Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
72 : Eldania


__ADS_3

Dan dalam akhir pertarungan ini, Erich jatuh terduduk dengan sebuah pedang teracung ke arah wajahnya.


" Hah....hah.....hah...hah...." All.


Erich yang mulai di lahap sebuah bayangan, membuatnya sedikit mendongak ke atas, dan dia pun menemukan iris berwarna ruby itu tengah menatapnya dengan tatapan tajam seolah pemilik dari mata ini memiliki dendam padanya, dengan bukti sebuah sorotan mata membunuh. 


Tetapi semuanya segera sirna, tepat setelah ujung pedangnya berhenti sejarak 7 cm sebelum benar-benar menusuk mata Erich. 


Kedua orang ini saling pandang satu sama lain.


“.......................” Eldania segera menghilangkan tatapan membunuhnya, karena segera sadar kalau orang yang ada di depannya saat ini sudah benar-benar kalah darinya.


Di saat adanya keheningan di antara mereka karena saling terbuai dengan pikirannya masing-masing, sebab mereka baru saja bertarung dan sama-sama mengerahkan kemampuan mereka untuk pertama kalinya setelah pertemuan pertama mereka dua bulan lalu karena suatu insiden, sebuah suara langsung menarik segala pikiran mereka berdua.


KRAK......


"...............!. " Suara retakan terdengar dengan jelas. Tidak butuh waktu lama, dua benda langsung terjatuh ke pangkuan Erich, tatkala Erich masih memandang wajah gadis di depannya ini. 


“....................” Secara, Eldania menatap ke dua benda yang terjatuh dalam pangkuan Erich, karena Erich lah orang yang pedangnya sudah kena hempas dan akhirnya jatuh terduduk tanpa senjata apa pun.


Lalu apa yang Eldania lihat sekarang?.


Benar, dua benda yang membuat suara tadi adalah retakan dari topeng yang dipakai oleh Erich dan hasilnya sekarang topeng itu sudah terlepas dan menampilkan wajah Erich yang sebenarnya. 


Setelah topeng itu terlepas, dia baru menyadari kalau sepasang mata Erich langsung berubah dari warna kuning menjadi berwarna biru muda yang warnanya sama dengan langit pagi saat ini. 


[ Topengku rusak!. ] Erich segera mengambil topeng yang rusak itu.


"...................." Eldania menurunkan pedangnya ke bawah, dan seketika pedang itu menghilang dari genggamannya. [ Padahal lukanya sudah aku sembuhkan, dan wajahnya sebenarnya cukup lumayan, tapi kenapa terus memakai topeng?. ] Pikir Eldania.


" Kau melihat wajahku. " Erich segera menunduk dan menutupi separuh wajahnya dengan tangan kirinya.


Eldania yang ingat sudah melakukan sesuatu pada tangan kanannya Erich, dia segera berjongkok dan mengambil tangan kanan Erich untuk melepaskan kekangan, yang ada di bagian titik akupuntur. Penyebab Erich tidak bisa menggunakan tangan kanannya, namun masih hebat bertarung walau menggunakan tangan kiri.


" Memangnya kenapa dengan wajahmu?. " Tanya Eldania dengan kepala juga menunduk ke bawah, dia akan menghormati Erich yang tidak ingin memperlihatkan wajahnya kepadanya, meskipun Eldania sendiri sudah tahu rupa wajah Erich ini.


Ekspresinya seketika berubah menjadi datar dan menatap tangan berbalut sarung tangan berwarna hitam itu dengan lembut.

__ADS_1


Sejujurnya sekarang ini, Eldania merasa seperti sedang melamar seseorang, membuat dia tertawa geli di dalam hati.


" Wajah jelek seperti ini, tidak pantas diperlihatkan ke orang lain. "


" Hm?, aneh. Percaya diri sekali mengatakan wajahmu jelek. " melepaskan tangan Erich dan meletakkannya dengan pelan ke pangkuan Erich. " Jika percaya diri mengatakan itu, bukannya justru sebaliknya, kau harusnya juga percaya diri menunjukkan wajahmu. Memangnya siapa yang mengataimu jelek?. "


Erich terdiam kehilangan kata-katanya. Selama ini memang tidak ada yang pernah mengatakannya jelek karena belum ada seorangpun yang mengetahui wajah di  balik topengnya. Tapi Erich hanya beberapa kali mendengar ucapan orang yang mengatakan jelek berdasarkan persepsi mereka sendiri karena rumor yang di buat-buat.


Lalu Eldania menambahkan. " Aku tidak pernah mengatakan apa-apa tentang wajahmu. Jika jelek karena bekas luka, bukannya itu sudah hilang?. "


"................... , jadi itu memang kamu....." pelan-pelan Erich menjauhkan telapak tangannya untuk kembali menatap wajah gadis ini.


Eldania mengulurkan tangan kanannya tepat ke depan wajah Erich, dengan maksud membantunya berdiri. Dan Erich pun menerima uluran tangannya, sampai dia tidak sengaja melihat sesuatu yang baru dia sadari yaitu di balik seragam lengan panjang dari gadis ini rupanya terlilit sebuah perban.


Setelahnya, Eldania berbalik memunggungi Erich dan berkata. " Nasibmu itu lebih baik, luka di wajahmu masih bisa disembuhkan. Dan memang benar, akulah yang melakukannya. "


" Apa maksudmu, kau ingin aku berterima kasih soal ini?. "


" Tidak. Aku melakukannya bukan karena ingin mendapatkan ucapan terima kasihmu. Aku ingin melakukan yang bisa aku lakukan pada luka diwajahmu. "


Massih memunggungi Erich, Eldania kemudian merentangkan tangan kirinya lalu menarik lengan bajunya, memperlihatkan perban yang melilit tangan kirinya itu. Perlahan Eldania membuka lilitannya, sehingga kini kulit yang selalu terlindungi oleh kain perban sudah terlepas.


Dan semua itu masih membekas, sekalipun punya kekuatan suci untuk menyembuhkan segala luka dan penyakit, tidak berarti luka di tubuh sendiri bisa hilang. Eldania mempunyai pendapat sendiri, bawah luka yang dia milik tidak bisa hilang karena yang melakukannya ada sang ibu kandung dari pemilik tubuh yang Eldania diami itu. 


Walaupun masih tidak mengerti kenapa bisa mempunyai dampak seperti itu, Elania hanya mensyukuri saja...bahwa wajahnya baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup.


Sekalipun ternyata wajahnya turut menjadi korban luka yang dilakukan oleh ibu kandungnya, maka Eldania akan melakukan hal yang sama dengan apa yang Erich gunakan selama ini, yaitu menggunakan topeng. 


" Yah....ketimbang diriku ini, kau masih lebih beruntung Erich. Tapi aku tidak akan pernah merenungi bekas luka yang sudah aku peroleh ini. Jadi ada baiknya kamu percaya diri saja, bagaimana jika aku akui kalau wajahmu lumayan tampan?. " sambung Eldania sambil menoleh ke belakang.


Sebuah pujian yang terlontar dari mulut Eldania langsung membuat Erich salah tingkah dan menjawab ucapannya dengan nada wajah ragu.


"................, b-begitukah?. " Kata Erich dan di waktu yang sama pula Erich juga merasakan perasaan aneh ketika ada seseorang yang pertama kali memuji wajahnya. 


" Ya. Tapi mungkin karena kamu punya alasan untuk memakai topeng terus, tidak masalah juga. Yang penting aku sudah melihat wajahmu. " ucap Eldania dengan akhir nada yang cukup lirih.


[ S-sudah aku duga, dia perempuan yang mengerikan, bisa bicara blak-blakan seperti itu. ] Erich kembali tersipu dan berusaha memalingkan pandangannya ke tempat lain karena kikuk. " Ngomong-ngomong, dari mana kamu memperoleh semua bekas luka itu?. "

__ADS_1


Tatap Erich ke arah lengan gadis itu, yang kini sudah kembali melilitkan perbannya lagi.


" Seorang wanita yang tidak mengakui anaknya adalah perempuan, dan jadi bahan amarahnya. Jadi jangan menaruh simpati padaku. " tambahnya lagi. Eldania memperbaiki lengan bajunya dan berbalik menghadap Erich lagi. 


Sebab ada rasa bersalah membuat topeng milik Erich rusak, Eldania segera mengambilnya dari tangan Erich.


" Apa yang mau kau lakukan?!. " tersentak, tiba-tiba topengnya langsung di rebut begitu saja.


Eldania lagi-lagi berbalik, menutupi apa yang ingin dia lakukan dari Erich, dan ketika sudah selesai, pertanyaan dari Erich barusan Eldania jawab dengan sebuah topeng yang sudah Eldania perbaiki.


" Sudah, ini. " Eldania mengembalikan topeng tadi ke Erich dan berkata lagi. " Jangan lupa traktirannya 10 hari kedepan. " tutur Eldania, segera mengalihkan topik pembicaraan.


"...................." Menerima topeng yang diperbaiki dengan sempurna, Erich sedikit termenung karena dirinya kalah dari Eldania. Apalagi saat akhirnya mengetahui sisi buas saat bertarung dengan gadis ini, dari serangan brutal sampai tidak ada titik celah sama sekali dalam pertarungan tadi.


Tapi Erich cukup puas bisa merasakan pertarungan sengit, apa lagi dengan seorang perempuan. Walaupun berakhir dengan sebuah kekalahan, Erich tidak mempermasalahkan itu. 


Jadi yang harus dipersiapkan kali ini, adalah menjamu perempuan ini dengan baik selama sepuluh hari ke depan. Sampai di satu sisi, setidaknya bisa bertemu dengannya secara rutin (?).


" Aku akan datang tiap pagi dan sore, jadi sampai jumpa lagi. " sapaan perpisahaan dari Eldania kepada Erich.


Dia pergi dengan melambaikan tangannya, walau yang di lambai orang nya ada di belakangnya.


Erich hanya memandangi kepergian Eldania dan ikut melambaikan tangannya. " Sampai jumpa..?!. " Erich sedikit tersentak, [ Kenapa aku melambaikan tangan?. ] Erich segera menarik lagi tangan kanannya agar tidak melambaikan tangannya lagi, karena itu seperti bukan dirinya lagi.


Setelah kepergiannya Eldania, Erich kembali memakai topengnya yang sudah diperbaiki itu. Dia akan terus menyembunyikan wajahnya, karena Erich tidak ingin ada orang yang tahu seperti apa wajahnya. 


Untuk saat ini, Erich sudah menerima kalau bekas cakaran di wajahnya benar-benar sudah disembuhkan oleh Eldania. Tapi alasan Erich akan terus menyembunyikan wajahnya dengan topeng tidak lain adalah karena alasan sederhana.


[ Semua orang hidup dengan dua wajah. Wajah asli dan wajah dengan tipu muslihat mereka. Tidak ada yang pantas mereka lihat dariku, karena mereka tidak layak. ] Erich, dia sudah tahu seperti apa itu manusia. 


Manusia, pada dasarnya hidup dengan dua wajah. Seperti halnya koin yang memiliki dua sisi, jika sisi yang pertama adalah wajah yang dipenuhi kebaikan yang merupakan topeng dari tipu muslihat mereka untuk melindungi sisi lain dari wajah asli mereka, maka Erich hanya ingin menyembunyikan kedua sisi itu dengan memakai topeng. 


Tidak lebih dan tidak kurang.


“ Hahh~..........” Erich tiba-tiba mendesah pelan. [ Pada akhirnya aku tidak mendapatkan apapun. Yang menawari taruhan, justru kalah. Sangat memalukan. Semoga saja dia bukan tipe perempuan yang makan banyak. atau aku bisa bangkrut. ] 


Erich menyesali keputusannya sendiri, yang membuat taruhan dengan Eldania, dengan menawarkan makan gratis selama 10 hari. 

__ADS_1


[ Harusnya aku bilang lima hari saja. Ah….padahal aku sudah tahu rumor tentangnya yang melawan iblis, tapi aku bisa-bisanya bertaruh dengannya hanya karena urusan pribadiku. ] Dan Erich terus merutuki dirinya sendiri yang salah mengambil keputusannya. 


Erich pun pergi tanpa mendapatkan apapun, kecuali mulai hari ini dia harus menghidupi satu orang selama sepuluh hari penuh.


__ADS_2