi dada bidang milik Erich yang terbalut oleh pakaian yang benar-benar sempurna, karena memperlihatkan bentuk tubuhnya yang atletis itu.


GREP.......


Erich mencengkram pergelangan tangannya Dania dan bertanya dengan nada rendah. " Apa yang mau kau lakukan?. " Menatap Dania dengan tajam, setelah melihat tangannya itu menyentuh dadanya lagi.


Dan lagi-lagi jarak di antara wajah mereka terbilang cukup dekat, sehingga Erich kembali mencium aroma lembut dari leher gadis di depannya ini.


" Apa lagi kalau bukan melanjutkan kegiatan yang tertunda, bukankah tindakanmu tadi menandakan kalau kau menginginkannya?. " Eldania yang tidak segan dengan apa yang ingin di lakukannya, tangannya terus memberontak dari cengkraman Erich yang cukup kuat itu.


[ Dia benar-benar sedang menggodaku. ] Erich menelan salivanya sendiri, posisi di antara mereka berdua benar-benar sudah terbalik, dan dia yang sudah termakan suasana aneh itu, tiba-tiba Erich pun melepaskan cengkramannya. 


"..............." Melihat Erich sudah melepaskan cengkramannya, Eldania pun kembali melanjutkan kegiatannya. 


Melepaskan satu per satu kancing yang menautkan kedua sisi dari kemejanya Erich, setelah kancing keempat terlepas, dia pun langsung menelusupkan tangan kanannya ke dalam pakaiannya.


"....................!. " Erich yang langsung bereaksi dengan sentuhannya, terus berusaha menutup rapat mulutnya agar tidak mengeluarkan suara aneh. [ Eldania....wanita ini, tidak terlihat dari luar, ternyata dia pintar juga melakukan ini?. ] 

__ADS_1


Mungkin karena nalurinya sebagai seorang pria, Erich yang terbuai dalam suasana bergairah itu, tangan kanannya yang sedari tadi hanya mengepal menahan tiap sentuhan yang dibuat oleh gadis ini pun tanpa sadar kini sudah terangkat dan menggapai pinggang.


Eldania yang menyadari tangan Erich merangkul pinggangnya langsung bergumam. " Erich.... ". Panggilnya dengan pelan.


__ADS_2